首頁 / Historical / Becoming Duchess / BAB 5 - Percakapan Singkat

分享

BAB 5 - Percakapan Singkat

作者: Rose Solace
last update publish date: 2026-07-15 21:30:43

Arven tidak membawa Leander dan Serenne terlalu jauh dari aula. Hanya ke sebuah balkon luas yang menghadap taman belakang. Namun cukup jauh dari keramaian.

Begitu mereka berhenti, Serenne langsung menarik tangannya kembali.

"Aku masih tidak mengerti kenapa aku ikut dibawa ke sini," gerutunya pelan, tetapi masih bisa terdengar oleh Arven.

"Aku ingin berbicara dengan teman-temanku mengenai kompetisi berkuda bulan depan."

Arven menghela napas kecil.

"Kau bisa membicarakannya nanti."

"Tidak bisa," balas Serenne cepat. "Setelah pesta ini mereka semua akan sibuk. Dan saat ini adalah kesempatan terbaik."

Leander berdiri tidak jauh dari mereka, diam seperti biasa. Ia tidak menyela, hanya mengamati seolah percakapan itu bukan urusannya.

Namun Serenne tetap sadar akan kehadirannya. Dan justru itu yang membuatnya lebih kesal.

Arven menatap Serenne sebentar, lalu berkata dengan nada yang lebih tenang,

"Kalau begitu, kau bisa membicarakannya disini."

Serene mengernyit. "Berbicara dengan siapa?"

Arven menggeser pandangannya ke arah Leander. Dan Serenne mengikuti arah itu.

Serenne menatap Leander beberapa detik lebih lama dari biasanya, seolah baru benar-benar menyadari sesuatu.

Lalu berkata dengan lesu.

"Benar. Tuan Duke juga suka berkuda."

Nada suaranya tidak sepenuhnya antusias, tetpi juga tidak menolak.

Ia berbalik sedikit, menghadap Leander dengan sikap yang masih santai, tidak seformal kebanyakan bangsawan saat berbicara dengan Duke Rosenstein.

"Apakah anda juga ikut dalam kompetisi berkuda bulan depan?"

Pertanyaan itu sederhana. Namun justru itu yang membuatnya terasa berbeda.

Leander menatap Serenne beberapa detik.

"Tidak, Yang Mulia." jawabnya singkat.

Serenne mengangguk kecil, seolah itu sudah cukup.

"Saya pikir anda akan mengikuti kontes itu. Orang-orang mengatakan anda suka berkuda."

Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa memikirkan posisi siapa yang ia ajak bicara.

Arven hampir saja menghela napas panjang, tapi ia menahannya. Ia tak tahu saudarinya itu benar-benar polos atau memang tidak pandai mengakrabkan diri dengan seseorang.

Sementara itu, Leander tampak berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Saya tidak punya cukup waktu untuk itu," ujarnya akhirnya.

"Wajar jika seorang Duke sangat sibuk," balas Serenne cepat. "Padahal ketika menunggang kuda semuanya terasa lebih sederhana."

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih pelan,

"Di atas pelana, tidak ada yang benar-benar peduli siapa diri anda yang sebenarnya."

Angin malam berhembus pelan, menggerakkan ujung rambut Serenne yang tergerai.

Leander masih menatap Serenne, sedikit lebih lama dari sebelumnya. Kemudian ia menundukkan kepalanya.

Semua orang di ibu kota tahu satu hal tentang tuan putri mereka. Serrene sangat suka berkuda, tidak seperti kebanyakan gadis bangsawan yang lebih memilih untuk menyulam.

"Anda sering berkuda?" tanya Leander.

Serenne tersenyum tipis. "Lebih sering dari yang orang-orang bicarakan."

Nada suaranya ringan, tapi tidak dibuat-buat. Ia tidak pernah mencoba terlihat anggun.

Arven berdiri sedikit di belakang, memperhatikan keduanya tanpa ikut campur lagi.

Mata biru Arven berpindah dari Serenne kearah Leander. Ia melihat sesuatu yang cukup kecil, namun cukup jelas.

Sahabatnya yang pendiam itu tidak lagi sekadar mendengarkan. Ia mulai memperhatikan.

Sementara Serenne yang tidak menyadari apapun. Baru saja menjadi seseorang yang sulit diabaikan oleh Duke Rosenstein.

. . .

Zeryna berdiri di salah satu sisi aula, jauh dari pusat keramaian yang terlalu ramai untuk suasana hatinya malam itu.

