Home / Mafia / Bayangan Cinta Sang Mafia / 3. Pengakuan Fabian

Share

3. Pengakuan Fabian

Author: Angel
last update Huling Na-update: 2025-10-07 13:02:30

Malam itu Fabian pergi ke salah satu klub miliknya untuk menghabiskan malamnya setelah seharian berurusan dengan tawanan yang banyak menyita waktunya dan membuatnya lelah, kakinya terus melangkah menuju ruangan khusus miliknya yang berada di lantai 3 dan hanya bisa dimasuki olehnya.

“Pilihkan yang paling luar biasa!.” Ucapnya kepada wanita setengah baya yang dia percaya untuk mengelola tempat itu, wanita itu mengangguk dan langsung pergi.

Fabian membuka pintu ruangan miliknya itu dan langsung duduk bersandar di sofa panjang yang sangat empuk, tubuhnya terasa sangat lelah tapi ada yang menginginkan sesuatu dan terus menggodanya sejak tadi.

Tok

Tok

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, Fabian langsung mempersilahkannya untuk masuk. Nampak seorang gadis cantik berkulit putih berjalan masuk perlahan, wajahnya terlihat ragu tapi dia terus berjalan mendekati Fabian yang menatapnya baak singa kelaparan

“Selamat malam Tuan, Saya diperintahkan Madam untuk melayani Tuan” ucapnya dengan sangat hati-hati, dia tahu sedang berhadapan dengan pemilik tempat itu yang juga adalah seorang mafia yang sangat berbahaya

“Hmm... Kemarilah cantik, kau tahu kan apa tugasmu??.” Jawab Fabian sambil mengamati gadis yang sedang berjalan mendekat itu dari ujung rambut sampai ujung kakinya, gadis berusia 20 tahun itu hanya mengangguk. Sepertinya dia belum lama bekerja di klub miliknya itu

“Lepaskan”, perintahnya. Dan dalam hitungan detik terpampang keindahan di depan kedua matanya, bukit kembar yang tegak berdiri seolah memohon kepadanya agar segera dijelajahi.

Fabian menarik gadis yang masih berdiri di depannya itu hingga puncak bukit itu menempel di bibirnya dan tanpa menunggu lama langsung di nikmatinya

“Akkhh...!" gadis itu meremas kepala bayi besar yang sedang menyusu seperti sangat kelaparan itu dengan kencang, Fabian memang sangat menggilai bukit-bukit paling indah di dunia itu dan selalu menghabiskan banyak waktu untuk menjelajah disana

“Tuan, Akh.!” Suara suara tak berhenti keluar dari bibir gadis cantik itu bersamaan dengan kegilaan Fabian, sampai akhirnya pintu menuju sebuah goa kecil itu di buka lebar dan langsung di jelajahi oleh tangan sang penggali yang sudah sangat ahli itu

“Perlahan Tuan, Akh,” tolak sang pemilik goa dengan wajah sayu yang khawatir dengan penggalian liar itu yang akan melukai dinding goa nya

“Diam!!” Ucap sang penggali tegas sambil terus melakukan penggalian secara terus menerus, nafasnya mulai tersengal-sengal dan entah apa yang dicarinya tapi yang jelas penggalian itu mulai membuat goa itu mulai banjir bersamaan dengan suara sang pemilik yang menjerit kencang

“Aakhh...!!” Pekiknya sambil mencengkram kuat sang penggali yang tak juga berhenti

“Sudah saatnya!” Ucapnya sambil memposisikan sesuatu yang seperti pengebor sumur yang sangat besar tepat di pintu goa kecil itu, dari penggalian tadi dia tahu kalau Goa ini belum banyak di datangi para penggali dan akan membuatnya sedikit lebih bekerja keras

Tanpa aba aba pengebor itu mulai memasuki pintu goa yang membuatnya sedikit kesulitan karena pintu goa itu yang sangat kecil sehingga pengebor itu sedikit tertahan dan tak bisa dengan mudah mencapai dasar

“Oh... Ini sempit sekali!” Ucapnya sambil terus berusaha membuat alat pengebor itu segera mencapai dasar Goa indah itu dengan tenaga extra

