Becoming Duchess

Becoming Duchess

last updateLast Updated : 2026-07-15
By:  Rose SolaceOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
6Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Kisah ini hanya fiksi. Nama tokoh, tempat, dan latar adalah fiktif belaka. Murni karangan penulis. Serenne Aetheridge, seorang Tuan Putri yang dikenal ceria dan hangat. Ia memasuki keluarga Duke Rosenstein melalui pernikahan. Rosenstein adalah salah satu keluarga bangsawan tertua. Mereka terkenal dingin dan tak tersentuh. Tanpa prasangka, Serenne mencoba bertahan dengan caranya sendiri. Ia percaya bahwa kehangatan bisa ditemukan bahkan di rumah yang paling beku sekalipun. Namun Rosenstein tidak pernah berubah untuk siapapun.

View More

Chapter 1

BAB 1 - Nama yang Menggema

"Duke Rosenstein sedang mencari Duchess."

Bisikan itu terdengar pelan, hampir seperti lelucon. Namun di aula istana, tidak ada hal yang benar-benar ringan.

Sore itu, aula dipenuhi kemewahan yang gemerlap. Lampu-lampu kristal menggantung tinggi, memantulkan cahaya hangat ke lantai marmer putih yang berkilau.

Gaun-gaun mahal berdesir lembut setiap kali para bangsawan wanita bergerak, sementara jubah para pria menambah kesan anggun dan berwibawa.

Namun tidak satu pun percakapan yang benar-benar polos. Dan malam itu, hanya ada satu hal yang menjadi pusat perhatian.

Sebuah rumor mengenai Duke Rosenstein.

Awalnya hanya terdengar di sudut-sudut kecil percakapan. Namun seperti api yang menjalar di atas jerami kering, kabar itu menyebar dengan cepat.

Semakin banyak yang membicarakannya, semakin banyak pula yang menunggu.

Karena keluarga Rosenstein bukan sekadar bangsawan biasa. Mereka adalah salah satu keluarga bangsawan tertua dan pilar Kerajaan Volkran.

Jika rumor itu benar, maka kursi Duchess Rosenstein bukan sekadar gelar, melainkan posisi yang diinginkan dalam diam.

Para bangsawan paruh baya mulai bergerak. Secara halus dan sopan, mereka mencoba untuk menikahkan putri mereka yang anggun dengan Duke Rosenstein.

Namun yang ada hanya tanggapan yang dingin dari sang Duke.

"Duke Rosenstein memasuki ruangan!"

Suara penjaga diluar menggema, memotong seluruh percakapan.

Pintu besar aula pun terbuka.

Seorang pria berambut hitam melangkah masuk dengan tenang. Langkahnya tegap, tanpa tergesa, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan menahan napas sejenak.

Ialah Leander Rosenstein, Duke Rosenstein yang namanya sedang menggema di aula istana.

Dalam sekejap, suasana berubah. Bisikan-bisikan terhenti. Gelas-gelas yang terangkat tertahan di udara. Tatapan yang tadinya tersembunyi kini mengarah terang-terangan padanya.

Namun tidak ada satu pun yang berani mendekat.

Leander tidak menoleh. Seolah seluruh perhatian itu tidak berarti apa pun. Ia berjalan lurus, seakan ia telah terbiasa menjadi pusat perhatian.

Leander mengambil secangkir teh. Gerakannya sederhana, namun tetap menarik perhatian.

Saat itulah pandangannya berhenti. Di dekat perapian, seorang gadis berdiri mengenakan gaun merah muda.

Cahaya api memantul lembut di wajahnya, memperhalus senyum yang perlahan terukir.

Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, tatapan Leander mengeras.

Tanpa mengatakan apa pun, ia meletakkan kembali cangkir tehnya. Kemudian berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan aula yang kembali dipenuhi bisikan.

. . . .

Diluar, udara taman istana terasa lebih dingin, namun jauh lebih tenang.

Leander melangkah di sepanjang jalan setapak batu, menjauh dari gemerlap aula yang menurutnya terlalu bising.

Ia berhenti, lalu menghela napas panjang.

"Berisik sekali," gumamnya pelan.

Di bawah cahaya lampu taman, seseorang sudah lebih dulu menikmati ketenangan itu.

Leander melihat Arven, sahabatnya, duduk santai di bangku taman, dikelilingi beberapa ksatria. Tawa kecil terdengar di antara mereka.

Begitu Leander mendekat, suasana langsung berubah. Para ksatria itu segera berdiri tegak untuk memberi salam hormat.

"Yang Mulia Duke."

Leander hanya memberi anggukan singkat.

Arven menoleh, lalu tersenyum lebar.

