Share

Bab 10

Author: Lailiela
last update publish date: 2026-02-16 08:15:42

Tak butuh waktu lama, dua bungkus nasi itu habis. Bayu meneguk dua gelas air putih hingga tandas. Ia sempat bersendawa pelan, lalu berdiri sambil mengusap perutnya.

“Sudah selesai, Bayu?” tanya Bu Imah heran. Ia tahu Bayu memang selalu makan cepat, tapi kali ini jauh lebih cepat dari biasanya.

“Iya nih, saya pergi dulu ya Bu. Soalnya mau lanjut cari kerja angkut barang di tempat lain.” Bayu pun berjalan pergi.

Kali ini Bayu tidak berbelok ke toko beras milik Tarji.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Ban 178

    “Habis putaran ini kamu main dong sama kita,” ajak Tomang dengan girang kepada Bayu.Bayu mengangguk. “Boleh, tapi satu putaran saja ya.” “Hah … satu saja?” protes Tomang.“Kalo Bang Tomang nggak mau aku nggak jadi main deh!” Mendengar itu Tomang tidak bisa membiarkan Bayu tidak ikut main. Dengan terpaksa akhirnya ia pun setuju meski Bayu hanya main satu putaran.“Iya-iya satu putaran saja. Jadi kamu ikut main ya!”“Kalo gitu aku jadi ikut main!” Bayu langsung setuju.Permainan yang baru saja selesai kini baru akan dimulai lagi putaran berikutnya. Bayu mulai membantu mengumpulkan kartu yang berserakan di atas meja.Basri memundurkan kursi tempat duduknya agak ke belakang sedikit sedangkan Bayu geser maju ke depan. Saat semua kartu sudah dikumpulkan ia menunggu giliran kartunya dibagikan ke depan.Lembaran demi lembaran kini sudah pas dibagikan oleh bandar. Permainan sudah dimulai beberapa pemain mula

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 177

    Suara dari tembakan sangat keras memekakan telinga. Meski memakai penutup telinga tetap saja Bayu bisa mendengar lebih jelas seperti tidak memakai penutup telinga. Namun, Alex memperhatikannya dengan seksama setiap peluru yang ditembakkan Bayu.Alex berdiri di samping dengan melipat kedua tangannya sambil terus mengamati. Dari gerakan Bayu, caranya mengarahkan senjatanya, posisi berdirinya. Semuanya memiliki proporsi yang bagus.Latihan Bayu berlanjut terus sampai akhirnya senjata yang di atas meja sudah dicobanya semua. Barulah ia berhenti lalu menoleh ke arah Alex. “Ini lap pakai handuk ini keringatmu. Lalu ambil air di meja itu.” Alex menunjuk letak air berada.“Terima kasih,” sahut Bayu.Kain handuk kecil itu langsung digunakannya. Tubuh Bayu memang bercucuran keringat meski tidak terlalu banyak. Mereka sama-sama duduk di kursi yang berada di samping rak. Ada dua kursi dan satu meja yang di atasnya sudah tersedia air botol

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 176

    Selvi yang masih memakai baju singlet dan celana pendek berdiri di depan Bayu dengan wajah yang baru bangun tidurnya. Namun, wajahnya tetap terlihat cantik meski baru bangun tidur dan belum cuci muka.“Iya, dia lagi nyapu di ruang tv di sana!” Tunjuk Bayu.“Jadi aku harus nunggu dulu.”“Kamu mau jus apa?” tanya Bayu sambil membuka kulkas yang berisikan banyak buah-buahan segar di dalamnya.“Emm … mau yang rasa apel tapi …” lagi-lagi Selvi melirik ke arah tempat Sri bekerja.Bayu melirik ke blender tempat Sri biasa membuatkan jus untuk mereka. “Biar aku aja yang buatkan mau nggak?” Kedua alis Selvi terangkat. “Kamu emang bisa?” “Belum dicoba, tapi aku sering lihat cara Mbak Sri buat kok. Tenang saja sedikit paham lah.” Bayu mulai memotong buah apel ke dalam blender dan menambahkan sedikit gula. Biasanya Sri menambahkan susu kental manis ke dalamnya. Namun, Bayu bingung apakah Selvi juga mau dibuatkan seperti i

