แชร์

Bab 27 : Keributan

ผู้เขียน: Atria
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-02 21:00:03

Pintu kamar dibanting pelan. Nafas Aurel memburu. Matanya merah, dadanya naik turun, dan kedua tangannya sibuk melempar pakaian ke dalam koper besar yang tadi diangkat Reyhan.

"Mas, kita pergi sekarang juga!" serunya, penuh amarah yang nyaris meledak.

Reyhan berdiri di ambang pintu, terdiam. Wajahnya teduh, namun penuh luka yang disembunyikan dengan susah payah. Ia melangkah pelan, lalu memegang lengan Aurel yang masih menggeledah lemari.

"Aurel... Cukup."

“Enggak cukup, Mas!” Aurel menepis tangan Reyhan, lalu memasukkan kemeja, celana, bahkan kaus kaki Reyhan ke dalam koper. "Mas gak lihat? Mereka nginjek harga diri Mas! Masa kita diam aja?!”

Reyhan menarik napas dalam - dalam, lalu duduk di sisi tempat tidur. Tangannya menggenggam koper yang belum ditutup itu.

“Aku tahu kamu marah. Aku juga sakit, Aurel. Tapi kita gak bisa balas sakit hati dengan lari.”

Aurel menatapnya. Matanya berkaca - kaca. “Mas Reyhan, mereka bukan cuma menghina Mas. Mereka ngerendahin aku juga! Seolah aku pere
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 40 : Akhir

    Langit sore di kota itu mendung, seperti menyimpan tanda bahwa badai akan segera berlalu. Di dalam gedung megah tempat Reyhan memimpin perusahaannya, angin tak kasat mata mulai berhembus dari arah yang berbeda—arah akhir dari permainan licik yang terlalu lama berlangsung. Aurel terbatuk pelan. Tubuhnya lunglai, kepalanya pening. Tadi pagi ia minum teh dari pantry kantor—yang diam-diam disiapkan oleh Clarissa. Dan sekarang, Aurel terduduk lemas di ruang lobi, matanya mulai menggelap. “Maaf, mbak... mbak nggak apa-apa?” tanya salah satu resepsionis dengan panik. Sebelum Aurel bisa menjawab, tubuhnya ambruk—dengan mata berkaca. --- Di tempat lain… Clarissa berdiri di salah satu lorong, senyum puas di wajahnya. “Dengan begitu… dia tidak akan datang ke rapat direksi. Dan aku akan gantikan posisinya duduk di sisi Rey.” Tapi ia tidak sadar… dari sudut lorong lain, kamera pengawas telah merekam seluruh aksinya. Termasuk saat ia menambahkan bubuk ke dalam teh Aurel. Dan lebih buruknya

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 39 : Undangan

    Pagi itu, kabut tipis menyelimuti jendela rumah Reyhan dan Aurel. Udara musim gugur di New York membuat semua terasa sejuk, tapi tidak dengan hati Aurel yang dingin oleh ketidakpastian. Ia duduk di meja makan. Diam. Mengaduk teh herbal yang sudah dingin. Reyhan duduk di seberangnya, sama-sama sunyi. Beberapa hari ini mereka seperti dua orang asing di satu rumah. Reyhan menggeser piring ke arah Aurel. "Makanlah, Aurel." Aurel tak menjawab. Matanya menatap ke luar jendela. Dalam pikirannya, bayangan Clarissa masih bermain seperti film rusak. Tertawa di kantor. Duduk begitu dekat. Reyhan diam. Selalu diam. "Aurel… aku akan ke acara gala malam ini. Penting. Kehadiran media, investor besar. Kau—" "Aku tidak akan ikut," potong Aurel pelan. Reyhan mendesah. "Clarissa akan di sana." Aurel menoleh cepat. Matanya tajam. "Tentu dia akan ada. Karena sepertinya dia ada di mana-mana sekarang." “Dia hanya rekan kerja, Aure.” Aurel bangkit. "Dan aku cuma istrimu yang kau sembunyikan dari dun

