LOGIN“Ra, bantu Mama sebentar sayang”. Panggilan mama membuyarkan lamunan gadis itu, tanpa menunda Elmira langsung berjalan menuju bagian belakang ruangan yang sudah di hias dengan sangat indahnya itu untuk acara pernikahan nanti.
Dia terkejut ketika melihat mamanya yang ternyata bersama Liam menata sudut ruangan itu, “Loh kamu, kapan datang? ko aku tidak tahu?” tanyanya yang terkejut melihat kehadiran sang sahabat di sana, mama hanya tersenyum melihat keduanya. “Hehe, tadi aku masuk lewat pintu belakang, aku kira pintu depan terkunci karena tertutup rapat tadi.” Jawab Liam sambil membantu wanita yang sudah seperti mamanya sendiri itu “Oh, ya sudah kalau begitu. Lalu tadi Mama memanggilku kenapa Ma?” tanyanya sambil memainkan bunga yang sedang di tata oleh mamanya ke dalam vas vas besar. “Ra, kamu temani Liam ya? Mama mau ke depan dulu setelah bunga bunga ini selesai.” Jawabnya sambil menyelesaikan bunga terakhir ke dalam vas yang sudah tersusun rapi. Setelah mama pergi dari ruangan itu hanya tinggal Elmira dan Liam berdua, sebenarnya Elmira merasa sedikit canggung terutama setelah percakapannya semalam dengan mama tapi dia berusaha bersikap senormal mungkin supaya Liam tak menyadari perubahan sikapnya “Kamu kenapa Ra?” tanya Liam yang ternyata bisa merasakan perubahan sikap sang sahabat “Kenapa apanya?” jawab Elmira berpura pura. “Entahlah, aku merasa ada yang beda sama kamu.” Jawab Liam, lelaki itu menarik kursi dan duduk di sebelah Elmira yang sedang merapikan kursi di meja bulat “Ah, .itu perasaan kamu saja ko.” Gadis itu mencoba mengelak dari kecurigaan sang sahabat. Tapi Liam melihat Elmira yang sepertinya tidak nyaman dan terus memainkan jari-jari tangannya seolah gugup. “Hmm, apa karena aku yang berharap lebih Ra?” tanyanya langsung tanpa berbasa basi. Elmira terdiam, tangannya berhenti merapikan kursi kursi itu dan langsung menatap Liam yang juga sedang menatapnya. “Liam, kamu tahu kan aku masih mau fokus dengan kuliah dan masa depanku? aku ingin bisa membahagiakan Mama dulu baru aku memikirkan kebahagiaanku,” jawabnya sambil mengusap pundak lelaki yang sudah menjadi sahabatnya selama hampir 5 tahun itu. Liam menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, ”Tapi Ra, kita sudah lama bersahabat. Kau sudah tahu aku seperti apa dan begitu juga sebaliknya, aku mau hubungan kita lebih dari ini Ra.” Ucapnya sambil menatap kedua bola mata gadis cantik di depannya. “Aku bingung Liam, tolong kasih aku waktu ya.” Elmira menjawab tanpa sengaja, hatinya sebenarnya sangat ingin menolak tapi bibirnya tak tega berucap. Liam langsung menggenggam kedua tangan Elmira dan tersenyum, ”Baiklah, kabari aku jika kamu sudah memiliki jawabannya.” Jawab Liam sambil mengelus kedua tangan lembut gadis pujaannya Jantung Elmira berdebar kencang, dia sangat tahu perasaannya yang memang belum siap untuk memulai hubungan bersama Liam, tapi dia tak sanggup membuat kecewa lelaki yang sudah menemaninya dalam senang dan sedih selama 5 tahun ini. Ditambah lagi Liam selalu membantu dirinya ketika dia dan mamanya kesulitan keuangan, Liam selalu menjadi penolong bagi mereka. Perlahan Liam mendekatkan bibirnya dan memberanikan diri untuk mengecup bibir Elmira, gadis itu terkejut dengan apa yang tiba-tiba sang sahabat lakukan dan langsung mendorong tubuh Liam menjauh. “Tolong jangan seperti ini, aku belum siap dengan semua perubahan yang mungkin akan terjadi.” Tolak Elmira dengan sopan, dia masih menghargai Liam yang mungkin saat ini sedang sangat berharap kepadanya hingga membuatnya khilaf. “Maaf, maafkan aku Ra. Aku khilaf.” Ucapnya dengan sedikit panik, dia tak menyangka kalau gadis pujaannya itu akan menolaknya. “Aku pamit ya Ra, sampaikan salam sama Mama.” Ucapnya lagi lalu meninggalkan Restoran itu lewat pintu belakang Elmira sadar mungkin Liam