Home / Romansa / Bayi di Hari Natal / BAB 5. Keputusan Sulit

Share

BAB 5. Keputusan Sulit

Author: Day Torres
Marah ... tidak, tapi jelas frustasi. Dia tidak mengerti mengapa Andrea begitu tunduk pada pria yang benar-benar tercela itu. Peter memang bosnya, tapi Tuhan pun takkan tahan melihatnya memperlakukan karyawannya seperti itu!

Andrea tidak hanya mencoba melakukan yang terbaik, tapi dia melakukannya dengan baik. Hanya orang buta yang tidak bisa melihat bahwa si idiot Peter itu meremehkannya hanya untuk membuatnya tetap terkontrol. Zack tidak tahu mengapa dia marah karena Andrea membiarkannya, tapi dia kesal melihat wanita itu begitu patuh pada bosnya.

Begitu dia melihat Andrea tidak terlalu diawasi, Zack mengikutinya ke ruang fotokopi dan menutup pintu di belakangnya.

"Hei, lehermu bermasalah sejak lahir ya?" tanyanya, menghentikan Andrea. Andrea menatapnya, bingung.

"Maksudmu?" gumamnya tidak mengerti.

"Kulihat kepalamu cuma bergerak naik turun untuk mengatakan ya. Aku belum pernah melihatmu menggerakkannya ke samping sekalipun untuk nolak!" ujar Zack, dan gadis itu mengatupkan bibirnya, pipinya memerah.

"Karena itu tidak mudah ...." bisiknya dengan kesal. "Apa menurutmu gampang melawan bos sejahat itu?"

"Tapi tidak perlu juga membiarkannya menginjak-injakmu! Kamu tidak harus membiarkannya memperlakukanmu dengan buruk. Kamu pasti masih punya sedikit harga diri, kan?"

Andrea melepaskan diri dari tangan Zack dan bernapas tidak teratur sambil menggeleng.

"Harga diri? Apa harga diri bisa memberikanku makan? Kalau aku melawan, menurutmu siapa yang akan dibela perusahaan? Aku yang baru empat bulan di sini, atau dia sudah bertahun-tahun, dia hampir bisa disebut bos di tempat ini ...."

"Nggak juga! Peter Trembley jauh dari sebutan bos," kata Zack yang kesal. "Apa dia memintamu mengubah laporannya?"

Andrea menunduk tetapi menggeleng.

"Tentu saja nggak, itu bukan sesuatu yang akan dia minta dari seseorang yang tidak penting sepertiku ...."

"Atau mungkin dia akan gitu karena dia nggak tahu bahwa kamu bukan nggak penting, bahkan kamu sangat cerdas," balas Zack. "Jangan bantu dia, Andrea, aku peringatkan kamu dengan niat baik. Aku sudah lihat laporan-laporan itu, dan aku tidak akan biarkan Peter menipu pemilik baru."

Andrea memeluk dirinya sendiri.

"Aku nggak bisa melakukan itu ... tapi aku hanya bisa bicara untuk diriku sendiri," katanya, lalu pergi. Zack tidak punya pilihan selain tetap di sana, merana dalam frustrasi saat dia melihat Andrea bekerja seperti lebah yang putus asa.

Dia seperti itu sepanjang hari, dan meskipun Zack selalu memastikan pintu kantor Peter terbuka, Zack tahu si gendut brengsek itu akan melakukan rencana lain cepat atau lambat.

Dia bisa saja langsung terlibat, tetapi memecat Peter tidak akan menyelesaikan masalah Andrea karena akan selalu ada bos yang akan memanfaatkan kepatuhannya untuk menyalahgunakannya. Dan itu adalah sesuatu yang harus Andrea hadapi sendiri.

"Sial, Zack, kamu tidak bisa memperbaiki dunia!" katanya pada dirinya sendiri, dan beberapa menit kemudian, dia merasakan ponsel berdering di sakunya.

Dia melihat layar dan tanpa sadar tersenyum karena itu adalah sahabatnya. Benjamin Lancaster yang dipanggilnya Ben. Mereka tidak terpisahkan sejak kecil, sama-sama atlet, dan kemudian berpetualang di seluruh dunia sampai mereka menemukan tempat tenang mereka di perusahaan itu. Ben adalah mitra kerja pasif karena dia membenci tanggung jawab, jadi dia selalu memperkenalkan dirinya hanya sebagai perwakilan lain, sementara Zack menanggung beban manajemen dan sebagian besar saham.

