Bangkitnya Pendekar Terbuang

Bangkitnya Pendekar Terbuang

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-20
โดย:  RKamilaอัปเดตเมื่อครู่นี้
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
คะแนนไม่เพียงพอ
11บท
5views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Fitnah merenggut segalanya dari Jaya Wiratama. Kehormatan, perguruan, dan saudara seperjuangan. Dicap pengkhianat oleh Adipati Agung Surya Raksa, ia menjadi buronan persilatan. Hanya Ratri Wulan yang setia. Mereka membangun kembali Padepokan Tirta Kencana, namun konspirasi lama menyeret mereka ke perang antar perguruan. Jaya harus mengungkap dalang fitnah, sementara Ratri mempertaruhkan segalanya.

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Bab 1. Surat Berdarah Dari Persekutuan

“Siapa yang berani mengirim surat itu ke sini?” tanya Ratri.

Suara Ratri Wulan terdengar pelan, hampir seperti bisikan yang tenggelam di antara derunya hujan yang mengguyur genteng.

Di luar pendopo, angin malam berhembus kencang, menggoyangkan daun-daunan bambu yang basah.

Kilatnya sesekali menyambar ke langit, menerangi sebentar halaman Padepokan Tirta Kencana yang licin oleh air hujan.

Bau tanah basah dan kayu tua memenuhi udara, bercampur dengan aroma dupa yang masih mengepul tipis dari sudut ruangan.

Jaya Wiratama tidak langsung menjawab pertanyaan Ratri, karena matanya masih terpaku pada gulungan surat berwarna merah tua yang berada di atas meja kayu.

Tangan Jaya yang biasanya stabil saat memegang pedang kini sedikit menegang.

“Jaya… kamu pucat,” Ratri kembali bersuara, kali ini lebih dekat. “Apa isinya?”

Jaya menghela napasnya dengan pelan. “Sesuatu yang seharusnya tidak pernah sampai ke Padepokan ini!”

Ki Wreda Jayeng berdiri di sisi ruangan yang lain, ia diam seperti batu tua yang menyimpan banyak rahasia. Namun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan sebuah kegelisahan.

“Buka saja,” suruh Ki Wreda. “Kita tidak punya waktu untuk menebak-nebak,”

Jaya mengangguk kecil lalu ia meraih gulungan itu, dengan perlahan ia membuka segelnya.

Begitu kertas tersebut terbentang, suasana ruangan seakan berubah.

“I– iini… lambang Persekutuan,” gumam Ratri.

Jaya mulai membacanya, di satu baris pertama hingga selesai. Lalu wajahnya berubah mengeras.

Ratri mencondongkan tubuhnya. “Apa yang tertulis di sana?”

Jaya tidak menjawabnya.

“Jaya!” sentak Ratri sedikit cemas.

Jaya menghela napas sebelum akhirnya menyerahkan surat itu tanpa sepatah kata pada Ratri.

Ratri mengambilnya, matanya bergerak cepat membaca isi tulisan tersebut. Semakin jauh ia membacanya, wajahnya semakin memucat.

“Tidak… ini tidak mungkin…,” suara Ratri bergetar.

Ki Wreda menutup matanya sejenak. “Sudah aku katakan, ini bukan surat biasa!”

Ratri menatap Jaya dengan mata yang tak percaya. “Mereka menuduhmu… bahwa kamu yang membunuh Ki Rangga Wisesa?”

Hening!

Hanya suara hujan yang terdengar semakin deras di luar pendop.

Jaya akhirnya berbicara dengan suara rendah. “Aku bahkan tidak pernah bertemu dengan Ki Rangga Wisesa,”

“Hmm!? Itu yang membuatnya berbahaya,” kata Ki Wreda pelan.

Ratri masih memegang surat itu dengan erat. “Ini pasti ada kesalahan, atau mungkin… jebakan?”

“Bukan kesalahan,” jawab Ki Wreda. “Ini sudah keputusan resmi!”

Jaya menatap gurunya. “Siapa yang menandatanganinya Ki?”

