Beranda / Romansa / Bayi di Hari Natal / BAB 1. Cara Patah Hati Tak Cuma Satu

Share

Bayi di Hari Natal
Bayi di Hari Natal
Penulis: Day Torres

BAB 1. Cara Patah Hati Tak Cuma Satu

Penulis: Day Torres
JANUARI - KOTA HUJAN

"Teganya kamu gini!" teriakan Zack Keller yang murka menghentikan pacarnya tepat di depan pintu begitu dia melihat si wanita datang.

Giselle melihat selembar kertas di tangan Zack, sama sekali tidak tahu apa yang pria itu bicarakan, tapi dia belum pernah melihat Zack semarah itu.

"Aku nggak tahu kamu omongin apa ...."

"Kamu jelas tahu! Kamu gugurkan anakku! Kamu sengaja hilangkan dia!" tuduhnya dengan nada marah. "Apa kamu punya niat sedikit pun buat kasih tahu aku?!"

Wanita di depannya langsung pucat pasi.

"Gimana ... Gimana kamu bisa tahu ....?"

Zack melempar kertas itu ke arahnya dan menatapnya dengan kekecewaan.

"Apa kamu lupa kamu pakai asuransi kesehatan dari kantorku?" semburnya sambil mendekat. "Begitu namamu muncul di catatan pembayaran, mereka langsung kasih tahu aku. Bayangin betapa senangnya aku waktu tahu asuransi itu bayar biaya tes kehamilan, lalu bayar biaya USG!"

Giselle mundur, wajahnya memerah karena malu, tapi Zack bukan tipe orang yang mudah mengalah. Di usianya yang tiga puluh dua tahun, seorang juara berbagai kejuaraan olahraga musim dingin, cukup kaya, dan menjadi pemilik salah satu perusahaan representasi olahraga terbesar di negaranya, dia sudah belajar menghadapi apapun tanpa kebohongan.

"Ini nggak gampang dijelasin, Zack ...." katanya, mencoba mencari alasan.

"Gampang kok! Kamu hamil anakku!" teriaknya. "Kamu hamil, sementara aku kayak orang bodoh, diam aja karena aku pikir kamu lagi cari cara terbaik buat kasih kejutan ke aku! Sial, Aku bahkan sudah telepon papaku, papaku yang sakit hampir kena serangan jantung lagi, tapi kali ini karena bahagia, karena aku bilang aku bakal kasih dia cucu pertamanya!"

Zack sangat kecewa sampai-sampai amarah adalah satu-satunya pertahanannya sebelum runtuh.

"Kamu seharusnya nggak perlu kasih tahu dia!" balas Giselle. "Ini bukan waktu yang tepat ...."

"Nggak akan pernah ada waktu yang tepat karena kamu memang nggak berencana melahirkan anak itu, dan kamu bahkan nggak bakal kasih tahu aku!" teriaknya, matanya penuh air mata. "Dia juga anakku! Aku berhak tahu, Giselle! Dan justru, aku pulang dan dapat pesan dari doktermu yang mengingatkanmu soal janji kontrol! Tapi hebatnya, itu bukan kontrol kehamilan, melainkan kontrol pasca aborsi! Kamu aborsikan anak kita!"

Giselle menatapnya dengan pipi yang sudah basah dengan air mata.

"Aku belum siap jadi ibu .... Aku masih terlalu muda, aku punya karier yang mau kucapai!" katanya sambil mulai terisak. "Itu keputusan yang sangat sulit buat aku, Zack, tapi nanti, kita bisa ...."

"Kamu belum siap jadi ibu? Keputusan sulit? Kamu pikir aku bodoh? Kalau itu sulit, paling nggak kamu pasti depresi, kamu nggak bakal asyik belanja buat persiapan liburan kita ke Cancun!" desisnya penuh hinaan, karena dia nggak percaya pacarnya selama tiga tahun ini telah membohonginya. "Itu anakku, kamu seharusnya kasih tahu aku!"

Giselle menyeka air matanya dan sepertinya mengumpulkan keberanian untuk berdiri tegak.

"Nggak, aku nggak harus kasih tahu," katanya. "Ini tubuhku, jadi terserah aku."