Ia seharusnya menikmati pesta. Namun bayangan percakapannya dengan sang ibu masih tertinggal.

Di sampingnya, Adeline Halcourt berbicara dengan nada lembut, sesekali tertawa kecil untuk mencairkan suasana.

"Aku senang kau tetap datang," ucap Adeline tulus. "Kupikir kau akan mengurungkan niatmu."

Zeryna mengangkat bahu ringan.

"Aku tidak suka membatalkan sesuatu yang sudah kupilih sendiri."

Adeline tersenyum. Ia mengenal Zeryna cukup baik untuk tahu bahwa kalimat itu bukan sekadar jawaban ringan.

Namun setidaknya sahabatnya tidak lagi tampak sekeras sebelumnya. Dan itu sudah cukup.

Langkah seseorang mendekat dari belakang mereka.

Adeline menoleh lebih dulu, dan senyumnya melebar sedikit. Zeryna ikut menoleh. Dan seketika, ekspresinya ikut berubah.

Wajahnya yang mengeras berubah menjadi lembut dan hangat.

Seorang pria berdiri di sana dengan sikap yang sopan, namun jelas tidak asing bagi Zeryna.

Pria itu adalah Viscount Ardelion.

"Nona Rosenstein."

Ia menunduk hormat, namun ada kehangatan yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan dalam suaranya.

Zeryna membalas menunduk hormat, yang seharusnya ia tak melakukannya karena kedudukannya diatas seorang Viscount.

"Viscount Ardelion."

Wajahnya sedikit memerah, dan tersipu.

Adeline memandang keduanya, senyum kecil terlukis di wajahnya.

"Sepertinya saya akan mengambil minuman sebentar," ucap Adeline pelan, memberi ruang tanpa terlihat berlebihan.

Adeline tidak benar-benar meninggalkan mereka. Meja makanan berada tepat dibelakangnya. Ia tak mau ada rumor buruk mengenai sahabatnya jika ia pergi terlalu jauh, dan membiarkan mereka yang belum menikah berbicara berdua.

Hening sesaat. Namun bukan hening yang canggung.

"Anda juga datang?" kata Zeryna, suaranya lebih lembut dari biasanya.

"Saya tidak mungkin melewatkan kesempatan bertemu dengan anda," jawab Viscount Ardelion tenang.

Percakapan mereka mengalir ringan. Hal-hal kecil cukup untuk membuat Zeryna perlahan melupakan ketegangan yang ia bawa sejak sore.

Namun Viscount Ardelion tidak datang tanpa tujuan. Ada sesuatu yang ia tahan sejak awal, dan akhirnya ia pun mengatakannya.

"Nona Rosenstein..."

Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.

"Bagaimana mengenai lamaran saya? Apakah saya bisa mengirim seseorang untuk menyampaikan niat baik saya terlebih dahulu?"

Zeryna terdiam. Senyum di wajahnya memudar perlahan.

"Saya sudah melamar anda sebanyak tiga kali. Namun belum ada jawaban sama sekali dari Duke Rosenstein."

Kalimat-kalimatnya terdengar sopan. Namun maknanya jelas.

Zeryna menunduk sedikit. Hatinya terasa tertarik. Bukan karena ia ragu, ia bahkan sudah mengatakan pada Viscount Ardelion jika ia bersedia menjadi istrinya.

Namun lamaran itu tidak pernah dijawab oleh Leander. Dan selama Leander belum mengirimkan balasan, semuanya tetap menggantung.

"Bisakah anda menunggu sebentar lagi?" ucap Zeryna pelan.

Ada rasa ragu dan tidak percaya diri yang Zeryna rasakan. Namun ia juga tidak bisa membohongi perasaannya.

Viscount Ardelion tidak mendesak. Ia justru tersenyum tipis, dan mencoba menenangkan Zeryna.

"Saya bisa menunggu anda sampai anda siap."

Lalu seolah mengalihkan suasana, ia berkata santai,

"Tadi saya melihat sesuatu yang menarik."

Zeryna mengangkat pandangannya. "Ada apa?"

"Saya melihat Duke Rosenstein bersama Pangeran dan Tuan Putri."

Kehadiran Arven tidak mengejutkankan Zeryna sama sekali, namun Serenne membuatnya mengerutkan alis.

Zeryna terdiam sejenak. Ia tak tahu harus bereaksi bagaimana.

"Saya tidak tahu saudara saya bisa mengakrabkan diri dengan seorang gadis." ucapnya.

