Share

6. DENYUT YANG TERBANGUN

Penulis: Aleena Tan
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-18 11:02:09

Kabut menelan Kael seolah lembah sedang menarik nafas panjang, suhu jatuh drastis. Gelap bukan hanya warna, melainkan zat, ia padat, seperti udara yang sedang menebal untuk membentuk sesuatu yang belum memilih wujud.

Kael merasakan dirinya jatuh atau ditarik, atau tidak bergerak sama sekali. Sulit ditebak di tempat yang tidak mengenali arah. Setiap helai kabut yang menyentuh kulitnya seperti menyedot lapisan-lapisan terakhir yang membuatnya ‘manusia’.

Itu tujuanmu, bisik sesuatu. Bukan menjadi manusia, tapi menjadi sesuatu yang mereka tidak berani beri nama.

Kael tidak menjawab, ia membiarkan kegelapan membentuk dirinya ulang.

Lalu, dunia retak. Bukan secara fisik, tetapi di dalam tubuh Kael.

Bayangan naik dari kakinya, menyapu lutut, pinggang, bahu, menekan dada, menyelam masuk melalui kulit dan memaksa tubuhnya menerima kekuatan asing yang pernah menelan enam pewaris sebelumnya.

Kegelapan bukan lagi kabut, ia menjadi mulut.

Dan Kael merasakan prosesnya. Darahnya membara, jantungnya berhenti. Kemudian berdenyut lagi dengan ritme baru, pelan, berat, dan lebih tua dari dirinya.

Kami mengukur keenam pewaris, mereka robek, patah, runtuh.

Suara tanpa tubuh itu merangkak di sepanjang tulang belakangnya.

Apa yang membuatmu berbeda?

Kael membuka matanya di dalam gelap. Aku tidak ingin menjadi pewaris, pikirnya.

“Aku ingin menjadi akhir dari pewaris-pewaris sebelumku.”

Gelap bergetar.

Suara lain, lebih rendah, lebih tua, bergabung menjadi satu. Menjadi akhir berarti memakan yang sebelumnya.

Tiba-tiba Kael berdiri di tempat lain, ruangan kosong yang lantainya penuh retakan. Bayangan enam sosok muncul perlahan. Mereka bukan manusia lagi, bukan juga iblis. Mereka adalah sisa-sisa kehancuran, serpihan jiwa yang diseret lembah selama ratusan tahun.

Mereka bergerak seperti ingatan buruk.

Sosok pertama melompat. Bekas-bekas aura bela diri kuno yang tercabik masih tersisa padanya.

Sosok kedua menyerang dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Sosok ketiga yang paling kuat, mengangkat tangan, dan lantai ruangan bergoyang seperti gelombang.

Kael tidak mundur, tidak menghindar. Ia membiarkan mereka menghantamnya, agar bayangannya tahu apa yang harus dimakan.

Saat pukulan pertama menyentuh dadanya, bayangan Kael bereaksi seperti makhluk lapar yang telah menunggu berabad-abad. Ia menyedot, meminum, merenggut sisa-sisa kekuatan pewaris lama ke dalam tubuh Kael. Retakan pada lantai mereda, hembusan kuno padam.

Sosok-sosok itu perlahan kehilangan bentuk, menjadi kabut hitam, menjadi serpih, menjadi konsep.

Semua mengalir ke dalam Kael, disaring bukan oleh amarah, tetapi oleh kontrol.

Ketika sosok terakhir hilang, suara lembah bergema. Pewaris tidak makan pendahulunya, kau melakukannya.

Kael mengangkat wajah. “Apa kau kecewa?”

“Tidak, kami menunggu seseorang yang berani menjadi jawaban, bukan pertanyaan.”

Darah Kael berdenyut keras. Sesuatu di dalam dirinya membuka, bukan teknik, bukan kemampuan, tapi ruang. Sebuah tempat kosong yang sebelumnya tertutup, siap diisi oleh kekuatan gelap yang akhirnya mengakuinya.

Lalu semuanya lenyap.

Tidak ada lantai, tidak ada sosok, hanya detak besar dari perut bumi.

DUM.

Gelap mengangkat Kael, mendorongnya ke atas seperti dunia bayangan memuntahkan sesuatu yang akhirnya layak untuk hidup.

