Bayi di Hari Natal

Bayi di Hari Natal

By:  Day TorresUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Andrea benar-benar tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, cuma ada putrinya. Suaminya selingkuh dan tinggalkan dia, hidupnya pun jadi perjuangan keras buat bertahan dan cari uang demi si bayi. Tapi, semua berubah drastis saat dia ketemu bos di kantornya. Zack Keller itu tipe pria yang bisa dibilang seperti badai: datang tiba-tiba, panas, liar, dan langsung menyapu bersih semua yang ada di jalannya. Di usia 32, dia sudah jadi bos besar di industri olahraga, punya salah satu agensi perwakilan atlet terbesar di Amerika. Sayangnya, dunia sempurna Zack langsung hancur berantakan saat dia tahu pacarnya hamil, tapi pacarnya malah sengaja menggugurkan bayi mereka. Masalahnya, Zack sudah terlanjur memberi kabar baik itu ke Papanya yang sakit, jadi dia tak bisa menarik kata-katanya lagi. Saat dia harus pulang ke Alpen Swiss untuk acara Natal dengan keluarga, hidup Zack berubah menjadi kejar-kejaran gila dengan waktu untuk mencari "keluarga palsu". [Pengumuman Mendesak: Miliuner Menyewa Keluarga untuk Natal.] Tapi Zack tak pernah bayangkan, dia malah dapat bantuan dari seorang wanita yang sedang melewati masa paling sulit dalam hidupnya, tapi tetap pantang menyerah demi bayi kecilnya. Sampai kapan cinta palsu bisa berlangsung sebelum menjadi asli?

View More

Chapter 1

BAB 1. Cara Patah Hati Tak Cuma Satu

JANUARI - KOTA HUJAN

"Teganya kamu gini!" teriakan Zack Keller yang murka menghentikan pacarnya tepat di depan pintu begitu dia melihat si wanita datang.

Giselle melihat selembar kertas di tangan Zack, sama sekali tidak tahu apa yang pria itu bicarakan, tapi dia belum pernah melihat Zack semarah itu.

"Aku nggak tahu kamu omongin apa ...."

"Kamu jelas tahu! Kamu gugurkan anakku! Kamu sengaja hilangkan dia!" tuduhnya dengan nada marah. "Apa kamu punya niat sedikit pun buat kasih tahu aku?!"

Wanita di depannya langsung pucat pasi.

"Gimana ... Gimana kamu bisa tahu ....?"

Zack melempar kertas itu ke arahnya dan menatapnya dengan kekecewaan.

"Apa kamu lupa kamu pakai asuransi kesehatan dari kantorku?" semburnya sambil mendekat. "Begitu namamu muncul di catatan pembayaran, mereka langsung kasih tahu aku. Bayangin betapa senangnya aku waktu tahu asuransi itu bayar biaya tes kehamilan, lalu bayar biaya USG!"

Giselle mundur, wajahnya memerah karena malu, tapi Zack bukan tipe orang yang mudah mengalah. Di usianya yang tiga puluh dua tahun, seorang juara berbagai kejuaraan olahraga musim dingin, cukup kaya, dan menjadi pemilik salah satu perusahaan representasi olahraga terbesar di negaranya, dia sudah belajar menghadapi apapun tanpa kebohongan.

"Ini nggak gampang dijelasin, Zack ...." katanya, mencoba mencari alasan.

"Gampang kok! Kamu hamil anakku!" teriaknya. "Kamu hamil, sementara aku kayak orang bodoh, diam aja karena aku pikir kamu lagi cari cara terbaik buat kasih kejutan ke aku! Sial, Aku bahkan sudah telepon papaku, papaku yang sakit hampir kena serangan jantung lagi, tapi kali ini karena bahagia, karena aku bilang aku bakal kasih dia cucu pertamanya!"

Zack sangat kecewa sampai-sampai amarah adalah satu-satunya pertahanannya sebelum runtuh.

"Kamu seharusnya nggak perlu kasih tahu dia!" balas Giselle. "Ini bukan waktu yang tepat ...."

"Nggak akan pernah ada waktu yang tepat karena kamu memang nggak berencana melahirkan anak itu, dan kamu bahkan nggak bakal kasih tahu aku!" teriaknya, matanya penuh air mata. "Dia juga anakku! Aku berhak tahu, Giselle! Dan justru, aku pulang dan dapat pesan dari doktermu yang mengingatkanmu soal janji kontrol! Tapi hebatnya, itu bukan kontrol kehamilan, melainkan kontrol pasca aborsi! Kamu aborsikan anak kita!"

Giselle menatapnya dengan pipi yang sudah basah dengan air mata.

