Se connecter“Ya, aku mengerti. Lalu apa kamu tidak mempertimbangkan kondisiku saat ini. Seperti yang kamu lihat seminggu yang lalu aku baru saja selesai dioperasi. Bahkan luka tusuk yang aku terima masih belum benar-benar sembuh.”
Farhat duduk di tepi ranjang melihat ke arah perut yang dipegang Stevia. Di mana bekas jahitan luka itu berada.“Kamu bisa mengurusnya meskipun kondisimu seperti itu. Aku tahu kamu punya jaringan hukum yang kuat untuk membackup tuntutan itu.”“Lalu a“Kamu yakin nona dia mau yang itu?” tanya Arif kembali memastikan. “Justru itu nona mau yang masih belum matang. Ngomong-ngomong apa aku harus memanjat ke atas?” Bayu mulai menyentuh pohong mendongak ke atas. “Tidak, sini biar aku saja yang panjat. Sekarang kamu tunggu aku di bawah.” Arif mulai memanjat pohon mangga. Bayu masih mendongak ke atas menunggu Arif memetik buahnya. Tidak lama Arif akhir menjatuhkannya ke bawah. Sedangkan Bayu yang menunggu tadi segera menangkap buah yang sengaja dijatuhkan. Kemudian memasukkan buah mangga yang masih muda itu ke dalam keranjang buah. Dari atas pohon Arif bisa melihat keranjang kecil tempat buah mangga. “Mangganya masih mau berapa buah lagi?” tanya Arif dengan suara nyaring. “Sudah segini aja kayaknya sudah cukup. Nanti kalau sudah habis tinggal datang ke sini ambil lagi,” seru Bayu dari bawah. “Jadi kamu udah bisa turun sekarang!” “Aku
“Jadi apa yang perlu kamu cemaskan?” tanya Stevia sambil meraih lengan Bayu. Berpegang pada Bayu lalu berjalan menuju ranjang. Stevia duduk di tepi ranjangnya dengan Bayu yang ikut duduk di sampingnya. “Apa kamu yakin tidak masalah jika melahirkan bayi itu nanti? Aku hanya merasa mungkin saja kamu ingin menggugurkannya atau bagaimanapun tadinya aku berpikir seperti itu.” “Seminggu lagi aku akan membawamu ke rumah sakit untuk tes DNA nanti. Karena hari ini sudah malam jadi aku ingin istirahat lebih awal.” Stevia pun akhirnya membaringkan tubuhnya. “Kalau begitu selamat malam. Aku akan keluar dari sini kembali ke kamarku dulu,” balas Bayu. Dengan langkah pelan Bayu meninggalkan kamar Stevia lalu tidak lupa ia menutup kembali pintu kamar. Di luar Bayu menuju dapur karena harus meletakkan gelas kosong yang dibawa Sri untuk membawa air minum tadi. Sedangkan Sri yang juga berada di dapur melihat Bayu berjalan mendekati area dapur. “Bayu, gimana non Stevia udah mendingan mualnya? Ma
“Huuf … antarkan aku ke tempat tidur lagi,” pinta Stevia.Bayu pun langsung mengikuti perkataan Stevia dengan membawanya naik ke ranjang. Tangan Selvi merah tangan Bayu. “Bayu, tolong belikan aku obat ke apotik.” “Obat apa yang kamu inginkan?” “Aku punya firasat, jadi tolong berikan aku tespek sekaligus obat mual-mual.”“Baiklah, aku akan segera pergi sekarang. Aku akan segera kembali jadi tunggu sebentar.” Bayu bergegas kembali keluar dari kamar lalu turun menuju ke lantai satu.“Bayu malam-malam begini kamu mau kemana?” Rini yang sedang mengepel lantai terkejut saat melihat Bayu yang baru saja menuruni anak tangga.“Aku mau pergi keluar sebentar untuk membeli obat ke apotik,” jawab Bayu cepat sambil melebarkan langkahnya keluar.“Ah gitu, hati-hati ini udah malam soalnya.” Rini melambaikan tangannya sembari masih menatap punggung Bayu yang perlahan menjauh keluar pintu. Sesampainya Bayu di dalam garasi mobil ia masuk ke dalam mobil. Mulai menyalakan mesin mobilnya dan dengan cep
