Se connecterSesekali Basri menghela nafas panjang dengan telapak tangan yang terasa dingin. Sesekali ia meniup pelan telapak tangannya untuk mengurangi rasa gugupnya.
Tidak lama kemudian mobil masuk melewati gerbang sebelum masuk ke dalam rumah utama. Baru saja memasuki pekarangan rumah yang begitu luas, membuat mata Basri terbelalak lebar melihat luasnya tanah tempat rumah itu berada. Baik tanaman kecil sampai pohon yang berada di sana semua tertata rapi, dalam hati Basri“Bayu ini aku,” panggil Selvi. Suaranya agak berbisik pelan agar tidak didengar oleh Stevia di kamarnya. Bayu yang mendengar itu langsung membukakan pintu kamarnya. Ketika pintu dibuka Selvi langsung memeluk Bayu dengan erat. Posisi mereka masih di ambang pintu karena itu Bayu menarik tubuh Selvi lebih dekat ke arahnya lali menutup pintu. “Kamu mengagetkanku!” ucap Bayu sambil mengelus punggung Selvi. Sedangkan Selvi masih memeluk tubuh Bayu bahkan sampai semakin erat. Ia membenamkan wajahnya dan mencium aroma parfum yang masih tertinggal. Namun, saat Bayu menurunkan pandangannya. Bahu Selvi terlihat gemetar karena isakan tangis yang ditahannya. “Besok kamu bakal pergi dari sini.” Selvi memegang Bayu kuat-kuat. Perlahan tangannya naik ke atas leher menyentuh wajah Bayu. Dari atas Bayu melihat Selvi yang begitu cantik meski dengan raut wajahnya yang sedang sedih. Sedangkan Selvi merasakan hal yang sama visual Bayu yang tampan membuatnya berdebar, meski merasakan kesedihan ta
Sesekali Basri menghela nafas panjang dengan telapak tangan yang terasa dingin. Sesekali ia meniup pelan telapak tangannya untuk mengurangi rasa gugupnya. Tidak lama kemudian mobil masuk melewati gerbang sebelum masuk ke dalam rumah utama. Baru saja memasuki pekarangan rumah yang begitu luas, membuat mata Basri terbelalak lebar melihat luasnya tanah tempat rumah itu berada. Baik tanaman kecil sampai pohon yang berada di sana semua tertata rapi, dalam hati Basri terus berdecak kagum akan tempat itu. Tidak butuh waktu lama taksi menurunkannya di depan rumah mewah lalu pergi meninggalkannya. Sejenak Basri terdiam di depan rumah besar dan mewah itu. Pelan ia menelan ludah sambil mengusap tangan ke bajunya. “Ini beneran rumahnya? Gila sih, bagus banget kayak rumah orang Belanda!” Namun, melihat lantai marmer yang mengkilap membuat langkah Basri tidak jadi menginjak teras rumah. Ia menarik kembali langkah yang h
Derrt! Suara dan getaran terasa di dalam saku celana Bayu, ia pun segera memeriksa pesan di ponselnya dan benar saja. Ternyata pesan dari Basri baru saja masuk. Wajah Bayu langsung tersenyum sambil membaca pesan. Itu karena Basri sudah bersiap untuk mengemasi barang-barangnya ke dalam tas. “Bayu kamu lagi chatingan sama pacarmu ya?” Arif yang baru saja datang langsung melihat ke arah Bayu. “Bukan, ini temanku. Dia yang akan menggantikan ku bekerja di sini. Kalian tahu kan, kalau hari ini hari terakhir aku bekerja di sini,” ucapan Bayu langsung menghentikan jejak tawa di antara mereka. “Ah, iya juga bagaimana bisa kita lupa kalau ini hari Bayu terakhir Bayu bekerja di sini!” Sri langsung meletakkan spatula di tangannya. “Jadi penggantinya itu temanmu?” tanya Arif. Bayu langsung merespon. “Ya, dia juga sangat pandai bela diri dan menyetir jadi pasti bisa bekerja dengan baik.”
Namun, suara Basri terdengar ragu. “Lalu apa kamu yakin aku bisa keterima kerja di sana? Gimana kalau—”“Tentu saja diterima, Nona sudah menyuruhku untuk merekrut teman yang bisa menyetir dan juga bela diri. Bang Basri sebagai mantan petarung tinju di Delune tentu tidak bisa diragukan.”“Aku juga sebenarnya tertarik untuk bekerja di sana. Hanya saja orang sepertiku ini emangnya bisa?” tanya Basri lagi.Bayu mengangguk. “Bisa, sama kayak Abang yang bawa aku ke Delune. Saat itu aku masih baru dan Bang Basri bilang bisa. Sama seperti sekarang ini jadi aku yakin pasti bisa. Jika setuju sekarang aku akan alajukan ke Nona. Gimana?”Suara Basri tidak terdengar, sepertinya dia benar-benar sedang memantapkan keputusannya lebih dulu. Detik kemudian suara hembusan ringan dari nafasnya terdengar.“Baiklah, aku setuju jadi tolong katakan pada Nona Stevia kalau aku akan bekerja di sana,” jawab Basri akhirnya.“Bagus, aku akan segera menyampaik
“Sekarang berapa uang yang sudah kamu kumpulkan? Dan berapa uang yang dijanjikan sebagai batas tebusan padamu oleh wanita itu?” Bayu mencoba untuk memastikannya lagi.“Waktu itu aku sempat bertanya pada mami. Dia menjawab sekitar tiga puluh juta dan itu adalah nominal yang cukup banyak.”“Jadi total yang baru terkumpul sebanyak dua belas juta. Itu hasil yang diam-diam selalu aku tabung sedikit-sedikit dari uang tip dan sedikit gaji yang diberikan mami padaku,” jelas Mila lagi.“Bukankah itu terlalu banyak?!” Bayu sangat terkejut mendengarnya.Uang tebusan itu benar-benar sangat tinggi sedangkan jika beberapa wanita sudah memiliki cukup uang tebusan. Di saat itulah mami Riska akan menaikan harga lagi hingga akhirnya beberapa wanita merasa putus asa.Ada yang memilih mengakhiri hidupnya, ada pula yang jadi gila, atau kabur. Namun, Jika sampai tertangkap nasibnya akan sama seperti Sari—ibu dari Bayu yang menjadi gila setelah digilir banyak p
Ketika Mila sudah menerima panggilan Bayu sampai berdiri terperanjat dari kasur. “Halo, Mila! Kamu dengar suaraku kan?” “Shuut … sebentar Bayu, pokoknya kamu jangan berbicara dulu.” Mila sengaja berpesan seperti itu karena mendengar suara langkah kaki seseorang dari luar pintu kamarnya.Sekarang Mila masih tinggal dan bekerja di rumah mami Riska. Namun, akhir-akhir ini di sana sedang tidak baik-baik saja karena mami Riska sekarang mulai mencurigai semua wanita pelacur di sana.Bahkan sampai memeriksa setiap kamar dan kehadiran beberapa wanita, setelah melayani pelanggan mereka semua disuruh pulang dan setelah itu tidak diizinkan untuk keluar lagi sebelum meminta izin dan menerima persetujuan.Mami Riska sudah mulai benar-benar membuat peraturan menjadi semakin ketat dan membuat para wanita di sana menjadi tertekan. Prang!Suara lemparan barang dari luar kamar Mila terdengar. Itu berarti mami Riska masih berada di sana bersama a







