ホーム / Romansa / Bayi di Hari Natal / BAB 4. Ini Perang!

共有

BAB 4. Ini Perang!

作者: Day Torres
Wajah Peter memerah, kekerasan di matanya tetap ada.

"Menunggu Andrea?" geramnya. "Apa kamu bercanda, atau kamu tidak tahu bahwa hubungan pribadi dilarang di perusahaan ini?"

"Yah, saya memang lambat belajar, tapi saya cenderung meniru," balas Zack dengan penuh sindiran. "Mungkin saya bingung waktu melihat Anda menerjangnya seperti kadal yang butuh sinar matahari."

Pria tua itu menggertakkan gigi dan melepaskan Andrea dengan kasar sebelum berjalan mendekati Zack.

"Jangan halangi urusanku, anak muda. Kamu cuma pendatang baru, aku bisa saja ...."

"Apa? Pecat saya?" sela Zack dengan suara dingin. "Yah .... Anda boleh coba, tapi Anda akan tahu bahwa pekerjaan saya di sini tidak tergantung pada Anda. Saya bagian dari tim pemilik perusahaan, dan hanya dia yang bisa memecat saya. Saya yakin dia tidak akan senang melihat seorang manajer mencoba memecat saya tanpa alasan yang jelas."

Peter mengepalkan tangan, menatap Zack dengan ekspresi jahat dan menantang.

"Pekerjaanmu mungkin bisa tetap aman," semburnya. "Tapi pekerjaan wanita ini lebih dalam bahaya. Mungkin karena dia sibuk menggoda pendatang baru alih-alih bekerja."

Zack maju selangkah dan menatapnya dari ketinggiannya.

"Pertama, saya sarankan Anda baik-baik menjaga cara Anda berbicara dengan staf Anda. Itu bukan cara yang baik memperlakukan siapa pun, dan kedua, saya sarankan Anda mendengarkan saya selagi saya masih bersikap sopan," geramnya dengan kejengkelan yang jelas. "Anda benar, saya baru di sini, dan karena saya harus belajar banyak, mulai hari ini, saya akan bekerja erat dengan asisten Anda untuk memastikan tidak ada yang terlewatkan. Oh! Dan pastikan jam lembur ini dicatat di gajinya!"

Peter menatapnya dengan campuran jijik dan kebencian, lalu dengan cepat meninggalkan ruang fotokopi. Dia sudah menghabiskan waktu berbulan-bulan menggarap Andrea, mencari cara untuk merusak dan mengendalikannya tanpa menimbulkan skandal, dan sekarang idiot pendatang baru ini malah datang membelanya. Peter harus mencari cara untuk menyingkirkannya!

Andrea menarik napas dalam-dalam, tidak yakin apakah dia merasa lega atau ketakutan. Dia tahu Zack telah berusaha melindunginya, tapi dia punya firasat bahwa dia hanya berhasil memprovokasi monster yang bernama Peter Trembley.

"Baiklah. Sekarang, kembali bekerja," kata Zack seolah tidak terjadi apa-apa, dan keduanya dengan cepat kembali menyelesaikan pencetakan laporan-laporan itu.

Zack tidak hanya membantu dengan salinan, tetapi juga mengambil kesempatan untuk menyelami buku-buku dan memeriksa setiap transaksi. Tapi dia tidak bisa terlalu teliti dan mendalam, memastikan bahwa semua keuangan beres kecuali dia melakukannya dengan tenang.

Setengah jam kemudian, mereka akhirnya berhasil mencetak semuanya dengan bekerja bersama, dan Zack menemukan bahwa keuangannya seburuk yang dia takutkan.

"Aku nggak mengerti," gumam Zack. "Kupikir keuangan UnikeSport harusnya lebih baik. Mereka tidak mewakili atlet yang buruk ... meskipun bukan yang terbaik juga."

Andrea mengangguk, menunjukkan padanya folder khusus.

"Ya ... ada beberapa faktor pemicu," komentarnya. "Para atlet memang bagus, tapi bos fokus pada apa yang bisa mereka capai, bukan apa yang bisa mereka jual."

Zack mengerutkan kening dan melihat kontrak yang ditunjukkan Andrea padanya.

"Dia memasukkan atlet ke kompetisi dan acara. Itu bagus," katanya.

"Aku tahu. Tapi ini Kanada," balas Andrea. "Olimpiade Musim Dingin hanya setahun sekali, sementara itu, mereka cuma bisa berlatih, dan mereka hidup dari apa? Bagaimana mereka menabung?"

"Aku tahu bagaimana Olimpiade Musim Dingin bekerja," jawab Zack yang pernah menjadi juara di beberapa ajang.

