LOGINPernikahan adalah ibadah terpanjang untuk mengikuti Sunnah Rasulullah. Tapi, jika pernikahan terjadi karena sebuah paksaan apakah ibadah itu akan tetap ternilai? Adam Rafan, seorang ustadz muda yang tengah mengabdi di pesantren As-Salam, tepatnya di daerah ibu kota. Dijodohkan dengan seorang santri bernama Danialah Muhafiza. Mereka harus menikah secara terpaksa atas keinginan kakek mereka. Dan pernikahan mereka juga harus menjadi sebuah pernikahan rahasia.
View MoreCHAPTER ONE- I'M GAY!
"Hey man" Jackson said as Scott sat on the chair at their usual bar.
"You don't really work,do you? How can you visit this bar everyday?" Scott said as he rested his back.
"I don't visit the bar everyday day,I go to the hotel sometimes too" He replied and took a sip out of the cold beer.
"Don't you want a drink,you look exhausted" Jackson asked offering his cup.
"No, thanks. I'm driving home"
"You still got your low alcohol tolerance. Be a man!" He said hitting Scott's chest.
"A man will go to work not waste his time drinking"
"I did go to work,I just came her to chill out. Don't lecture me" Jackson said in defense.
"It's getting late,I should go home" Scott said as he tried to stand up but was held back by Jackson.
"Geez..man,you live alone, you don't even cook. Why do you go home early? There's a hot lady staring at you at the back. Be cool and don't look" Jackson said as he straightened out Scott's suit.
"Get your hands off me, I don't like ladies or girls or women"
"They're actually the same"Jackson said,his left eyebrow raised.
"Whatever..I don't like any"
"So you're gay?" Jackson said and roared with laughter.
"Dude, you're really funny,you? gay?. I believe you" He said again amidst laughter.
"That's true..I can be gay, you get it" Scott said in realism.
"Wait..I never asked you to be gay"
"Well,that's what I'm gonna be. Gay" Scott said excitedly.
"You can't just decide to be gay, can you even like a boy. You find it hard to like anybody. Then a boy? I'm in no mood for jokes" Jackson said as he poured himself another glass.
"Ohh.. Jackson,dare me" Scott said determined.
"Okay, we'll do it like this. I'll set you up with a gay friend of mine. You guys will met up at the hotel tomorrow night. Are you still up for the task?" Jackson smirked.
"I'll do it"
"Okay. Wait! What? You'll do it? Really? I can't wait, should we make it tonight?" Jackson said beaming with smiles.
"No,not tonight. But I have to drink a lot before going to the hotel,so..."
"No worries, I'll drive you. I can even give you aphrodisiac" Jackson said and chuckled.
"What? No! I just want to be drunk not drugged" Scott said as Jackson picked up his phone. He texted someone and looked up.
"It's done, Percy, Golden Stay Hotel. 8:30pm" Jackson said and smirked.
"Let's see what you can do, I'll meet you here before the appointed time. I'm so excited" Jackson said and drank from his cup.
"Sure, whatever" Scott said wondering if he made a right decision.
*********
Kylie opened the door as her Mum came in."Hey Baby" Olivia, her mum said, smiling.
"Hi,mum. Why did you come to my house" She said emphasizing on the "my".
"It's been a while since I've seen you,so I thought of sleeping over today and tomorrow" Olivia said looking around.
"What was I thinking when I gave you my address" Kylie thought as she rolled her eyes and made her way to the sit down and continue watching her movie.
"Ohh.. you're not going to argue with me and then tell me to leave?" Olivia said as she sat down opposite her.
"I'm tired,I don't have time to argue,this movie his more important"
"Than your mother?" Olivia asked but got no reply.
"That aside, isn't this house too small for you. I mean,you can live with me, it's big and nice. Your family is there" Olivia said and smiled.
"No, thanks. I'd prefer to live and die alone than with strangers" Kylie replied sharply without looking at Olivia.
