Masuk“Iya nih, yang ini sama itu udah dicuci. Nih. Kunci mobilnya.”
“Makasih, Pak!”Kunci mobil baru saja diraih Bayu.Piip, piip …!Tombol kunci mobil diaktifkan dan pintunya kini sudah bisa langsung dibuka. Bayu membuka pintu bagian belakang untuk Stevia.“Nona silahkan masuk,” ucap Bayu hanya formalitas saja setelah membuka pintu.Stevia pun masuk dan duduk dengan tenang di kursi penumpang. Hingga mobil mula menali di jalan raya.“Ah … pantasan. Terus kamu mau bawa aku ke mana?” Mila mengikuti Bayu keluar dari mobil lalu kembali masuk ke pintu depan.Dengan menyesuaikan tempat duduk dengan Bayu yang siap menyetir, Mila memegang lengan Bayu lali bersandar di sana.“Oh iya, tadi kamu bertanya aku akan membawamu kemana kan?” tanya Bayu saat mobil sudah mulai melaju di jalanan.“Eung … jadi kemana?”“Aku akan membawamu ke tempat kos Rara untuk sementara ini. Apa kamu keberatan tinggal di sana untuk sementara ini?”“Tapi emang Rara nggak keberatan?” Mila terlihat gelisah.“Aku sudah mengirim pesan padanya tadi. Dia juga sudah membalas pesannya, katanya tidak apa-apa dia suruh datang saja. Tenang jangan khawatir hanya untuk malam ini karena ibu kos sudah tidur jam segini. Jadi besok kamu bisa sewa kamar untuk sebulan.”Mila mengangguk tapi wajahnya masih terlihat gelisah. Bayu yang melihat itu pun mencoba untuk bertanya,“Apa yang sedang kamu
Sambil mengatakan, “Aku baik-baik saja sekarang karena kamu ada di sini!” Mila tanpa ragu mulai mencium bibir Bayu ia mengecupnya dengan lembut. Namun, perlahan mulai melumat dan memasukkan lidahnya. Sedangkan Bayu malah ikut larut dalam hasrat yang membara, ia tidak bisa menahan tekanan membara yang dilakukan oleh Mila terhadapnya.Perlahan-lahan Bayu ikut meraba-raba tubuh Mila, di setiap lekukannya hingga berhenti di buah dada. Di sana Bayu meremasnya dengan penuh nafsu hingga membuat Mila basah di bawah sana.“Bayu aku …!” Tatapan Mila penuh gairah meski sesekali cahaya kendaraan yang melewati gang masuk sedikit tapi tidak membuatnya terganggu. Dengan nafas yang memburu keduanya benar-benar terjebak dalam gelora hasrat penuh nafsu. Di saat tangan Bayu mulai turun dan mengangkat rok mini yang dipakai Mila langsung membuatnya merasakan basah dan becek. Di ujung jarinya terasa licik membuat jemari Bayu bisa masuk dengan mudah ke dalam
Awalnya Mila menolak. Mengingat kalau ibunya yang sakit dan harus dirawat tetapi Riska bilang kalau dengan bekerja dengannya ia akan memberikan uang pinjaman untuk biaya berobat ibunya.Lalu jika sudah bekerja dengannya nanti bisa sambil cicil lalu sisanya bisa dikirim ke kampung karena biaya makan sudah ditanggung.Sekilas hal itu terdengar menggiurkan dan sangat membuat tertarik. Bahkan Mila sendiri mulai setuju mendengar apa yang dikatakan oleh Riska.Tanpa berpikir panjang Mila pun bertanya, “Lalu aku akan bekerja sebagai apa di sana?” “Hanya melayani pengunjung saja kok, aku selalu punya banyak tamu jadi kamu hanya perlu menemaninya saja untuk mengobrol.” Mendengar itu Mika setuju-setuju saja dengan wajah senang. Setelah itu Riska memberikan sejumlah uang yang dipinjamkan untuk berobat ibunya—Mila.Namun pekerjaan itu terdengar sangat mudah untuk dikerjakan. Mila sama sekali tidak berpikir kalau itu akan menjadi bencana besar d
“Lalu bagaimana dengan ponsel di tanganmu itu? Apa kamu pikir aku tidak melihat ponsel yang kamu genggam erat-erat di belakang?”Dum! Jantung Viona terasa dihantam keras, ternyata pria di hadapannya itu sudah tahu apa yang disembunyikannya.Cahyo melirik ke kawannya yang berada di samping Viona. Satu gerakan tangan sebagai isyarat dan pria itu mengangguk paham. Ia menunduk lalu meraih paksa ponsel di genggaman tangan Viona.“Tidak!” pekik Viona.“Ini ponsel yang kamu maksud?” Pria itu menyerahkannya langsung pada Cahyo.Senyuman licik di wajah Cahyo terlihat. “Kamu mencoba menyembunyikan ini karena tidak mau menghubungi wanita itu kan?”Ponsel itu sengaja di lambai-lambaikannya di tangannya untuk memperlihatkan pada pemiliknya. “Aku akan memberikanmu satu kesempatan hubungi dia sekarang juga atau ponsel ini aku bawa bersamamu ke markas kami? Tentu saja jika kamu sudah berada di sana mungkin aku tidak akan menjamin kesel
“Maaf Mbak! Aku cuman mau ambil uangku di dalam. Aku takut nanti mereka ikut mengobrak-abrik kamarku dan uang itu akan ….” Mila tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi.“Apa itu tabungan untuk dikirim ke kampung?” tanya Viona.Mila hanya mengangguk, ia tidak bisa jujur itu untuk penebusan dirinya. “Tapi aku dengar mereka mencari mami Riska!”Viona tahu itu karena sejak tadi dia ada di sana. Tapi karena ia keluar lewat jendela kamar saat orang-orang itu baru saja masuk dan berteriak-teriak mencari mami Riska. Saat itu Viona yang kalang kabut langsung memilih untuk cepat-cepat kabur dari sana.Hingga akhirnya ia harus keluar lewat jendela kamarnya. Dalam keadaan panik Viona terus kabur tanpa memikirkan apapun lagi. “Aku … aku tidak tahu lagi tapi mereka terlihat sangat marah dan mencari-cari mami.” Viona yang merupakan orang kepercayaan sekaligus pelacur yang cukup handal di sisi mami Riska. Ia terlihat sangat cepat dan berharap mami Risk
Esok hari di tempat lain … pagi-pagi sekali Bayu dan baru saja pulang setelah menyelesaikan misi yang dijalankannya kemarin.Tadi malam mereka tidak tidur karena sedang menjalankan misi dan baru saja pulang setelah dini hari. “Hoam …! Sepertinya aku akan tidur pagi ini.” Joni mengual sambil menyetir.“Hati-hati lihat ke depan. Nanti kita tidak sampai-sampai malah sampe rumah sakit karena nabrak!” Teo yang sama-sama mengantuk mencoba menasehati teman di sampingnya.Lalu Teo pun menoleh ke belakang. “Bayu hari ini kamu nggak pergi ke mana-mana kan?” “Kayaknya nggak soalnya aku ngantuk banget! Mau cepat-cepat sampe pulang ke rumah nih,” jawab Bayu ikut menguap hingga di ujung matanya berair.Selama empat hari ini mereka memang kurang tidur karena terus menerus berada di lokasi tempat misi berlanjut. Hal itu membuat mereka kurang tidur hingga lingkaran mata menggelap seperti mata panda.Tapi untungnya mereka akhirnya sampa