"Kalau begitu kamu pasti tahu mereka nggak menghasilkan banyak uang dari situ," kata Andrea. "Banyak atlet kita yang masih muda, mereka punya penggemar, ribuan pengikut di media sosial, mereka bisa menjual es krim kalau mau! Tapi Peter menolak mendapatkan kontrak iklan untuk mereka."

Zack memikirkan hal ini. Nexa Sport Representation punya kesepakatan dengan KHC Group, perusahaan iklan terbesar di Amerika Serikat, yang mendapatkan kontrak spektakuler untuk atlet mereka. Zack sangat sadar bahwa menjadi pemenang dalam suatu olahraga tidak cukup untuk menghasilkan uang.

"Dibutuhkan lebih banyak lagi untuk mengubah atlet hebat menjadi figur yang signifikan." Dia ingat.

"Benar," kata Andrea. "Mereka perlu mendapatkan sponsor yang bagus, kontrak iklan yang bagus, acara yang bagus. Tapi Peter ingin para atlet bekerja untuknya, bukan sebaliknya, seperti yang seharusnya. Dia hanya membuat mereka berkompetisi dan mengambil persentase dari penghasilan mereka karena mewakili mereka. Hanya itu. Jadi, aku perkirakan kamu akan mengalami masa sulit karena seluruh tim perwakilan di sini sangat tidak terlatih."

Zack mengerutkan kening sejenak.

"Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?"

"Empat bulan," jawabnya.

"Apa kamu pernah menjadi perwakilan olahraga di tempat lain?" tanyanya.

"Aku?" Andrea tertawa. "Tentu saja nggak! Nggak ada yang semenarik itu, aku dulu jadi guru."

Zack berpikir sejenak. Wanita itu punya ide yang bagus dan tahu betul keuangan serta laporan perusahaan. Dia terlihat layak untuk dimanfaatkan potensinya.

"Yah ... jika kamu mau, aku bisa mengajarimu. Kamu sudah punya dasarnya, aku bisa melatihmu dalam bidang yang lebih kompleks agar kamu bisa menjadi perwakilan olahraga."

Andrea terdiam sesaat, lalu menatap Zack.

"Apa menurutmu mereka akan dengarkan aku?" tanyanya, ada nada sedih dalam suaranya. "Aku cuma seorang guru ... bahkan jika aku tahu segalanya, Peter hanya akan menertawakanku cuma karena melamar."

"Siapa peduli apa kata Peter? Ada pemilik baru yang datang, kan?" kata Zack dengan marah mendengar nama Peter disebut-sebut.

"Ya, yang akan segera sadar kalau aku cuma penipu," bisiknya, menggeleng. "Tidak... aku nggak akan pernah bisa melakukan hal seperti itu. Orang-orang mungkin akan menertawakanku dan menjatuhkanku ...."

Sepertinya tidak ada lagi yang bisa dikatakan, Zack pun hanya bisa menghela napas. Dia sangat memahami Andrea, mengetahui sistem dari dalam dan tahu bahwa terkadang sulit untuk membuat orang lain memberimu kesempatan. Tapi itu benar dalam aspek kehidupan apa pun. Beberapa memutuskan untuk berjuang, dan yang lain memutuskan untuk menyerah.

"Menurutku," katanya akhirnya dengan suara lelah. "Kamu tidak butuh siapapun untuk menjatuhkanmu, kamu sendiri sudah jatuhkan dirimu sendiri."

Andrea mengatupkan bibir dan menundukkan kepala, dan Zack memutar matanya sebelum berdiri. Harga diri wanita itu bahkan lebih sedikit daripada di sekotak kue, dan dia tidak mengerti mengapa itu membuatnya sangat kesal.

"Sebaiknya kita pergi," katanya, mengambil jaketnya. Ketika mereka mencapai lantai dasar, Zack menghentikannya. "Sudah malam, aku antarkan kamu pulang ya."

"Tidak perlu, sungguh," jawabnya. "Aku nggak mau merepotkan kamu."

Dia pun mulai berjalan sebelum Zack bisa mengatakan sepatah kata pun, tapi Zack tahu dia tidak akan tenang membiarkan seorang wanita pulang sendirian di malam hari, jadi begitu Zack masuk ke mobilnya, dia mengikuti arah yang dilihatnya tadi dan dengan cepat menemukan Andrea.

Dia mengikuti Andrea dari jauh, diam-diam, hanya untuk memastikan wanita itu sampai di rumah dengan selamat, tapi seperempat jam kemudian, dia masih berjalan cepat, dan akhirnya, empat puluh menit kemudian, dia melihat Andrea berhenti, terengah-engah di depan gedung paling jelek yang pernah Zack lihat. Andrea menaiki tangga, dan Zack tetap di sana, bertanya-tanya mengapa seseorang harus berjalan kaki selama empat puluh menit dari kantor ke rumah dalam cuaca dingin yang tak tertahankan itu ... kecuali dia tidak punya pilihan lain.