"Aku belum siap jadi ibu .... Aku masih terlalu muda, aku punya karier yang mau kucapai!" katanya sambil mulai terisak. "Itu keputusan yang sangat sulit buat aku, Zack, tapi nanti, kita bisa ...."

"Kamu belum siap jadi ibu? Keputusan sulit? Kamu pikir aku bodoh? Kalau itu sulit, paling nggak kamu pasti depresi, kamu nggak bakal asyik belanja buat persiapan liburan kita ke Cancun!" desisnya penuh hinaan, karena dia nggak percaya pacarnya selama tiga tahun ini telah membohonginya. "Itu anakku, kamu seharusnya kasih tahu aku!"

Giselle menyeka air matanya dan sepertinya mengumpulkan keberanian untuk berdiri tegak.

"Nggak, aku nggak harus kasih tahu," katanya. "Ini tubuhku, jadi terserah aku."

Zack terdiam sesaat, seolah kata-kata itu menamparnya, lalu dia mendekat.

"Keluar dari rumahku," semburnya.

"Apa ...? Zack ...! Kamu nggak bisa ...."

"Tentu aku bisa!" raungnya. "Ini rumahku, jadi terserah aku! Aku mau kamu keluar dari rumahku dan dari hidupku dalam waktu satu jam."

"Zack!"

"Apa pun yang belum kamu ambil dalam waktu satu jam, akan kubakar!" ancamnya sambil mengambil mantelnya untuk keluar menghadapi dinginnya musim dingin Seattle bulan Januari. "Pergi!"

Dia pun pergi dari sana tidak hanya dengan hati yang hancur, melainkan dengan keputusasaan karena harus mencabut kembali kebahagiaan itu dari ayahnya yang sakit, dia bahkan tidak tahu gimana cara melakukannya.

Dan saat dia kembali ke rumah, dia baru sadar dirinya benar-benar sendirian sekarang.

...

JULI - KOTA VANS

Andrea membuka matanya, linglung. Seluruh tubuhnya sakit, terutama perutnya. Dia menyentuhnya dengan takut, tapi malah menemukan perutnya rata, kosong.

"Tolong ...!" hanya itu yang bisa dia teriakkan, suaranya serak dan pecah. "Tolong aku ... kumohon ...!"

Saat seorang perawat mendatanginya, wajahnya sudah basah oleh air mata. Dia langsung menggenggam lengan perawat itu dengan putus asa.

"Anakku ... kumohon, anakku ...! Apa yang terjadi padanya? Bayiku ...."

Untungnya, perawat itu sudah siap dengan pertanyaan ini.

"Putri Anda baik-baik saja, Bu Andrea," katanya lembut. "Dia sudah keluar dari masa kritis dan dibawa ke perawatan khusus. Apa Anda ingat bagaimana Anda sampai di sini?"

Andrea tidak bisa menahan air mata saat dia menutup mata.

Dia sempat bertengkar hebat dengan suaminya, Mason, karena pengeluaran yang berlebihan tepat ketika bayinya akan lahir. Padahal, dia masih punya waktu tiga minggu sebelum perkiraan lahir putrinya, tapi kontraksi sudah dimulai saat itu juga, dan suaminya membawanya ke UGD .... Setidaknya itulah yang dia kira.

"Sudah berapa lama .... Sudah berapa lama ini ...?" Dia tergagap, takut.

Perawat itu tersenyum lembut.

"Kami harus melakukan operasi caesar darurat empat hari lalu. Bayi Anda lahir sehat tapi kecil karena prematur. Namun, operasi itu berdampak lebih pada Anda .... Anda koma sejak saat itu," jelasnya, Andrea sontak menahan napas. "Apa ada anggota keluarga yang bisa kami hubungi?"

Mata Andrea melebar karena takut.

"Keluarga apa ...? Suamiku! Suamiku yang membawaku ke rumah sakit. Dia ada di mana?"

Perawat itu malah mengatupkan bibirnya dan menggeleng.

"Maaf, kami hanya berhasil mengidentifikasi Anda dari dokumen di dompet Anda. Tapi tidak ada yang datang untuk menanyakan kabar Anda ... dan tidak ada yang menunggu juga."

Andrea mencengkeram dadanya dengan putus asa. Gimana mungkin? Apa Mason tidak datang menjenguknya dan putri mereka selama ini?

Dia mencoba duduk, tapi rasa sakit menusuknya.

"Anakku," isaknya sembari menatap perawat itu. "Bolehkah aku melihatnya...?"

"Tentu saja," jawab perawat itu dengan manis, dan tak lama kemudian, dia kembali membawa sang bayi. "Dia bayi kecil yang cantik."