Ki Wreda sedikit agak ragu dan berdiam sejenak. “Surya Raksa!”

Jaya tak percaya, seakan nama itu jatuh seperti petir yang berada di tengah ruangan.

Ratri menoleh dengan cepat ke arah Jaya. “Siapa dia?”

Jaya tidak langsung menjawabnya, matanya justru kosong seperti sedang melihat sesuatu yang jauh di masa lalu.

“Orang yang dulu kupanggil saudara,” kata Jaya pelan.

Di luar, hujan turun semakin deras dan di halaman Padepokan Tirta Kencana. Para murid masih berlatih, mereka bahkan tidak menyadari jika ada badai yang sedang lahir di dalam pendopo.

Tanah lapang yang biasanya dipenuhi teriakan latihan, kini terasa lebih berat dari biasanya. Seolah udara yang datang juga ikut menahan napas.

___

“Langkahmu salah!” cakap Jaya.

Suara Jaya beberapa saat lalu masih terngiang di kepala mereka, tapi kini suasana sudah berubah.

Tiba-tiba, Braaak!

Suara lonceng darurat berbunyi dari menara kayu yang ada di sisi kiri padepokan, bergema keras hingga menembus derasnya hujan. Suaranya nyaring hingga tiga kali, membuat semua murid berhenti dari aktivitas mereka.

“Apa itu?” salah satu murid muda bertanya dengan panik.

“Serangan?” sahut murid lain.

Dari kejauhan kembali terdengar suara teriakan.

“Pasukan Persekutuan datang!” teriak salah satu murid yang ada di kejauhan.

Kekacauan langsung pecah di halaman.

___

Di dalam pendopo, Ki Wreda berdiri tegak ketika mendengar teriak bising dari luar.

“Sudah datang,” kata Ki Wreda pelan.

Jaya langsung berdiri dan meraih pedangnya “Berapa jumlah mereka Ki?”

“Puluhan!” jawab Ki Wreda.

Ratri mundur setengah langkah. “K– kkenapa, mereka datang secepat ini?”

Jaya menatap surat yang masih di tangan Ratri. “Karena ini bukan sebuah kebetulan!”

Ki Wreda menatap Jaya dalam-dalam. “Jangan lakukan hal bodoh Jaya!”

Jaya mengangguk, ia langsung mengerti maksud dari Ki Wreda. “Jika aku menyerah, maka mereka akan membawaku tanpa sebuah perlawanan,”

“Itu lebih baik Jaya,” jawab Ki Wreda.

Ratri menatap Ki Wreda dan juga Jaya secara bergantian. “Tapi… kalau Jaya tidak bersalah, kenapa harus menyerah, Romo?”

Ki Wreda menghembuskan napas berat dan tidak menjawab sama sekali.

“Karena di dunia persilatan tidak pernah peduli dengan siapa yang benar Ratri,” sahut Jaya.

Suara langkah kuda semakin terdengar mendekat, debu dan air hujan bercampur di luar gerbang. Menciptakan kabut tipis yang bergerak liar setiap kali angin datang bertiup.

“Serahkan Jaya Wiratama!” teriak suara dari luar.

“Atas nama Persekutuan Persilatan!” Ratri menggenggam ujung bajunya. “Jaya…,”

Jaya menatap ke arah luar gerbang, karena untuk pertama kalinya. Ketenangan di wajahnya benar-benar menghilang.

“Ini bukan penangkapan biasa,” gumam Jaya.

Ki Wreda mengangguk pelan. “Ini eksekusi yang disamarkan!”

Ratri terkejut dan menoleh pada Ki Wreda. “Apa maksudnya, Romo?”

“Ada seseorang yang ingin sekali aku mati, tapi… dengan cara yang membuatku terlihat bersalah!” jawab Jaya.

Hening!

Hanya suara hujan dan derap kuda yang semakin dekat.

Srengg!

Tiba-tiba, Jaya mencabut pedangnya.

“Jaya?!” Ratri terkejut.

“Tenang,” kata Jaya. “Aku tidak akan menyerang duluan!”

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ไม่มีความคิดเห็น
11
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status