LOGINPernikahan adalah ibadah terpanjang untuk mengikuti Sunnah Rasulullah. Tapi, jika pernikahan terjadi karena sebuah paksaan apakah ibadah itu akan tetap ternilai? Adam Rafan, seorang ustadz muda yang tengah mengabdi di pesantren As-Salam, tepatnya di daerah ibu kota. Dijodohkan dengan seorang santri bernama Danialah Muhafiza. Mereka harus menikah secara terpaksa atas keinginan kakek mereka. Dan pernikahan mereka juga harus menjadi sebuah pernikahan rahasia.
View MorePlak!
Satu tamparan mengenai wajah tampan lelaki muda itu. Semuanya terkejut dengan perlakuan kakek Ali terhadap cucu pertamanya. “Rafan, tak seharusnya kau menolak permintaan kakek hanya karena kau tak mencintai cucu tunggal sahabatku,” ucap Ali dengan wajah memanas. “Kek, ini sudah zaman modern. Perjodohan seharusnya sudah dihapuskan, sekarang kita harus memandang banyak hal. Bukan hanya karena perempuan itu cucu tunggal sahabat kakek,” tolak Rafan memegangi pipinya yang memerah. Plakk!! Satu tamparan itu mengenai sebelah pipi milik Rafan. Membuat lelaki itu diam mematung. “Ini bukan hanya tentang perjodohan, tapi ini adalah sebuah janji. Dan kakek adalah orang yang sangat komitmen dengan janji. Perjodohan ini harus tetap berjalan, dan kamu tak boleh menolaknya,” sungut kakek Ali. Lalu segera pergi meningggal tempat itu. Seketika suasana suram memenuhi ruangan yang tak terlalu luas itu. Menyisakan perih yang meradang. Seorang perempuan mendekati Rafan dengan wajah sendunya. “Nak, ikuti permintaan kakek kamu. Lagipula yang dijodohkan dengan kamu adalah wanita baik-baik dan penuh prestasi. Dan yang utama juga berasal dari keluarga baik-baik,” ujar perempuan itu mengelus pundak Rafan. Rafan menatap sang mama dengan penuh pertanyaan. “Jadi mama mendukung perjodohan ini?” tanya Rafan tak habis fikir. Sang mama hanya menunduk lesu. Rafan tak menyangka kalau dirinya akan mengalami hal yang paling dia tak sukai. Yaitu sebuah perjodohan yang tiba-tiba. *** “Ustadz Rafan”, panggil salah satu pengajar di pesantren As Salam. “Iya ustadz Taufik,” sahut Rafan menghentikan langkahnya. “Ustadz Rafan dipanggil Bu Nyai Hamdan, sekarang beliau ada di bagian resepsionis asrama santri putri,” ungkap ustadz Taufik yang merupakan rekan mengajar Rafan di pesantren. “Baik ustadz Taufik, terima kasih ya infonya,” ujar Rafan dengan tersenyum ramah. Lalau Rafan segera ke tempat dimana dia sudah ditunggu oleh pengasuh yayasan asrama santri putri. “Ustadz Rafan,” sapa Bu Nyai Hamdan yang sudah duduk di ruang tunggu resepsionis. Ustadz Rafan segera menghampiri dengan sikap penuh tawadhu. “Mungkin ada yang bisa saya bantu, Bu nyai,” ujar Rafan dengan sopan. Bu nyai Hamdan tersenyum semringah. “Ada, Ustadz Rafan,” ucap Bu Nyai Hamdan. “Saya memiliki keponakan yang baru saja lulus dari Cairo, Mesir. Dia lulusan terbaik dari jurusan Tafsir Al-Qur'an. Anaknya cantik dan sangat sopan. Niat saya, saya ingin menjodohkan kalian berdua,” ujar Bu Nyai tak absen dari senyuman lembutnya. Rafan langsung dibuat sekaget-kagetnya. Alis dia naik sebelah. Entah itu kabar baik bagi dirinya atau bukan. “Maaf Bu Nyai, tapi saya hanya lulusan kuliah kitab itupun dari universitas swasta Jakarta,” ujar Rafan. “Itu tidak masalah, lagian saya lihat, kalian berdua sepertinya cocok. Sama-sama