LOGIN"Jangan salahkan dirimu,” Ardhan menghela napas yang berat. "Yang menghancurkan kami bukan lah kekuatan dari Naga Langit,”Ia menatap semua orang yang ada di sana satu persatu. "Melainkan manusia yang menginginkan kekuatan itu,”Jaya langsung teringat pada lelaki bermata satu. "Dia?"Ardhan mengangguk. "Dia bukan kepala yang tertinggi,”Jaya terdiam sesaat. "Kalau begitu siapa?"Ardhan memejamkan mata."Orang yang berada di balik semua ini…,” ia membuka mata. "...belum pernah kalian lihat,”Lelaki bermata satu yang tadi terpental tiba-tiba tertawa dari kejauhan. "Masih saja kamu keras kepala, Ardhan?’Ardhan menoleh. "Kamu belum mati?"Lelaki itu bangkit perlahan dan darah mengalir dari dadanya. "Aku tidak boleh mati sebelum melihat Jaya membuka pintunya,”Jaya menatapnya tajam. "Kamu tidak akan bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan!”"Benarkah?” ia tersenyum. "Kalau begitu tanyakan kepada Ratri!’Ratri terkejut. "Apa?"Lelaki itu menunjuk tangan Ratri dan luka di telapak tangannya
Pedang mereka beradu dan benturan pertama mengguncang reruntuhan, benturan keduanya membuat tanah retak dan benturan ketiga membuat keduanya terpental.Lelaki itu menyerang kembali dengan sangat cepat, jauh lebih cepat daripada sebelumnya.Jaya menangkis, satu tebasan menggores bahunya dan darah mengalir.Ratri berteriak.."Jaya!"Namun Jaya sama sekali tidak mundur, ia justru maju. Pedang ayahnya bergerak mengikuti aliran yang pernah diajarkan Ardhan.Satu putaran, satu tusukan dan satu tebasan.Lelaki bermata satu mulai terdesak."Apa…?” Ia menahan serangan. "...teknik ini?"Jaya menggertakkan gigi. "Teknik ayahku!”Lelaki itu mundur. "Mustahil!”"Dia mengajariku sebelum kamu mengambilnya dariku!” ucap Jaya langsung menyerang.SRAAAK!Ujung pedangnya menggores dada lelaki itu dan jubah hitamnya robek, cincin bermata satu yang sebelumnya sudah retak kini jatuh ke tanah.Begitu cincin itu menyentuh bumi, seluruh prajurit yang berada di bawah kendalinya mendadak jatuh.Mahesa Kala yang
Terdengar suara Ratna dari belakang. "Jaya! Arya!"Keduanya langsung menoleh, Ratna berdiri di depan gerbang dengan wajahnya yang pucat. Tangannya menunjuk ke dalam kegelapan dengan gemetar. "Ada seseorang yang berada di sana…," suaranya bergetar. "Dan dia membawa pedang milik ayah kalian!"Jaya membeku, karena dari balik gerbang itu perlahan muncul ujung pedang tua yang pernah menjadi milik Ardhan Wulung.Ujung pedang tua itu perlahan muncul dari balik gerbang, Jaya tidak bergerak dan napasnya tertahan.Bahkan suara pertempuran di belakangnya terasa menjauh, pedang itu… Jaya sangat mengenalnya.Sarungnya hitam dengan guratan sederhana di bagian pangkal, gagangnya dibalut kulit tua yang mulai mengelupas. Pada pangkal bilahnya terdapat goresan kecil berbentuk setengah bulan.Goresan yang dibuatnya sendiri ketika masih kecil dan saat itu, ia pernah diam-diam mengambil pedang ayahnya dan menjatuhkannya ke batu.Ardhan hanya tertawa. "Pedang bisa diasah kembali, Jaya, tapi hati yang keh
Jaya terdiam, karena kalimat itu sama seperti pesan terakhir Ardhan kepadanya untuk jangan menjadi senjata.Namun ada sesuatu yang lebih besar di balik semuanya.Jaya mendekati Arya. "Kalau begitu siapa yang membunuh Ayah?"Arya mengangkat wajah. "Aku tidak tahu,”Sekar tiba-tiba berkata. "Dia tahu!”Semua orang kembali menoleh padanya. Sekar menunjuk Arya. "Dia tahu siapa yang datang malam itu,”Arya membeku. "Nenek…?”"Kamu melihatnya,” kata Sekar. "Aku masih kecil,” jawab Arya. "Tapi kamu mengingatnya,” imbuh Sekar. Arya menutup matanya dan napasnya mulai berat, potongan kenangan lama seolah dipaksa keluar dari tempat terdalam dalam pikirannya.Malam, api, suara pedang. Ardhan yang berdiri di depan sebuah pintu, Ratna menangis dan seorang lelaki berdiri di belakangnya.Arya memegang kepalanya. "Jangan…?"Jaya memegang bahunya. "Arya,”"Aku tidak mau mengingatnya,” kata Arya. "Kalau itu kebenaran tentang Ayah…," Jaya menatapnya. "...kita harus menghadapinya,"Arya membuka matan
"Ratri!" Jaya menarik tubuhnya.Ratri menjerit. "Jangan lepaskan aku!""Aku tidak akan melepas mu!" Jaya menancapkan pedang ke tanah dan menggunakan kedua tangannya untuk menarik Ratri.Rantai itu semakin mengencang, hingga membuat luka lama yang ada di tubuh Ratri kembali terbuka. Bahkan darah kembali menetes.Ketika darah menyentuh tanah, tiba-tiba gerbang menyala.WUUUUM!Cahaya putih memenuhi seluruh halaman.Ki Jagat berteriak. "Jangan biarkan darah Ratri menyentuh lingkaran!"Namun sayangnya sudah terlambat, cahaya merambat dari tanah menuju gerbang. Lelaki bermata satu mundur, wajahnya berubah tegang. "Berhenti!"Jaya menatapnya dan untuk pertama kalinya, Jaya melihat ketakutan yang nyata di mata orang tersebut. "Kamu takut?”Lelaki itu tidak menjawab.Jaya tersenyum tipis. "Jadi selama ini… kamu bukan pengendali semuanya?”Tatapan mereka bertemu."Kamu juga takut kepada sesuatu?” gertak Jaya. Lelaki itu menggeram. "Jaya!"Cincin bermata satu di jarinya mendadak retak.Krak!
Ratri menyandarkan wajahnya di dada Jaya."Aku juga takut kehilanganmu,”"Maaf!” kata Jaya. "Jangan minta maaf,” Ratri mengangkat wajah."Selama kita masih bisa saling menemukan…,"Ia tersenyum meski air matanya jatuh. "...aku tidak takut lagi!”Jaya mencium keningnya, kemudian. DUUM!Ledakan besar mengguncang mereka dan keduanya terlempar, tanah di tengah padepokan terbuka lebar.Sebuah lingkaran batu kuno muncul dari bawah tanah, di tengahnya terdapat lambang yang sama dengan cincin lelaki bermata satu.Ki Jagat berteriak. "Jaya!"Jaya bangkit. "Apa itu?""Gerbang!" teriak Ki Jagat. Semua orang terdiam.Ki Jagat menatap lingkaran tersebut dengan ketakutan."Bukan Gerbang Velmora…!" suaranya bergetar. "Ini gerbang yang jauh lebih tua,”Lelaki bermata satu akhirnya berjalan menuju lingkaran itu, langkahnya perlahan tapi setiap langkah membuat tanah bergetar."Selama ratusan tahun…," Ia berdiri di tengah lingkaran. "...kalian menjaga pintu!*Ia menatap Jaya. "Tanpa pernah bertanya s