malu dengan perbuatannya barusan sehingga langsung pergi, sementara itu Liam terus berjalan menuju mobilnya dengan sedikit kesal karena mendapatkan penolakan dari Elmira. Laki-laki itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju sebuah bangunan Apartemen yang terletak tidak terlalu jauh dari sana. **** Ting.. Ting.. Liam menekan bel dengan tidak sabar, dan gadis yang ada di dalam Apartemen itu langsung berlari menuju pintu sambil berteriak. “Iya sabar, sebentar!." Hanya berselang beberapa detik pintu pun terbuka “Kamu! Gak sabaran sekali!” ucap gadis pemilik Apartemen itu sambil cemberut. “Lama sekali, sedang apa kamu?!” ucap Liam dengan suara ketus, laki-laki itu langsung masuk dan merebahkan tubuhnya di atas sebuah sofa panjang yang ada di ruangan tv. “Aku sedang mandi! Dasar kau saja yang tidak sabaran!” jawab gadis yang masih memakai bathrobe putihnya dengan wajah kesal. “Kemari!” panggil Liam dengan tatapan matanya yang tak berhenti memperhatikan gadis itu dari ujung rambut hingga kakinya, tapi diabaikan oleh gadis itu yang justru pergi menuju kamarnya “VINAA! KEMARI!” bentaknya dengan suara tinggi, gadis bernama Vina itu pun keluar dari kamarnya dan berjalan mendekatinya sambil cemberut. “Kau ini! Kan bisa kau yang menyusulku!.” Jawabnya kesal “Kemari sayang, duduk dipangkuanku!” ucapnya lagi sambil menepuk pahanya sendiri, dengan malas Vina mendekat kepadanya dan duduk dipangkuan Liam. “Hmm, harum sekali kamu sayang.” Ucapnya sambil memainkan rambut panjang Vina yang masih basah setelah keramas tadi. Tangan Liam pun mulai berpindah ke tali bathrobe yang dipakai Vina dan mulai melepaskan simpul ikatannya perlahan, “Stop, aku sedang malas” tolak Vina sambil menahan tangan LIam. “Sssttt, diam!!.” Jawab Liam dengan tegas, Vina tak mampu melawan karena Liam bisa marah besar jika apa yang dia inginkan tidak dia dapatkan Hanya beberapa detik bagian atas jubah mandi itu pun jatuh di kaki Liam dan menampakkan pegunungan-pegunungan indah dengan puncaknya yang merah muda, Vina mencoba meraih puncak pegunungan tinggi itu dengan kedua tangannya namun ditepis oleh Liam yang tak mengijinkannya. “Uggh!” suara lembut Vina lepas dari bibir manisnya ketika ada yang sedang berusaha untuk meminta asi darinya dengan tidak sabar, tanpa henti puncak Pegunungan-Pegunungan itu disapu dengan lembut dengan sesuatu yang terasa lembut dan lembap. “Kau sangat menggemaskan sayang,” bisik Liam di telinga Vina. Tangannya mulai berjalan di sekitar pahanya yang telah terbuka “Akhh” pek1k Vina ketika tiba-tiba sumur kecilnya digali oleh dua jari Liam “Sssttt, nikmati!” bisiknya lagi sambil menambah kecepatan penggalian hingga hampir menyentuh sesuatu yang membuat Vina hampir gila. “Sayang, ayo” pinta Vina dengan mata sayu, dia sudah mulai terpancing dengan permainan jari Liam dan sangat mendambakan rasa surga yang mampu Liam berikan Liam melepaskan puncak pegunungan itu dengan kasar hingga membuat Vina menjerit pelan dan langsung membawanya menuju kamar yang hanya beberapa langkah dari sana Dan setelah itu Liam tak memberikan Vina waktu untuk bernafas sejenak, laki-laki itu sibuk menjelajahi Pegunungan hingga lautan Samudra yang sangat dalam tanpa mengenal lelah. Kapal selam miliknya menjelajahi ke dalam lautan itu hingga ke dasarnya berulang kali dan tanpa memperdulikan suara yang memohon agar kapal selam itu memperlambat lajunya. “Perlahan, aakkhh!" ucap Vina sambil berpegangan dengan kencang dan menggigit bibirnya kuat-kuat Tapi yang mengemudikan kapal selam itu tak juga melambatkan lajunya justru semakin mempercepat dan kasar, “Akhh, sebentar lagi sampai, ohh !!” ucapnya ketika merasakan kapal miliknya hampir sampai ke tujuan Dan akhirnya sang Nahkoda berteriak kencang penuh rasa puas ketika akhirnya kapalnya mampu mencapai puncaknya dan melepaskan