เข้าสู่ระบบFitnah merenggut segalanya dari Jaya Wiratama. Kehormatan, perguruan, dan saudara seperjuangan. Dicap pengkhianat oleh Adipati Agung Surya Raksa, ia menjadi buronan persilatan. Hanya Ratri Wulan yang setia. Mereka membangun kembali Padepokan Tirta Kencana, namun konspirasi lama menyeret mereka ke perang antar perguruan. Jaya harus mengungkap dalang fitnah, sementara Ratri mempertaruhkan segalanya.
ดูเพิ่มเติมMembuat Mahesa mengerutkan keningnya. “Apa yang lucu?”“Aku hanya baru sadar,” ucap Jaya. “Apa?” tanya Mahesa. “Surya Raksa yang mengirimmu ke sini karena dia tidak cukup berani untuk datang sendiri,” ucap Jaya dengan tatapan sinisnya. Seketika Wajah Mahesa berubah.Kemudian Jaya melanjutkan pembicaraannya. “Dia takut pada apa yang akan terjadi jika aku membaca pesan ayahku,”Mahesa mengangkat pedangnya. “Jangan bermain-main!”“Aku tidak bermain-main,” tukas Jaya. Kemudian Jaya melempar gulungan bambu itu ke tanah, lalu Mahesa memberi isyarat kepada anak buahnya dan salah seorang pendekar mengambilnya.“Buka!” perintah Mahesa. Gulungan itu akhirnya dibuka, tapi isinya kosong. Membuat mata Mahesa membelalak.“Mustahil,” pekik Mahesa. Jaya hanya tersenyum. “Pesan yang asli tidak pernah ada di dalamnya,”Mahesa langsung menyadarinya. “Di mana?”Jaya mengangkat tangannya, terlihat sebuah potongan kecil bambu terselip di antara jarinya.“Di sini,” ucap Jaya. Nyi Sekar Arum tersenyu
Di tangan Mahesa Raka terdapat sebuah benda kecil, yaitu liontin yang sama dengan milik Ratri.“Karena di Kuil Banyu Langit…,” ucap Mahesa Raka, tatapannya mengarah ke rumah persembunyian. “…kebenaran tentang perempuan itu akhirnya akan terbuka,”Fajar semakin dekat dan Jaya belum tahu bahwa pertemuan berikutnya, ternyata akan membuatnya memilih antara menyelamatkan Ratri atau membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Langit mulai berubah warna ketika Jaya meninggalkan rumah persembunyian itu, kabut tipis menggantung di jalan menuju Kuil Banyu Langit. Burung-burung belum berkicau, tetapi beberapa lampu minyak yang bergelantungan sudah terlihat dari kejauhan.Jaya berjalan seorang diri dengan pedangnya yang tergantung di pinggang, di balik jubahnya ia menyimpan gulungan pesan Ayahnya.Jaya tahu bahwa ini adalah jebakan, tapi ancaman terhadap Ratri yang membuatnya tidak punya pilihan.Sebelum pergi, Ratri sempat menahannya. “Jaya!”“Apa?” kata Jaya. “Jangan percaya siapa pun di sana!
Darma Seta mengangguk kemudian menatap kearah Ratri, seketika saja ekspresinya berubah.“Jadi…,” Darma Seta mendekat. “Ini gadis yang mereka cari?”Jaya langsung berdiri di depan Ratri dengan sigap. Darma Seta mengangkat tangannya sebagai tanda tidak akan berbuat apa-apa. “Tenanglah! Aku tidak berniat untuk menyerahkannya,”Darma Seta kembali menatap Ratri dengan sangat lama.“Sekarang aku sudah mengerti kenapa Surya Raksa begitu takut!” ucap Darma Seta. Ratri mengerutkan keningnya lalu bertanya. “Takut pada apa?”Darma Seta tidak menjawabnya, Ia hanya berkata. “Jangan biarkan siapa pun untuk mengambil darahmu!”Ratri semakin dibuat tak mengerti dan bingung. “Apa maksudnya?”“Suatu hari nanti kamu akan segera mengerti!” ucap Darma Seta. Jaya langsung menoleh pada Ki Lembu, sebagai tanda harus melakukan apa kedepannya. Ki Lembu pun mengangguk, tanda menyetujui untuk segera mengikuti mereka. Tak berapa lama kemudian, akhirnya mereka berhasil untuk memasuki Giri Aruna melalui lorong
Malam itu belum berakhir ketika Jaya, Ratri, dan Ki Lembu meninggalkan Lembah Watu Ireng.Mereka bertiga berjalan tanpa ada penerangan obor, hanya yakin pada cahaya bulan yang sesekali menembus celah pepohonan untuk menjadi penerang jalan.Namun tiba-tiba saja, langkah Jaya tidak lagi setenang seperti sebelumnya. Pesan Ayahnya selalu saja terngiang-ngiang di kepalanya. ‘Jangan percaya persekutuan, dan jangan percaya pada kitab itu!’ gumam Jaya. Terlebih lagi sekarang Surya Raksa sudah mengklaim, bahwa Ratri adalah pewaris terakhir dari Kitab Arus Naga tersebut. Jaya melirik perempuan yang ada di sampingnya itu, Ratri sedang berjalan dalam diam sejak mereka meninggalkan makam.Biasanya Ratri akan selalu mengomel, jika Jaya berjalan terlalu cepat tapi malam ini tidak lagi. “Ratri!” panggil Jaya. “Hm?” gumam Ratri. “Kamu… baik-baik saja?” tanya Jaya. Ratri hanya tersenyum tipis tidak seperti biasanya. “Aku tidak tahu,”Sontak jawaban itu membuat Jaya berhenti untuk melangkah, disu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.