Zack terdiam sesaat, seolah kata-kata itu menamparnya, lalu dia mendekat.

"Keluar dari rumahku," semburnya.

"Apa ...? Zack ...! Kamu nggak bisa ...."

"Tentu aku bisa!" raungnya. "Ini rumahku, jadi terserah aku! Aku mau kamu keluar dari rumahku dan dari hidupku dalam waktu satu jam."

"Zack!"

"Apa pun yang belum kamu ambil dalam waktu satu jam, akan kubakar!" ancamnya sambil mengambil mantelnya untuk keluar menghadapi dinginnya musim dingin Seattle bulan Januari. "Pergi!"

Dia pun pergi dari sana tidak hanya dengan hati yang hancur, melainkan dengan keputusasaan karena harus mencabut kembali kebahagiaan itu dari ayahnya yang sakit, dia bahkan tidak tahu gimana cara melakukannya.

Dan saat dia kembali ke rumah, dia baru sadar dirinya benar-benar sendirian sekarang.

...

JULI - KOTA VANS

Andrea membuka matanya, linglung. Seluruh tubuhnya sakit, terutama perutnya. Dia menyentuhnya dengan takut, tapi malah menemukan perutnya rata, kosong.

"Tolong ...!" hanya itu yang bisa dia teriakkan, suaranya serak dan pecah. "Tolong aku ... kumohon ...!"

Saat seorang perawat mendatanginya, wajahnya sudah basah oleh air mata. Dia langsung menggenggam lengan perawat itu dengan putus asa.

"Anakku ... kumohon, anakku ...! Apa yang terjadi padanya? Bayiku ...."

Untungnya, perawat itu sudah siap dengan pertanyaan ini.

"Putri Anda baik-baik saja, Bu Andrea," katanya lembut. "Dia sudah keluar dari masa kritis dan dibawa ke perawatan khusus. Apa Anda ingat bagaimana Anda sampai di sini?"

Andrea tidak bisa menahan air mata saat dia menutup mata.

Dia sempat bertengkar hebat dengan suaminya, Mason, karena pengeluaran yang berlebihan tepat ketika bayinya akan lahir. Padahal, dia masih punya waktu tiga minggu sebelum perkiraan lahir putrinya, tapi kontraksi sudah dimulai saat itu juga, dan suaminya membawanya ke UGD .... Setidaknya itulah yang dia kira.

"Sudah berapa lama .... Sudah berapa lama ini ...?" Dia tergagap, takut.

Perawat itu tersenyum lembut.

"Kami harus melakukan operasi caesar darurat empat hari lalu. Bayi Anda lahir sehat tapi kecil karena prematur. Namun, operasi itu berdampak lebih pada Anda .... Anda koma sejak saat itu," jelasnya, Andrea sontak menahan napas. "Apa ada anggota keluarga yang bisa kami hubungi?"

Mata Andrea melebar karena takut.

"Keluarga apa ...? Suamiku! Suamiku yang membawaku ke rumah sakit. Dia ada di mana?"

Perawat itu malah mengatupkan bibirnya dan menggeleng.

"Maaf, kami hanya berhasil mengidentifikasi Anda dari dokumen di dompet Anda. Tapi tidak ada yang datang untuk menanyakan kabar Anda ... dan tidak ada yang menunggu juga."

Andrea mencengkeram dadanya dengan putus asa. Gimana mungkin? Apa Mason tidak datang menjenguknya dan putri mereka selama ini?

Dia mencoba duduk, tapi rasa sakit menusuknya.

"Anakku," isaknya sembari menatap perawat itu. "Bolehkah aku melihatnya...?"

"Tentu saja," jawab perawat itu dengan manis, dan tak lama kemudian, dia kembali membawa sang bayi. "Dia bayi kecil yang cantik."

Andrea memeluknya dengan penuh cinta. Bayinya selamat, itu saja yang terpenting saat itu.

Namun, kecemasan segera kembali. Dia mencoba menghubungi Mason dengan segala cara, tapi tidak berhasil. Dua hari kemudian, ketika mereka diperbolehkan pulang dari rumah sakit, masalah yang lebih berat menimpa Andrea.

