Teilen

Bab 16: Rencana Elena

last update Zuletzt aktualisiert: 26.12.2025 02:38:13

Malam di rumah itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena angin, tapi karena sunyi yang menekan dada.

Aira berbaring di kasur lamanya yang tipis, tubuhnya menghadap ke plafon kayu yang penuh goresan usia. Matanya terbuka, tak berkedip. Tangannya bertengger di perutnya yang masih datar, tempat sebuah rahasia tumbuh pelan-pelan, rahasia yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya siap mengakuinya.

Di sini ada kamu…

Pikirannya bergetar.

Kalimat ayahnya sore tadi kembali menghantam tanpa ampun.

“Kamu tidak berguna. Lebih baik jangan jadi anak kami.”

Setiap kata seperti pecahan kaca, menancap dan tertinggal. Aira menarik napas, tapi dadanya tetap sesak. Ia sudah mencoba memejamkan mata berkali-kali, namun setiap kali itu juga wajah Leonard muncul. Lalu berganti wajah ayahnya, merah oleh amarah dan kecewa.

Aku ingin pergi…

Tapi ke mana?

Rumah Leonard terlintas di benaknya.

Tempat yang anehnya terasa hangat.

Saat ia menyiapkan sarapan.

Saat ia menopang Leonard yang mabuk.

S
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 50 : Pilihan

    Dua minggu berlalu sejak Nadira tahu kebenaran tentang suaminya. Dua minggu penuh diam, penuh luka, penuh upaya menahan agar rumah ini tak benar - benar runtuh di depan mata.Arga, seperti biasa, tetap pulang larut malam. Kadang mabuk, kadang tidak. Kadang bawa parfum perempuan lain, kadang terlalu bau rokok. Tapi satu hal yang pasti: hatinya tak pernah benar - benar pulang.Nadira kini menjalani hidup seperti orang asing di rumahnya sendiri. Ia tak lagi banyak bicara. Tak lagi bertanya ke mana Arga pergi. Bahkan tidak peduli jika pria itu tak menyentuh makan malam yang ia siapkan. Semua perhatiannya ia pindahkan ke hal lain — dan diam - diam, ke orang lain.Ia menulis lebih rajin sekarang. Bukan sekadar rutinitas untuk mengisi waktu, tapi pelarian paling jujur dari luka yang tak pernah bisa ia ceritakan pada siapa pun. Setiap malam, setelah rumah sunyi dan Arga tak lagi terdengar mengigau dalam tidurnya yang lelah — Nadira menyalakan Hp bututnya. Dengan lampu meja kecil dan secangkir

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 49 : Luka Tersembunyi

    Hujan turun deras di sore itu, membasahi halaman rumah yang sunyi. Nadira berdiri di balik jendela, memandangi air yang jatuh dari langit seperti tumpahan hatinya yang sudah terlalu penuh. Bukan cuma soal Arga yang makin sering menghilang tanpa kabar, tapi juga tentang Reihan — pria yang tak seharusnya membuat hatinya berdebar, namun justru menjadi satu - satunya alasan ia belum hancur total. Sejak malam itu, sejak ucapan "Kalau Kakak lelah, sandar aja. Di aku.", segalanya berubah. Nadira berusaha menjaga jarak. Tapi hati, seperti tubuh yang tersandung, kadang tetap jatuh ke arah yang tak diinginkan. Reihan pun berubah. Tatapannya kini tak bisa lagi menyembunyikan rasa. Ia lebih sering diam, tapi pandangannya menjerit. Setiap kali Nadira bicara, ia dengarkan seperti nyawa perempuan itu adalah doa. Setiap kali Nadira lelah, ia yang diam - diam mengisi kekosongan — lewat perhatian kecil, bantuan ringan, dan kata - kata yang menenangkan. Hari itu, Reihan pulang lebih cepat dari kampus