semua yang dibawanya hingga tak bersisa “Biarkan tetap disana, aku mau tidur” ucapnya yang melarang kapal selamnya dipindahkan dari tempatnya, Vina hanya diam dan membiarkan hal itu Sementara Liam sudah terlelap tepat di sampingnya dengan tangan yang melingkar di pinggang gadis itu, Vina tak bisa bergerak karena ada yang masih menyatu dengannya dan dia hanya terdiam sambil mencoba memejamkan mata. ***** Fabian saat ini sedang duduk di sebuah gudang tua sambil menatap seorang laki-laki yang terikat di sebuah kursi di depannya, perlahan dia berjalan mendekat dan memegang wajah laki-laki itu hingga menatap dirinya. “SIAPA YANG MENYURUHMU??!!” tanyanya dengan tegas kepada tawanan yang sudah terluka parah itu. “AKU TIDAK AKAN MENGATAKAN APAPUN!!” jawab tawanan itu dengan tatapan penuh benci, Fabian makin tersulut emosi dan langsung melayangkan tinjunya ke wajah laki-laki itu. “Akkh! Percuma kau menyiksaku Tuan, aku tak akan membuka mulutku!!” ucap tawanan itu lagi dengan nada mengejek. Beberapa pengawal Fabian yang berada dalam ruangan itu hanya diam sambil menatap apa yang sedang tuannya lakukan kepada tawanan mereka yang terlihat sudah sangat menderita “Tuan, sebaiknya biarkan kami mengobatinya dulu. Kita bisa mengintrogasinya lagi setelah kondisinya membaik” ucap laki-laki yang menjadi tangan kanannya itu Fabian menghentikan kekejaman yang sedang dia lakukan dan langsung berjalan meninggalkan ruangan itu, “OBATI DIA DAN KABARI AKU JIKA SUDAH MEMBAIK,DIA HARUS MENERIMA YANG LEBIH DARI INI!.” Ucapnya sambil terus melangkah menuju mobilnya yang terparkir di luarPagi itu Elmira bangun lebih cepat dari biasanya. Matanya sembab, tubuhnya sedikit lunglai, tapi ia memaksakan diri untuk berdandan rapi. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana kain lembut, menutupi memar yang pelan-pelan mulai memudar. Hari ini ia memutuskan untuk mengunjungi mamanya. "Mama pasti tenang kalau lihat aku baik-baik saja," gumamnya pelan sambil memasang masker.Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Senyum tipis dipaksakan keluar, senyum yang hanya untuk menenangkan orang lain, bukan dirinya. “Mau kemana kamu?” tanya Liam yang masih duduk di meja makan “Hari ini aku ingin ke rumah Mama.” Jawabnya dengan hati-hati “Hmm… mengapa harus hari ini? Besok saja, aku tidak bisa mengantarmu hari ini.” Ucap Liam enteng bahkan tanpa menatap wajah sang istri yang berdiri di depannya “Tolong Liam, aku sudah sangat merindukan Mama. Aku berjanji tidak akan lama disana.” Elmira terus berusaha meyakinkan suaminya agar memberikan izin “Apa kau akan mengadukan semuanya
Dua hari setelah “insiden” di apartemennya yang membuat Liam takut tapi juga penasaran telah membuat suasana apartemen itu berubah. Liam tidak bisa tidur nyenyak. Ada seseorang yang berani mengancamnya dan lebih parahnya lagi pengancaman itu terjadi di kediamannya sendiri… dan itu membuat egonya terbakar.Di ruang kerjanya yang gelap, hanya diterangi lampu meja, Liam duduk sambil memutar pengaman pisau lipat di jarinya. “Siapa pun dia… dia cari mati,” gumamnya.Tiba-tiba pintu diketuk dan masuklah seorang anak buahnya yang sengaja dia panggil untuk datang menemuinya, Sam… yang selama ini menjadi pesuruh sekaligus pengumpul informasi Liam. “Bos memanggil saya?” tanyanya dengan wajah heran, karena tidak biasanya bos nya itu mengijinkan anak buahnya datang menemuinya di tempat pribadinyaLiam menatapnya tajam. “Iya. Kita mulai dari parkiran malam itu. Kamu lihat CCTV?”Sam mengangguk. “Saya cek semua sudut. Ada seseorang yang mendekati mobil bos. Gerakannya rapi, cepat. Tapi… wajahnya
