Share

Bab 51 : Luka

Penulis: Atria
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-13 15:41:15

Dua hari setelah Nadira menyatakan ingin bercerai, rumah itu menjadi lebih sunyi dari sebelumnya. Tak ada lagi teriakan Arga, tak ada lagi langkah kaki larut malam. Hanya suara hujan kecil di luar jendela dan detik jam dinding yang seolah ikut menghitung mundur waktu kepergian.

Arga belum bicara lagi. Ia marah — jelas. Tapi untuk pertama kalinya, ia tak tahu harus bicara apa. Nadira bukan lagi istri yang bisa ia bentak dan diamkan. Nadira kini seperti lautan yang tenang tapi dalam, dan Arga tak punya perahu untuk menyeberanginya lagi.

Nadira sudah mengepak sebagian bajunya ke dalam koper kecil. Ia belum pergi, tapi hatinya sudah jauh.

Dan di saat itu, Reihan datang membawakan sepiring roti panggang dan segelas susu hangat ke kamarnya. Ia mengetuk pelan.

“Kak... udah makan?”

Nadira membuka pintu dengan mata sembap, tapi senyum yang tenang.

“Udah... tapi makasih, ya.”

Ia menerima roti itu dan duduk di pinggir ranjang.

Reihan berdiri di ambang pintu, seperti biasa: tidak memaksa, tapi se
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 57 : Titik Balik

    Nadira berdiri di depan Pengadilan Agama Jakarta Selatan, mengenakan gamis sederhana berwarna krem pucat. Warna yang dulu ia benci karena dianggap terlalu pucat, terlalu ‘biasa’. Tapi hari ini, warna itu seperti mewakili dirinya — tenang, tanpa topeng.Di tangannya, map merah dengan lambang negara itu terasa lebih berat dari sekadar kertas.Isinya bukan hanya keputusan cerai.Tapi semacam pengakuan dari semesta:“Kamu berhak merdeka.”Ia menatap berkas itu. Lama.Tak ada air mata. Tak ada senyum lebar.Hanya napas yang keluar perlahan… dan perasaan yang sudah lama sekali ia tunggu: lega.“Akhirnya selesai,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.Tapi Reihan, yang berdiri setengah meter darinya, mendengarnya jelas.Tak ada pelukan. Tak ada genggaman.Tapi hadirnya Reihan di sana… membuat segalanya terasa lengkap.Ia tidak datang sebagai pahlawan. Tidak juga sebagai penyelamat.Tapi sebagai satu - satunya orang yang percaya bahwa Nadira layak bahagia — bahkan sebelum Nadira percaya itu s

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 56 : Ibu Yang Tidak Bisa Menerima

    Reihan baru saja pulang dari percetakan tempat ia ambil kerja sampingan desain undangan. Bajunya basah oleh keringat, napasnya belum sepenuhnya teratur, tapi pikirannya sudah penuh sesak sejak surat gugatan dari Arga datang.Di depan kos, seorang perempuan berdiri tegak dengan wajah kaku dan tatapan menusuk:Bu Rahayu.“Masuk. Kita perlu bicara.”Tanpa menunggu izin, ibunya masuk ke dalam. Nadira yang sedang menjemur pakaian kaget melihat sosok itu — sosok yang dulu memanggilnya menantu, lalu mencaci, dan kini kembali… dengan wajah yang tidak membawa rindu sedikit pun.Reihan menutup pintu. Sunyi. Udara seolah berat.“Ibu cari Reihan, Bu?” tanya Nadira, berusaha tenang.“Saya gak akan lama,” jawab Bu Rahayu. Matanya tak menyentuh Nadira sedikit pun.“Saya cuma mau bicara sama anak saya. Sendirian.”Nadira menatap Reihan. Lalu masuk ke kamar, perlahan.Ruangan menjadi hening. Hanya ada dua orang yang terikat darah — tapi berdiri di sisi yang berbeda.“Jadi benar,” suara Bu Rahayu pelan

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 55 : Luka Yang Tidak Bisa Disembunyikan