punya kebiasaan yang bagus, yaitu menghafal Al Qur'an,” ungkap Bu Nyai Hamdan dengan senyuman tulusnya. “Dipikir-pikir dulu, jangan terlalu gegabah mengambil keputusan,” imbuh Bu Nyai Hamdan kembali. Lalu segera meninggalkan Rafan yang tengah mematung di depan meja resepsionis. Suasana sepi disana semakin menambah kebingungan Rafan. “Dijodohkan? Lagi dan lagi,” celetuk Rafan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu. *** Hari ini bertepatan dengan kelulusan semua santri tingkatan madrasah Aliyah di pesantren As Salam. Baik santri putra maupun santri putri menepati ruang aula inti yang sangat luas. “Kelulusan tingkat madrasah Aliyah, santri dan santriwati MA As Salam telah dimulai. Diharap semua yang telah hadir untuk fokus dengan keberlangsungan acara,” ucap seorang pembawa acara tersebut. Semuanya tampak gembira dan juga dibalut rasa sedih. Bagaimana tidak, sudah tiga tahun mereka berkumpul dan setelah ini mereka akan berpisah untuk melanjutkan hidupnya masing-masing. Hingga tiba di pembacaan para santri dan santriwati yang berprestasi. Kali ini tampak wajah-wajah penuh harap dari para santri. “Santri terbaik pertama dari lulusan tahfidz Al Qur'an, dia dari kelas dua belas B- Danialah Muhafiza. Kepada saudari Muhafiza dipersilahkan ke depan podium,” panggil kedua pembawa acara dengan serempak. Sorak selamat terlontar begitu keras. Riuh tepuk tangan terdengar ramai. Seorang perempuan dengan memakai toga kelulusan berjalan lurus ke depan. “Selamat atas prestasi yang begitu membanggakan. Dan tentunya, ini salah satu prestasi dari sekian banyaknya prestasi yang telah kamu torehkan, Muhafiza,” ucap ustadzah Halimah yang merupakan ketua asrama putri. Acara demi acara berlangsung dengan baik. Hingga sampai pada penutupan acara. Semua santri nampak terharu dengan pencapaian mereka sampai detik ini. “Kakek,” panggil Rafan terkejut. Nampak kekek Ali tengah berada di hadapan Rafan secara tiba-tiba. “Gimana acara hari ini Rafan?” tanya kakek Ali sambil celingak-celinguk seperti mencari keberadaan seseorang. “Alhamdulillah lancar, kakek ngapain disini?” tanya Rafan dengan penuh penasaran. “Kakek ingin memperkenalkan kamu dengan seseorang. Bapak Hamzah namanya, rekan kerja kakek,” ungkap kakek Ali sembari terus mencari keberadaan orang itu di sekitarnya. “Ouh, mungkin masih di dalam kek, ayo kalau mau ke aula dalam, Kek,” ajak Rafan membawa kakek Ali ke dalam aula. Banyak para lulusan yang tengah berfoto bersama untuk menyimpan kenangan mereka ke dalam album. Tak lupa juga banyak tamu yang datang sebab pesantren As Salam merupakan pesantren terbaik di daerah ibu kota. Kakek Ali mengarah ke suatu perkumpulan. Kakek Ali segera menghampiri keramaian itu. Diikuti oleh Rafan di belakangnya. “Hamzah, apa kabar?” Sapa kakek Ali langsung menyambut hangat laki-laki tua yang jauh lebih muda darinya. “Masya Allah, Abah Ali, gimana Abah, sehat kah?” balas laki-laki itu dengan pelukan hangat. “Alhamdulillah sangat sehat, ini Rafan- cucu pertamaku,” ungkap kakek Ali mengenalkan Rafan. Rafan pun langsung mencium tangan Hamzah. “Ouh ini yang namanya Rafan, gagah ya seperti kakeknya!” puji Hamzah mengusap bahu Rafan. Rafan hanya tersenyum sopan dibuatnya. “Kamu bisa saja, Hamzah,” celetuk kakek Ali. Lalu mereka