Adeline yang kembali berdiri disamping Zeryna, juga mendengar bagian akhir percakapan keduanya.

"Bukankah itu wajar?” kata Adeline. "Mereka terlihat serasi."

Zeryna menoleh padanya.

Adeline melanjutkan dengan nada tulus,

"Tuan Putri sangat cantik. Bahkan banyak yang mengatakan beliau adalah wanita paling cantik di ibu kota."

Adeline tersenyum kecil.

"Dan Duke Rosenstein, tentu saja salah satu pria paling tampan dan berpengaruh di Valkron."

Zeryna terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum tipis. Senyum yang tidak sepenuhnya mudah dibaca.

"Tuan Putri memang pantas dengan siapapun pria yang memiliki martabat tinggi," ujar Zeryna tenang.

Adeline mengangguk setuju. Namun kalimat berikutnya dari Zeryna membuatnya sedikit terdiam.

"Tapi apa kau tidak berminat menjadi saudari

iparku, Adeline?"

Zeryna memiringkan kepala, menatap sahabatnya dengan senyum yang lebih halus.

Hening sesaat. Kalimat itu terdengar ringan. Namun sesuatu dalam nadanya tidak sepenuhnya bercanda.

****

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Becoming Duchess   BAB 7 - Percakapan Dua Sahabat

    "Yang Mulia Tuan Putri telah tiba!"Tak lama kemudian, Serenne turun dari kereta dengan anggun. Di belakangnya, dua pelayan membawa beberapa peti kayu berukuran sedang.Kepala Tabib menundukkan kepala memberi hormat. "Selamat datang, Yang Mulia Tuan Putri."Serenne tersenyum hangat. "Aku membawa beberapa ramuan obat, kain perban baru, dan buku-buku untuk anak-anak."Para tabib menatap isi peti itu dengan rasa penuh syukur."Terima kasih atas perhatian anda, Yang Mulia."Setelah berbincang sejenak, Serenne berjalan menyusuri lorong-lorong Rumah Penyembuhan.Hampir setiap orang yang berpapasan dengan nya tersenyum hormat. Serenne pun membalas setiap sapaan dengan senyum yang sama hangatnya.Serenne tanpa risih dan malu mulai berbaur dengan anak-anak, kemudian membacakan mereka buku cerita. Bahkan beberapa tabib yang melintas ikut berhenti sejenak untuk mendengarkan."Terima kasih, Yang Mulia." Ucapan anak-anak itu.Serenne menggeleng pelan."Ucapan terima kasih seharusnya diberikan kep

  • Becoming Duchess   BAB 6 - Gadis di Balik Topi

    Pagi itu, pasar di ibu kota dipenuhi oleh hiruk-pikuk para pedagang. Aroma roti yang baru dipanggang bercampur dengan wangi bunga segar memenuhi udara. Kereta kuda para bangsawan sesekali melintas di jalan utama, sementara masyarakat dari berbagai kalangan memenuhi setiap sudut pasar.Di antara keramaian itu, Serenne berjalan santai ditemani seorang pelayan dan beberapa pengawal yang menjaga dari kejauhan. Alih-alih menaiki kereta, ia lebih memilih menikmati suasana pasar dengan berjalan kaki.Sebuah topi bertepi lebar berwarna kuning menutupi sebagian wajahnya.Serenne berhenti di sebuah kios roti."Tolong bungkuskan roti yang baru matang itu," ujarnya lembut.Setelah menerima roti tersebut, ia tidak membawanya untuk dirinya sendiri. Ia justru melambaikan tangan, memanggil beberapa anak yang sedang membantu orang tua mereka berdagang di pasar."Ini untuk kalian. Jangan lupa berbagi."Anak-anak itu menerima roti tersebut dengan wajah berbinar."Terima kasih, nona."Serenne hanya mem