Badai aura hitam meledak dari arah lembah.

Di Sekte Iblis Suci Langit, lonceng peringatan berdentang tiga kali. Para murid keluar dari paviliun pelatihan dengan wajah pucat. Puncak-puncak gunung di sekitar sekte bergetar, membuat debu batu jatuh seperti hujan pasir hitam.

“Gempa?”

“Tidak mungkin. Ini … ini aura!”

“Dari lembah itu?!”

Para tetua bergegas keluar ke lapangan tengah. Sebagian mencoba menenangkan murid, sebagian lain memandang langit yang berubah warna seolah ada tinta hitam yang dicampurkan ke udara.

Darian, yang belum pulih dari rasa malu akibat Kael, memandang ke arah lembah sambil menggertakkan gigi.

“Dia … dia masih hidup?”

Tetua ketiga menelan ludah. “Bukan hanya hidup, sesuatu di dalam tubuhnya telah bangun.”

Tetua Keempat, yang biasanya angkuh, memegang jubahnya yang berkibar. “Terlalu besar, aura itu terlalu besar untuk manusia.”

Varyon akhirnya muncul dari puncak paviliun utama, matanya yang dingin memandang badai jauh di horizon.

“Jadi,” katanya perlahan, “Anak itu memilih jalannya.”

Darian menoleh cepat, “Ayah! Kita harus kirim pasukan ke lembah sebelum dia—”

“Kau mau mati?” Tetua Ketiga memotong tajam. “Itu bukan aura yang bisa didekati. Itu … itu bukan aura milik kultivator.”

“Lalu apa?” Darian membentak.

Varyon menjawab datar, tanpa menoleh, “Iblis Bayangan yang sepenuhnya lahir kembali.”

Keheningan jatuh seperti hukuman. Beberapa murid menelan ludah, sebagian mundur ketakutan.

Tetua Kedua berbisik, “Jika dia benar-benar pewaris ketujuh, itu berarti dunia akan berubah.”

Varyon memejamkan mata sesaat. “Tidak. Dunia akan dipaksa berubah.”

Kael membuka mata.

Ia berdiri di tengah kawah gelap di perut lembah. Kabut menyingkir darinya. Batu-batu di sekitarnya retak, terseret gravitasi baru dari tubuhnya sendiri.

Tubuh Kael kini lebih ramping, bersih dari luka lama. Darah hitam tipis mengalir dari sudut mata, bukan darah sedih, tapi tanda bahwa bayangan telah memilihnya sepenuhnya.

Ia mengangkat tangan, bayangan merespons bukan sebagai pelindung, tapi sebagai anggota tubuh.

Bukan teknik, tapi Insting baru.

Kael menarik napas dalam. “Aku bukan daging,” gumamnya.

Bayangan di sekelilingnya menggulung, menyatu, menjadi seperti mantel hidup yang mengalir mengikuti setiap gerakannya.

Kael menatap jauh ke luar lembah, “Aku datang sebagai penguasa.”

Saat ia melangkah keluar dari kawah, lembah itu sendiri seperti membungkuk. Kabut membuka jalan. Dan dunia luar menunggu dengan takut.

Kabut menelan Kael seolah lembah sedang menarik napas panjang. Suhu jatuh drastis. Gelap bukan hanya warna, melainkan zat, padat, hampir seperti daging yang berdenyut. Kael tidak tahu apakah ia jatuh, melayang, atau tetap diam.

Di tempat seperti ini, arah memang tidak penting. Yang penting hanyalah apa yang akan lahir setelah kegelapan selesai menilai dirinya.

Kegelapan menyusup ke dalam tubuhnya, menyentuh setiap tulang, darah, dan kenangan. Ia merasakan bayangan di sekelilingnya bukan sebagai benda asing, tetapi sebagai bagian dari tubuhnya yang selama ini tertidur.

Itu tujuanmu, bisik sesuatu dari kedalaman. Tidak menjadi manusia, tidak menjadi iblis, melainkan menjadi sesuatu yang tidak mereka pahami.

Kael tidak menjawab, kegelapan tidak membutuhkan jawaban.

Dunia retak, bukan di luar, tapi di dalam dirinya.