"Ayo makan siang. Sekarang juga, aku lapar!" Itulah sapaan Ben.

"Kupikir kamu beberapa hari lagi baru sampai!"

"Salah, aku bilang aku nggak akan muncul di kantor beberapa hari lagi, tapi tubuhku nggak akan sakit hanya karena menyesuaikan diri dengan lingkungan, jadi aku datang."

"Oke, kita ketemu setengah jam lagi. Aku kirim lokasiku."

Mereka pun bertemu di restoran terdekat dan berpelukan hangat.

"Gimana cabang barumu? Apa kamu sudah jadi karyawan yang menyamar, terbaik tahun ini?" tanya Ben.

"Nggak, sebenarnya ini berantakan. Manajernya agak gila, tapi kamu akan tahu sendiri saat kamu injakkan kaki di sana pada hari pertamamu," jawab Zack. "Mari kita bicara tentang hal yang lebih baik."

Sahabatnya menatapnya ragu, dan Zack menenggak minuman yang dipegangnya.

"Ada apa, Ben?"

"Giselle mencarimu di cabang New York," jawabnya. "Dia ingin tahu apa kamu sudah ... bisa dihubungi."

"Itu selalu dia tanyakan setiap bulan," gerutu Zack. "Setelah sepuluh kali dia diusir dari kantorku, dia seharusnya tahu jawabanku."

"Dia bilang dia mencintaimu."

"Wanita yang nggak mencintai anaknya, nggak akan mencintai siapa pun," balas Zack. "Aku nggak akan pernah memaafkannya. Nggak akan pernah!"

Ben pun menarik napas dalam-dalam dan menghadapinya.

"Yah ... karena kita sedang ngobrolin topik ini ... kapan kamu akan memberitahu papamu?"

Zack mengusap rambutnya dengan tidak berdaya. Papanya menderita kondisi jantung kronis dan berbahaya.

"Aku tak berani," gumamnya. "Aku sudah nggak bicara dengannya selama berbulan-bulan hanya untuk menghindari membuatnya kesal, dan dengan mamaku, aku menghindari topik itu sebisa mungkin ...."

"Tapi kamu tahu itu bukan solusi, Zack."

"Aku tahu, tapi Papa sudah berjuang melawan penyakitnya selama bertahun-tahun, para dokter memberitahuku bahwa kesehatannya perlahan memburuk," bisiknya, menggosok pangkal hidungnya. "Dia senang banget, berharap sudah punya cucu, dan aku nggak bisa buat dia kecewa berat dan menjadi orang yang memberinya serangan jantung yang akan membunuhnya. Kamu ngerti, 'kan?"

Benjamin mengangguk sedih, tapi dia mengerti posisi Zack dan tahu betapa Zack memuja papanya. Dia tidak tega memberi sang ayah pukulan seperti itu.

"Kamu nggak punya banyak pilihan." Ben mengingatkannya. "Dalam sebulan lebih, sudah Natal, kamu harus pergi ketemu keluargamu. Nantinya kamu mau gimana? Terus bohong pada mereka? Langsung jujur? Atau nggak ketemu sama sekali ...?"

"Aku nggak tahu, Ben! Mungkin aku akan menyewa orang, lalu beres! Lagian cuma beberapa hari, kan?"

Ben memutar matanya.

"Dasar gila! Bisa-bisanya kamu pikirkan itu," geramnya, lalu mengangkat tangan. "Aku bahkan sudah bisa membayangkan iklannya: 'Dicari Ibu dan Bayi. Jutawan Menyewa Keluarga untuk Natal.'"

Zack menggerutu beberapa kali tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi saat Ben terus menertawakannya.

Setelah makan siang, mereka berpisah, dan Zack kembali ke kantor, melihat Andrea dengan mata basah dan hidung merah. Jelas, Peter pasti memarahinya karena sesuatu. Dia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana pria tua itu akan bertindak lebih jauh daripada sekadar memarahinya.

"Kamu punya waktu sampai besok untuk menyingkirkan lintah itu, Andrea." Peter memberitahunya, mereka berdua tahu dia merujuk pada Zack.

"Nggak, Pak Peter, Bapak salah," gumamnya. "Saya benar-benar nggak ada hubungan apa-apa dengan Zack, dia hanya rekan kerja ...."

"Rekan kerja apanya! Pria itu ingin menidurimu!" sembur pria tua itu dengan kasar, sementara Andrea mengepalkan tangan.