  • Becoming Duchess   BAB 5 - Percakapan Singkat

    Arven tidak membawa Leander dan Serenne terlalu jauh dari aula. Hanya ke sebuah balkon luas yang menghadap taman belakang. Namun cukup jauh dari keramaian. Begitu mereka berhenti, Serenne langsung menarik tangannya kembali. "Aku masih tidak mengerti kenapa aku ikut dibawa ke sini," gerutunya pelan, tetapi masih bisa terdengar oleh Arven. "Aku ingin berbicara dengan teman-temanku mengenai kompetisi berkuda bulan depan." Arven menghela napas kecil. "Kau bisa membicarakannya nanti." "Tidak bisa," balas Serenne cepat. "Setelah pesta ini mereka semua akan sibuk. Dan saat ini adalah kesempatan terbaik." Leander berdiri tidak jauh dari mereka, diam seperti biasa. Ia tidak menyela, hanya mengamati seolah percakapan itu bukan urusannya. Namun Serenne tetap sadar akan kehadirannya. Dan justru itu yang membuatnya lebih kesal. Arven menatap Serenne sebentar, lalu berkata dengan nada yang lebih tenang, "Kalau begitu, kau bisa membicarakannya disini." Serene mengernyit. "Berbicara dengan

  • Becoming Duchess   BAB 4 - Kediaman Halcourt

    Zeryna berdiri di depan cermin besar, sementara beberapa pelayan merapikan bagian terakhir pada gaunnya. Suasana tidak terlalu formal, justru lebih ringan. Ia sedang bersenda gurau pelan dengan Odellise yang duduk tidak jauh darinya. "Meskipun Lysandra mengatakan gaun ini terlalu mencolok, aku akan tetap memakainya," ujar Zeryna santai. Odellise tersenyum kecil. "Kau selalu mengatakan itu setiap kali pergi ke pesta, Zeryna." Zeryna terkekeh pelan. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Pintu kamar Zeryna terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah tenang namun berwibawa. Tatapannya langsung membuat suasana berubah sedikit lebih kaku. Zeryna menoleh dan menyambut dengan sikap sopan. "Ada apa, ibu?" Sang ibu melangkah mendekat, matanya menyapu penampilan Zeryna sejenak sebelum akhirnya berbicara. "Kau akan menghadiri pesta ulang tahun putri Marquess Halcourt?" Zeryna mengangguk ringan. "Ya. Saya mengenal putri beliau." Ada jeda singkat sebelum terdengar sebuah pertanya

  • Becoming Duchess   BAB 3 - Surat Undangan

    Rumor mengenai Duke Rosenstein, sudah cukup membuat sebagian besar keluarga bangsawan di ibu kota mulai bergerak. Undangan mulai berdatangan tanpa henti. Bukan sekadar undangan pesta, tetapi juga pesan-pesan halus dari para ibu bangsawan. Memperkenalkan putri mereka dengan cara yang sopan, terselubung, namun sangat jelas maksudnya. Di samping Leander berdiri kepala pelayan pria dan seorang sekretaris pribadinya. Mereka berdua yang mengurus hampir seluruh permasalahan kastil Rosenstein. Alaric Varrow, sekretaris pribadi yang duduk di samping meja kerja Leander. Ia mencatat, memilah, dan memastikan setiap urusan berjalan tanpa cela. Balasan suratpun dikirim satu per satu. Sopan, terstruktur, namun dengan penolakan jelas. Seolah Leander sedang menjaga seluruh dunianya tetap berada pada batas yang tidak boleh dilampaui orang lain. Hingga sebuah surat datang dengan amplop yang berbeda. Amplop itu terbuat dari kertas tebal berkualitas tinggi, dengan tekstur halus yang terasa

  • Becoming Duchess   BAB 2 - Sebuah Tawaran

    Aroma bunga segar memenuhi ruangan, berasal dari rangkaian kecil di meja dekat jendela. Serenne duduk dengan tenang, jemarinya sibuk merapikan pita halus di ujung gaunnya, ketika suara ketukan pelan terdengar di pintu. "Masuk!" ucapnya lembut. Pintu terbuka, dan sosok yang sangat dikenalnya berdiri di sana. Wajah Serenne seketika berubah cerah. "Arven!" Ia bangkit hampir tanpa berpikir, langkahnya ringan saat menghampiri. Senyumnya tulus, hangat, dan berbeda dari senyum sopan yang biasa ia berikan di luar. "Aku merindukanmu," Serenne memeluk Arven tanpa ragu. Arven tersenyum tipis, sedikit lelah, tapi tetap membalas pelukan hangat saudarinya. "Bukankah dua hari lalu kita baru saja bertemu ditaman?", ucap Arven ringan. Serenne melepaskan pelukannya dengan sedikit cemberut manja. "Aku bisa mengerti jika Renard jarang berkunjung karena ia sibuk mengurus kerajaan," Serenne berhenti sejenak, lalu menatap Arven lebih tajam, "tapi bagaimana denganmu? Aku rasa kau tidak

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status