Share

Bab 168

Penulis: Imgnmln
last update Tanggal publikasi: 2026-06-27 19:48:03

Raka melangkah mendekat dengan ritme yang tenang. Wajahnya tetap datar tanpa memperlihatkan sedikit pun gejolak emosi, seolah pertemuan itu hanyalah urusan biasa yang tidak layak membuatnya terganggu.

Begitu melihat Raka berhenti di hadapannya, Celine langsung mengangkat dagu dengan ekspresi penuh superioritas. "Jadi akhirnya kamu mau keluar juga."

Sudut bibirnya terangkat tipis. "Aku sempat mengira kamu akan terus bersembunyi di dalam kamp seperti pengecut."

Kevin berdiri di samping sambil mel
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 169

    Raka bahkan tidak melirik Kevin. Tatapannya tetap tertuju kepada Celine. Beberapa detik kemudian, ia baru menunjuk Kevin dengan ibu jarinya. "Ngomong-ngomong..." Nada suaranya terdengar santai. "Dia ini siapa?"Raka memiringkan kepala sedikit. "Aku bahkan tidak mengenalnya, tapi tiba-tiba muncul lalu sibuk mengurus urusan orang lain."Wajah Kevin langsung memerah. Ia baru saja membuka mulut untuk memperkenalkan diri ketika Celine lebih dulu menyela. "Namanya Kevin Hartanto."Dengan bangga, ia menggandeng lengan Kevin lebih erat. "Dia sahabat laki-laki terbaikku."Kalimat itu baru saja keluar ketika suara tawa yang ditahan-tahan langsung terdengar dari balik pagar."Cih... sahabat laki-laki?""Aku sih tidak percaya.""Kalau itu cuma sahabat, terus aku ini komandan pasukan khusus?""Benar! Tinggal tunggu mereka bilang hubungan mereka murni."Berbagai bisikan bernada mengejek langsung menyebar di antara para mahasiswa baru. Banyak yang berusaha menahan tawa sambil saling bertukar pandang

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 168

    Raka melangkah mendekat dengan ritme yang tenang. Wajahnya tetap datar tanpa memperlihatkan sedikit pun gejolak emosi, seolah pertemuan itu hanyalah urusan biasa yang tidak layak membuatnya terganggu.Begitu melihat Raka berhenti di hadapannya, Celine langsung mengangkat dagu dengan ekspresi penuh superioritas. "Jadi akhirnya kamu mau keluar juga."Sudut bibirnya terangkat tipis. "Aku sempat mengira kamu akan terus bersembunyi di dalam kamp seperti pengecut."Kevin berdiri di samping sambil melipat kedua tangan. Senyum tipis terus menghiasi wajahnya karena baginya semua ini tidak lebih dari hiburan yang menarik untuk disaksikan.Raka menghentikan langkah sekitar tiga meter dari mereka. Tatapannya hanya tertuju kepada Celine. Ia tidak menyela, tidak pula menunjukkan keinginan untuk menjawab.Sikap yang terlalu tenang itu justru membuat Celine kehilangan alur pembicaraan yang telah dipersiapkannya. Kalimat-kalimat yang semula ingin ia lontarkan seolah tertahan begitu saja.Dulu, setiap

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 167

    "Aku sudah datang sendiri ke sini," ucap Celine sambil mengangkat dagu. "Itu saja sudah cukup memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya."Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada penuh percaya diri. "Nanti aku akan bicara baik-baik dengannya sampai dia sadar sudah bersikap keterlaluan."Pikirannya kemudian beralih ke hal lain."Masalah uang bulanan juga harus dibahas. Lima juta terlalu sedikit." Celine menyilangkan tangan lebih erat. "Aku sudah memutuskan. Setelah membuatku marah seperti ini, dia harus menaikkan uang bulananku menjadi delapan juta."Kevin langsung menimpali sambil tersenyum puas. "Itu baru benar." Ia mengangguk berkali-kali. "Menghadapi pria seperti itu memang tidak boleh terlalu baik. Semakin kamu menjaga jarak, semakin besar usahanya mengejarmu. Di matanya, kamu pasti sudah seperti seorang dewi."Mereka masih larut dalam percakapan ketika perhatian keduanya tertuju ke arah gerbang kamp.Seorang pemuda berpakaian santai sedang berjalan mendekat