‘Emangnya itu berbeda dari apa yang ingin kau lakukan padaku?’ pikirnya dengan jijik.

"Saya di sini hanya untuk bekerja ...." Dia mencoba berkata, tetapi Peter terlalu dekat dengannya, membuatnya mundur.

"Yah, kamu tidak terlalu menunjukkannya, Andrea. Dan sebaiknya kamu waspada, karena aku tahu kamu punya banyak hal yang harus dilindungi," ujarnya. "Apa menurutmu negara akan membiarkanmu mempertahankan anakmu lama-lama jika kamu tidak punya pekerjaan?"

Andrea menjadi pucat dan melangkah mundur.

"Jangan bawa-bawa anak saya!" geramnya dengan gigi terkatup. "Anak saya bukan urusan Bapak!"

"Nggak, bukan urusanku, tapi Dinas Sosial!" Peter tertawa mengejek. "Jadi sebaiknya kamu melakukan semua yang kamu bisa untuk mempertahankan pekerjaan ini, Andrea. Kalau nggak kamu akan mengalami Tahun Baru paling menyedihkan dalam hidupmu."

Andrea tidak bisa menahan tangis, dan tatapan mata Zack yang menuduh padanya tidak banyak membantu. Tidak ada yang bisa mengerti dia, tidak ada yang bisa menempatkan diri di posisinya. Dia pun berjalan pulang dalam dingin, penuh pikiran, takut ....

Hidupnya berantakan, tetapi setidaknya dia punya seseorang untuk diperjuangkan, dia membenarkan hal ini untuk kesekian kalinya ketika dia melihat senyum putrinya lagi. Dia sangat sayang putrinya, anak itu adalah makhluk paling indah yang diberikan Tuhan padanya, dan Andrea akan melakukan apapun untuknya, bahkan jika itu berarti bekerja sampai kelelahan.

"Terima kasih atas makanannya, Bu Margaret," katanya, memeluk wanita tua itu sebelum menuju ke apartemennya sendiri.

Hatinya hancur saat melihat apartemennya begitu kosong padahal dia telah bekerja sangat keras untuk melengkapinya dan menyiapkannya untuk anaknya. Keinginan untuk menangis tak tertahankan, tetapi melihat putrinya tidur, bersikap sangat baik meskipun tidur di atas kasur yang menyedihkan di lantai ....

Ada sesuatu yang hancur di dalam diri Andrea setiap hari, tetapi putrinya menyatukannya kembali setiap malam. Akhirnya, melihatnya tidur seperti itu, Andrea mengerti dia harus mengumpulkan keberanian dan melakukan semua pengorbanan yang belum dia lakukan untuk melindungi si putri.

...

Keesokan harinya, dia melakukan dua hal terpenting segera setelah dia meninggalkan bayinya pada Bu Margaret.

Yang pertama adalah menelepon Balai Kota untuk menanyakan satu pertanyaan, "Gimana saya bisa mendapatkan perceraian jika suami saya meninggalkan saya dan saya tidak tahu di mana dia berada?"

Penjelasannya singkat, dokumennya banyak, tapi dia tidak bisa terus menghindarinya.

Yang kedua adalah pergi ke kedai kopi dan berhenti di depan menu. Dia merogoh sakunya dan menghitung koin yang tersisa. Gajinya akan masuk dalam beberapa hari, tetapi uangnya hampir habis, hanya cukup untuk kopi itu, yang paling sederhana, kopi Americano yang paling sederhana, tapi yang penting isi hatinya.

Dia menahan napas ketika sadar dia kurang beberapa sen bahkan untuk kopi paling sederhana, tetapi saat dia hendak pergi, barista memanggilnya.

"Tunggu, jangan pergi ... kamu sering beli kopi di sini. Jadi ini gratis."

Andrea menatapnya tertegun dan kemudian menggeleng.

"Bukan aku, tapi perusahaanku ...."

"Nggak masalah," desak barista itu. "Kamu mau yang mana?"

Dia ragu sejenak dan mengembalikan koin ke sakunya, tenggorokannya tercekat. "Baiklah ... tolong yang Americano," pintanya.

Pria itu dengan cepat menyiapkannya dalam cangkir kertas, dan Andrea berterima kasih berkali-kali sebelum pergi. Begitu dia melewati pintu, barista memberi acungan jempol sebagai tanda "misi berhasil", dan di seberang jalan, seorang pria melakukan hal yang sama.

