LOGINAku tidur dengan pimpinan perusahaan tanpa tahu bahwa pria itu bukanlah manusia biasa, melainkan seorang alpha dari klan werewolf terkuat. Seakan tidak cukup, aku kemudian mengandung keturunan dari malam panas itu.
View More“Hanya menemani beliau sebentar saja, Fay. Lalu kamu bisa pulang. Apa susahnya?”
Aku menghela napas pelan mendengar rentetan kalimat dari Bu Sarah, sekretaris senior sekaligus atasanku. Beliau terdengar terburu-buru dan penuh desakan saat memintaku pergi ke ruangan pimpinan perusahaan malam-malam begini.
“Tapi, Bu—”
"Beliau sedang nggak enak badan. Kamu cuma tinggal datang, lalu bawakan air hangat atau apa pun yang dia butuhkan."
“Kalau begitu, apa nggak sebaiknya memanggil bagian kesehatan, Bu? Saya hanya anak magang.”
"Sudah, lakukan saja."
Klik.
Sambungan diputus begitu saja sebelum aku sempat kembali menolak.
Aku menatap layar ponsel dengan perasaan bingung dan kesal. Logikaku mengatakan bahwa seorang anak magang tidak punya urusan di lantai paling atas, apalagi di jam selarut ini.
Namun, rasa takut dipecat dari perusahaan mengalahkan semuanya.
Aku merapikan bajuku, mengambil tas, lalu melangkah menuju lift dengan jantung yang mulai berdegup kencang.
Lantai eksekutif terasa sangat berbeda dari lantai bawah. Bagian lorongnya dilapisi karpet tebal untuk meredam suara langkah kaki. Udaranya bahkan lebih dingin, dan pencahayaannya terlihat remang. Namun, saat aku mendorong pintu besar ruangan pimpinan, hawa panas langsung menyergap kulitku, membuatku gemetar tanpa sebab.
Udara di dalam terasa menghanyutkan, seperti membawa aroma hutan setelah hujan bercampur dengan wangi parfum yang maskulin.
Pria itu, sang pemegang kuasa tertinggi di perusahaan ini, terbaring di sofa kulit panjang. Jas mahalnya tergeletak di lantai seperti kain tak berharga. Kemeja putihnya terbuka di bagian atas, menampakkan lehernya yang seksi dan kulit bersih tanpa cela.
Napasnya terdengar berat, kasar, dan terengah-engah.
Gleg!
Seketika aku menelan ludah, merasa seolah-olah aku baru saja masuk ke sarang binatang buas.
"Pak?" Suaraku hampir tak terdengar. "Saya Fay, dari tim magang. Saya diminta Bu Sarah untuk mengecek keadaan Bapak."
Matanya terbuka perlahan. Tatapannya tampak lebih tajam dari biasanya dan memiliki binar aneh yang membuat bulu kudukku merinding.
Apakah … normal manusia memiliki mata seperti itu?
Pria itu menatapku tanpa kedip, seolah-olah melalui iris hitamnya, ia sedang menelanjangiku bulat-bulat.
"Apa Anda baik-baik saja, Pak? Perlu saya panggilkan dokter?" tanyaku lagi, kali ini aku maju lebih dekat.
Ia diam, tidak menjawab ucapanku satu patah kata pun.
Matanya terus bergerak menyisir wajahku, turun ke leherku, lalu kembali ke mataku.
Sorot mata itu tidak tampak seperti orang sakit. Ia menatapku seolah aku bukan lagi manusia di matanya, melainkan sesuatu yang sangat ia inginkan.
Seolah aku adalah ... mangsa.
"Seharusnya kamu nggak datang," katanya lirih. Suaranya parau, dalam, dan bergetar hebat, seperti menahan sesuatu yang menyakitkan.
Aku tersentak mundur. "Maaf?"
Rahangnya mengeras sekeras batu, dan tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Itu membuatku takut. Namun, bahkan di tengah kondisi aneh ini, aku berhasil mengingat perintah Bu Sarah untuk membawakan pria ini air hangat. Oleh karena itu, dengan tangan gemetar, aku menuangkan air dari teko kristal ke dalam gelas dan menghampirnya.
"Minum dulu, Pak–ah!”
Saat aku menyodorkan gelas itu, tangannya bergerak sangat cepat. Ia tidak meraih gelasnya, melainkan mencengkeram pergelangan tanganku.
Sentuhan kulitnya terasa membara, hampir seperti api yang menjilat pergelangan tanganku. Aku bisa merasakan getaran aneh, sebuah energi kuat yang menjalar masuk ke aliran darahku, membuat pandanganku sedikit mengabur dan kepalaku pusing.
"Peganganku membuatmu sakit?" Akhirnya ia kembali bersuara. Napasnya masih memburu, terasa panas di depan wajahku.
Aku mengangguk pelan. Ia sedikit melonggarkan cengkeramannya, tapi tidak melepaskanku. Bahkan justru menarikku lebih dekat.
Anehnya, napasnya yang tadi tersengal perlahan mulai teratur. Bahunya yang tegang berangsur rileks seolah-olah kehadiranku adalah obat penenang yang ia butuhkan.
"Kamu," gumamnya pada diri sendiri sembari menghirup aroma dari ceruk leherku. "Hanya dengan menyentuhmu, semua terasa membaik. Rasa sakit ini perlahan mereda."
"Apa maksud Anda? Saya nggak ngerti, Pak," tanyaku dengan suara yang mulai serak.
Ia menatap pergelangan tanganku yang masih ada dalam genggamannya, lalu beralih menatap mataku dengan tatapan yang sulit kuartikan.
