Mag-log inDi Pusat Komando, salah satu instruktur akhirnya tidak mampu menahan keterkejutannya. Ia menepuk paha dengan keras sebelum berdiri sambil menunjuk layar."Jenius!""Anak itu benar-benar jenius dalam taktik tempur!"“Dia bahkan tidak sedang mencari senjata. Dia menggunakan seluruh bagian gunung sebagai senjatanya!"Arman juga tidak dapat menyembunyikan ekspresinya lagi. Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya saat pandangannya tetap tertuju pada sosok Raka di layar."Sepertinya lawannya terlalu meremehkannya. Kalau dibiarkan seperti ini, posisi penembak jitu itu akan berada dalam masalah besar."Sementara itu, di lokasi persembunyian, penembak jitu musuh mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.Sudah cukup lama dia kehilangan jejak Raka, bahkan dengan bantuan teropong berdaya pembesaran tinggi yang dimilikinya. Namun beberapa suara aneh terus terdengar samar dari arah atas tebing.Krek… Krrk...Suara gesekan itu hampir tertelan oleh derasnya hujan, tetapi pengalaman panjangnya di med
Di sisi tebing, setiap meter pendakian yang ditempuh Raka berada dalam batas yang sangat berbahaya. Batu-batu yang licin serta bongkahan tanah yang bisa runtuh kapan saja membuat satu kesalahan kecil saja cukup untuk menjatuhkannya ke jurang di bawah.Raka memaksimalkan seluruh kemampuan memanjat yang dimilikinya hingga batas tertinggi sambil menjaga setiap pergerakan dengan tingkat kehati-hatian ekstrem. Rasa nyeri dan kelelahan terus menghantam tubuhnya seperti gelombang tanpa henti, tetapi tekadnya tetap kokoh karena seluruh fokusnya hanya tertuju pada sasaran di atas sana.[Ding! Kemampuan Panjat Tebing Militer tingkat Master milik Pengguna terdeteksi telah mencapai tingkat kesempurnaan.][Bonus Spesial diberikan.][Selamat! Pengguna memperoleh Kemampuan Panjat Tebing Militer tingkat Raja.][Hadiah sedang diintegrasikan...]Mata Raka sedikit melebar.Kemampuan tingkat Raja?Waktu kemunculannya benar-benar sempurna.Hampir seketika, sejumlah besar informasi mengalir deras ke dalam
Di dalam tenda medis.Suasana yang sebelumnya dipenuhi tawa perlahan berubah menjadi hening.Semua orang menatap layar dengan ekspresi bingung. Mereka mengira Raka akan mencari tempat berlindung. Mereka mengira ia akan bersembunyi sampai latihan berakhir. Namun kenyataannya justru sebaliknya."Apa yang sedang dia lakukan?" tanya salah seorang mahasiswa dengan wajah kosong."Dia memanjat lagi?""Apakah dia sudah kehilangan akal?""Tempat itu licin karena hujan! Kalau terpeleset, dia bisa jatuh dari ketinggian puluhan meter!"Reyhan yang sejak tadi menikmati penderitaan Raka perlahan menghentikan senyumnya. Alisnya mulai berkerut, ada sesuatu yang terasa tidak beres."Anak itu..." gumamnya pelan sambil menatap layar. "Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan?"Damar juga memasang ekspresi bingung. "Kalau dia ingin melarikan diri, seharusnya dia bergerak menjauh. Kalau dia ingin bertahan hidup, seharusnya dia bersembunyi. Lalu kenapa dia justru mendekati area yang lebih berbahaya?"Tidak ad
Banyak peserta yang sebelumnya disingkirkan oleh Raka memang tidak menyimpan dendam secara terbuka, tetapi melihat orang yang selama ini mendominasi latihan akhirnya berada dalam posisi terdesak membuat sebagian dari mereka merasakan kepuasan yang sulit disembunyikan."Dia terluka?""Benar, lengan kirinya hampir tidak bergerak.""Napasnya juga sudah berantakan.""Kalau hujan berhenti, dia pasti tidak punya tempat untuk bersembunyi lagi."Komentar demi komentar terus bermunculan.Di sudut lain tenda, Rio langsung mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Bara yang masih terbaring di ranjang medis juga memasang wajah gelap. Keduanya ingin membalas ucapan orang-orang itu, namun jumlah mereka terlalu banyak. Pada akhirnya, mereka hanya bisa menahan amarah sambil terus menatap layar.Sementara itu, Tiara berdiri tanpa bergerak di antara kerumunan. Ia sama sekali tidak mendengar tawa ataupun ejekan yang memenuhi ruangan. Perhatiannya hanya tertuju kepada Raka.Melihat kondisi pem
