Share

Bab 45

Penulis: Lailiela
last update Tanggal publikasi: 2026-03-04 10:16:07

“Halo, Lex. Apa kau mendengar ku?” tanya suara dari seberang.

“Stev, di mana kamu mendapatkan pengawal barumu?” Alex terdengar sangat penasaran, suaranya terdengar sangat bersemangat.

“Hoo … ada apa ini, kenapa kamu begitu sangat penasaran tentangnya?”

“kamu tau, dia sangat menarik. Tapi sebelumnya apa pengawalmu itu pernah memegang senjata pistol?”

Stevia langsung menjawab, “Pistol? Tidak, itu tidak mungkin. Dia adalah pemuda biasa yang aku kenal jika itu tentang riwayat latar belakangnya juga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 177

    Suara dari tembakan sangat keras memekakan telinga. Meski memakai penutup telinga tetap saja Bayu bisa mendengar lebih jelas seperti tidak memakai penutup telinga. Namun, Alex memperhatikannya dengan seksama setiap peluru yang ditembakkan Bayu.Alex berdiri di samping dengan melipat kedua tangannya sambil terus mengamati. Dari gerakan Bayu, caranya mengarahkan senjatanya, posisi berdirinya. Semuanya memiliki proporsi yang bagus.Latihan Bayu berlanjut terus sampai akhirnya senjata yang di atas meja sudah dicobanya semua. Barulah ia berhenti lalu menoleh ke arah Alex. “Ini lap pakai handuk ini keringatmu. Lalu ambil air di meja itu.” Alex menunjuk letak air berada.“Terima kasih,” sahut Bayu.Kain handuk kecil itu langsung digunakannya. Tubuh Bayu memang bercucuran keringat meski tidak terlalu banyak. Mereka sama-sama duduk di kursi yang berada di samping rak. Ada dua kursi dan satu meja yang di atasnya sudah tersedia air botol

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 176

    Selvi yang masih memakai baju singlet dan celana pendek berdiri di depan Bayu dengan wajah yang baru bangun tidurnya. Namun, wajahnya tetap terlihat cantik meski baru bangun tidur dan belum cuci muka.“Iya, dia lagi nyapu di ruang tv di sana!” Tunjuk Bayu.“Jadi aku harus nunggu dulu.”“Kamu mau jus apa?” tanya Bayu sambil membuka kulkas yang berisikan banyak buah-buahan segar di dalamnya.“Emm … mau yang rasa apel tapi …” lagi-lagi Selvi melirik ke arah tempat Sri bekerja.Bayu melirik ke blender tempat Sri biasa membuatkan jus untuk mereka. “Biar aku aja yang buatkan mau nggak?” Kedua alis Selvi terangkat. “Kamu emang bisa?” “Belum dicoba, tapi aku sering lihat cara Mbak Sri buat kok. Tenang saja sedikit paham lah.” Bayu mulai memotong buah apel ke dalam blender dan menambahkan sedikit gula. Biasanya Sri menambahkan susu kental manis ke dalamnya. Namun, Bayu bingung apakah Selvi juga mau dibuatkan seperti i

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 175

    “Kamu sudah bekerja keras hari ini, jadi tidurlah dalam perjalanan. Nanti saat sampai rumah aku akan membangunkanmu,” ucap Bayu sambil melihat ke pantulan kaca.Mobil pun mulai melaju di jalan raya menuju kediaman Stevia. Butuh waktu beberapa menit jika harus sampai jadi Stevia pun sempat tertidur di jalan.Tidak lama akhirnya mobil pun sampai di rumah, Bayu menoleh ke belakang mencoba untuk memanggil membangunkan Stenia tapi sayangnya dia tidak bangun.Akhirnya Bayu pun keluar dari mobil dan membuka pintu samping lalu menyentuh pundak Stevia lalu menggoyangkannya pelan. “ … Stevia, Nona Stevia!” seru Bayu di samping Stevia.Sentuhan di pundak dan suara yang memanggil namanya dengan lembut membuat Stevia akhirnya terbangun. Ia menoleh perlahan pada Bayu lalu mengucek matanya untuk memperbaiki pandangannya yang masih belum stabil.“Hmm … Bayu apa kita udah sampai?” tanya Stevia sambil menguap dan meregangkan tubuhnya sebentar.

