LOGINAwalnya Mila menolak. Mengingat kalau ibunya yang sakit dan harus dirawat tetapi Riska bilang kalau dengan bekerja dengannya ia akan memberikan uang pinjaman untuk biaya berobat ibunya.Lalu jika sudah bekerja dengannya nanti bisa sambil cicil lalu sisanya bisa dikirim ke kampung karena biaya makan sudah ditanggung.Sekilas hal itu terdengar menggiurkan dan sangat membuat tertarik. Bahkan Mila sendiri mulai setuju mendengar apa yang dikatakan oleh Riska.Tanpa berpikir panjang Mila pun bertanya, “Lalu aku akan bekerja sebagai apa di sana?” “Hanya melayani pengunjung saja kok, aku selalu punya banyak tamu jadi kamu hanya perlu menemaninya saja untuk mengobrol.” Mendengar itu Mika setuju-setuju saja dengan wajah senang. Setelah itu Riska memberikan sejumlah uang yang dipinjamkan untuk berobat ibunya—Mila.Namun pekerjaan itu terdengar sangat mudah untuk dikerjakan. Mila sama sekali tidak berpikir kalau itu akan menjadi bencana besar d
“Lalu bagaimana dengan ponsel di tanganmu itu? Apa kamu pikir aku tidak melihat ponsel yang kamu genggam erat-erat di belakang?”Dum! Jantung Viona terasa dihantam keras, ternyata pria di hadapannya itu sudah tahu apa yang disembunyikannya.Cahyo melirik ke kawannya yang berada di samping Viona. Satu gerakan tangan sebagai isyarat dan pria itu mengangguk paham. Ia menunduk lalu meraih paksa ponsel di genggaman tangan Viona.“Tidak!” pekik Viona.“Ini ponsel yang kamu maksud?” Pria itu menyerahkannya langsung pada Cahyo.Senyuman licik di wajah Cahyo terlihat. “Kamu mencoba menyembunyikan ini karena tidak mau menghubungi wanita itu kan?”Ponsel itu sengaja di lambai-lambaikannya di tangannya untuk memperlihatkan pada pemiliknya. “Aku akan memberikanmu satu kesempatan hubungi dia sekarang juga atau ponsel ini aku bawa bersamamu ke markas kami? Tentu saja jika kamu sudah berada di sana mungkin aku tidak akan menjamin kesel
“Maaf Mbak! Aku cuman mau ambil uangku di dalam. Aku takut nanti mereka ikut mengobrak-abrik kamarku dan uang itu akan ….” Mila tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi.“Apa itu tabungan untuk dikirim ke kampung?” tanya Viona.Mila hanya mengangguk, ia tidak bisa jujur itu untuk penebusan dirinya. “Tapi aku dengar mereka mencari mami Riska!”Viona tahu itu karena sejak tadi dia ada di sana. Tapi karena ia keluar lewat jendela kamar saat orang-orang itu baru saja masuk dan berteriak-teriak mencari mami Riska. Saat itu Viona yang kalang kabut langsung memilih untuk cepat-cepat kabur dari sana.Hingga akhirnya ia harus keluar lewat jendela kamarnya. Dalam keadaan panik Viona terus kabur tanpa memikirkan apapun lagi. “Aku … aku tidak tahu lagi tapi mereka terlihat sangat marah dan mencari-cari mami.” Viona yang merupakan orang kepercayaan sekaligus pelacur yang cukup handal di sisi mami Riska. Ia terlihat sangat cepat dan berharap mami Risk
Esok hari di tempat lain … pagi-pagi sekali Bayu dan baru saja pulang setelah menyelesaikan misi yang dijalankannya kemarin.Tadi malam mereka tidak tidur karena sedang menjalankan misi dan baru saja pulang setelah dini hari. “Hoam …! Sepertinya aku akan tidur pagi ini.” Joni mengual sambil menyetir.“Hati-hati lihat ke depan. Nanti kita tidak sampai-sampai malah sampe rumah sakit karena nabrak!” Teo yang sama-sama mengantuk mencoba menasehati teman di sampingnya.Lalu Teo pun menoleh ke belakang. “Bayu hari ini kamu nggak pergi ke mana-mana kan?” “Kayaknya nggak soalnya aku ngantuk banget! Mau cepat-cepat sampe pulang ke rumah nih,” jawab Bayu ikut menguap hingga di ujung matanya berair.Selama empat hari ini mereka memang kurang tidur karena terus menerus berada di lokasi tempat misi berlanjut. Hal itu membuat mereka kurang tidur hingga lingkaran mata menggelap seperti mata panda.Tapi untungnya mereka akhirnya sampa
Tok, tok, tok!“Tuan, maaf sedang terjadi konslet arus listrik jadi masih sedang proses perbaikan.” Suara kepala pelayan yang berbicara di luar kamar.“Cepat suruh mereka selesaikan itu sekarang juga!” perintah Farhat dengan tegas.“Anuu Tuan!”“Apa lagi?” “Saya mendengar suara benda jatuh di dalam. Apa semuanya baik-baik saja?” Suara yang dimaksud oleh kepala pelayan itu adalah suara lemparan barang. Tapi pelayan itu tetap menyebutnya ’benda jatuh' agar majikannya tidak tersinggung.“Cepat pergi perbaiki lampunya! Jangan bertanya hal lain!” Mendengar jawaban itu si pelayan dengan buru-buru pergi dari sana. Ia tahu majikannya saat ini sedang benar-benar emosi karena hal yang tidak diketahuinya. Maka dari itu ia segera pergi agar tidak terkena imbasnya.Suara langkah kaki si pelayan terdengar saat berjalan pergi membuat Stevia cemas karena Farhat akan menanyakannya lagi.“Kamu belum menjawab!
“Nanti aku panggil,” sahut Dion.Sementara di bawah Teo dan Joni baru sampai di tempat parkir. Kemudian mereka pun menaiki tangga menuju lantai atas ke unit rumah mereka.Di rumah suara pintu kembali terdengar dan kali ini benar-benar Joni dan Teo yang baru saja pulang. Pandangan yang lainnya langsung mengarah ke Teo yang sedang terluka bahkan untuk sementara ia harus memakai gips di tangannya karena sedikit retak tulang ligamen. Begitu juga dengan kaki yang terlihat agak pincang karena pengeroyokan itu. Mereka menghajar semua bagian tubuh Teo hingga membuatnya jadi seperti itu.“Cepat Jon, bawa dia ke kamarnya. Tadi Bayu udah bersihin kok jadi tinggal istirahat,” ujar Rian.“Makasih ya, Bayu!” Teo melihat ke arah Bayu setelah tahu kalau dia yang membersihkan tempat tidurnya yang berantakan.Mereka semua langsung ikut masuk ke kamar Teo.“Kami dengar anak buah Marko menangkapmu. Lalu menghabiskmu beramai-ramai.” Dion ik