"Ada apa? Kau kabur lagi?"

Leander tidak langsung menjawab. Tatapannya mengikuti para ksatria yang satu per satu berpamitan, meninggalkan mereka berdua.

Ketika langkah kaki terakhir menghilang, suasana menjadi sunyi.

Arven bersandar santai.

"Wajahmu lebih murung dari biasanya," katanya ringan. "Apa karena rumor itu?"

Tidak ada jawaban. Arven menggelengkan kepalanya pelan.

"Tapi rumor itu benar, bukan? Kau sedang mencari istri."

Hening. Arven merasa seolah berbicara pada tembok. Ia menyipitkan matanya, dan tetap melanjutkan.

Arven sudah tahu seperti apa sifat sahabatnya, jadi ia melanjutkan saja perkataan nya.

"Rumor itu sudah tersebar dimana-mana. Bahkan para pelayan istana juga membicarakan nya."

Leander tetap diam. Namun Arven tidak tersinggung, ia tahu sahabatnya pasti mendengarkan perkataan nya.

"Kalau begitu kenapa tidak diumumkan saja secara resmi? Atau sebenarnya kau belum siap?"

Leander akhirnya mengangkat pandangan.

"Aku belum melihat ada kesempatan yang tepat."

"Kesempatan?" Arven mengernyit.

Leander hanya mengangguk. Arven menghela napas, kali ini lebih berat.

"Tidak sulit bagimu mencari seorang Duchess. Kau hanya membuatnya terlalu rumit."

Leander hanya mengangkat bahu sedikit. Ia tidak membantah.

"Aku hanya tidak suka menjadi pusat perhatian." jawab Leander.

Arven terkekeh pelan. "Kau adalah seorang Duke."

Di tengah percakapan mereka, langkah cepat terdengar dari kejauhan.

Seorang gadis muncul di ujung jalan setapak. Gaun nya berayun lembut mengikuti langkahnya, sementara rambut pirang cerahnya tampak bersinar di bawah cahaya lampu taman.

Gadis itu melangkah tanpa ragu mendekati mereka. Tiga pelayan mengikuti di belakangnya, berusaha menyesuaikan langkah.

Ketika ia berhenti dihadapan Leander dan Arven, matanya bertemu sesaat dengan Leander. Segera ia menundukkan kepala dengan anggun.

Leander membalas menundukkan kepala.

Arven mengamati dengan senyum tipis.

"Kau harus lebih berhati-hati dilingkungan istana," ujarnya ringan, namun jelas menegur. "Jangan berjalan terburu-buru. Banyak mata yang melihat."

Senyum gadis itu sempat meredup, berubah canggung.

"Maafkan aku, Arven."

Arven memperhatikan gaun yang gadis itu kenakan.

"Gaun itu cocok untukmu."

Wajah gadis itu langsung kembali berbinar.

"Tentu saja! Aku telah mempersiapkan nya sepanjang hari!"

"Bukankah gaun ini hadiah dari Yang Mulia Raja?" Arven mengangkat salah satu alisnya.

Gadis itu mengangguk antusias.

"Benar, indah, bukan?"

Arven tersenyum kecil.

"Lebih indah saat kau yang memakainya."

Gadis itu tertawa pelan, suasana kembali ringan.

"Aku hanya berjalan-jalan sebentar disekitar sini. Lalu aku melihatmu dari kejauhan, jadi aku ingin menyapa."

"Kalau begitu, sekarang sebaiknya kau kembali ke aula," kata Arven. "Nikmati hidangan di dalam. Udara di sini semakin dingin."

Gadis itu mengangguk patuh. Kemudian ia dan Leander saling menunduk hormat sebelum gadis itu melangkah pergi.

Langkahnya kini lebih teratur. Dan para pelayan lebih bisa mengikutinya dengan hati-hati.

Ketika gadis itu menghilang di balik pilar, keheningan kembali turun.

Arven melirik Leander, senyum tipis muncul di wajahnya. Ia menepuk pundak Leander lalu berkata,

"Bagaimana jika dia saja yang menjadi Duchess Rosenstein?"

Leander langsung menoleh tajam.

"Apa?"

Untuk pertama kalinya di malam itu, ekspresi Leander tidak lagi datar. Ada keterkejutan yang nyata dan tak bisa disembunyikan.

******

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Rose Solace
Rose Solace
Karya pertama di Goodnovel. Baca sampai selesai dulu ya, siapa tahu suka ...
2026-07-29 10:10:25
0
0
Rose Solace
Rose Solace
Karya pertama di Goodnovel. Baca dulu sampai selesai, siapa tahu suka ...
2026-07-29 10:08:44
0
0
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status