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 175

    “Kamu sudah bekerja keras hari ini, jadi tidurlah dalam perjalanan. Nanti saat sampai rumah aku akan membangunkanmu,” ucap Bayu sambil melihat ke pantulan kaca.Mobil pun mulai melaju di jalan raya menuju kediaman Stevia. Butuh waktu beberapa menit jika harus sampai jadi Stevia pun sempat tertidur di jalan.Tidak lama akhirnya mobil pun sampai di rumah, Bayu menoleh ke belakang mencoba untuk memanggil membangunkan Stenia tapi sayangnya dia tidak bangun.Akhirnya Bayu pun keluar dari mobil dan membuka pintu samping lalu menyentuh pundak Stevia lalu menggoyangkannya pelan. “ … Stevia, Nona Stevia!” seru Bayu di samping Stevia.Sentuhan di pundak dan suara yang memanggil namanya dengan lembut membuat Stevia akhirnya terbangun. Ia menoleh perlahan pada Bayu lalu mengucek matanya untuk memperbaiki pandangannya yang masih belum stabil.“Hmm … Bayu apa kita udah sampai?” tanya Stevia sambil menguap dan meregangkan tubuhnya sebentar.

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 174

    “Ya, aku mengerti. Lalu apa kamu tidak mempertimbangkan kondisiku saat ini. Seperti yang kamu lihat seminggu yang lalu aku baru saja selesai dioperasi. Bahkan luka tusuk yang aku terima masih belum benar-benar sembuh.”Farhat duduk di tepi ranjang melihat ke arah perut yang dipegang Stevia. Di mana bekas jahitan luka itu berada. “Kamu bisa mengurusnya meskipun kondisimu seperti itu. Aku tahu kamu punya jaringan hukum yang kuat untuk membackup tuntutan itu.”“Lalu apa yang akan kamu berikan padaku jika aku menyelesaikan permasalahmu? Kamu tidak mungkin hanya menyuruhku saja kan? Setidaknya aku juga butuh imbalan.” Stevia memiliki sisi yang sangat ambisius tentu tidak ingin menjadi wanita bodoh yang hanya akan dimanfaatkan saja. Jadi karena sudah terlanjur berurusan dengan orang seperti Farhat kenapa tidak sekalian saja mendapatkan keuntungan juga, pikirnya.Namun, tetap saja pria yang di hadapannya ini sangat bengis dan merupakan orang y

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 173

    Suara air keran dan dentingan piring terdengar sampai ruang tamu tempat Rini mengelap meja. Sedangkan Sri baru saja mengantarkan makan siang pada Stevia di lantai atas dan kini ia menuruni tangga.Berjalan sedikit lalu melihat Bayu yang baru saja selesai mencuci piring kini sedang menyusun rapi piring di rak dapur. “Kamu udah cuci sendiri? Padahal bisa tunggu aku yang cucikan.” Sri langsung mencuci satu piring yang dibawah barusan dari kamar Stevia.“Nggak apa-apa Mbak, lagian ini kan cuma dikit aja jadi sekalian aku yang cucikan,” jawab Bayu santai. Ia baru saja selesai meletakkan piring di rak.“Kalo gitu aku pergi dulu ya, Mbak!”Sri hanya mengangguk saat melihat Bayu keluar dari area dapur. Meninggalkan istri yang masih berdiri mengelak piring. Di luar Bayu berjalan ke arah tempat Arif bekerja. Ternyata sesampainya di sana Arif tidak sedang bekerja Bayu melihat kalau dia sudah menyelesaikan semuanya sudah beres dikerjakan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status