"Maaf, tapi kami tidak bisa mengizinkan Anda pergi sampai Anda melunasi sisa tagihan medis Anda," kata direktur itu.

"Sisa tagihan ...? Saya tidak mengerti, saya punya asuransi kesehatan," balasnya.

"Asuransi Anda menanggung operasi caesar, tapi tidak menanggung biaya rawat inap selama hampir seminggu, dan juga obat-obatan untuk Anda dan putri Anda."

Andrea merasakan ada yang mengganjal di tenggorokannya, campuran antara ketidakpastian dan ketakutan.

"Berapa jumlah tagihannya?" tanyanya.

"Dua ratus delapan puluh juta rupiah," jawab pria itu, Andrea sontak menutup mata.

Dia punya tiga ratus juta di rekeningnya, semua uang yang berhasil dia tabung selama tiga tahun terakhir. Dia pikir dia akan membutuhkannya suatu hari nanti untuk melahirkan bayinya. Setelah dia membayar tagihan rumah sakit, uangnya akan tersisa sedikit sekali ... tapi dia tidak punya pilihan lain.

Andrea mengangguk, direktur itu pun memberinya nomor rekening rumah sakit selagi dia duduk. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengecek rekening banknya, tapi dia tidak menyangka akan melihat angka nol.

"Tidak ...! Tidak, tidak, tidak!" serunya putus asa, jantungnya berdebar kencang dan air mata membanjiri pipinya. "Ini tak mungkin ... ini tak mungkin ...!"

Rekeningnya kosong! Benar-benar kosong! Ada yang telah mengambil semua uangnya, dan sayangnya, satu-satunya nama yang terlintas di benaknya adalah suaminya, Mason.

Andrea berdiri di sana, lumpuh dan tidak tahu harus berbuat apa.

"Saya tidak ada .... Saya tidak punya uang buat bayar rumah sakit .... Rekening saya ...."

Direktur itu menatapnya dengan rasa iba, mengerti dia sedang berada dalam situasi yang sangat sulit.

"Jangan khawatir," kata pria itu. "Jika Anda tidak bisa membayar tagihan sekarang, kami bisa mengatur agar Anda membayar rumah sakit secara mencicil. Bakal memakan waktu beberapa tahun, tapi..."

Andrea menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan mengangguk. Direktur itu pun memberinya surat perjanjian utang untuk membayar sisa biaya medis secara mencicil. Meskipun bunga akan menambah banyak utang, itu adalah satu-satunya cara untuk keluar dari rumah sakit hari itu. Tanpa pilihan lain dan dengan hati hancur, Andrea menandatangani utang itu dan memeluk putrinya, mencari kenyamanan dalam kehangatan dan cinta yang dia rasakan untuk anaknya demi melewati masa sulit itu.

Dia susah payah naik taksi dan pergi ke apartemennya. Lalu dia memasukkan kunci ke lubang kunci, tapi ketika dia membuka pintu, dia terdiam. Dia tidak bisa mempercayai matanya sendiri. Apartemennya kosong! Tidak ada perabotan, tidak ada pakaian, tidak ada apa pun yang menunjukkan bahwa dia pernah tinggal di sana. Semuanya hilang!

Sekarang dia yakin rekeningnya kosong itu ulahnya! Mason tidak hanya mengambil uang dari rekeningnya, tapi dia juga menjual semua yang ada di apartemen mereka. Semua yang dicintai Andrea dan seluruh jejak kehidupannya lenyap dalam sekejap. Seolah-olah dia ingin menghapus semua jejak dirinya dan putri mereka.

Bahkan tempat tidur bayi pun tidak tersisa!

Satu-satunya yang tidak dia jual adalah apartemen itu sendiri karena itu bukan milik mereka, itu sewaan.

Andrea tidak percaya. Bagaimana Mason bisa begitu kejam? Bagaimana Mason bisa meninggalkannya seperti ini, tanpa apa-apa, tanpa tempat tinggal?

Air mata mulai mengalir di pipinya, dia ambruk di lantai, menangis tersedu-sedu dan tidak tahu harus berbuat apa.

