LOGINPagi itu, pasar di ibu kota dipenuhi oleh hiruk-pikuk para pedagang.
Aroma roti yang baru dipanggang bercampur dengan wangi bunga segar yang memenuhi udara. Kereta kuda para bangsawan sesekali melintas di jalan utama, sementara masyarakat dari berbagai kalangan memenuhi setiap sudut pasar. Di antara keramaian itu, Serenne berjalan santai ditemani seorang pelayan dan beberapa pengawal yang menjaga dari kejauhan. Alih-alih menaiki kereta, ia lebih memilih menikmati suasana pasar dengan berjalan kaki. Sebuah topi bertepi lebar berwarna kuning menutupi sebagian wajahnya. Serenne berhenti di sebuah kios roti. "Tolong bungkuskan roti yang baru matang itu," ujarnya lembut. Setelah menerima roti tersebut, ia tidak membawanya untuk dirinya sendiri. Ia justru melambaikan tangan, memanggil beberapa anak yang sedang membantu orang tua mereka berdagang di pasar. "Ini untuk kalian. Jangan lupa berbagi." Anak-anak itu menerima roti tersebut dengan wajah berbinar. "Terima kasih, nona." Serenne hanya membalas dengan senyum hangat sebelum kembali melanjutkan langkahnya. Tak jauh dari sana, sebuah keributan mendadak memecah suasana. Seekor kuda penarik kereta meringkik keras dan mengangkat kedua kaki depan nya. Kusir berusaha menarik tali kekang, tetapi kuda itu justru semakin gelisah. "Menyingkir semuanya!" Orang-orang berlarian menjauh agar tidak terkena tendangan kuda itu. Serenne menghentikan langkahnya. Para pengawalnya hendak maju melindunginya, tetapi Serenne mengangkat tangan pelan, meminta mereka tetap di tempat. Dengan langkah tenang, ia mendekati kuda tersebut. "Yang Mulia, itu berbahaya..." bisik pelayan nya cemas. Serenne menggeleng pelan. "Tidak apa. Kuda itu hanya ketakutan." Ia mendekat tanpa gerakan tergesa-gesa. Tatapan nya lembut, sementara telapak tangan nya perlahan menyentuh tali kekang kuda itu. "Tenang... Kau tidak perlu takut." Suaranya begitu lembut hingga nyaris tenggelam oleh keramaian pasar. Perlahan, napas kuda itu mulai teratur. Hewan yang semula mengamuk itu akhirnya menurunkan kepalanya dan berhenti meronta. Suasana pasar mendadak hening. "Dia berhasil..." "Siapa gadis itu?" "Berani sekali dia!" Orang-orang saling berbisik, tetapi tak seorang pun dapat melihat wajah Serenne dengan jelas. Topi bertepi lebar yang dikenakan nya menutupi sebagian besar wajahnya, membuat identitasnya tetap menjadi misteri. Namun, dari kejauhan, seseorang mengenalinya. Tatapan nya tertuju pada topi berwarna kuning itu. Leander mengingatnya dengan jelas. Beberapa waktu lalu, Arven memaksa dirinya mampir ke sebuah toko saat mereka berkunjung ke kota lain. Di sanalah Arven membeli topi tersebut sambil berkata bahwa Serenne pasti akan menyukainya. Leander sempat menganggap pilihan sahabatnya terlalu sederhana untuk seorang tuan putri. Kini, melihat topi itu dikenakan oleh Serenne, ia menyadari bahwa Arven memang mengenali saudarinya. "Menarik." senyum kecil menghiasi wajah Leander. Leander terus mengamatinya. Ia melihat Serenne tidak mencari pujian setelah menenangkan kuda itu. Gadis itu hanya tersenyum kepada kusir yang berkali-kali membungkukkan badan untuk mengucapkan terima kasih, lalu melanjutkan perjalanan nya seolah tidak terjadi apa pun. Pemandangan itu membuat Leander terdiam. Selama ini ia telah bertemu banyak wanita bangsawan. Sebagian besar selalu menjaga