"Strangers? Honey,your mum is always here for you"
"Please,mum. Let me watch this movie so if you can't help but talk to me, talk silently" She said angrily and resumed watching the movie again.
Olivia smiled bitterly and got up to look around.
"I'll just put the things I bought for you in your fridge" Olivia said.
"If it's from your husband,take it back. I don't accept things from just anyone" Kylie said,her eyes glued to the screen.
"I bought these things with my own money,so make sure to eat. I can see you didn't eat the one from last time. When last have you opened the fridge? Do you even eat at all?"
"Yes,I do. I eat pizza and drink coffee" She replied sharply.
"I'll just bring out the spoilt food and put fresh ones. This is from me, really. So make sure you eat" Olivia said as she packed out the spoilt food from the fridge and started cleaning it.
"Have you had anything,do you want me to cook anything for you?" Olivia asked as she finally closed the fridge.
"Nope..I had Mexican"
"Really,is there a Mexican restaurant around here. It's been a while since I last tasted Mexican food" Olivia said as she walked back to sit.
"No,I had it somewhere else"
"Where do you...
"I'm going in to sleep. Turn off the lights when you're done."Kylie said cutting Olivia.
"Alright, good night honey." Olivia said as Kylie slammed the door of her room.
"Why did she even come here. I should relocate" Kylie said as she threw herself on the bed.
"I will sleep at the hotel tomorrow" She said as she finally closed her eyes to sleep.
To Be Continued
Clara mendekati Tasya, tatapannya sinis mengarah ke arah Delvan. Namun Delvan terlihat biasa saja, malah Tasya yang sedang ketar ketir di tatap tidak enak oleh sahabatnya."Ra …" gumam Tasya bingung meneruskan kalimatnya."Kan gue udah bilang, kalau si badboy Cap Badak ini bahaya. Dia gak bisa jamin keselamatan Lo." Tegur Clara bersedekah dada. Tak ingin duduk di sebelah Tasya."Gue jamin, sahabat Lo bakal aman sama gue. Percaya sama gue Lo, Ra." Papar Delvan menolah ke arah belakang, menatap Clara sekilah. Mencoba mengembalikan kembali Clara."Pegangan ya, mau ngebut nih." Ucap Delvan, mengambil kesempatan dalam kesempitan.Tasya yang gemas dengan ucapan Delvan langsung mencubit pelan perut Delvan. "Sengaja ya?" Tebak Tasya namun dengan menuruti permintaan Delvan.Motor Delvan melaju dengan setengah cepat, merasakan kebersamaan untuk yang ke berapa kalinya. Karena sejak resmi berpacaran dengan Tasya, Delvan terasa tak meluangkan cukup waktu untuk sang kekasih."Gue ganteng ya? Sampai
Tasya memasuki kelas saat pelajaran ke dua. Untung guru yang mengajar belum datang, jadi Tasya langsung menduduki kursinya."Lo baru dateng?" Tanya Clara mendongak menatap Tasya.Keadaan kelas masih belum hening, karena guru yang mengajar juga belum datang. Teman-teman Tasya juga ada yang berjalan, bercerita, bahkan ada yang bermain game bagi kaum para adam."Lan, Lo cupu banget. Nyesel gue satu tim sama Lo. Mending sama bos Delvan atau Vano, Lo mah gak ada apa-apanya." Celetuk Azri memutar matanya dengan malas saat dirinya kalah lagi untuk kesekian kalinya.Dylan melotot tajam kepada Azri, menggusur rambut Azri dengan kasar. "Lo tuh yang cupu, sesama cupu jangan menghina Lo Zri. Belagu banget Lo." Sebal dengan sindiran keras dari sang teman lakna*t itu. "Lo tadi kenapa gak ikut upacara, pelajaran pertama juga gak ikut?" Tanya Delvan duduk di bangku kosong depan Tasya duduk.Tasya mendongak, menatap Delvan. " Gue tadi telat, jadi waktu jam pertama gue dihukum sama anggota OSIS." Tera