Dia sekarang sendirian, tanpa siapa pun untuk dimintai bantuan, dengan bayi yang baru lahir dalam pelukannya, dan tanpa rumah.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bayi di Hari Natal   BAB 50. Aku Bukan Pangeran

    Andrea merasa napasnya tersengal saat Zack menggunakan jari-jari basah itu untuk mencengkeram wajahnya.“Tubuhmu nggak bisa bohong padaku, Andrea ....” desisnya, mencium Andrea dengan penuh nafsu, dan sedetik kemudian, tangan-tangan besar itu mencengkeram pantatnya untuk mengangkatnya ke dinding. “Kamu menginginkan ini sama seperti aku menginginkannya ....”Andrea menggigil mendengar kata-katanya. Andrea tahu dirinya tidak bisa menyangkal, tahu dirinya telah menginginkan pria itu sejak lama, dan kini api di antara tubuh mereka akan meledak. Dia pun mengangguk, tidak mampu berbicara, saat tangan si pria yang besar bergerak di antara pahanya, dan ketika Zack menyentuhnya lagi, Andrea merasakan aliran adrenalin mengalir dalam dirinya.“Katakan, Andrea,” geram Zack, matanya berkilauan. “Aku ingin kamu mengatakannya ....”Andrea menggigit bibirnya untuk menahan erangan, merasakan nafsu mengalir deras di nadinya. Dia begitu terangsang sehingga pikiran untuk menyangkal terasa mustahil.“Ya ..

  • Bayi di Hari Natal   BAB 49. Mencari Kebenaran

    Zack berdiri di sana, mengepalkan tinju dan menggertakkan giginya. Ekspresinya campuran kemarahan, frustrasi, dan rasa sakit.Untuk sesaat, dia terdiam. Dia sangat marah dan terluka oleh cara Andrea menyalahkan dirinya sendiri atas perselingkuhan yang tidak pernah terjadi. Andrea telah mengambil tanggung jawab untuk mereka berdua. Keluarganya yang berpikir buruk tentang Andrea itu membuatnya marah.“Apa kamu memang membuatku mabuk dan memanfaatkanku?” geramnya, menekan Andrea ke tubuhnya, merasakan Andrea menggigil. “Mengapa kamu menanggung kesalahan itu?”Zack merasa telinganya berdenging karena amarah. Tentu saja bukan terhadap Andrea, tetapi terhadap seluruh situasi yang telah mendorong mereka ke ambang kehancuran keluarga.“Karena itu perlu! Apa kamu nggak melihat bagaimana Papamu menatapmu?”Zack menggertakkan giginya karena frustasi.“Itu masalahku, Andrea! Aku yang seharusnya memperbaikinya, bukan kamu!” serunya. “Apa kamu tahu apa yang akan dipikirkan keluargaku tentangmu? Apa

  • Bayi di Hari Natal   BAB 48. Rasa Bersalah dan Kebohongan (II)

    "Tapi dia selingkuh dariku!" bentak Giselle."Telan martabatmu sebelum kau tersedak gara-gara itu!" desis Andrea, menghadapinya." Jika dia selingkuh darimu, itu karena dia belajar darimu! Berhenti bilang kau kehilangan bayimu, kau nggak kehilangannya, kau menggugurkannya, itu sebabnya Zack meninggalkanmu!"Itu bohong!”"Itulah yang akan dikatakan doktermu jika ditanya, atau setidaknya itulah yang tertera di surat asuransi medismu, Aborsi Terencana dengan penekanan pada kata “TERENCANA”. Jadi jangan sok berlagak korban, itu nggak cocok untukmu.”"Dia pacarku! Dan kau, kau pelacur, tidur dengannya dan hamil!" teriak wanita itu."Cukup, Giselle!" teriak Zack dengan sengit, menariknya menjauh dari Andrea."Benar! Aku melakukan semuanya. Zack nggak ada hubungannya dengan itu. Dia hanya melakukan hal yang benar dengan bertanggung jawab atas kehamilanku, nggak lebih," jawab Andrea yang melihat frustasi dan ketidakberdayaan di wajah Zack, tetapi setidaknya wajah Papanya sudah jauh lebih tenang