‘Sialan, Zack! Kamu hanya memperumit hidupmu sendiri!’ geramnya dalam hati, berbalik dan berkendara pergi.

Dia tidak tahu bahwa di gedung itu, Andrea sedang mencium dan memeluk putri kecilnya, lalu bekerja di rumah Bu Margaret, melakukan semua tugas sampai dia kelelahan.

Keesokan harinya, Zack berhenti di anak tangga pertama lobi gedung, lalu berbalik dan pergi ke kafetaria. Dia membeli kopi dan cupcake untuk semua orang, yang langsung diantar oleh staf kafetaria, tetapi dia memastikan untuk secara pribadi menaruh kopi dengan susu dan sekantong kue-kue lezat, bukan yang basi seperti ada di kantor, di depan Andrea.

"Aku ingin kamu pertimbangkan apa yang kutawarkan padamu kemarin," perintahnya alih-alih bertanya. "Perusahaan ini butuh orang-orang cerdas."

Tapi sebelum Andrea bisa membuka mulut untuk menjawab, sosok Peter yang tidak menyenangkan muncul di pintu kantornya.

"Andrea! Bawa semua laporan ke ruanganku! Sekarang!"

Zack melihatnya menundukkan kepala dan mengangguk saat dia mulai membawa map-map yang berisi laporan yang telah dicetak. Mata Zack bertemu dengan mata Peter selama sedetik, dan dia sadar bahwa ini ... ini artinya perang! Zack sudah melihat laporannya, sekarang dia ingin tahu seberapa banyak Peter bisa mengubahnya ... dan apa Andrea akan membantunya dalam hal itu.
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Bayi di Hari Natal   BAB 50. Aku Bukan Pangeran

    Andrea merasa napasnya tersengal saat Zack menggunakan jari-jari basah itu untuk mencengkeram wajahnya.“Tubuhmu nggak bisa bohong padaku, Andrea ....” desisnya, mencium Andrea dengan penuh nafsu, dan sedetik kemudian, tangan-tangan besar itu mencengkeram pantatnya untuk mengangkatnya ke dinding. “Kamu menginginkan ini sama seperti aku menginginkannya ....”Andrea menggigil mendengar kata-katanya. Andrea tahu dirinya tidak bisa menyangkal, tahu dirinya telah menginginkan pria itu sejak lama, dan kini api di antara tubuh mereka akan meledak. Dia pun mengangguk, tidak mampu berbicara, saat tangan si pria yang besar bergerak di antara pahanya, dan ketika Zack menyentuhnya lagi, Andrea merasakan aliran adrenalin mengalir dalam dirinya.“Katakan, Andrea,” geram Zack, matanya berkilauan. “Aku ingin kamu mengatakannya ....”Andrea menggigit bibirnya untuk menahan erangan, merasakan nafsu mengalir deras di nadinya. Dia begitu terangsang sehingga pikiran untuk menyangkal terasa mustahil.“Ya ..

  • Bayi di Hari Natal   BAB 49. Mencari Kebenaran

    Zack berdiri di sana, mengepalkan tinju dan menggertakkan giginya. Ekspresinya campuran kemarahan, frustrasi, dan rasa sakit.Untuk sesaat, dia terdiam. Dia sangat marah dan terluka oleh cara Andrea menyalahkan dirinya sendiri atas perselingkuhan yang tidak pernah terjadi. Andrea telah mengambil tanggung jawab untuk mereka berdua. Keluarganya yang berpikir buruk tentang Andrea itu membuatnya marah.“Apa kamu memang membuatku mabuk dan memanfaatkanku?” geramnya, menekan Andrea ke tubuhnya, merasakan Andrea menggigil. “Mengapa kamu menanggung kesalahan itu?”Zack merasa telinganya berdenging karena amarah. Tentu saja bukan terhadap Andrea, tetapi terhadap seluruh situasi yang telah mendorong mereka ke ambang kehancuran keluarga.“Karena itu perlu! Apa kamu nggak melihat bagaimana Papamu menatapmu?”Zack menggertakkan giginya karena frustasi.“Itu masalahku, Andrea! Aku yang seharusnya memperbaikinya, bukan kamu!” serunya. “Apa kamu tahu apa yang akan dipikirkan keluargaku tentangmu? Apa

  • Bayi di Hari Natal   BAB 48. Rasa Bersalah dan Kebohongan (II)

