LOGIN“Nanti aku panggil,” sahut Dion.
Sementara di bawah Teo dan Joni baru sampai di tempat parkir. Kemudian mereka pun menaiki tangga menuju lantai atas ke unit rumah mereka.Di rumah suara pintu kembali terdengar dan kali ini benar-benar Joni dan Teo yang baru saja pulang. Pandangan yang lainnya langsung mengarah ke Teo yang sedang terluka bahkan untuk sementara ia harus memakai gips di tangannya karena sedikit retak tulang ligamen.Begitu juga dengan kaki yang terlih“Maaf Mbak! Aku cuman mau ambil uangku di dalam. Aku takut nanti mereka ikut mengobrak-abrik kamarku dan uang itu akan ….” Mila tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi.“Apa itu tabungan untuk dikirim ke kampung?” tanya Viona.Mila hanya mengangguk, ia tidak bisa jujur itu untuk penebusan dirinya. “Tapi aku dengar mereka mencari mami Riska!”Viona tahu itu karena sejak tadi dia ada di sana. Tapi karena ia keluar lewat jendela kamar saat orang-orang itu baru saja masuk dan berteriak-teriak mencari mami Riska. Saat itu Viona yang kalang kabut langsung memilih untuk cepat-cepat kabur dari sana.Hingga akhirnya ia harus keluar lewat jendela kamarnya. Dalam keadaan panik Viona terus kabur tanpa memikirkan apapun lagi. “Aku … aku tidak tahu lagi tapi mereka terlihat sangat marah dan mencari-cari mami.” Viona yang merupakan orang kepercayaan sekaligus pelacur yang cukup handal di sisi mami Riska. Ia terlihat sangat cepat dan berharap mami Risk
Esok hari di tempat lain … pagi-pagi sekali Bayu dan baru saja pulang setelah menyelesaikan misi yang dijalankannya kemarin.Tadi malam mereka tidak tidur karena sedang menjalankan misi dan baru saja pulang setelah dini hari. “Hoam …! Sepertinya aku akan tidur pagi ini.” Joni mengual sambil menyetir.“Hati-hati lihat ke depan. Nanti kita tidak sampai-sampai malah sampe rumah sakit karena nabrak!” Teo yang sama-sama mengantuk mencoba menasehati teman di sampingnya.Lalu Teo pun menoleh ke belakang. “Bayu hari ini kamu nggak pergi ke mana-mana kan?” “Kayaknya nggak soalnya aku ngantuk banget! Mau cepat-cepat sampe pulang ke rumah nih,” jawab Bayu ikut menguap hingga di ujung matanya berair.Selama empat hari ini mereka memang kurang tidur karena terus menerus berada di lokasi tempat misi berlanjut. Hal itu membuat mereka kurang tidur hingga lingkaran mata menggelap seperti mata panda.Tapi untungnya mereka akhirnya sampa
Tok, tok, tok!“Tuan, maaf sedang terjadi konslet arus listrik jadi masih sedang proses perbaikan.” Suara kepala pelayan yang berbicara di luar kamar.“Cepat suruh mereka selesaikan itu sekarang juga!” perintah Farhat dengan tegas.“Anuu Tuan!”“Apa lagi?” “Saya mendengar suara benda jatuh di dalam. Apa semuanya baik-baik saja?” Suara yang dimaksud oleh kepala pelayan itu adalah suara lemparan barang. Tapi pelayan itu tetap menyebutnya ’benda jatuh' agar majikannya tidak tersinggung.“Cepat pergi perbaiki lampunya! Jangan bertanya hal lain!” Mendengar jawaban itu si pelayan dengan buru-buru pergi dari sana. Ia tahu majikannya saat ini sedang benar-benar emosi karena hal yang tidak diketahuinya. Maka dari itu ia segera pergi agar tidak terkena imbasnya.Suara langkah kaki si pelayan terdengar saat berjalan pergi membuat Stevia cemas karena Farhat akan menanyakannya lagi.“Kamu belum menjawab!
“Nanti aku panggil,” sahut Dion.Sementara di bawah Teo dan Joni baru sampai di tempat parkir. Kemudian mereka pun menaiki tangga menuju lantai atas ke unit rumah mereka.Di rumah suara pintu kembali terdengar dan kali ini benar-benar Joni dan Teo yang baru saja pulang. Pandangan yang lainnya langsung mengarah ke Teo yang sedang terluka bahkan untuk sementara ia harus memakai gips di tangannya karena sedikit retak tulang ligamen. Begitu juga dengan kaki yang terlihat agak pincang karena pengeroyokan itu. Mereka menghajar semua bagian tubuh Teo hingga membuatnya jadi seperti itu.“Cepat Jon, bawa dia ke kamarnya. Tadi Bayu udah bersihin kok jadi tinggal istirahat,” ujar Rian.“Makasih ya, Bayu!” Teo melihat ke arah Bayu setelah tahu kalau dia yang membersihkan tempat tidurnya yang berantakan.Mereka semua langsung ikut masuk ke kamar Teo.“Kami dengar anak buah Marko menangkapmu. Lalu menghabiskmu beramai-ramai.” Dion ik
Namun, setelah aku ikuti lagi ke sana ternyata Dokter mengatakan kalau dia sudah wafat karena pendarahan dan luka di bagian jantung.”Mendengar itu Joni langsung menghela nafas lega. “Jadi misi kita kali ini pun berhasil.”“Tapi ngomong-ngomong kamu kan yang nembak Marko tadi?”“Tidak!” bantah Joni. “Bukan aku itu yang menembaknya Bayu karena hari ini aku ingin tes kemampuan dia. Jadi aku lepas agar dia yang menjalankan tugas tapi tentu saja dibawah pengawasanku. Tetapi ….”Jon berhenti mengingat kalau ia juga melepas Bayu sendirian di misi pertamanya dalam menembak target. Ada rasa bersalah karena seharusnya ia membimbing dan mengawasi Bayu dari samping. Namun, yang dilakukan Joni meninggalkan Bayu untuk menyelamatkan Teo.Belum lagi tadi dia meninggalkan Bayu lagi dan membiarkannya menghabisi para bajingan yang memukul Teo. Sementara Dion tidak lagi mendengar suara Joni.“Jon! Jon kamu kok nggak ngomong lagi?”Karena D
“Siap, kami sedang mengikutinya sekarang. Oh iya, bagaimana dengan Joni dan Teo? Aku tidak mendengar suara mereka.” Dion tahu betul karena dua orang itu tidak mungkin diam saja setelah berhasil menembak target.“Aku sedang akan pergi menyusul mereka. Sepertinya terjadi sesuatu diluar dugaan kalau gitu panggilannya aku putus ya.” “Nanti kabari aku!” Bayu tidak menjawab karena buru-buru sambil membongkar senapan yang baru dipakainya. Itu dilakukannya agar pas masuk di dalam ransel bawaannya. Sambil membawa tas ransel di pundaknya Bayu menuruni gedung melalui tangga darurat.Sambil menghubungi kembali Joni, Bayu terus menelponnya tanpa henti. Ia berlari sekencang mungkin lalu menaruh tas di mobil. Ia pun bergegas menuju gedung tempat Joni dan Teo berada.“Jon, apa kau mendengarkan?” Bayu bertanya ketika telepon tersambung.“Cepat datang ke sini! Dan bawa Teo bersamamu!”Tuut … tut!Panggilan tiba-tiba terputus. M