Seorang perempuan itu termenung, menikmati angin sepoi sambil membaca sebuah novel kesayangan nya. Di taman itu, dia ingin berteman dengan alam. Sinar mentari pun sangat cerah, menerobos daun-daun yang sudah kering. Berturunan saat terdapat angin menghembus nya.Tasya terlihat sangat cantik, posenya yang begitu manis. Dari depan sangat imut, bahkan dari samping pun sngat anggun. Tasya membuka selembar demi lembar bacaan novelnya.Waktu istirahat, dia habiskan untuk bertenang. Hubungan nya dengan Delvan sering kali pasang surut, ini yang sebenarnya Tasya takuti. Sikap Delvan yang temperamental, membuatnya harus memilki stok kesabaran yang banyak.Tasya memang sedang membaca novel, namun pikiran nya selalu tertuju kepada laki-laki badboy itu. Terkadang sebuah mitos, itu benar adanya. Namun Tasya masih tetap berusaha untuk mengingat kebaikan Delvan, yang terkadang membuatnya luluh kembali."Gue kira Lo kemana? Di kantin gak ada." Ucap seorang laki-laki, yang suaranya sangat familiar di t
"Apa maksudnya tadi Mas? Kenapa Mas Abi bisa kenal dengan Jihan. Atau jangan-jangan wanita yang mas Abi maksud adalah Jihan." Ucap Layla dengan nada bergetar sayu."Ya sudah, ayo dilanjutkan lagi makan nya, nanti keburu dingin." Ucap Abidzar kepada Layla dengan maksud mengalihkan topik agar Layla tidak lagi penasaran."Iya, Mas." Ucap Layla patuh. Abidzar termenung sebentar, mungkin yang dikatakan dengan Layla ada benarnya. Tidak salah juga kalau mereka sholat berjamaah bersama. Jadi dia mengubah rencana yang awalnya akan sholat sendirian."Iya, boleh. Masuk aja, pintunya gak dikunci, kok." Ucap Abidzar mengizinkan.Akhirnya mereka melaksanakan sholat jamaah Maghrib bersama. Setelah selesai sholat mereka berdzikir bersama. Hingga sampai selesai sholat."Mas, aku mau salim boleh nggak?" Layla bertanya kepada Abi."Maaf Layla, aku punya wudhu, sebentar lagi juga adzan isya, aku malas yang mau ambil wudhu lagi. Aku langsung berangkat ke masjid aja ya, biar gak telat lagi" Ucap Abidzar b
Fiza langsung terdiam. Minuman itu langsung dihabisi oleh Musa. Fiza menoleh sekilas ke arah Rafan.“Makasih ya, Fiza!” ucap ustadz Musa. Dia tampak tersenyum ramah. “Sama-sama, ustadz Musa,” ujar Fiza menunduk dalam.Rafan dapat melihat kejadian itu dengan sangat jelas. Tatapannya sedikit tajam k
Fiza berhasil ditenangkan oleh ustadzah Halimah. Sementara Rafan kembali ke asrama putra. Kepalanya terasa berat setelah seharian mengurus masalah yang rumit menurutnya.“Minum bro!” ucap Ridho memberi segelas kopi hitam pada Rafan.Tak ada sepatah kata apapun. Rafan langsung meneguk kopi hitam itu
Kehidupan Fiza berubah seratus persen. Yang kemarennya dia hanyalah santriwati biasa. Sekarang dia sudah menjadi istri dari seorang ustadz di pesantren tempat dia menimba ilmu.“Terkadang, jodoh itu datangnya tiba-tiba. Ada yang lewat perkenalan lama, perjodohan, atau bahkan ketidaksengajaan. Tapi,
Fiza keluar dari kamar mandi dengan kedua matanya yang sudah sembab. Tubuhnya menggigil kedinginan. Matanya memerah karena sedari tadi berendam air dingin.Rafan terlihat fokus dengan laptopnya. Bahkan dia tak menoleh saat tau kehadiran Fiza di kamar perempuan itu.Fiza langsung menuju ke kasurnya.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.