pun melanjutkan obrolannya. Rafan melihat sekilas pada perempuan di samping pak Hamzah. Perempuan itu sedari awal hanya menunduk malu. Sesekali berbicara dengan seorang perempuan yang sepertinya adalah ibunya. “Rafan, perkenalkan ini putri saya. Anak saya satu-satunya, permata hati saya seutuhnya,” ungkap Hamzah memeluk sang putri yang hanya tersenyum malu. Rafan menyapa perempuan itu sambil mengangguk. Dibalas dengan senyuman tipis oleh perempuan itu yang tak lama kembali menunduk. “Ini yang kakek ceritakan pada kamu tempo hari yang lalu. Cucu tunggal dari Bayu, sahabat kakek dari lama,” ucap Kakek Ali begitu bangganya. Rafan melirik sekilas pada kakek Ali. Dia nampak berpikir sesuatu tapi seakan lupa dengan kejadian kemarin yang dimaksud kakek Ali. “Yang kakek jodohkan dengan kamu, Rafan. Namanya Muhafiza, santri putri lulusan terbaik di tahun ini, masa kamu tidak tahu?” imbuh kakek Ali memicingkan matanya pada sang cucu. Refan langsung terkejut dibuatnya. “Cucu kakek Bayu? Lulusan terbaik? Hah, maksudnya gimana kek?” ucap Rafan dengan gelisah. Tangan Rafan sampai gemetar dibuatnya. “Kamu jangan sok lupa, Rafan. Kakek sudah merencanakan ini dengan paman Hamzah. Mereka sangat menyetujui perjodohan kalian. Karena kalian akan menikah dalam waktu dekat!” ungkap kakek Ali.Clara mendekati Tasya, tatapannya sinis mengarah ke arah Delvan. Namun Delvan terlihat biasa saja, malah Tasya yang sedang ketar ketir di tatap tidak enak oleh sahabatnya."Ra …" gumam Tasya bingung meneruskan kalimatnya."Kan gue udah bilang, kalau si badboy Cap Badak ini bahaya. Dia gak bisa jamin keselamatan Lo." Tegur Clara bersedekah dada. Tak ingin duduk di sebelah Tasya."Gue jamin, sahabat Lo bakal aman sama gue. Percaya sama gue Lo, Ra." Papar Delvan menolah ke arah belakang, menatap Clara sekilah. Mencoba mengembalikan kembali Clara."Pegangan ya, mau ngebut nih." Ucap Delvan, mengambil kesempatan dalam kesempitan.Tasya yang gemas dengan ucapan Delvan langsung mencubit pelan perut Delvan. "Sengaja ya?" Tebak Tasya namun dengan menuruti permintaan Delvan.Motor Delvan melaju dengan setengah cepat, merasakan kebersamaan untuk yang ke berapa kalinya. Karena sejak resmi berpacaran dengan Tasya, Delvan terasa tak meluangkan cukup waktu untuk sang kekasih."Gue ganteng ya? Sampai
Tasya memasuki kelas saat pelajaran ke dua. Untung guru yang mengajar belum datang, jadi Tasya langsung menduduki kursinya."Lo baru dateng?" Tanya Clara mendongak menatap Tasya.Keadaan kelas masih belum hening, karena guru yang mengajar juga belum datang. Teman-teman Tasya juga ada yang berjalan, bercerita, bahkan ada yang bermain game bagi kaum para adam."Lan, Lo cupu banget. Nyesel gue satu tim sama Lo. Mending sama bos Delvan atau Vano, Lo mah gak ada apa-apanya." Celetuk Azri memutar matanya dengan malas saat dirinya kalah lagi untuk kesekian kalinya.Dylan melotot tajam kepada Azri, menggusur rambut Azri dengan kasar. "Lo tuh yang cupu, sesama cupu jangan menghina Lo Zri. Belagu banget Lo." Sebal dengan sindiran keras dari sang teman lakna*t itu. "Lo tadi kenapa gak ikut upacara, pelajaran pertama juga gak ikut?" Tanya Delvan duduk di bangku kosong depan Tasya duduk.Tasya mendongak, menatap Delvan. " Gue tadi telat, jadi waktu jam pertama gue dihukum sama anggota OSIS." Tera