Zack melihat Andrea menuju ke gedungnya dengan kopi itu di tangannya seperti harta karun kecil. Perutnya mual karena seseorang yang bekerja sangat keras harus menghitung koinnya dan masih kekurangan uang untuk secangkir kopi sederhana.

Tetapi Zack yang awalnya sudah merasa kasihan, ketika dia sampai di kantor dan duduk di mejanya, dia merasa jauh lebih sedih, karena saat itu, Andrea mendekat dengan kopi americano yang dibelinya dan meletakkannya di depan Zack seperti persembahan. Dia membeli kopi itu untuk Zack!

"Tolong, ajari aku," pinta Andrea. "Aku janji akan berusaha dan belajar dengan giat dan ... aku akan mempelajari semua yang diajarkan ... tapi tolong ... ajari aku."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bayi di Hari Natal   BAB 50. Aku Bukan Pangeran

    Andrea merasa napasnya tersengal saat Zack menggunakan jari-jari basah itu untuk mencengkeram wajahnya.“Tubuhmu nggak bisa bohong padaku, Andrea ....” desisnya, mencium Andrea dengan penuh nafsu, dan sedetik kemudian, tangan-tangan besar itu mencengkeram pantatnya untuk mengangkatnya ke dinding. “Kamu menginginkan ini sama seperti aku menginginkannya ....”Andrea menggigil mendengar kata-katanya. Andrea tahu dirinya tidak bisa menyangkal, tahu dirinya telah menginginkan pria itu sejak lama, dan kini api di antara tubuh mereka akan meledak. Dia pun mengangguk, tidak mampu berbicara, saat tangan si pria yang besar bergerak di antara pahanya, dan ketika Zack menyentuhnya lagi, Andrea merasakan aliran adrenalin mengalir dalam dirinya.“Katakan, Andrea,” geram Zack, matanya berkilauan. “Aku ingin kamu mengatakannya ....”Andrea menggigit bibirnya untuk menahan erangan, merasakan nafsu mengalir deras di nadinya. Dia begitu terangsang sehingga pikiran untuk menyangkal terasa mustahil.“Ya ..

  • Bayi di Hari Natal   BAB 49. Mencari Kebenaran

    Zack berdiri di sana, mengepalkan tinju dan menggertakkan giginya. Ekspresinya campuran kemarahan, frustrasi, dan rasa sakit.Untuk sesaat, dia terdiam. Dia sangat marah dan terluka oleh cara Andrea menyalahkan dirinya sendiri atas perselingkuhan yang tidak pernah terjadi. Andrea telah mengambil tanggung jawab untuk mereka berdua. Keluarganya yang berpikir buruk tentang Andrea itu membuatnya marah.“Apa kamu memang membuatku mabuk dan memanfaatkanku?” geramnya, menekan Andrea ke tubuhnya, merasakan Andrea menggigil. “Mengapa kamu menanggung kesalahan itu?”Zack merasa telinganya berdenging karena amarah. Tentu saja bukan terhadap Andrea, tetapi terhadap seluruh situasi yang telah mendorong mereka ke ambang kehancuran keluarga.“Karena itu perlu! Apa kamu nggak melihat bagaimana Papamu menatapmu?”Zack menggertakkan giginya karena frustasi.“Itu masalahku, Andrea! Aku yang seharusnya memperbaikinya, bukan kamu!” serunya. “Apa kamu tahu apa yang akan dipikirkan keluargaku tentangmu? Apa

  • Bayi di Hari Natal   BAB 48. Rasa Bersalah dan Kebohongan (II)

    "Tapi dia selingkuh dariku!" bentak Giselle."Telan martabatmu sebelum kau tersedak gara-gara itu!" desis Andrea, menghadapinya." Jika dia selingkuh darimu, itu karena dia belajar darimu! Berhenti bilang kau kehilangan bayimu, kau nggak kehilangannya, kau menggugurkannya, itu sebabnya Zack meninggalkanmu!"Itu bohong!”"Itulah yang akan dikatakan doktermu jika ditanya, atau setidaknya itulah yang tertera di surat asuransi medismu, Aborsi Terencana dengan penekanan pada kata “TERENCANA”. Jadi jangan sok berlagak korban, itu nggak cocok untukmu.”"Dia pacarku! Dan kau, kau pelacur, tidur dengannya dan hamil!" teriak wanita itu."Cukup, Giselle!" teriak Zack dengan sengit, menariknya menjauh dari Andrea."Benar! Aku melakukan semuanya. Zack nggak ada hubungannya dengan itu. Dia hanya melakukan hal yang benar dengan bertanggung jawab atas kehamilanku, nggak lebih," jawab Andrea yang melihat frustasi dan ketidakberdayaan di wajah Zack, tetapi setidaknya wajah Papanya sudah jauh lebih tenang