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 38 : Cinta Lama

    New York, 59th Street, gedung berlapis kaca menjulang megah menyentuh langit. Di lantai 77, ruang kantor dengan pemandangan menghadap Central Park tampak sunyi, elegan, dan dingin. Di sana, duduklah Reyhan Arsenio Wijaya, pria yang memimpin konglomerasi multinasional hanya dengan satu ketukan jari.Namun sore itu, jemari Reyhan tak sibuk mengetik. Ia berdiri di depan jendela besar, menatap langit kelabu sambil menyentuh cincin pernikahan di jari manisnya.Tak ada seorang pun di luar sana yang tahu… bahwa dia telah menikah.Bukan media, bukan rekan bisnisnya, bahkan staf eksekutif pun tidak. Aurel dijaga, disimpan, dan disembunyikan dari dunia yang bisa melukai. Bukan karena Reyhan malu — tapi karena ia ingin melindungi cinta yang satu itu dari sorotan, fitnah, dan permainan kekuasaan.Tapi segalanya mulai berubah hari itu.“Excuse me, Mr. Wijaya,” kata asistennya melalui interkom. “Pegawai baru bagian komunikasi internasional sudah datang.”Reyhan tidak menoleh. “Suruh masuk.”Pintu t

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 37 : Toko Manisa.

    Langit sore merona jingga. Di teras rumahnya yang kini megah dan sunyi, Aurel duduk diam. Tangannya memegang secangkir teh yang sejak tadi tak disentuh. Matanya menatap jauh, kosong. Di depan sana, taman kecil yang baru dibangun Reyhan tampak rapi dan indah, tapi pikirannya… justru berkelana ke masa di mana semuanya dimulai.Kala itu, hujan turun deras. Aurel baru saja pulang dari toko tempatnya bekerja paruh waktu. Roknya basah, rambutnya kusut, dan tubuhnya menggigil. Ia masuk ke rumah sempit itu hanya untuk mendengar kalimat yang mengiris jiwa: “Kamu nikah. Besok.” Aurel terdiam di ambang pintu. Matanya langsung menatap ibunya—Bu Ratri—yang sedang duduk santai di ruang tamu, menyesap kopi. “Apa, Bu?” tanyanya pelan, hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Kamu dinikahkan besok. Sama kenalan Ibu. Namanya Reyhan. Biar kamu nggak jadi beban terus di rumah ini.” Kata ‘beban’ itu menampar lebih keras dari petir yang menyambar di luar. “Aku nggak setuju!” bentaknya, suara

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 36 : Tempat Baru

    Langit sore tampak seperti lukisan yang setengah jadi—merah muda beradu dengan oranye lembut, seolah ikut mendukung babak baru dalam hidup seseorang.Reyhan berdiri di depan rumah reyot itu. Rumah yang pernah menjadi saksi luka dan penghinaan, bukan hanya untuknya, tapi terutama untuk wanita yang kini paling berarti baginya.Rumah itu sunyi.Tak ada lagi teriakan Tika. Tak ada lagi tatapan sinis Bu Ratri. Bahkan Bayu, dengan segala kelicikannya, telah pergi tanpa jejak.Hanya satu yang tersisa.Aurel.Gadis itu duduk di depan pintu, masih mengenakan daster lusuh, rambutnya dikuncir seadanya. Namun tak ada yang bisa menyembunyikan sorot matanya yang berkaca - kaca ketika melihat sosok Reyhan berdiri di gerbang kayu itu.“Mas...”Suara itu serak, nyaris seperti bisikan yang tertahan terlalu lama.Reyhan hanya membuka tangannya lebar, tak berkata apa pun.Detik berikutnya, Aurel berdiri dan berlari ke arahnya. Tanpa ragu, tanpa takut. Tubuhnya langsung terhempas ke dalam pelukan Reyhan,

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 35 : Sosok Asli Reyhan

    Sebuah gedung kaca lima lantai di kawasan elit. Tidak ada papan nama. Tidak ada tanda kehidupan. Tapi penjagaan ketat. Sunyi. Dingin. Mematikan.Dua pria berbadan kekar membuka pintu baja berat.Tika dan Bu Ratri didorong masuk. Wajah mereka pucat, tubuh gemetar sejak diturunkan dari mobil hitam tadi.“K-kita… di mana ini?” bisik Tika pelan, menggenggam tangan ibunya.Langkah mereka terhenti di depan sebuah ruangan berdinding kaca gelap. Di dalam, Bayu duduk di kursi besi. Kaki dan tangannya diikat. Mulutnya dibekap. Di sekelilingnya ada empat pria bersenjata, berdiri diam seperti patung neraka.Tika menjerit tertahan. “Bayu?! BAYU?!”Bayu menatap mereka dengan mata memelas, berkaca-kaca. Tapi dia tak bisa bersuara. Tak bisa bergerak. Tak bisa kabur.Pintu kaca terbuka otomatis. Seorang pria masuk.Langkahnya tenang, tapi penuh tekanan. Kemeja hitamnya licin, jam tangan peraknya mencolok. Rambut disisir rapi. Di belakangnya, dua pengawal berjalan tanpa suara. Suasana seperti dalam fil

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status