Bayangan bergerak seperti tinta panas, merayap dari kaki ke bahu, menyatu ke dalam nadinya. Dadanya terasa seperti dihantam palu raksasa. Jantungnya berhenti, lalu berdenyut lagi. Lebih berat. Lebih lambat. Seperti ingin memastikan apakah tubuh Kael memang layak menanggung ritme baru itu.

Tujuh pewaris, enam gagal. Apa yang membuatmu berbeda?

Kael membuka mata di tengah kehampaan.

“Aku tidak ingin menjadi pewaris,” ujarnya pelan.

Gelap menyimak.

“Aku ingin menjadi batas yang tidak bisa dilewati pewaris mana pun setelahku.”

Kegelapan bergetar, bukan marah, bukan senang, tetapi mengakui.

Kemudian Kael berdiri di ruang retak, dikelilingi enam sosok kabur. Mereka memancarkan sisa-sisa kekuatan yang pernah menghancurkan mereka. Aura mereka seperti luka lama dunia yang tidak pernah sembuh. Mereka menyerang bukan untuk membunuh, tapi untuk menguji apakah Kael pantas memakan warisan mereka.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   90. PEMBERONTAKAN KARAKTER UTAMA

    Suara gerigi takdir yang macet terdengar lebih memilukan daripada jeritan ribuan jiwa yang tersiksa. Di bawah tekanan Segel Penghapusan Global, setiap sendi tubuh Kael Astaroth mengeluarkan bunyi retakan yang mengerikan.Seolah-olah realitas itu sendiri sedang berusaha melipat tubuhnya menjadi ketiadaan. Cahaya emas dari langit bukan lagi sekadar pemandangan, melainkan beban fisik seberat jutaan galaksi yang dijatuhkan tepat di atas pundaknya.Lyra, yang mendekapnya dari belakang, mulai mengeluarkan cahaya putih pucat, pertanda bahwa inti kristal semestanya sedang dipaksa bekerja melampaui batas untuk melindungi sang suami."Kau merasa berat, Kael?" Suara Dewa Penulis yang duduk di singgasana terjauh bergema, nadanya penuh dengan ejekan yang halus."Itu bukan sekadar energi. Itu adalah berat dari semua naskah yang gagal kau jalani. Itu adalah berat dari miliaran karakter lain yang harus mati agar kau bisa menjadi pemeran utama. Kau hanyalah tumpukan mayat yang kami beri nama."Kael te

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   89. VONIS SANG EDITOR AGUNG

    Cermin itu tidak memantulkan cahaya, melainkan memantulkan kegagalan. Di dalam wajah retak entitas raksasa itu, Kael melihat ribuan versi dirinya yang mati mengenaskan, ada Kael yang terbunuh oleh pengkhianatan Valerius di masa muda, Kael yang gagal menyelamatkan Lyra, hingga Kael yang jiwanya hancur saat mencoba menyentuh Jantung Asal.Ini bukan sekadar ilusi, melainkan draf gagal dari sejarah yang dikumpulkan oleh Kehampaan. Utusan itu berdiri dengan keangkuhan yang melampaui konsep ruang, memancarkan aura abu-abu yang membuat warna-warna di Jantung Asal mulai memudar."Kael Astaroth, lihatlah makammu yang tak terhitung jumlahnya." Suara dari utusan itu meledak, bukan melalui telinga, melainkan langsung ke dalam pusat kesadaran."Eksistensimu saat ini adalah sebuah kelainan. Kau adalah kata yang salah tulis dalam buku besar penciptaan. Dan aku di sini untuk menghapusnya."Kael tetap berdiri tenang, meskipun tekanan dari wajah cermin itu sanggup meremukkan tulang seorang Kultivator T

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   88. GEMA DARI KEHAMPAAN

    Langit Jantung Asal yang seharusnya menjadi fondasi kedamaian mendadak memekik ngeri, merobek dirinya sendiri menjadi lubang hitam yang tak berujung. Bukan karena ledakan energi, melainkan karena realitas di tempat itu menolak keberadaan Kael Astaroth yang terlalu kuat.Seolah-olah sebuah botol kaca dipaksa menampung seluruh air di samudra, dimensi tersebut mulai retak, mengeluarkan suara dentuman yang sanggup menghancurkan gendang telinga Dewa sekalipun.Kael tidak bergerak sedikit pun. Ia tetap memeluk Lyra, membiarkan jubah cahayanya menjadi perisai mutlak yang menelan semua distorsi ruang di sekitar mereka. Tangannya yang hangat mengusap rambut Lyra, mencoba menenangkan istrinya yang masih gemetar hebat.Di mata Kael, dunia ini tidak lagi terlihat seperti materi padat, melainkan jutaan baris kode dan simbol naskah yang mengalir deras. Ia bisa melihat setiap detak jantung makhluk hidup di benua bawah, setiap aliran sungai, hingga setiap pikiran jahat yang masih bersembunyi di luban

