Share

Bab 46

Author: Imgnmln
last update publish date: 2026-05-24 14:41:31

Reyhan menyilangkan tangan di depan dada sambil tersenyum tipis penuh keyakinan. Ia tidak percaya ada mahasiswa baru yang bisa melampaui hasilnya.

Raka sendiri terlihat terlalu santai, ia mengambil senapan itu dengan tenang lalu mengangkatnya perlahan ke arah target. Namun saat jemarinya menyentuh senjata, sistem analisis tempur di dalam kepalanya langsung bekerja secara otomatis.

Semua data tentang senjata, keseimbangan, hentakan, dan keseimbangan pistol muncul begitu saja di pikirannya sepert
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 155

    Di Pusat Komando, salah satu instruktur akhirnya tidak mampu menahan keterkejutannya. Ia menepuk paha dengan keras sebelum berdiri sambil menunjuk layar."Jenius!""Anak itu benar-benar jenius dalam taktik tempur!"“Dia bahkan tidak sedang mencari senjata. Dia menggunakan seluruh bagian gunung sebagai senjatanya!"Arman juga tidak dapat menyembunyikan ekspresinya lagi. Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya saat pandangannya tetap tertuju pada sosok Raka di layar."Sepertinya lawannya terlalu meremehkannya. Kalau dibiarkan seperti ini, posisi penembak jitu itu akan berada dalam masalah besar."Sementara itu, di lokasi persembunyian, penembak jitu musuh mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.Sudah cukup lama dia kehilangan jejak Raka, bahkan dengan bantuan teropong berdaya pembesaran tinggi yang dimilikinya. Namun beberapa suara aneh terus terdengar samar dari arah atas tebing.Krek… Krrk...Suara gesekan itu hampir tertelan oleh derasnya hujan, tetapi pengalaman panjangnya di med

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 154

    Di sisi tebing, setiap meter pendakian yang ditempuh Raka berada dalam batas yang sangat berbahaya. Batu-batu yang licin serta bongkahan tanah yang bisa runtuh kapan saja membuat satu kesalahan kecil saja cukup untuk menjatuhkannya ke jurang di bawah.Raka memaksimalkan seluruh kemampuan memanjat yang dimilikinya hingga batas tertinggi sambil menjaga setiap pergerakan dengan tingkat kehati-hatian ekstrem. Rasa nyeri dan kelelahan terus menghantam tubuhnya seperti gelombang tanpa henti, tetapi tekadnya tetap kokoh karena seluruh fokusnya hanya tertuju pada sasaran di atas sana.[Ding! Kemampuan Panjat Tebing Militer tingkat Master milik Pengguna terdeteksi telah mencapai tingkat kesempurnaan.][Bonus Spesial diberikan.][Selamat! Pengguna memperoleh Kemampuan Panjat Tebing Militer tingkat Raja.][Hadiah sedang diintegrasikan...]Mata Raka sedikit melebar.Kemampuan tingkat Raja?Waktu kemunculannya benar-benar sempurna.Hampir seketika, sejumlah besar informasi mengalir deras ke dalam

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 153

    Di dalam tenda medis.Suasana yang sebelumnya dipenuhi tawa perlahan berubah menjadi hening.Semua orang menatap layar dengan ekspresi bingung. Mereka mengira Raka akan mencari tempat berlindung. Mereka mengira ia akan bersembunyi sampai latihan berakhir. Namun kenyataannya justru sebaliknya."Apa yang sedang dia lakukan?" tanya salah seorang mahasiswa dengan wajah kosong."Dia memanjat lagi?""Apakah dia sudah kehilangan akal?""Tempat itu licin karena hujan! Kalau terpeleset, dia bisa jatuh dari ketinggian puluhan meter!"Reyhan yang sejak tadi menikmati penderitaan Raka perlahan menghentikan senyumnya. Alisnya mulai berkerut, ada sesuatu yang terasa tidak beres."Anak itu..." gumamnya pelan sambil menatap layar. "Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan?"Damar juga memasang ekspresi bingung. "Kalau dia ingin melarikan diri, seharusnya dia bergerak menjauh. Kalau dia ingin bertahan hidup, seharusnya dia bersembunyi. Lalu kenapa dia justru mendekati area yang lebih berbahaya?"Tidak ad