“Tuan, Tuan, ohh...” Ucap si pemilik dengan mata terpejam dan menggigit bibirnya kencang

“Iya sayang, bersuaralah!!” Jawabnya sambil semakin menaikan level kekuatan alat pengeboran itu yang sudah berhasil mencapai dasarnya dan mulai melakukan pengeboran berulang sampai akhirnya berhasil melepaskan timbunan semenna melimpah yang dibawanya

“Owh... Ini sangat banyak!! Pastikan kau meminum obat yang Madam berikan!!” Perintahnya, dia harus memastikan kalau semua kebiasaannya itu tak ada yang menghasilkan penerus untuknya

Setelah menyelesaikan semuanya gadis itu pun pergi meninggalkan Fabian yang langsung asik menikmati minuman sambil menunggu kedatangan asisten pribadinya yang baru saja dia hubungi, Dia sengaja meminta Gustav datang untuk menemaninya pergi ke suatu tempat

Hanya berselang beberapa menit yang ditunggu pun datang dan tanpa menunda mereka pun segera pergi menuju tempat yang Fabian inginkan, sesampainya di ujung jalan tiba-tiba Fabian meminta Gustav memarkirkan mobilnya di pinggir jalan

“Disini Tuan??” Tanyanya dengan heran

“Ya, disini saja. Dan kau diam jangan bertanya apa-apa lagi” jawabnya dengan pandangan yang tertuju ke sebuah restoran yang ada di depannya

Terlihat seorang gadis cantik sedang duduk di kursi yang ada di teras Restoran itu yang dihiasi dengan pot bunga cantik berwarna-warni, saat itu gerimis kecil sedang turun tapi gadis itu tetap duduk disana dengan tenang sambil menikmati secangkir kopi panas

“Siapa dia Tuan??” Tanya Gustav yang mendadak lupa dengan ucapan Tuannya barusan

“Apa kau lupa dengan ucapanku barusan?!” Jawab Fabian sambil menatapnya, Gustav langsung diam dan tak menjawab

Fabian menatap Elmira sambil sesekali mengambil foto gadis cantik itu, entah mengapa dia menjadi sangat tertarik dengan gadis yang baru beberapa kali dilihatnya itu

“Dia sangat cantik bukan??” Tiba-tiba Fabian sendiri yang tanpa sadar mengajak bicara Gustav, Asistennya itu langsung menengok dengan wajah heran sekaligus bingung.

“Iya Tuan, dia sangat cantik. Apa dia kekasih Tuan?.” Tanyanya dengan hati-hati

“Bukan, aku hanya mengaguminya saja. Entah mengapa aku sangat senang tiap kali melihatnya” jawab Fabian dengan raut wajah yang baru kali ini Gustav lihat, tuannya itu terlihat berbeda ketika membahas tentang gadis asing di depan mereka itu. Fabian terlihat seperti seseorang yang sedang jatuh cinta!

“Tuan, maafkan jika aku lancang tapi apakah Tuan sedang jatuh cinta?.” Tanyanya dengan sangat hati-hati

Fabian tidak langsung menjawab pertanyaan itu, kepalanya berpikir apa iya dia jatuh cinta?? Tapi dia tidak bisa dan tidak boleh mencintai gadis manapun sesuai dengan janjinya.

“Tidak!” Jawabnya singkat. Gustav terkejut mendengar jawaban sang Tuan yang tidak sesuai dugaannya, karena dari sikap Fabian Sangat jelas terlihat kalau Tuannya itu sedang jatuh cinta

“Aku tidak bisa mencintai wanita manapun!” Tiba-tiba lelaki itu melanjutkan kalimatnya. Gustav sangat terkejut mendengar ucapan Tuannya itu

“Mengapa Tuan bicara seperti itu? Kita semua memiliki hak dan kesempatan untuk mencintai seseorang," jawab laki-laki itu