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 48 : Tidak lagi pulang

    Langit sore menyemburatkan warna jingga yang pudar, seolah tahu bahwa ada hati yang sudah lama memudar di dalam rumah itu. Di sebuah komplek elit Jakarta Timur, rumah dua lantai itu berdiri megah, rapi dari luar — tapi dingin dan sunyi di dalamnya.Nadira meletakkan dua piring nasi di atas meja makan. Ayam goreng kesukaan Arga, tumis buncis, sambal terasi buatan sendiri — semua masih hangat. Ia melirik jam dinding. Sudah pukul tujuh malam. Suaminya belum pulang. Lagi.Ia duduk di kursi ujung meja. Matanya kosong menatap makanan yang tak pernah disentuh tepat waktu. Perutnya lapar, tapi hatinya lebih keroncongan. Bukan soal nasi atau lauk, tapi soal perhatian, soal kasih sayang, yang entah sejak kapan mulai hilang.Pintu rumah terbuka. Suara langkah kaki masuk terburu - buru.“Eh, Kak Nadira belum makan?” tanya Reihan sambil menggantungkan jaket di gantungan dekat pintu.Nadira menoleh, tersenyum tipis. “Nunggu abangmu.”Reihan menghela napas, lalu menarik kursi dan duduk di seberangny

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 47 : Jebakan

    London pagi itu diliputi kabut. Gedung-gedung tinggi tampak seperti bayangan yang mengambang di udara. Tapi di balik jendela kaca besar kantor Hartley Group, Eliza berdiri tegak dengan ekspresi fokus dan penuh rencana."Kita harus gerak sekarang sebelum mereka sempat menghapus jejak," ujar Eliza sambil menatap layar laptop di meja konferensi.Di sebelahnya, Liam duduk dengan kemeja biru langit dan dasi longgar. Matanya menatap data - data digital yang baru saja mereka temukan semalam dari server yang diretas. Ada email, transaksi mencurigakan, hingga dokumen legal yang dimanipulasi."Ini gila. Mereka bahkan menyuap satu lagi anggota dewan internal," kata Liam sambil mengetik cepat di laptopnya. "Dan mereka pikir kamu akan pasrah."Eliza menyeringai. "Mereka belum tahu siapa aku."Hari itu juga, Eliza menyamar sebagai klien fiktif bernama Veronica Greene. Dengan rambut palsu merah marun dan kacamata tebal, ia masuk ke dalam salah satu kantor konsultan hukum yang ternyata menjadi rekan

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 46 : Masalalu

    Lampu kristal menggantung megah dari langit-langit aula The Royal Garden Hotel, tempat berlangsungnya acara Gala Dinner Amal Tahunan yang dihadiri para elite bisnis, bangsawan modern, dan tentu saja… media.Liam Aldridge datang lebih awal, mengenakan setelan hitam mengilap dengan dasi perak. Ia tampak sempurna. Tapi sejak tadi, matanya sibuk menatap pintu masuk.“Di mana dia?” gumamnya sambil menyesap wine, tampak tak sabar.Dan seperti masuk di waktu yang tepat... Eliza Hartley muncul.Gaun malam warna zamrud membalut tubuhnya dengan elegan. Rambutnya disanggul setengah, menampakkan leher jenjang dan sepasang anting berlian klasik—warisan mendiang neneknya. Seluruh ruangan seolah berhenti bergerak saat ia melangkah masuk.Liam sempat terdiam. Bukan karena Eliza cantik.Tapi karena… ia terlihat terlalu jauh dari sosok Miss Tumpah Kopi. Ia kini benar - benar terlihat seperti wanita paling berpengaruh di London.“Eliza...” Liam mendekat, menyodorkan tangan. “Kamu… luar biasa malam ini.”

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 45 : Tumpah Kopi

    “Aaaaakkh! Latte-nya kena jas Armani saya!!” Suara itu menggema di dalam kafe eksklusif kawasan Chelsea, London, membuat semua kepala menoleh. Di tengah keramaian itu, berdiri seorang pria dengan wajah merah padam — Liam Aldridge, si pewaris tajir yang terkenal seantero kota. Jas mahalnya kini dihiasi noda kopi susu, dan si pelaku berdiri mematung di hadapannya. “Aduh… saya — saya minta maaf banget, Tuan. Saya nggak sengaja,” ujar Eliza, gadis pelayan dengan celemek bergambar unicorn yang sudah belel. Liam menyipitkan mata. “Kamu memang nggak pernah sengaja, ‘kan, Miss Tumpah Kopi? Ini udah ketiga kalinya kamu tumpahin minuman ke aku dalam dua minggu.” Para pelanggan tertawa kecil. Tapi Eliza tetap berdiri tegak, menahan air mata, walau pipinya merona karena malu dan geram. “Aku bisa ganti biayanya, asal jangan bikin keributan di sini, Tuan.” Liam mendengus. “Dengan gaji kamu yang bahkan nggak cukup buat beli satu kancing jas ini? Lucu juga.” Greget. Eliza menggigit bibir, mena

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status