citra dan berharap menjadi pusat perhatian. Namun Serenne berbeda. Ia berbuat baik bukan karena ingin dipuji. Ia bersikap lembut bukan karena ada orang yang melihat. Semua itu seolah telah menjadi bagian dari dirinya. Tanpa disadari, Leander terus mengikuti langkah Serenne kemana pun gadis itu melangkah. Hingga gadis itu menaiki kereta kuda bersama pelayan dan para pengawalnya. Kereta itu perlahan menghilang di balik ramainya pasar. Leander masih berdiri di tempatnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa ingin mengenal seorang wanita lebih jauh. Bukan karena kecantikan nya. Bukan pula karena kedudukan nya. Melainkan karena ketulusan dan kehangatan yang terpancar dari hatinya. *****Renard menyetujui permintaan Putra Mahkota yang meminta Serenne memandunya berkeliling istana. Namun dengan syarat Arven dan Leander ikut menemani.Sambil berjalan Serenne menjelaskan sejarah beberapa bangunan yang mereka lewati.Putra Mahkota mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali ia mengajukan pertanyaan mengenai tata letak istana dan kebiasaan keluarga kerajaan.Beberapa pelayan yang sedang bekerja segera menundukkan kepala ketika melihat mereka.Sang putri membalas dengan senyum hangat.Dan Putra Mahkota memperhatikan pemandangan itu."Semua pelayan tampaknya sangat menghormati anda."Serrene menoleh kepada Putra Mahkota."Aku hanya berusaha memperlakukan mereka sebagaimana mestinya."Putra Mahkota mengangguk perlahan."Tak heran rakyat Volkran begitu mencintai Tuan Putri mereka."Leander yang berjalan di belakang mendengar kalimat itu. Ia mengangkat pandangan nya sejenak ke arah Putra Mahkota.Namun ia sulit menebak apa yang dipikirkan pria itu. Entah benar-benar tulus ata
Hari itu, Volkran menyambut pewaris takhta dari kerajaan tetangganya. Sekaligus musuh bebuyutan.Di halaman utama istana, Renard berdiri di barisan paling depan dengan jubah kebesaran kerajaan.Di sisi kanan nya berdiri Serenne, mengenakan gaun berwarna biru muda yang anggun. Rambut keemasan nya disanggul sederhana, sementara sebuah bros berlambang keluarga kerajaan menghiasi gaun nya.Di sisi kiri Renard berdiri Arven.Tak jauh di belakang mereka tampak Duke Everhart bersama beberapa pejabat tinggi kerajaan.Sementara di barisan para bangsawan berdiri Leander, dengan pakaian resmi keluarga Rosenstein.Suasana begitu tenang. Hanya embusan angin yang sesekali menggoyangkan panji-panji Volkran.Hingga suara terompet dari gerbang luar terdengar nyaring."Rombongan Kerajaan Valtheris telah tiba!"Gerbang utama perlahan terbuka.Puluhan kesatria berkuda memasuki halaman istana dengan langkah teratur.Di belakang mereka melaju sebuah kereta megah berhiaskan lambang kerajaan Valtheris.Keret
Sebuah kereta berhiaskan lambang keluarga Rosenstein memasuki halaman istana.Seorang pelayan segera membukakan pintu.Leander turun lebih dahulu, disusul saudarinya, Odellise.Wajah ceria gadis itu tampak kontras dengan ekspresi saudaranya yang selalu tenang."Aku akan menemui Yang Mulia Raja terlebih dahulu," ujar Leander.Odellise mengangguk. "Kalau begitu aku boleh pergi ke taman istana?""Tentu. Tetapi jangan pergi terlalu jauh."Odellise tersenyum lebar. "Aku bukan anak kecil lagi."Leander tersenyum tipis kemudian mengusap kepala Odellise.Hari ini Renard memanggil Leander secara resmi. Dan Odellise mengatakan jika ia ingin melihat istana, jadi Leander membawanya.Leander seolah memiliki tiket keluar masuk istana secara bebas.• • • •Taman istana dipenuhi bunga-bunga yang sedang bermekaran.Di bawah sebuah gazebo putih, ternyata Serenne duduk sambil menikmati teh. Kemudian ia mengajak Odellise untuk bergabung.Tak jauh dari mereka, beberapa pelayan berdiri dengan tenang."Nona