    Hari itu, matahari Jakarta terasa terlalu terang.Di depan gedung stasiun televisi swasta, Nadira berdiri menatap pintu masuk kaca dengan napas tertahan. Di balik blazer polos pinjaman dan riasan tipis yang ia poles sendiri, jantungnya berdegup keras. Ini bukan hanya soal tampil di depan kamera — ini soal berdiri sebagai diri sendiri, setelah sekian lama dunia memaksanya membungkuk.D. Rani — nama pena yang kini mulai dikenal — akhirnya akan berbicara sebagai sosok nyata.Di ruang tunggu, ia duduk sendiri. Kru lalu datang dan mempersilakan masuk ke studio. Lampu - lampu sorot, kamera, dan host yang terlalu cerah menyambutnya.“Pemirsa, ini dia penulis fenomenal, D. Rani! Perempuan tangguh yang menulis dari luka dan menjadikannya kekuatan!”Nadira tersenyum kecil. Penuh kontrol. Tapi tangannya di pangkuan masih dingin.“Selamat datang, Mbak D. Rani. Boleh cerita, tulisan Mbak benar - benar menyentuh. Ada pembaca bilang kisahnya sangat nyata. Apakah semua ini pengalaman pribadi?”Seketi

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 54 : Panggung Dan Jatuh

    Lampu - lampu ruangan bergemerlap, sorotan putih keemasan menyinari panggung kecil di sudut kafe berkonsep rustic di Jakarta Selatan. Acara bertajuk “Suara Perempuan: Kisah dari Luka yang Jadi Cahaya” malam itu dipadati tamu. Para penulis, pembaca, editor, hingga pecinta sastra duduk rapi menyimak para pembicara. Di urutan terakhir, nama yang dinanti disebut: “Selanjutnya, kita sambut penulis yang tengah naik daun — D. Rani!” Tepuk tangan riuh. Nadira melangkah ke depan dengan napas pelan. Ia mengenakan blus putih sederhana, scarf hitam di lehernya, dan celana panjang formal. Bukan pakaian mahal. Tapi caranya berjalan, caranya berdiri — memancarkan harga diri yang tak bisa dibeli. Wajah - wajah menatapnya. Beberapa mengenali, beberapa baru pertama kali melihat. Tapi semuanya... mendengarkan. Ia membuka catatan kecil, lalu berkata: “Saya pernah percaya bahwa diam adalah satu - satunya cara untuk bertahan. Tapi ternyata... menulis jauh lebih menyelamatkan.” Suasana hening. Lalu

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 53 : Harga

    Sudah dua minggu sejak email itu datang, tapi Nadira masih sering menatap layarnya dalam diam. Kata - kata dalam email itu sudah ia hafal di luar kepala, tapi setiap kali membacanya, ada rasa yang tetap sama: kaget, hangat, dan tidak percaya. Bukan karena ia tak yakin pada tulisannya. Tapi karena dunia akhirnya melihatnya — bukan sebagai istri dari siapa, bukan sebagai perempuan yang gagal mempertahankan rumah tangga — melainkan sebagai dirinya sendiri. Penerbit besar, nama yang sejak dulu hanya ia dengar dari penulis-penulis terkenal, bukan hanya membaca tulisannya, tapi menganggapnya pantas. Ia diminta mengisi formulir resmi, menjadwalkan pertemuan, membicarakan hak cipta, royalti, bahkan berdiskusi soal desain sampul yang mewakili isi hati yang dulu hanya bisa ia simpan sendiri. Untuk pertama kalinya, dunia memperlakukan suara hatinya dengan hormat. Nama “D. Rani”, yang dulu hanya sekadar alias di profil penulis online, kini mulai diperbincangkan. Jumlah pembaca meningkat, kolo

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 52 : Loyang

    Rumah itu tak lagi tenang. Setelah Nadira pergi, seperti ada yang hilang, tapi juga sesuatu yang meledak diam - diam. Arga makin sering melamun, duduk berjam - jam di ruang tamu sambil menggenggam ponselnya yang tak berbunyi.Reihan tahu, ini bukan penyesalan... ini hanya ego yang sakit karena wanita yang selama ini dianggap milik, akhirnya memilih pergi.Dan makin menyakitkan bagi Arga, wanita itu — dipilih oleh adiknya sendiri.Hari itu, Reihan baru saja pulang dari kampus saat mendapati suara keras di dalam rumah. Bukan Arga... tapi Ibu.“Reihan!”Suara wanita setengah baya itu membelah udara.“Kamu udah gila, ya? Kamu tega bikin keluarga kamu hancur cuma karena perempuan? Istri abang kamu sendiri?”Reihan menahan napas. Ia sudah menduga semuanya akan sampai ke telinga ibunya, cepat atau lambat. Tapi tak pernah menyangka akan secepat ini.“Ibu, dengar dulu—”“Apa lagi yang mau Ibu dengar?!” bentak ibunya, matanya berkaca - kaca. “Arga itu kakakmu, Reihan! Darah dagingmu! Apa kamu g

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status