“Tapi kesempatan itu bukan untukku, aku tidak ingin kehilangan lagi orang yang aku cintai. Cukup aku kehilangan orang tua dan adik adikku!” Ucapnya lagi, rupanya rasa kehilangan akibat kejadian beberapa tahun silam yang merenggut seluruh keluarganya itu yang membuat Fabian memiliki Trauma untuk menjalin hubungan kasih dengan siapapun

“Aku akan kehilangan lagi orang yang aku cintai jika aku memilih untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita.” Jelasnya lagi, Gustav kembali terdiam dan tak bisa menjawab karena khawatir memberikan jawaban yang salah, tapi setidaknya dia sudah tahu mengapa selama ini sang Tuan selalu menutup hati walaupun banyak wanita dan gadis cantik yang menginginkan menjadi pasangannya

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bayangan Cinta Sang Mafia   33. Bertemu sang mama

    Pagi itu Elmira bangun lebih cepat dari biasanya. Matanya sembab, tubuhnya sedikit lunglai, tapi ia memaksakan diri untuk berdandan rapi. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana kain lembut, menutupi memar yang pelan-pelan mulai memudar. Hari ini ia memutuskan untuk mengunjungi mamanya. "Mama pasti tenang kalau lihat aku baik-baik saja," gumamnya pelan sambil memasang masker.Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Senyum tipis dipaksakan keluar, senyum yang hanya untuk menenangkan orang lain, bukan dirinya. “Mau kemana kamu?” tanya Liam yang masih duduk di meja makan “Hari ini aku ingin ke rumah Mama.” Jawabnya dengan hati-hati “Hmm… mengapa harus hari ini? Besok saja, aku tidak bisa mengantarmu hari ini.” Ucap Liam enteng bahkan tanpa menatap wajah sang istri yang berdiri di depannya “Tolong Liam, aku sudah sangat merindukan Mama. Aku berjanji tidak akan lama disana.” Elmira terus berusaha meyakinkan suaminya agar memberikan izin “Apa kau akan mengadukan semuanya

  • Bayangan Cinta Sang Mafia   32

    Dua hari setelah “insiden” di apartemennya yang membuat Liam takut tapi juga penasaran telah membuat suasana apartemen itu berubah. Liam tidak bisa tidur nyenyak. Ada seseorang yang berani mengancamnya dan lebih parahnya lagi pengancaman itu terjadi di kediamannya sendiri… dan itu membuat egonya terbakar.Di ruang kerjanya yang gelap, hanya diterangi lampu meja, Liam duduk sambil memutar pengaman pisau lipat di jarinya. “Siapa pun dia… dia cari mati,” gumamnya.Tiba-tiba pintu diketuk dan masuklah seorang anak buahnya yang sengaja dia panggil untuk datang menemuinya, Sam… yang selama ini menjadi pesuruh sekaligus pengumpul informasi Liam. “Bos memanggil saya?” tanyanya dengan wajah heran, karena tidak biasanya bos nya itu mengijinkan anak buahnya datang menemuinya di tempat pribadinyaLiam menatapnya tajam. “Iya. Kita mulai dari parkiran malam itu. Kamu lihat CCTV?”Sam mengangguk. “Saya cek semua sudut. Ada seseorang yang mendekati mobil bos. Gerakannya rapi, cepat. Tapi… wajahnya

  • Bayangan Cinta Sang Mafia   311. Mimpi panas Fabian dan ancaman kepada Liam

    Fabian terbangun dalam mimpinya atau mungkin jatuh ke dalamnya, malam itu ia berada di sebuah ruangan yang samar, hangat, diterangi cahaya kekuningan yang tampak seperti berasal dari lilin yang menari. Aroma wangi lembut entah melati atau parfum yang selalu diingatnya seolah mengisi udara. Dan di tengah segala keheningan itu, Elmira berdiri di sana, mengenakan gaun tipis yang membuat bayangannya samar namun begitu memikat.Fabian terpaku, sosok wanita yang sangat ia cintai menatapnya dengan cara yang belum pernah ia lihat di dunia nyata, penuh kelembutan, rindu, dan sedikit senyum yang terasa seperti undangan diam-diam. “Fabian…” suaranya rendah, nyaris berbisik, namun cukup untuk menghancurkan semua tembok yang selama ini ia bangun.Elmira melangkah mendekat, setiap langkah seolah memadatkan udara di sekeliling mereka. Fabian merasakan dadanya sesak, bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang selama ini ia kubur begitu dalam akhirnya mencuat ke permukaan. Hasrat. Cinta. Rindu. C