Andrea memeluknya dengan penuh cinta. Bayinya selamat, itu saja yang terpenting saat itu.

Namun, kecemasan segera kembali. Dia mencoba menghubungi Mason dengan segala cara, tapi tidak berhasil. Dua hari kemudian, ketika mereka diperbolehkan pulang dari rumah sakit, masalah yang lebih berat menimpa Andrea.

"Maaf, tapi kami tidak bisa mengizinkan Anda pergi sampai Anda melunasi sisa tagihan medis Anda," kata direktur itu.

"Sisa tagihan ...? Saya tidak mengerti, saya punya asuransi kesehatan," balasnya.

"Asuransi Anda menanggung operasi caesar, tapi tidak menanggung biaya rawat inap selama hampir seminggu, dan juga obat-obatan untuk Anda dan putri Anda."

Andrea merasakan ada yang mengganjal di tenggorokannya, campuran antara ketidakpastian dan ketakutan.

"Berapa jumlah tagihannya?" tanyanya.

"Dua ratus delapan puluh juta rupiah," jawab pria itu, Andrea sontak menutup mata.

Dia punya tiga ratus juta di rekeningnya, semua uang yang berhasil dia tabung selama tiga tahun terakhir. Dia pikir dia akan membutuhkannya suatu hari nanti untuk melahirkan bayinya. Setelah dia membayar tagihan rumah sakit, uangnya akan tersisa sedikit sekali ... tapi dia tidak punya pilihan lain.

Andrea mengangguk, direktur itu pun memberinya nomor rekening rumah sakit selagi dia duduk. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengecek rekening banknya, tapi dia tidak menyangka akan melihat angka nol.

"Tidak ...! Tidak, tidak, tidak!" serunya putus asa, jantungnya berdebar kencang dan air mata membanjiri pipinya. "Ini tak mungkin ... ini tak mungkin ...!"

Rekeningnya kosong! Benar-benar kosong! Ada yang telah mengambil semua uangnya, dan sayangnya, satu-satunya nama yang terlintas di benaknya adalah suaminya, Mason.

Andrea berdiri di sana, lumpuh dan tidak tahu harus berbuat apa.

"Saya tidak ada .... Saya tidak punya uang buat bayar rumah sakit .... Rekening saya ...."

Direktur itu menatapnya dengan rasa iba, mengerti dia sedang berada dalam situasi yang sangat sulit.

"Jangan khawatir," kata pria itu. "Jika Anda tidak bisa membayar tagihan sekarang, kami bisa mengatur agar Anda membayar rumah sakit secara mencicil. Bakal memakan waktu beberapa tahun, tapi..."

Andrea menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan mengangguk. Direktur itu pun memberinya surat perjanjian utang untuk membayar sisa biaya medis secara mencicil. Meskipun bunga akan menambah banyak utang, itu adalah satu-satunya cara untuk keluar dari rumah sakit hari itu. Tanpa pilihan lain dan dengan hati hancur, Andrea menandatangani utang itu dan memeluk putrinya, mencari kenyamanan dalam kehangatan dan cinta yang dia rasakan untuk anaknya demi melewati masa sulit itu.

Dia susah payah naik taksi dan pergi ke apartemennya. Lalu dia memasukkan kunci ke lubang kunci, tapi ketika dia membuka pintu, dia terdiam. Dia tidak bisa mempercayai matanya sendiri. Apartemennya kosong! Tidak ada perabotan, tidak ada pakaian, tidak ada apa pun yang menunjukkan bahwa dia pernah tinggal di sana. Semuanya hilang!

Sekarang dia yakin rekeningnya kosong itu ulahnya! Mason tidak hanya mengambil uang dari rekeningnya, tapi dia juga menjual semua yang ada di apartemen mereka. Semua yang dicintai Andrea dan seluruh jejak kehidupannya lenyap dalam sekejap. Seolah-olah dia ingin menghapus semua jejak dirinya dan putri mereka.

Bahkan tempat tidur bayi pun tidak tersisa!

Satu-satunya yang tidak dia jual adalah apartemen itu sendiri karena itu bukan milik mereka, itu sewaan.

Andrea tidak percaya. Bagaimana Mason bisa begitu kejam? Bagaimana Mason bisa meninggalkannya seperti ini, tanpa apa-apa, tanpa tempat tinggal?

Air mata mulai mengalir di pipinya, dia ambruk di lantai, menangis tersedu-sedu dan tidak tahu harus berbuat apa.

Dia sekarang sendirian, tanpa siapa pun untuk dimintai bantuan, dengan bayi yang baru lahir dalam pelukannya, dan tanpa rumah.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status