Sentuhan Selvi mulai mengarah ke arah lain, dengan bisikan lembut di telinga Bayu.Tentu Bayu pun merespon sentuhan Selvi dengan baik. Ia menarik Selvi dengan merubah posisi mereka. Selvi yang tadinya berada di belakang Bayu ini sudah berada tepat di atasnya.Saat jari Bayu menyentuh area sensitif Selvi yang ternyata sudah basah ditambah lagi karena mereka dalam air.“Jika kamu mau coba masukkan sendiri!”Tangan Selvi mulai meraih batang Bayu dan mengarahkannya ke area miliknya. Baru menyentuh permukaan di area sekitar pintu masuk. Sudah membuat ia terengah-engah hampir kesusahan saat hendak memasukkannya.Dengan melakukan di dalam air jadi masuknya tidak terasa sakit seperti biasa. Namun, saat benda milik Bayu sudah masuk semua rasanya Selvi benar-benar penuh.“Ahh … uhhhnghh! Akhirnya masuk juga!” Baru saja Selvi merasa nikmat saat milik Bayu memasukinya. Namun, Bayu tiba-tiba menghentakkan dirinya di dalam sana hingg
“Besok nanti aku mau izin keluar sebentar terus pergi ke klinik. Jadi nanti bisa pergi ke sana.” Arif kembali memasukkan burung ke dalam sangkar hanya saja ia tidak menggantungnya di atas melainkan membiarkannya di lantai.Tidak lama kemudian Rini datang ke depan teras Arif. “Ini udah malam kalian gak masuk makan ke dalam? Mbak Sri udah nungguin dari tadi ko!”“Ayo Rif, kita masuk. Aku udah lamapr banget nih,” ajak Bayu.Arif langsung mengangguk. “Iya Bay, ayo kita makan sama-sama. Mba ayo.” Rini juga ikut berjalan di belakang mereka berdua, di dapur ia membantu Sri meletakkan makanan untuk Selvi di meja makan. Kemudian kembali ke dapur dan makan bersama sebelum majikan mereka turun untuk makan, maka mereka harus sudah selesai makan lebih dulu.Sedangkan di Selvi baru saja keluar dari kamarnya, ia menuruni tangga lalu berjalan menuju dapur. Bayu melihat Selvi yang berjalan mendekat karena posisi duduknya lebih terpampang ke pin
“Kalian bicaranya lama banget tau! Aku jadi kelamaan nunggu sendirian,” keluh Selvi.“Maaf, ayo kita ke tempat tidur.” Bayu mengajak Selvi duduk berdampingan di pinggir ranjang.Selvi pun akhirnya ikut duduk di samping Bayu, ia menyandarkan kepalanya pada lengan. “Jadi apa kamu sudah bisa memberitahuku apa yang kalian bicarakan?” tanya Selvi.Dengan wajah terangkat ia mendongak melihat wajah Bayu dari bawah sambil memegang erat lengannya.“Apa kamu yakin masih mau mendengarnya?” Bayu merasa agak cemas untuk memberitahukan pada Selvi. Namun, ia tidak bisa menyembunyikannya.Wajah Selvi mengangguk. “Iya aku masih mau denger. Jadi apa yang kalian bicarakan?”“Aku akan bergabung dengan anggota Tentara bayaran. Kemungkinan besar nanti aku akan mengundurkan diri bekerja di sini. Aku …” Bayu menunduk menatap langsung wajah Selvi yang melihat ke arahnya dengan mata berkaca-kaca.“Mengundurkan diri dari sini! Terus kamu