  • Bayangan Cinta Sang Mafia   30. Ancaman Fabian

    Hujan turun sejak sore, membasahi kaca jendela lobi apartemen tempat Elmira dan Liam tinggal. Fabian berdiri di balik salah satu pilar, menyamarkan dirinya di antara bayangan dan cahaya lampu. Ia tidak seharusnya berada di sana, tetapi laporan Reno sejak beberapa hari terakhir membuatnya tidak tenang. Hari ini, ia ingin melihat langsung kondisi Elmira.Tidak butuh waktu lama.Lift berbunyi, pintunya terbuka, dan Liam keluar lebih dulu. Elmira menyusul beberapa langkah di belakang, berjalan pelan. Fabian menegang. Sekilas Elmira tampak normal dengan gaun sederhana dan rambut yang dikuncir rapi. Namun begitu ia bergerak mendekat ke arah kafe lobi, Fabian melihat detail yang membuat dadanya mengeras.Elmira sedikit pincang. Bukan jelas, tapi cukup terlihat bagi orang yang mengenalnya. “Apa yang terjadi padamu??” bisiknya tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita yang sangat ia cintai ituLengan kanan wanita cantik itu terselip di balik tubuh seolah menutupi sesuatu, wajahnya lebih puc

  • Bayangan Cinta Sang Mafia   29. Penderitaan Elmira dan nafsu Liam

    Elmira memejamkan mata sejenak di ambang pintu kamar, mencoba menenangkan napas yang sejak tadi terasa sesak. Tubuhnya sudah menggigil sejak sore, namun ia tak berani mengatakan itu lagi pada Liam. Satu kali saja ia menyebut kata “tidak enak badan”, Liam akan mencibir, menuduhnya manja, atau lebih buruk lagi marah tanpa kendali.Liam masuk ke kamar lebih dulu, membuka kancing kemejanya sambil membuang pandangan ke Elmira. “Jangan bengong. Cepat sini,” katanya tajam, seperti memberi perintah pada seorang bawahan, bukan istri yang baru dinikahinya tiga hari lalu.Elmira melangkah pelan. Setiap gerakannya terasa berat. Kepalanya berdenyut, dan suhu tubuhnya naik turun seperti gelombang panas yang tak stabil. Ia meremas ujung bajunya, berusaha menahan gemetar. “Kenapa jalannya seperti orang mau roboh? Aku cuma pulang sedikit terlambat, bukan minta kamu drama.” Liam memperhatikan langkah istrinya itu dengan alis terangkat.Elmira menelan ludah. “Maaf Liam… tapi aku benar-benar pusing.”J

  • Bayangan Cinta Sang Mafia   28. Terulang kembali

    Dalam perjalanan malam yang sunyi itu, Fabian duduk bersandar di kursi penumpang, memandang keluar jendela mobil hitam yang melaju stabil menembus jalanan kawasan industri pinggiran kota. Lampu-lampu jalan memantul di kaca, menciptakan bayangan yang bergerak cepat seperti serpihan kenangan yang enggan menetap. Gustav berada di balik kemudi, tatapannya lurus ke depan, namun jelas terlihat ia tengah memikirkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mengemudi. “Dari gudang nanti kita akan lanjut kemana Tuan?.” tanya Gustav, mobil yang dia kemudikan terus meluncur membelah jalanan yang malam itu tidak terlalu ramai, sementara sang tuan duduk di belakang dan terlihat sangat sibuk dengan ponselnya “Tuan? Kita mau kemana??.” Tanyanya lagi, kali ini sang tuan langsung mengalihkan pandangan dari ponselnya dan melihat keluar jendela “Laporan terakhir sudah kau baca?” tanya Fabian tanpa mengalihkan pandangannya. “Sudah,” jawab Gustav tenang. “Pengiriman ke Belanda yang tempo hari… be

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status