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   87. KEBANGKITAN SANG PENGUASA HUKUM

    Suara retakan itu bukan berasal dari lantai kristal yang dipijak Valerius. Melainkan dari dalam kedalaman jiwa Lyra yang sedang dikuliti hidup-hidup oleh rantai hitam naskah terlarang.Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu tahun penyiksaan, di mana benang-benang memori tentang Kael ditarik paksa keluar, meninggalkan lubang-lubang kosong yang dingin di dalam batinnya.Lyra menatap wajah Valerius yang menyeringai, namun anehnya, ia mulai lupa mengapa ia begitu membenci pria di depannya. Ia mulai lupa mengapa ia berdiri di tempat ini. Bahkan, nama pria berambut putih yang selama ini ia puja mulai terasa asing di lidahnya."Menyerahlah, gadis kecil. Semakin kau melawan, semakin hancur jiwamu," desis Valerius sembari mempererat cengkeraman energinya pada naskah kulit manusia di tangannya."Kebebasan yang diberikan Kael hanyalah ilusi singkat. Di bawah pemerintahanku, manusia tidak butuh memori. Mereka hanya butuh kepatuhan."Lyra terbatuk darah, tetesan emasnya jatuh menimpa lantai

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   86. KEBANGKITAN NASKAH TERLARANG

    Langit yang baru saja mencicipi warna biru kini mendadak bergejolak. Seolah ia memuntahkan cairan kental berwarna merah marun yang jatuh seperti hujan darah ke seluruh penjuru benua.Ini bukan sekadar fenomena alam, setiap tetesan yang menyentuh tanah mengeluarkan suara mendesis. Menghanguskan rumput hijau dan mengubah sungai yang jernih menjadi aliran nanah yang berbau amis.Di puncak Kuil Tengkorak yang tersembunyi, Valerius berdiri dengan tangan terentang. Ia memegang sebuah perkamen kulit manusia yang mengeluarkan cahaya hitam pekat.Itulah naskah terlarang, sebuah artefak yang berisi kutukan dari arsitek pertama yang telah gila. Sebuah naskah yang dirancang untuk menghapus makna dari setiap emosi manusia.Valerius tertawa terbahak-bahak, tawanya bergema di celah-celah dimensi yang retak."Kael, kau memberikan mereka kebebasan, tapi kau lupa bahwa tanpa rasa sakit dan cinta, kebebasan hanyalah kehampaan yang tidak berarti!" teriaknya sembari menghunjamkan belati peraknya ke tengah

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   85. BAYANGAN SANG PENGKHIANAT

    Bau busuk kematian menyapu lembah hijau yang baru saja lahir, merobek ketenangan seperti pisau karatan yang mengiris sutra. Langit yang tadinya biru cerah mendadak terbelah oleh kilatan petir hitam yang tidak mengeluarkan suara, meninggalkan jejak luka permanen di cakrawala.Seekor burung gagak bermata merah masih bertengger di pagar pondok, bulu-bulunya yang hitam pekat tampak seperti lubang kecil yang menyedot cahaya di sekitarnya. Kehadirannya adalah sebuah anomali, sebuah virus yang mencoba menyusup ke dalam sistem yang baru saja dikunci oleh darah Kael.Lyra berdiri dengan punggung tegak, napasnya terkendali meskipun jantungnya berdegup kencang melawan rasa dingin yang mulai merayap dari bawah tanah. Ia merasakan getaran aneh pada jurnal di tangannya, jurnal yang kini menjadi satu-satunya penghubung antara dirinya dan kehendak Kael yang tersebar di seluruh atom dunia ini."Kau bicara tentang tragedi," ucap Lyra, suaranya jernih dan tajam, memotong desis angin yang mulai berbau be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status