Fabian terbangun dalam mimpinya atau mungkin jatuh ke dalamnya, malam itu ia berada di sebuah ruangan yang samar, hangat, diterangi cahaya kekuningan yang tampak seperti berasal dari lilin yang menari. Aroma wangi lembut entah melati atau parfum yang selalu diingatnya seolah mengisi udara. Dan di tengah segala keheningan itu, Elmira berdiri di sana, mengenakan gaun tipis yang membuat bayangannya samar namun begitu memikat.Fabian terpaku, sosok wanita yang sangat ia cintai menatapnya dengan cara yang belum pernah ia lihat di dunia nyata, penuh kelembutan, rindu, dan sedikit senyum yang terasa seperti undangan diam-diam. “Fabian…” suaranya rendah, nyaris berbisik, namun cukup untuk menghancurkan semua tembok yang selama ini ia bangun.Elmira melangkah mendekat, setiap langkah seolah memadatkan udara di sekeliling mereka. Fabian merasakan dadanya sesak, bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang selama ini ia kubur begitu dalam akhirnya mencuat ke permukaan. Hasrat. Cinta. Rindu. C
Hujan turun sejak sore, membasahi kaca jendela lobi apartemen tempat Elmira dan Liam tinggal. Fabian berdiri di balik salah satu pilar, menyamarkan dirinya di antara bayangan dan cahaya lampu. Ia tidak seharusnya berada di sana, tetapi laporan Reno sejak beberapa hari terakhir membuatnya tidak tenang. Hari ini, ia ingin melihat langsung kondisi Elmira.Tidak butuh waktu lama.Lift berbunyi, pintunya terbuka, dan Liam keluar lebih dulu. Elmira menyusul beberapa langkah di belakang, berjalan pelan. Fabian menegang. Sekilas Elmira tampak normal dengan gaun sederhana dan rambut yang dikuncir rapi. Namun begitu ia bergerak mendekat ke arah kafe lobi, Fabian melihat detail yang membuat dadanya mengeras.Elmira sedikit pincang. Bukan jelas, tapi cukup terlihat bagi orang yang mengenalnya. “Apa yang terjadi padamu??” bisiknya tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita yang sangat ia cintai ituLengan kanan wanita cantik itu terselip di balik tubuh seolah menutupi sesuatu, wajahnya lebih puc
Elmira memejamkan mata sejenak di ambang pintu kamar, mencoba menenangkan napas yang sejak tadi terasa sesak. Tubuhnya sudah menggigil sejak sore, namun ia tak berani mengatakan itu lagi pada Liam. Satu kali saja ia menyebut kata “tidak enak badan”, Liam akan mencibir, menuduhnya manja, atau lebih buruk lagi marah tanpa kendali.Liam masuk ke kamar lebih dulu, membuka kancing kemejanya sambil membuang pandangan ke Elmira. “Jangan bengong. Cepat sini,” katanya tajam, seperti memberi perintah pada seorang bawahan, bukan istri yang baru dinikahinya tiga hari lalu.Elmira melangkah pelan. Setiap gerakannya terasa berat. Kepalanya berdenyut, dan suhu tubuhnya naik turun seperti gelombang panas yang tak stabil. Ia meremas ujung bajunya, berusaha menahan gemetar. “Kenapa jalannya seperti orang mau roboh? Aku cuma pulang sedikit terlambat, bukan minta kamu drama.” Liam memperhatikan langkah istrinya itu dengan alis terangkat.Elmira menelan ludah. “Maaf Liam… tapi aku benar-benar pusing.”J
Dalam perjalanan malam yang sunyi itu, Fabian duduk bersandar di kursi penumpang, memandang keluar jendela mobil hitam yang melaju stabil menembus jalanan kawasan industri pinggiran kota. Lampu-lampu jalan memantul di kaca, menciptakan bayangan yang bergerak cepat seperti serpihan kenangan yang enggan menetap. Gustav berada di balik kemudi, tatapannya lurus ke depan, namun jelas terlihat ia tengah memikirkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mengemudi. “Dari gudang nanti kita akan lanjut kemana Tuan?.” tanya Gustav, mobil yang dia kemudikan terus meluncur membelah jalanan yang malam itu tidak terlalu ramai, sementara sang tuan duduk di belakang dan terlihat sangat sibuk dengan ponselnya “Tuan? Kita mau kemana??.” Tanyanya lagi, kali ini sang tuan langsung mengalihkan pandangan dari ponselnya dan melihat keluar jendela “Laporan terakhir sudah kau baca?” tanya Fabian tanpa mengalihkan pandangannya. “Sudah,” jawab Gustav tenang. “Pengiriman ke Belanda yang tempo hari… be