    "Tapi dia selingkuh dariku!" bentak Giselle."Telan martabatmu sebelum kau tersedak gara-gara itu!" desis Andrea, menghadapinya." Jika dia selingkuh darimu, itu karena dia belajar darimu! Berhenti bilang kau kehilangan bayimu, kau nggak kehilangannya, kau menggugurkannya, itu sebabnya Zack meninggalkanmu!"Itu bohong!”"Itulah yang akan dikatakan doktermu jika ditanya, atau setidaknya itulah yang tertera di surat asuransi medismu, Aborsi Terencana dengan penekanan pada kata “TERENCANA”. Jadi jangan sok berlagak korban, itu nggak cocok untukmu.”"Dia pacarku! Dan kau, kau pelacur, tidur dengannya dan hamil!" teriak wanita itu."Cukup, Giselle!" teriak Zack dengan sengit, menariknya menjauh dari Andrea."Benar! Aku melakukan semuanya. Zack nggak ada hubungannya dengan itu. Dia hanya melakukan hal yang benar dengan bertanggung jawab atas kehamilanku, nggak lebih," jawab Andrea yang melihat frustasi dan ketidakberdayaan di wajah Zack, tetapi setidaknya wajah Papanya sudah jauh lebih tenang

  • Bayi di Hari Natal   BAB 47. Rasa Bersalah dan Kebohongan (I)

    Zack ingin sekali tanah terbuka dan menelannya saat itu juga. Bagaimana atau mengapa wanita itu ada di sana, dia tidak tahu, tetapi dia yakin itu tidak berarti baik baginya.Andrea melihat wajah Zack langsung menggelap, dan lengan Zack melingkari pinggangnya saat pria itu mendekat.“Apa yang terjadi?”“Ada hal buruk akan terjadi, Manisku,” geram Zack, dan Andrea melihat si kembar dengan antusias berbicara dengan pendatang baru itu.“Siapa dia?” tanya Andrea pelan tetapi kemudian ingat bahwa Zack biasanya tidak membawa wanita pulang, jadi dia bukan hanya mantan kekasih biasa, dia adalah “sang mantan itu.”Zack pun menghela napas, tahu dia harus memberitahu Andrea.“Itu Giselle,” katanya pelan.Andrea terdiam sejenak dan kemudian berbicara.“Kamu benar, para saudarimu nggak akan tinggal diam,” kata Andrea. “Mereka bisa-bisanya kepikiran untuk membawanya ke sini. Apa kamu takut dia akan buat keributan?”Zack mengangguk. Dia tidak pernah takut akan momen ini karena tidak ada alasan bagi ke

  • Bayi di Hari Natal   BAB 46. Aku Benar-Benar Minta Maaf

    Luka bakar di tangan Zack sudah jauh membaik, meskipun sakit, luka bakar itu ringan. Namun, dia sengaja memanfaatkan situasi itu agar Andrea harus memanjakannya dengan segala cara yang mungkin. Memiliki Andrea sedekat itu sungguh membuat gila. Zack tidak mengerti sejak kapan wanita ini mulai membuatnya merasa gitu, tetapi itu sederhana, menginginkan apa yang tidak bisa dia miliki. Harusnya begitu, 'kan? Dan meskipun dia tidak tahu kapan dia mulai menginginkan Andrea, menginginkan wanita itu dengan cara berbeda, membuatnya susah mengalihkan mata setiap kali Andrea berganti pakaian.“Bolehkah aku memilih gaunmu?” gumam Zack melihat Andrea memilih apa yang akan dia kenakan untuk pembaptisan bayi itu.Empat hari tersisa sampai Natal, dan keluarga telah memutuskan untuk memajukan perayaan itu. Mereka akan membaptis Adriana di gereja kota dan kemudian mengadakan pesta yang indah di rumah. Mereka akan merayakan Malam Natal hanya dengan keluarga.“Tentu,” gumam Andrea, dan Zack memilih gaun bi

  • Bayi di Hari Natal   BAB 45. Tempat Tidur Rusak

    “Jadi bagaimana kamu menginginkannya?”Pertanyaan itu sederhana, tetapi dia tidak bisa menjawabnya.‘Sukarela, tulus, nyata,’ pikir Zack, tetapi sebaliknya, dia hanya mundur selangkah, membiarkan udara mengalir di antara mereka.“Aku bisa melakukannya sendiri.” Zack tersenyum lembut, dan Andrea meninggalkan kamar mandi, menyadari dirinya merasa tercekik saat menutup pintu.Dia memejamkan mata sejenak sambil duduk di tepi tempat tidur. Zack sangat tampan, benar-benar seksi sehingga bisa membuatnya terengah-engah, tetapi dia tidak boleh jatuh cinta pada pria itu.Namun itu sulit! Terutama ketika pria sialan itu keluar dari kamar mandi, setengah meneteskan air di atas semua tato itu.“Bisakah kau membantuku dengan kemeja ini?” tanya Zack dengan polos, dan Andrea mengangguk karena Zack sudah melakukan bagian tersulit, yaitu mengenakan celana piyama.Tetapi mengenakan kemejanya berarti menyentuhnya, dan menyentuhnya di mana saja terasa berbahaya karena Andrea merasa lebih hangat dari sebelu

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status