Mag-log inNamun, setelah aku ikuti lagi ke sana ternyata Dokter mengatakan kalau dia sudah wafat karena pendarahan dan luka di bagian jantung.”
Mendengar itu Joni langsung menghela nafas lega. “Jadi misi kita kali ini pun berhasil.”“Tapi ngomong-ngomong kamu kan yang nembak Marko tadi?”“Tidak!” bantah Joni. “Bukan aku itu yang menembaknya Bayu karena hari ini aku ingin tes kemampuan dia. Jadi aku lepas agar dia yang menjalankan tugas tapi tentu saja dibawah pengawasanku. TeNamun, setelah aku ikuti lagi ke sana ternyata Dokter mengatakan kalau dia sudah wafat karena pendarahan dan luka di bagian jantung.”Mendengar itu Joni langsung menghela nafas lega. “Jadi misi kita kali ini pun berhasil.”“Tapi ngomong-ngomong kamu kan yang nembak Marko tadi?”“Tidak!” bantah Joni. “Bukan aku itu yang menembaknya Bayu karena hari ini aku ingin tes kemampuan dia. Jadi aku lepas agar dia yang menjalankan tugas tapi tentu saja dibawah pengawasanku. Tetapi ….”Jon berhenti mengingat kalau ia juga melepas Bayu sendirian di misi pertamanya dalam menembak target. Ada rasa bersalah karena seharusnya ia membimbing dan mengawasi Bayu dari samping. Namun, yang dilakukan Joni meninggalkan Bayu untuk menyelamatkan Teo.Belum lagi tadi dia meninggalkan Bayu lagi dan membiarkannya menghabisi para bajingan yang memukul Teo. Sementara Dion tidak lagi mendengar suara Joni.“Jon! Jon kamu kok nggak ngomong lagi?”Karena D
“Siap, kami sedang mengikutinya sekarang. Oh iya, bagaimana dengan Joni dan Teo? Aku tidak mendengar suara mereka.” Dion tahu betul karena dua orang itu tidak mungkin diam saja setelah berhasil menembak target.“Aku sedang akan pergi menyusul mereka. Sepertinya terjadi sesuatu diluar dugaan kalau gitu panggilannya aku putus ya.” “Nanti kabari aku!” Bayu tidak menjawab karena buru-buru sambil membongkar senapan yang baru dipakainya. Itu dilakukannya agar pas masuk di dalam ransel bawaannya. Sambil membawa tas ransel di pundaknya Bayu menuruni gedung melalui tangga darurat.Sambil menghubungi kembali Joni, Bayu terus menelponnya tanpa henti. Ia berlari sekencang mungkin lalu menaruh tas di mobil. Ia pun bergegas menuju gedung tempat Joni dan Teo berada.“Jon, apa kau mendengarkan?” Bayu bertanya ketika telepon tersambung.“Cepat datang ke sini! Dan bawa Teo bersamamu!”Tuut … tut!Panggilan tiba-tiba terputus. M
“Bayu punyamu yang mana tadi? Kamu pesan yang mana?” tanya Teo sambil membuka kresek.“Aku rasa selai kacang hijau itu. Kamu beliin nggak tadi?” Bayu beranjak dari sofa.“Ada kok, ini sama smoothies yang kamu pesan tadi. Nih.” Bayu memberikan uang pada Teo lalu mengambil makanan miliknya. Mereka mengambil pesanan roti masing-masing dan kembali masuk ke dalam kamar. Begitupun dengan Bayu.Beberapa hari kemudian … Bayu dan teman-temannya sudah menjalankan misi baru lagi.“Awas, tahan dulu jangan ditembak!” Joni segera menahan tangan Bayu.“Tunggu laporan Teo dia tidak ada kabar sama sekali!” Suara Joni terdengar khawatir pandangannya gelisah melihat ke gedung target di bawah sana.Mereka mengintai di atas gedung langsung meneropong ke lantai tempat targetnya berada. “Apa Teo sudah ada kabar?” Joni masih menghubungi Teo yang masih belum tersambung dengan mereka. Suara kasak kusuk di earph
“Bayu!” Teo berlari turun dari tangga menuju Bayu.Melihat perkelahian itu dan Bayu yang sedang mencekik Candra, dengan cepat Teo segera melerai tangan Bayu dari leher Candra karena dia sudah terlihat hampir lemas.Brukh!Tubuh Canra jatuh dari pijakan di anak tangga. Tidak terlalu sakit karena ia jatuh dari posisi rendah.“Hakkh … ahh, ohokh!” Candra baru bisa bernafas seperti semula.Ia memegang lehernya sembari terbatuk-batuk dengan nafas yang tersengal-sengal. Satu tangannya yang lain menyentuh dadanya, mengusap pelan.Tidak lama kemudian teman satu timnya muncul dan membantu Candra berdiri.“Bayu, apa kamu sadar apa yang baru saja kamu lakukan? Kenapa kamu mencekiknya?” Teo menyentuh kedua pundak Bayu agar melihat ke arahnya.“Haa … maaf, aku kelepasan. Lagian dia duluan yang tidak membiarkanku lewat begitu saja. Padahal tadi aku hanya berniat untuk lewat naik ke atas, tapi Candra terus menahanku dengan men
Pang … pang, pang!Suara ketukan yang terdengar sangat kencang membuat permukaan pintu bergetar. “Rara! Kalian tidak sedang berbuat mesum di dalam kosan kan?!” Suara dari ibu kos terdengar lantang.“Kami mendapat laporan kalau ada suara desahan dari kamarmu, dan lagi sekarang bukankah kamu sedang bersama pria di dalam?!” Ria ikut bersuara.“Benar, aku barusan mendengarnya!” tambah seorang wanita yang mengaku kalau ia tinggal di samping kos Rara.“Mereka pasti sedang melakukan hal mesum sekarang!” tambahnya.Setelah memastikan kalau Rara sudah selesai barulah Bayu akhirnya membuka pintu dengan lebar.Pandangan ketiga wanita tadi yang sibuk berteriak dan menuding mereka. Mini membuat ketiganya terdiam tidak bisa berkata-kata lagi. Baju yang dikenakan baik Bayu ataupun Rara semuanya rapi dan tidak ada yang mencurigakan terlihat. Jelas wajah Ria terlihat pucat karena ternyata tidak, meski merasa janggal tapi karen
Kali ini Rara yang mengambil alih tapi melihat batang Bayu membuat pikiran lain muncul di benaknya.“Apa aku boleh melakukan ini?” Dengan kedua tangannya Rara menyentuh batang Bayu lalu menjilat ujungnya. “Yah … kalau begitu coba puasin aku!” tantang Bayu.Batang Bayu mulai dimasukkannya ke dalam mulut, Rara mengulumnya keluar masuk terus hingga masuk ke dalam tenggorokan. Sedangkan Bayu yang mulai merasa keenakan sampai mengeluarkan cairannya. Namun, karena kehabisan nafas Rara mengeluarkannya dengan cepat.“Hakk … haah, ahh!”Cairan muncrat di wajah Rara membuatnya merasakan lengket dan bau khas milik pria. Tapi dengan santai ia mengelapnya dengan tisu karena hal seperti ini sudah biasa terjadi padanya.Dulu beberapa kali para pria hidung belang selalu menyuruhnya melakukan sepong dan mereka kadang mengeluarkan di mulut atau di wajah. Tapi ada pula yang mengeluarkan cairannya di buah dada Rara yang montok.