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 174

    “Ya, aku mengerti. Lalu apa kamu tidak mempertimbangkan kondisiku saat ini. Seperti yang kamu lihat seminggu yang lalu aku baru saja selesai dioperasi. Bahkan luka tusuk yang aku terima masih belum benar-benar sembuh.”Farhat duduk di tepi ranjang melihat ke arah perut yang dipegang Stevia. Di mana bekas jahitan luka itu berada. “Kamu bisa mengurusnya meskipun kondisimu seperti itu. Aku tahu kamu punya jaringan hukum yang kuat untuk membackup tuntutan itu.”“Lalu apa yang akan kamu berikan padaku jika aku menyelesaikan permasalahmu? Kamu tidak mungkin hanya menyuruhku saja kan? Setidaknya aku juga butuh imbalan.” Stevia memiliki sisi yang sangat ambisius tentu tidak ingin menjadi wanita bodoh yang hanya akan dimanfaatkan saja. Jadi karena sudah terlanjur berurusan dengan orang seperti Farhat kenapa tidak sekalian saja mendapatkan keuntungan juga, pikirnya.Namun, tetap saja pria yang di hadapannya ini sangat bengis dan merupakan orang y

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 173

    Suara air keran dan dentingan piring terdengar sampai ruang tamu tempat Rini mengelap meja. Sedangkan Sri baru saja mengantarkan makan siang pada Stevia di lantai atas dan kini ia menuruni tangga.Berjalan sedikit lalu melihat Bayu yang baru saja selesai mencuci piring kini sedang menyusun rapi piring di rak dapur. “Kamu udah cuci sendiri? Padahal bisa tunggu aku yang cucikan.” Sri langsung mencuci satu piring yang dibawah barusan dari kamar Stevia.“Nggak apa-apa Mbak, lagian ini kan cuma dikit aja jadi sekalian aku yang cucikan,” jawab Bayu santai. Ia baru saja selesai meletakkan piring di rak.“Kalo gitu aku pergi dulu ya, Mbak!”Sri hanya mengangguk saat melihat Bayu keluar dari area dapur. Meninggalkan istri yang masih berdiri mengelak piring. Di luar Bayu berjalan ke arah tempat Arif bekerja. Ternyata sesampainya di sana Arif tidak sedang bekerja Bayu melihat kalau dia sudah menyelesaikan semuanya sudah beres dikerjakan.

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 172

    “Tidak,” protes Bayu. “Biar aku saja yang bawakan Mbak. Soalnya Mbak juga pasti lagi ada kerjaan lain.” “Kalau dipikir-pikir iya juga sih. Aku masih ada kerjaan banyak, tumpukan baju yang belum disetrika dan dilipat masih berada di ruang gosok. Kalau gitu kamu aja yang antar.”Sri jadi lesu karena mengingat tumpukan pakaian yang belum disetrikanya. Sedangkan Bayu melihat sekeliling mencari keberadaan Rini yang biasanya membantu Sri tapi tidak ada.“Mbak Rini tumben nggak keliatan,” celetuknya.“Oh … tadi aku menyuruhnya untuk pergi membeli belanjaan dapur mungkin nanti pulangnya. Tadi sih dia pergi ikut sama Non Selvi dan Pak Jo, jadi kayaknya nanti diantar sama pak Jo lagi pulangnya.”“Pantesan aku nggak lihat dia. Soalnya biasanya kan Mbak Rini yang bantuin.” “Iya, biar dia belajar pergi sendiri. Soalnya kemarin-kemarin kan belanjanya sama aku terus bahkan udah aku ajarin juga.” Sri mulai mematikan kompor hingga berbunyi ‘cet

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status