Sementara itu, di pusat komando kamp logistik.Arman berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung sambil mengamati seluruh tayangan pengawasan yang ditampilkan pada layar besar. Beberapa instruktur berdiri di sekitarnya, dan hampir semuanya memasang ekspresi yang sulit dijelaskan."Komandan," ujar salah satu instruktur setelah cukup lama terdiam. "Bukankah ini terlalu berlebihan untuk peserta latihan?"Arman tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada layar yang memperlihatkan perjuangan Raka di tengah badai. "Kalian semua sudah melihat sendiri kemampuan anak itu," jawabnya dengan nada tenang. "Selama lima hari terakhir, performanya jauh melampaui standar mahasiswa baru biasa."Ia menunjuk layar yang sedang menampilkan rekaman Raka. "Keterampilan tempur, kesadaran medan, kemampuan analisis, pengambilan keputusan, sampai insting bertahannya berada di level yang sangat jarang ditemukan."Para instruktur saling berpandangan. Tidak ada satu pun yang membantah. Karena semua
Urat-urat di lehernya tampak menegang. "Kalau bukan karena penyergapan sialan itu, seratus orang seperti kalian sekalipun tetap tidak akan mampu menghentikan aku dan Raka!"Kalimat tersebut langsung membuat seluruh tenda terdiam.Penembak jitu?Kata itu seolah menghantam semua orang secara bersamaan."Apa maksudmu penembak jitu?" tanya salah seorang peserta dengan wajah bingung. "Bukankah latihan ini tidak menggunakan senjata seperti itu?""Aku bahkan belum pernah melihat senapan jitu selama latihan berlangsung.""Benar, dari mana datangnya penembak jitu?"Suasana yang semula ramai berubah menjadi penuh tanda tanya.Bara menarik napas panjang untuk menenangkan emosinya, tetapi kemarahan masih terlihat jelas di wajahnya."Aku tidak sedang bercanda." Suaranya terdengar jauh lebih serius dibanding sebelumnya. "Orang itu jelas bukan peserta biasa."Semua orang langsung memasang ekspresi tegang."Dia menembakku dari jarak sangat jauh," lanjut Bara sambil mengepalkan tangan. "Kemampuan mene
Jauh di dalam hutan pulau terpencil.Raka dan Bara bersembunyi di balik semak lebat yang hampir menelan keberadaan mereka. Keduanya menahan napas sambil membiarkan tubuh mereka menyatu dengan lingkungan sekitar, membuat keberadaan mereka nyaris mustahil dideteksi dari kejauhan.Pengorbanan Rio tern
"Ratusan orang mengejar kami. Benar-benar ratusan! Seluruh lereng bukit penuh peserta dari berbagai unit. Mereka bergerak dari segala arah sampai kami bertiga nyaris tidak punya celah untuk kabur."Rio menggeleng pelan seolah masih sulit mempercayai apa yang telah terjadi. "Saat itu aku sudah pasra
Petugas medis yang membawa tandu itu sempat terkejut melihat Tiara berlari mendekat. Ia segera mengangkat tangan dan menjawab dengan tegas. “Yang terluka bukan Raka!"Mendengar kalimat itu, bahu Tiara yang sejak tadi menegang langsung mengendur. Napas yang tanpa sadar ia tahan akhirnya keluar perla
Pada saat yang sama, di kamp logistik dan medis yang didirikan di tepi pulau, Tiara sedang membalut pergelangan kaki seorang peserta yang mengalami cedera saat melintasi area berbatu.Gerakannya terlihat terampil dan efisien. Setelah beberapa hari bertugas, ia sudah sepenuhnya beradaptasi dengan ri