"Tetaplah di sini."
Aku tidak tahu kapan tepatnya batas itu terlampaui. Segalanya menjadi kabur saat jarak di antara kami semakin terkikis. Bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut. Awalnya hanya sapuan halus, namun sentuhan itu mengirimkan sengatan listrik yang menjalar ke seluruh sarafku.
Seperti ada suatu dalam diriku mengenali sentuhan itu sebelum otakku sempat memprosesnya. Seolah ada bagian dari jiwaku yang sudah menunggu seumur hidup hanya untuk saat ini.
Aku tersentak dengan mata membulat, namun detak jantungku justru kembali menggila. Tanpa sadar aku membuka mulutku sedikit, memberinya izin yang tidak terucap. Pria itu tidak membuang waktu, ia bertindak lebih jauh, menelusupkan lidahnya dengan gerakan posesif.
Tiba-tiba erangan halus lolos dari bibirku, membuatku diserbu oleh rasa takut yang hebat begitu melihat respons tubuhku yang di luar nalar.
"Jangan takut," bisiknya terdengar seperti lonceng mantra di telingaku. “Kita adalah pasangan takdir. Meski kamu adalah manusia, sang Dewi nggak akan salah.”
...............***..............
Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk menenangkan kekacauan di dalam pikiranku.Namun, Aaron tetap membisu.Sorot mata emasnya terlihat rumit. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang dalam dan sulit dijelaskan, seolah bahkan dirinya sendiri tidak benar-benar memahami apa yang ia rasakan."Aaron—""Maaf, Fay," potongnya cepat. "Aku nggak tahu apa ini cinta ... atau hanya ikatan mate."Tubuhku seketika menegang."Tapi Aaron—""Apa itu belum cukup buatmu?" Ia kembali memotong ucapanku. Tatapannya turun tepat ke mataku, begitu intens hingga membuat dadaku berdenyut sakit. "Bayanganmu selalu mengejarku, bahkan saat aku menutup mata. Setiap detik yang aku habiskan jauh darimu hampir membuatku gila, apa itu masih belum cukup?"Kalimat itu membua
Aku masih berada di dalam dekapan Aaron ketika keheningan kembali memenuhi setiap sudut kamar kecilku. Di luar sana, angin malam masih bertiup pelan, menggoyangkan tirai jendela bersama cahaya bulan merah yang sesekali masuk ke dalam ruangan.Namun anehnya, rasa takut yang tadi hampir menghancurkanku perlahan mulai mereda.Karena Aaron ada di sini.Tangannya mengusap pelan punggungku dengan gerakan yang membuai, sementara telapak tangannya yang lain tetap berada di atas perutku seolah ia tidak ingin melepaskan hubungan dengan anak kami sedikit pun.“Aku benar-benar benci harus meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini,” ucapnya, suaranya rendah dan sarat dengan kegelisahan.Aku mendongak perlahan, menatap wajahnya dari jarak yang begitu dekat. Sorot mata emas itu masih menyimpan sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya memudar. Garis-garis kelelahan di sudut matanya tampak jelas, namun ia berusaha menutupinya dengan tatapan yang tajam.Aaron mengembuskan napas pelan sebelum kemba
Aku masih bisa merasakan sisa-sisa nyeri di tubuhku saat Aaron duduk di kursi, persis di samping ranjangku. Tangannya belum berpindah dari perutku, seolah ia takut rasa sakit itu akan kembali menyerang begitu saja jika ia melepaskannya.Dan anehnya ... kehangatan itu benar-benar menenangkan.Janin di dalam rahimku yang tadi bergerak liar kini jauh lebih tenang di bawah sentuhannya, seolah benar-benar mengenali keberadaan pria ini sebagai sosok yang paling mampu menenangkan insting liarnya.Kamar kecil ini perlahan kembali sunyi.Hanya suara napas kami yang terdengar samar di tengah cahaya bulan merah yang menyusup masuk melalui celah jendela.Aku memberanikan diri menatap Aaron. Baru sekarang aku menyadari bahwa pria itu tampak jauh lebih kacau dibanding biasanya. Garis rahangnya mengeras, napasnya terdengar berat, sementara mata emas yang biasanya begitu tajam kini meredup, menyiratkan kelelahan yang amat sangat.Akan tetapi, ada yang berbeda dari caranya menatapku malam ini. Tatapa
Tubuhku masih gemetar hebat di atas lantai kamar. Rasa sakit itu datang lagi, jauh lebih ganas dari sebelumnya, seolah mencoba menyerang rahimku dari dalam tanpa ampun."Akhh, sakit! Nek, tolong!!"Tangisku pecah seketika. Jemariku mencengkeram kain bajuku sendiri di atas perut yang terasa semakin berat dan menegang. Rasanya seperti ada sesuatu di dalam sana yang terus bergerak liar, menekan ke segala arah hingga napasku tersengal-sengal."Fay, dengarkan nenek. Tarik napasmu pelan-pelan." Suara nenek terdengar sangat panik di dekatku. Tangannya terus mengusap punggungku yang sudah basah oleh keringat dingin. "Jangan biarkan ketakutanmu menguasai dirimu. Kamu harus tetap tenang demi anak itu.""Aku mencoba, Nek. Sungguh, aku mencoba," isakku dengan suara yang nyaris hilang.Tapi rasa sakit ini terlalu besar. Perutku kembali bergelombang pelan di depan mataku sendiri, membuat tubuhku membeku ketakutan. Sesuatu di dalam sana bergerak semakin kuat. Kulitku menegang sampai terasa pana
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews