Share

Bab 157

Author: Lailiela
last update publish date: 2026-04-28 11:33:01

“Bayu, sini kunci mobilnya kasihin ke aku,” ucap Pak Jo.

Bayu pun merogoh kantongnya. “Ini pak, kuncinya ambil aja.”

Baru saja Bayu menyerahkan kunci kepada pak Jo, lalu Selvi pun berjalan pergi masuk ke rumah lebih dulu tanpa menoleh lagi ke belakang.

“Hei Bayu, nona Selvi nggak cari sering masalah sama kamu kan?” Arif yang baru saja datang tiba-tiba menepuk pundak Bayu.

“Eh, Arif. Nggak sih, nona palingan cuma duduk diam aja kok di mobil,” sahut Bayu.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 166

    “Iya, karena itu juga aku tidak mau makan makan di rumah sakit. Jadi karena itu Sri selalu buatkan aku makanan dari rumah saat aku di opname di rumah sakit.”Tanpa terasa ternyata Stevia sudah selesai makan. Ia lalu ngemil dengan santainya setelah selesai barulah Stevia bersandar di ranjang.“Ahh … kenyangnya, rasanya puas sekali setelah sarapan.” Stevia memegang perutnya kekenyangan.Dari sofa Bayu berjalan ke arah Stevia lalu terlihat sibuk mengemasi beberapa barang-barang Stevia.“Bayu, apa yang kamu lakukan?” tanya Stevia sambil menoleh ke arahnya.“Tentu saja bersiap, besokkan kamu akan pulang dari rumah sakit. Iya kan?”“Ah, iya. Aku hampir lupa kalau hari ini, hari terakhir aku di rumah sakit.” Tangan Stevia menepuk jidatnya padahal kemarin lusa ia yang memberitahukan pada Bayu kalau dirinya dirawat seminggu saja di rumah sakit. Namun, Stevia sendiri malah lupa akan hal itu. Ia juga kembali mengingat ucapan ayah

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 165

    “Mba, yang mau dibawa ke rumah sakit nanti udah disiapin?” tanya Bayu saat baru sampai.“Ini masih dimasak, belum matang,” jawab Sri.“Kalo gitu aku naik ke atas dulu ya, nanti turun lagi.” “Iya, siap. Nanti bentar lagi matang kok ini.” Sri melihat Bayu yang masih memakai baju kemarin dan menaiki tangga menuju kamarnya.Sri berpikir dalam hati pasti Bayu baru saja menginap di luar karena dari semalam dia juga tidak kunjung pulang. Padahal semalam Sri yang sengaja menyelesaikan pekerjaan lebih lambat agar bertemu Bayu tapi karena tidak kunjung pulang jadi ia pun kembali ke kamarnya.“ … Mbak! Mbak Sri lagi mikirin apa sih?” Rini menepuk bahu Sri karena melihatnya melamun.“Ah … nggak kok. Cuman kepikiran sama cucian bajuku di luar belum diangkat,” jawab Sri dengan asal.Rini melihat ke jendela. “Aman kok, nggak hujan ini. Mbak kepikiran ada-ada saja.”Akhirnya Rini membawakan sarapan Selvi ke meja makan sedangka

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 164

    Akhirnya Bayu pun mandi lagi, selang beberapa menit kemudian ia kembali dari dalam sana dengan tubuh yang masih menggunakan handuk dililit di pinggangnya. Mila memberikan celana untuk dipakai.Bayu pun memakai celana lalu duduk di pinggir ranjang setelahnya. Ia duduk manis sedangkan Mila mengobati luka-luka lebam bekas pukulan tinju yang mengenainya tadi. Selesai mengoleskan obat dan memakaikan plester di luka yang terbuka Mila juga meniup-niup pelan permukaan kulit Bayu.“Whuuf … apa rasanya dingin?” Mila masih meniup luka Bayu.Bayu mengangguk. “Iya, rasanya juga sangat nyaman. Sepertinya salep lukanya juga sangat bagus aku juga sering beli itu di apotik.”“Ini ya … ini dari P3K yang disediakan di kamar ini. Tapi aku harap kamu tidak terlalu sering memakai obat-obat seperti ini. Jadi lain kali sebisa mungkin jangan sampai terluka seperti kalau bisa.”Melihat wajah Bayu membuat Mila masih khawatir jika nanti bagaimana jika Bayu sampai te