Sudah bertahun-tahun, Esmirae, ibu Leander, tidak menghadiri pertemuan para wanita bangsawan.Bukan karena ia tidak diundang. Sebaliknya, undangan dari berbagai keluarga bangsawan selalu berdatangan ke Kediaman Rosenstein.Namun hampir semuanya ditolak dengan sopan.Esmirae tidak pernah menyukai percakapan yang dipenuhi pujian kosong, gosip, maupun persaingan terselubung di antara para bangsawan.Baginya waktu jauh lebih berharga digunakan untuk mengurus wilayah Rosenstein.Karena itulah, ketika kereta keluarga Rosenstein berhenti di depan kediaman seorang Marchioness terpandang pagi itu, hampir seluruh tamu yang telah lebih dahulu hadir dibuat terkejut."Beliau datang?""Sudah lama sekali."Bisikan-bisikan pelan terdengar di berbagai sudut ruangan.Esmirae melangkah masuk dengan gaun berwarna biru tua yang sederhana namun anggun.Ia tidak mengenakan perhiasan berlebihan. Hanya kalung pemberian Lavien yang menghiasi lehernya.Sikapnya tetap tenang. Tatapan nya lurus.Tanpa perlu berus
Pagi itu, suasana di Kediaman Rosenstein tetap setenang biasanya.Ketukan pelan terdengar."Masuk."Pintu terbuka, Lavien melangkah masuk ke ruang kerja ibunya, dengan senyum khasnya."Ibu."Esmirae mengangkat pandangan nya dari dokumen."Kau akan berangkat lagi?"Lavien mengangguk."Aku berniat mengunjungi wilayah selatan. Kudengar pelabuhan di sana sedang berkembang pesat. Aku ingin melihatnya sendiri."Wanita itu menatap putra bungsunya beberapa saat. Ia sudah terbiasa mendengar putranya itu meminta izin berkelana di luar.Sejak menginjak usia dewasa, Lavien memang lebih sering berada di luar kediaman daripada menetap di rumah."Pergilah."Lavien tersenyum lebar. "Terima kasih, Ibu.""Tetapi jangan terlalu lama."Senyum Lavien sedikit memudar. Ia mengangkat sebelah alis."Dalam waktu dekat, aku akan kembali menghadiri pertemuan para bangsawan."Lavien tampak penasaran. "Bukankah ibu membenci perkumpulan bangsawan?""Ada sesuatu yang harus kuselesaikan." Jawaban Esmirae tetap datar.
Leander berada di ruang baca keluarga, duduk di dekat jendela sambil menelusuri laporan mengenai keadaan wilayah kekuasaan Rosenstein. Sesekali ia mencatat beberapa hal penting di atas selembar kertas.Pintu ruangan terbuka begitu saja, tanpa sebuah ketukan.Arven melangkah masuk dengan wajah yang jauh lebih serius daripada biasanya.Leander mengangkat pandangan. Tak heran pintu terbuka tanpa ketukan, karena sang pangeran lah yang datang."Ada apa?"Leander paham ada sesuatu yang terjadi terlihat dari raut sahabatnya yang lesu tak seperti biasanya.Arven mengembuskan napas panjang sebelum menjatuhkan dirinya ke kursi di hadapan Leander."Aku membawa kabar buruk."Leander menutup dokumen di tangan nya."Apa yang terjadi?"Arven terdiam beberapa saat, seolah memilih kata-kata yang tepat."Beberapa hari yang lalu, istana menerima surat dari Kerajaan Valtheris."Leander menunggu kelanjutan nya dengan tenang. Meski dalam hatinya waspada pada musuh kerajaan tersebut."Mereka mengajukan per