  • Bayi di Hari Natal   BAB 47. Rasa Bersalah dan Kebohongan (I)

    Zack ingin sekali tanah terbuka dan menelannya saat itu juga. Bagaimana atau mengapa wanita itu ada di sana, dia tidak tahu, tetapi dia yakin itu tidak berarti baik baginya.Andrea melihat wajah Zack langsung menggelap, dan lengan Zack melingkari pinggangnya saat pria itu mendekat.“Apa yang terjadi?”“Ada hal buruk akan terjadi, Manisku,” geram Zack, dan Andrea melihat si kembar dengan antusias berbicara dengan pendatang baru itu.“Siapa dia?” tanya Andrea pelan tetapi kemudian ingat bahwa Zack biasanya tidak membawa wanita pulang, jadi dia bukan hanya mantan kekasih biasa, dia adalah “sang mantan itu.”Zack pun menghela napas, tahu dia harus memberitahu Andrea.“Itu Giselle,” katanya pelan.Andrea terdiam sejenak dan kemudian berbicara.“Kamu benar, para saudarimu nggak akan tinggal diam,” kata Andrea. “Mereka bisa-bisanya kepikiran untuk membawanya ke sini. Apa kamu takut dia akan buat keributan?”Zack mengangguk. Dia tidak pernah takut akan momen ini karena tidak ada alasan bagi ke

  • Bayi di Hari Natal   BAB 46. Aku Benar-Benar Minta Maaf

    Luka bakar di tangan Zack sudah jauh membaik, meskipun sakit, luka bakar itu ringan. Namun, dia sengaja memanfaatkan situasi itu agar Andrea harus memanjakannya dengan segala cara yang mungkin. Memiliki Andrea sedekat itu sungguh membuat gila. Zack tidak mengerti sejak kapan wanita ini mulai membuatnya merasa gitu, tetapi itu sederhana, menginginkan apa yang tidak bisa dia miliki. Harusnya begitu, 'kan? Dan meskipun dia tidak tahu kapan dia mulai menginginkan Andrea, menginginkan wanita itu dengan cara berbeda, membuatnya susah mengalihkan mata setiap kali Andrea berganti pakaian.“Bolehkah aku memilih gaunmu?” gumam Zack melihat Andrea memilih apa yang akan dia kenakan untuk pembaptisan bayi itu.Empat hari tersisa sampai Natal, dan keluarga telah memutuskan untuk memajukan perayaan itu. Mereka akan membaptis Adriana di gereja kota dan kemudian mengadakan pesta yang indah di rumah. Mereka akan merayakan Malam Natal hanya dengan keluarga.“Tentu,” gumam Andrea, dan Zack memilih gaun bi

  • Bayi di Hari Natal   BAB 45. Tempat Tidur Rusak

    “Jadi bagaimana kamu menginginkannya?”Pertanyaan itu sederhana, tetapi dia tidak bisa menjawabnya.‘Sukarela, tulus, nyata,’ pikir Zack, tetapi sebaliknya, dia hanya mundur selangkah, membiarkan udara mengalir di antara mereka.“Aku bisa melakukannya sendiri.” Zack tersenyum lembut, dan Andrea meninggalkan kamar mandi, menyadari dirinya merasa tercekik saat menutup pintu.Dia memejamkan mata sejenak sambil duduk di tepi tempat tidur. Zack sangat tampan, benar-benar seksi sehingga bisa membuatnya terengah-engah, tetapi dia tidak boleh jatuh cinta pada pria itu.Namun itu sulit! Terutama ketika pria sialan itu keluar dari kamar mandi, setengah meneteskan air di atas semua tato itu.“Bisakah kau membantuku dengan kemeja ini?” tanya Zack dengan polos, dan Andrea mengangguk karena Zack sudah melakukan bagian tersulit, yaitu mengenakan celana piyama.Tetapi mengenakan kemejanya berarti menyentuhnya, dan menyentuhnya di mana saja terasa berbahaya karena Andrea merasa lebih hangat dari sebelu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status