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 163

    “Tiga … dua … satu …! Juan kalah, dan pemenangnya adalah Bayuu …!” MC meneriakinya di mikrofon dan seketika itu semua penonton bersorak terutama para pendukung Bayu.Bagi para pria yang bertaruh atas nama Bayu, mereka bersorak gembira karena memenangkan taruhan. Basri pun juga dapat bagian uang taruhan cukup banyak dari sana. Ia segera pergi setelah menerima pembagian hasil taruhan dengan pemenang lainnya lalu menyusul Bayu yang tampak sudah masuk ke ruang staff.Sampai di sana Basri tidak melihat Bayu, ia menduga kalau mungkin saja Bayu sedang berganti pakaian jadi Basri terus berjalan sampai ke ruangan Soma. Di sana ia dipersilahkan duduk di depan Soma. Basri duduk dengan santai sambil melihat Soma yang mengeluarkan amplop berisi uang yang harus diberikan pada Bayu.“Pertandingan kali ini cukup memuaskan, kemampuan Bayu jelas ada banyak peningkatan sejak dari sebelumnya. Aku sarankan sebaiknya nanti kamu sampaikan agar dia lebih giat berlatih f

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 162

    Namun Juan malah terus maju, tinjunya melayang dan diarahkan pada Bayu. Sedangkan Bayu tidak bisa terus menghindar karena berencana untuk diam saja saat beberapa kali Juan memukulnya. Bayu melakukan itu agar tidak membuat orang curiga kalau kekuatannya itu bisa membuat Bayu menang tanpa harus bersusah payah melawan. Namun, karena itu Bayu lebih berhati-hati.Tinju yang megens dari tangan Juan mulai menyerang Bayu. Menuju wajahnya.Bukh! Juan memukul wajah Bayu, perut dan lalu menyikutnya. Bayu sengaja membiarkan dirinya terlihat kahal di tengah pertarungan yang bermula. “Hah, ternyata kamu lemah juga!” Juan tersenyum menyeringai.“Ukkhh … haah!” Bayu memegang dadanya yang baru saja kena pukul.“Heh, Pecundang!” ejek Juan dengan nada meremehkan Bayu.Sementara itu di barisan penonton tampak begitu tegang karena banyak pendukung Bayu mulai goyah dan pucat Pasih. Dilihat dari sudut pandang mereka Bayu pasti akan segera kalah. Belum lagi Bayu terlihat sangat terpojok oleh serangan dari

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 161

    Seketika itu Basri langsung berdiri dan menuju ke arah Bayu sebelum teman-temannya mengajak mereka berjudi lagi.“Ayo kita pergi dari sini. Soalnya nanti mereka ngajak judi lama lagi!” Tanpa basa basi Basri menarik tangan Bayu sampai ke pintu besi dan mereka pun menuruni anak tangga. Mereka menuju ke lantai paling bawah gedung. Mereka membuka pintu besi lagi yang menutup tempat area pertarungan yang mana dari dalam sana sudah mulai terdengar sorakan penonton. Bayu dan Basri masuk dan langsung menuju ruangan staff yang dipenuhi para petarung.Bau pengap langsung menyergap disertai bau keringat dari para petarung di sana. Namun, karena terbiasa menciumnya Bayu tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Ia tetap menuju lemari loker tempatnya menyimpan baju ganti. “Bang, aku ganti baju bentar ya,” pamit Bayu.Basri mengangguk sambil menunjukkan ke belakangnya ada ruang Soma di sana.“Iya Sono gih. Aku mau ke ruangan bos Soma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status