  • Bayi di Hari Natal   BAB 47. Rasa Bersalah dan Kebohongan (I)

    Zack ingin sekali tanah terbuka dan menelannya saat itu juga. Bagaimana atau mengapa wanita itu ada di sana, dia tidak tahu, tetapi dia yakin itu tidak berarti baik baginya.Andrea melihat wajah Zack langsung menggelap, dan lengan Zack melingkari pinggangnya saat pria itu mendekat.“Apa yang terjadi?”“Ada hal buruk akan terjadi, Manisku,” geram Zack, dan Andrea melihat si kembar dengan antusias berbicara dengan pendatang baru itu.“Siapa dia?” tanya Andrea pelan tetapi kemudian ingat bahwa Zack biasanya tidak membawa wanita pulang, jadi dia bukan hanya mantan kekasih biasa, dia adalah “sang mantan itu.”Zack pun menghela napas, tahu dia harus memberitahu Andrea.“Itu Giselle,” katanya pelan.Andrea terdiam sejenak dan kemudian berbicara.“Kamu benar, para saudarimu nggak akan tinggal diam,” kata Andrea. “Mereka bisa-bisanya kepikiran untuk membawanya ke sini. Apa kamu takut dia akan buat keributan?”Zack mengangguk. Dia tidak pernah takut akan momen ini karena tidak ada alasan bagi ke

  • Bayi di Hari Natal   BAB 46. Aku Benar-Benar Minta Maaf

    Luka bakar di tangan Zack sudah jauh membaik, meskipun sakit, luka bakar itu ringan. Namun, dia sengaja memanfaatkan situasi itu agar Andrea harus memanjakannya dengan segala cara yang mungkin. Memiliki Andrea sedekat itu sungguh membuat gila. Zack tidak mengerti sejak kapan wanita ini mulai membuatnya merasa gitu, tetapi itu sederhana, menginginkan apa yang tidak bisa dia miliki. Harusnya begitu, 'kan? Dan meskipun dia tidak tahu kapan dia mulai menginginkan Andrea, menginginkan wanita itu dengan cara berbeda, membuatnya susah mengalihkan mata setiap kali Andrea berganti pakaian.“Bolehkah aku memilih gaunmu?” gumam Zack melihat Andrea memilih apa yang akan dia kenakan untuk pembaptisan bayi itu.Empat hari tersisa sampai Natal, dan keluarga telah memutuskan untuk memajukan perayaan itu. Mereka akan membaptis Adriana di gereja kota dan kemudian mengadakan pesta yang indah di rumah. Mereka akan merayakan Malam Natal hanya dengan keluarga.“Tentu,” gumam Andrea, dan Zack memilih gaun bi

  • Bayi di Hari Natal   BAB 45. Tempat Tidur Rusak

    “Jadi bagaimana kamu menginginkannya?”Pertanyaan itu sederhana, tetapi dia tidak bisa menjawabnya.‘Sukarela, tulus, nyata,’ pikir Zack, tetapi sebaliknya, dia hanya mundur selangkah, membiarkan udara mengalir di antara mereka.“Aku bisa melakukannya sendiri.” Zack tersenyum lembut, dan Andrea meninggalkan kamar mandi, menyadari dirinya merasa tercekik saat menutup pintu.Dia memejamkan mata sejenak sambil duduk di tepi tempat tidur. Zack sangat tampan, benar-benar seksi sehingga bisa membuatnya terengah-engah, tetapi dia tidak boleh jatuh cinta pada pria itu.Namun itu sulit! Terutama ketika pria sialan itu keluar dari kamar mandi, setengah meneteskan air di atas semua tato itu.“Bisakah kau membantuku dengan kemeja ini?” tanya Zack dengan polos, dan Andrea mengangguk karena Zack sudah melakukan bagian tersulit, yaitu mengenakan celana piyama.Tetapi mengenakan kemejanya berarti menyentuhnya, dan menyentuhnya di mana saja terasa berbahaya karena Andrea merasa lebih hangat dari sebelu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status