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 166

    Belum sempat kalimatnya selesai, suara seorang perempuan terdengar jelas dari balik sambungan telepon. Nadanya tinggi, menunjukkan bahwa ia baru saja merebut gagang telepon dari tangan petugas."Raka! Apa maksudmu?" Suara Celine terdengar penuh kekesalan. "Aku sudah datang sejauh ini menemuimu, tapi kamu bahkan tidak mau keluar? Dengarkan baik-baik! Kalau hari ini kamu tidak muncul dan memberiku penjelasan, aku benar-benar akan marah. Kali ini bukan marah biasa!"Raka memejamkan mata sesaat sambil memijat pangkal hidungnya. Rasa jengkel mulai memenuhi pikirannya. Pada akhirnya, ia menyadari, menghadapi orang seperti Celine dengan adu argumen tidak akan menghasilkan apa pun. Semakin dijelaskan, semakin panjang persoalannya.Lebih baik semuanya diselesaikan sekaligus."Aku akan datang."Setelah sambungan telepon terputus, Raka mengganti seragam latihannya dengan pakaian kasual yang bersih. Beberapa menit kemudian, ia melangkah keluar dari gedung asrama menuju gerbang utama kamp.Belum l

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 165

    Ketika pikirannya masih dipenuhi berbagai pertimbangan, suara mekanis yang sudah sangat dikenalnya kembali bergema di dalam benaknya.[Ding!][Selamat, Pengguna! Misi Takhta Pulau Tempur telah berhasil diselesaikan.][Imbalan misi sedang dihitung...][Selamat! Pengguna memperoleh hadiah tambahan: Kesadaran Medan Perang Tingkat Menengah.]Mata Raka sedikit membesar ketika hadiah itu berhasil diintegrasikan oleh sistem. Sesaat kemudian, gelombang informasi dalam jumlah besar langsung mengalir ke pikirannya hingga cara pandangnya terhadap medan tempur berubah sepenuhnya.Jika sebelumnya Deteksi Ancaman hanya bekerja seperti alarm yang aktif ketika bahaya mendekat, kini otaknya seolah berubah menjadi pusat analisis tempur yang terus memindai seluruh situasi secara aktif.Dalam persepsinya, ruang di sekelilingnya terasa jauh lebih jelas. Kontur medan, sudut pandang, jalur pergerakan, hingga berbagai kemungkinan taktis tersusun rapi di benaknya seperti sebuah simulasi tiga dimensi yang teru

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 164

    Tiara membuka tutup botol antiseptik hingga aroma tajam langsung memenuhi ruangan. Dengan bantuan pinset, ia mengambil kapas yang telah dibasahi cairan tersebut sebelum menempelkannya perlahan ke luka terdalam di lengan Raka."Ssshh..."Raka spontan mengisap napas.Seberapa kuat pun ketahanan tubuh dan mentalnya, rasa perih yang menyengat tetap membuat otot-ototnya menegang seketika.Sudut bibir Tiara sedikit terangkat. "Oh?"Tatapan mereka akhirnya bertemu."Ada juga rupanya orang yang baru saja mengalahkan instruktur, tetapi masih bisa kesakitan karena antiseptik." Nada bicaranya terdengar tenang, disertai selipan godaan yang sangat tipis. "Aku sempat mengira sarafmu terbuat dari baja, jadi rasa sakit seperti ini seharusnya tidak berpengaruh sama sekali."Raka hanya bisa menyeringai sambil menahan perih. "Aku juga manusia," ujarnya dengan senyum masam. "Wajar kalau terasa sakit.""Kalau tahu sakit, kenapa masih nekat menyiksa diri sendiri?" Nada suara Tiara berubah lebih dingin. Kap

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 131

    "Mudah." Kevin membuka kedua tangannya. "Kita pergi dari sini sekarang juga dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Semakin tenang dirimu, semakin gelisah dia nantinya."Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada penuh keyakinan. "Percayalah, paling lambat tiga hari. Setelah dia menyada

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 129

    "Cepat kembali!" teriaknya tanpa sadar. "Raka Mahendra! Kembali ke sini!"Ia langsung bergerak maju ingin mengejar, tetapi dua penjaga di gerbang serempak menghalangi jalannya."Area militer terbatas. Dilarang masuk tanpa izin!"Nada suara mereka datar dan tegas."Lepaskan aku!" Celine mulai kehila

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 128

    "Raka... kau..."Suaranya bahkan sempat tersendat. "Kau berani bicara seperti itu padaku? Kau benar-benar memblokirku?" Napasnya mulai memburu. "Kau gila, ya?!"Jari telunjuknya langsung terangkat dan menunjuk ke arah wajah Raka. "Aku sedang sangat marah sekarang! Sangat marah! Kalau kau terus bers

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 127

    Raka berjalan santai menuju gerbang utama area pelatihan. Begitu jarak mereka semakin dekat, ia langsung mengenali sosok perempuan yang berdiri di sana.Gadis yang selama ini dikenal sebagai cahaya bulan dalam berbagai catatan dan informasi yang diwariskan sistem.Sementara pria berpakaian rapi yan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status