Seorang perempuan itu termenung, menikmati angin sepoi sambil membaca sebuah novel kesayangan nya. Di taman itu, dia ingin berteman dengan alam. Sinar mentari pun sangat cerah, menerobos daun-daun yang sudah kering. Berturunan saat terdapat angin menghembus nya.Tasya terlihat sangat cantik, posenya yang begitu manis. Dari depan sangat imut, bahkan dari samping pun sngat anggun. Tasya membuka selembar demi lembar bacaan novelnya.Waktu istirahat, dia habiskan untuk bertenang. Hubungan nya dengan Delvan sering kali pasang surut, ini yang sebenarnya Tasya takuti. Sikap Delvan yang temperamental, membuatnya harus memilki stok kesabaran yang banyak.Tasya memang sedang membaca novel, namun pikiran nya selalu tertuju kepada laki-laki badboy itu. Terkadang sebuah mitos, itu benar adanya. Namun Tasya masih tetap berusaha untuk mengingat kebaikan Delvan, yang terkadang membuatnya luluh kembali."Gue kira Lo kemana? Di kantin gak ada." Ucap seorang laki-laki, yang suaranya sangat familiar di t
"Apa maksudnya tadi Mas? Kenapa Mas Abi bisa kenal dengan Jihan. Atau jangan-jangan wanita yang mas Abi maksud adalah Jihan." Ucap Layla dengan nada bergetar sayu."Ya sudah, ayo dilanjutkan lagi makan nya, nanti keburu dingin." Ucap Abidzar kepada Layla dengan maksud mengalihkan topik agar Layla tidak lagi penasaran."Iya, Mas." Ucap Layla patuh. Abidzar termenung sebentar, mungkin yang dikatakan dengan Layla ada benarnya. Tidak salah juga kalau mereka sholat berjamaah bersama. Jadi dia mengubah rencana yang awalnya akan sholat sendirian."Iya, boleh. Masuk aja, pintunya gak dikunci, kok." Ucap Abidzar mengizinkan.Akhirnya mereka melaksanakan sholat jamaah Maghrib bersama. Setelah selesai sholat mereka berdzikir bersama. Hingga sampai selesai sholat."Mas, aku mau salim boleh nggak?" Layla bertanya kepada Abi."Maaf Layla, aku punya wudhu, sebentar lagi juga adzan isya, aku malas yang mau ambil wudhu lagi. Aku langsung berangkat ke masjid aja ya, biar gak telat lagi" Ucap Abidzar b
Abidzar yang mendapat respon positif itu sangat bahagia, ternyata Layla sudah siap dengan semua kewajiban nya dan memenuhi hak batin nya Abidzar.Mereka pun langsung melakukan ibadah suami istri tersebut dengan baik. Layla sangat menenangkan untuk Abidzar.Layla pikir Abidzar akan bersikap sangat l
Tasya terus saja mendumel perihal Delvan yang tak mengucapkan kata manis keoadanya tadi malam. Bahkan sampai Tasya sulit untuk memejamkan mata, seolah hatinya ingin selalu membersamai sang pacar.Mungkin hati Tasya juga sudah terpaut dengan sosok Delvan yang memikat. Tasya seakan di bius oleh asmar
Seorang perempuan itu termenung, menikmati angin sepoi sambil membaca sebuah novel kesayangan nya. Di taman itu, dia ingin berteman dengan alam. Sinar mentari pun sangat cerah, menerobos daun-daun yang sudah kering. Berturunan saat terdapat angin menghembus nya.Tasya terlihat sangat cantik, poseny
"Beneran ya Kak? Mama gak mau sekolah kamu terganggu saja kalau sambil pacaran. Mama mau kamu sukses dulu." Kalimat sederhana dari sang Mama, untuk anaknya.***"Sebentar Pak, tinggal sedikit lagi." Jawab Delvan, pandangan nya tetap fokus pada soal-soal di depannya."Ya sudah, dilanjut." Pak Bamba
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.