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 152

    Banyak peserta yang sebelumnya disingkirkan oleh Raka memang tidak menyimpan dendam secara terbuka, tetapi melihat orang yang selama ini mendominasi latihan akhirnya berada dalam posisi terdesak membuat sebagian dari mereka merasakan kepuasan yang sulit disembunyikan."Dia terluka?""Benar, lengan kirinya hampir tidak bergerak.""Napasnya juga sudah berantakan.""Kalau hujan berhenti, dia pasti tidak punya tempat untuk bersembunyi lagi."Komentar demi komentar terus bermunculan.Di sudut lain tenda, Rio langsung mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Bara yang masih terbaring di ranjang medis juga memasang wajah gelap. Keduanya ingin membalas ucapan orang-orang itu, namun jumlah mereka terlalu banyak. Pada akhirnya, mereka hanya bisa menahan amarah sambil terus menatap layar.Sementara itu, Tiara berdiri tanpa bergerak di antara kerumunan. Ia sama sekali tidak mendengar tawa ataupun ejekan yang memenuhi ruangan. Perhatiannya hanya tertuju kepada Raka.Melihat kondisi pem

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 151

    Sementara itu, di pusat komando kamp logistik.Arman berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung sambil mengamati seluruh tayangan pengawasan yang ditampilkan pada layar besar. Beberapa instruktur berdiri di sekitarnya, dan hampir semuanya memasang ekspresi yang sulit dijelaskan."Komandan," ujar salah satu instruktur setelah cukup lama terdiam. "Bukankah ini terlalu berlebihan untuk peserta latihan?"Arman tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada layar yang memperlihatkan perjuangan Raka di tengah badai. "Kalian semua sudah melihat sendiri kemampuan anak itu," jawabnya dengan nada tenang. "Selama lima hari terakhir, performanya jauh melampaui standar mahasiswa baru biasa."Ia menunjuk layar yang sedang menampilkan rekaman Raka. "Keterampilan tempur, kesadaran medan, kemampuan analisis, pengambilan keputusan, sampai insting bertahannya berada di level yang sangat jarang ditemukan."Para instruktur saling berpandangan. Tidak ada satu pun yang membantah. Karena semua

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 150

    Urat-urat di lehernya tampak menegang. "Kalau bukan karena penyergapan sialan itu, seratus orang seperti kalian sekalipun tetap tidak akan mampu menghentikan aku dan Raka!"Kalimat tersebut langsung membuat seluruh tenda terdiam.Penembak jitu?Kata itu seolah menghantam semua orang secara bersamaan."Apa maksudmu penembak jitu?" tanya salah seorang peserta dengan wajah bingung. "Bukankah latihan ini tidak menggunakan senjata seperti itu?""Aku bahkan belum pernah melihat senapan jitu selama latihan berlangsung.""Benar, dari mana datangnya penembak jitu?"Suasana yang semula ramai berubah menjadi penuh tanda tanya.Bara menarik napas panjang untuk menenangkan emosinya, tetapi kemarahan masih terlihat jelas di wajahnya."Aku tidak sedang bercanda." Suaranya terdengar jauh lebih serius dibanding sebelumnya. "Orang itu jelas bukan peserta biasa."Semua orang langsung memasang ekspresi tegang."Dia menembakku dari jarak sangat jauh," lanjut Bara sambil mengepalkan tangan. "Kemampuan mene

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 123

    Sikap dingin itu membuat wajah Kevin perlahan menggelap. Ia terbiasa menjadi pusat perhatian dan mendapatkan perlakuan khusus di kampus. Tetapi untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa identitas dan status sosialnya sama sekali tidak berarti di depan gerbang sebuah kamp militer.Kevin menarik napa

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 122

    Beberapa hari pelatihan intensif berlalu dengan sangat cepat, tetapi dampaknya mulai terlihat jelas di seluruh kamp pelatihan.Ruang medis yang sebelumnya sepi kini hampir tidak pernah kosong. Deretan ranjang dipenuhi mahasiswa baru yang tumbang akibat kelelahan, sementara kantong infus bergantunga

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 120

    Raka bersandar santai di kursinya, ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Ia bahkan sempat memasukkan tangan ke dalam saku, lalu mengeluarkan sebatang coklat yang diberikan Jefri sehari sebelumnya. Bungkusnya terbuka perlahan.Raka mematahkan sebagian cokelat itu lalu memasukkannya ke dalam mulut.

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 119

    Keesokan harinya.Suasana kamp pelatihan mahasiswa baru berubah drastis. Biasanya para mahasiswa hanya mencuri-curi kesempatan untuk melihat ponsel saat waktu istirahat, sementara malam hari diisi dengan berbagai program hiburan sederhana yang diputar di kantin.Namun hari itu berbeda, setelah maka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status