Home / Historical / Becoming Duchess / BAB 4 - Kediaman Halcourt

Share

BAB 4 - Kediaman Halcourt

Author: Rose Solace
last update publish date: 2026-07-15 21:02:50

Zeryna berdiri di depan cermin besar. Sementara beberapa pelayan merapikan bagian terakhir pada gaun nya.

Suasana tidak terlalu tegang, justru terasa ringan. Ia sedang bersenda gurau pelan dengan Odellise yang duduk tidak jauh darinya.

"Meskipun Lysandra mengatakan gaun ini terlalu mencolok, aku akan tetap memakainya," ujar Zeryna santai.

Odellise tersenyum kecil. "Kau selalu mengatakan itu setiap kali pergi ke pesta, Zeryna."

Zeryna terkekeh pelan. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Pintu kamar Zeryna terbuka.

Seorang wanita masuk dengan langkah tenang namun berwibawa. Tatapan nya langsung membuat suasana berubah sedikit lebih kaku.

Zeryna menoleh dan menyambut dengan sikap sopan.

"Ada apa, ibu?"

Sang ibu melangkah mendekat, matanya menyapu penampilan Zeryna sejenak sebelum akhirnya berbicara.

"Kau akan menghadiri pesta ulang tahun putri Marquess Halcourt?"

Zeryna mengangguk ringan.

"Ya. Saya mengenal nona Halcourt."

Ada jeda singkat sebelum terdengar sebuah pertanyaan.

"Apa kau tahu sesuatu mengenai rumor keluarga kita?"

Zeryna terdiam sesaat. Senyumnya tidak langsung hilang, tetapi sedikit mengeras di ujungnya.

Ibunya melanjutkan, nadanya lebih tajam kali ini.

"Kau yang menyebarkan nya, bukan?"

Keheningan jatuh di ruangan itu.

Odellise yang duduk di samping hanya terdiam, tidak berani ikut campur.

"Kau hanya membuat Leander berada dalam situasi yang tidak menyenangkan. Juga mencoreng nama baik Rosenstein."

Zeryna menghela napas pelan. "Saya tidak melakukan sesuatu yang salah."

"Tidak salah?" suara ibunya sedikit meninggi.

"Kau membuat saudaramu menjadi bahan pergunjingan dikalangan bangsawan! Mereka mengolok-olok Leander dibelakang."

Zeryna menatap lurus. "Leander tidak keberatan."

Kalimat itu membuat suasana semakin tegang.

Sang ibu langsung berkata tegas. "Aku melarangmu pergi ke pesta."

Setelah sekian lama, ekspresi Zeryna pun sedikit berubah. Bukan marah meledak, bukan pula kasar.

Kesabaran nya mulai retak. Namun ia tetap menjaga dirinya. Ia menurunkan pandangan sejenak, lalu menarik napas perlahan.

"Saya selalu menghormati semua keputusan yang telah Leander buat," ucapnya pelan, namun jelas terdengar.

Ia mengangkat wajahnya kembali. "Tapi saya juga punya batas."

Ibunya masih menatap Zeryna dengan tenang.

"Saya ingin segera menikah, ibu." lanjut Zeryna, suaranya tetap terkendali meski ada getaran halus di dalamnya.

"Tapi saya tetap mengikuti keputusan Leander."

Suasana semakin berat. Odellise akhirnya tidak tahan diam lebih lama.

"Zeryna…" suaranya pelan, nyaris seperti peringatan lembut, "tenanglah…"

Namun Zeryna tidak menoleh padanya. Matanya tetap tertuju pada ibunya. Lalu dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya, ia bertanya,

"Apakah saya benar-benar putri Ibu?"

Ruangan itu seketika membeku. Sang ibu tidak menjawab.

"Tahun ini adalah tahun ketiga saya debut tapi saya belum juga menikah, sementara teman-teman saya hampir semuanya telah menikah."

Suara Zeryna mulai bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.

"Jika tahun depan saya belum juga menikah, apa ibu tidak berpikir bagaimana pandangan para bangsawan terhadap saya? Mengapa ibu hanya memikirkan martabat Leander?"

"Sikapmu lah yang membuat mendiang ayahmu tidak pernah menyukaimu," kalimat tajam itu diucapkan dengan ringan oleh ibunya.

Zeryna menghela napas, lalu perlahan mengambil sarung tangan nya yang tergeletak di meja.

Ia menundukkan kepala sedikit, gerakan yang masih penuh sopan santun.

"Saya permisi."

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu. Langkahnya tetap teratur.

. . . .

Aula utama Kediaman Marquess Halcourt dipenuhi cahaya hangat dari lampu kristal yang menggantung rapi di langit-langit tinggi.

Para pelayan mondar-mandir sembari menawarkan makanan dan minuman pada para tamu. Sementara para bangsawan bergerak dalam kelompok-kelompok kecil.

Tidak seperti biasanya, Leander datang lebih awal. Biasanya ia selalu memilih waktu paling akhir.

Ia langsung menuju kelompok para pria bangsawan yang sedang berbincang di sisi ruangan. Berharap tidak menjadi pusat perhatian.

Beberapa pria menoleh saat Leander tiba. Setelah memberi hormat, dengan cepat mereka memberi ruang. Kehadiran nya tidak pernah benar-benar bisa diabaikan.

Tidak lama kemudian, tuan rumah pesta, Marquess Halcourt, mendekat dengan senyum hangat yang sudah terlatih di kalangan bangsawan.

Ia dan seorang gadis disampingnya menunduk hormat.

"Yang Mulia Duke, kehadiran anda adalah kehormatan besar bagi kami malam ini."

Leander menanggapi dengan anggukan sopan. Namun sebelum percakapan berlanjut, Marquess Halcourt menggeser pandangan nya ke samping.

"Dan izinkan saya memperkenalkan putri saya yang berulang tahun hari ini, Adeline Halcourt."

Seorang gadis melangkah maju. Ia mengenakan gaun elegan berwarna lembut, sederhana namun jelas dibuat dengan kualitas terbaik.

Adeline menunduk dengan sopan. "Merupakan suatu kehormatan bertemu dengan anda, Yang Mulia Duke."

Leander membalas dengan sopan. "Selamat ulang tahun, nona Halcourt."

Meskipun singkat, namun cukup untuk membuat Adeline menunduk sedikit lebih dalam, seolah menahan rasa gugup yang halus.

Percakapan singkat itu seharusnya berakhir disana. Namun salah satu bangsawan pria di kelompok itu tiba-tiba bertanya.

"Yang Mulia, apa rumor mengenai anda yang sedang mencari istri itu benar?"

Suasana seketika berubah. Percakapan lain masih ada, tetapi di sekitar Leander, seolah semua suara mengecil.

Beberapa orang langsung terdiam, menunggu kesempatan.

Rumor itu bukan lagi sesuatu yang tersembunyi. Namun menanyakan nya langsung pada Leander tetap saja dianggap sesuatu yang berani.

Rosenstein bukan nama yang bisa diperlakukan sembarangan. Kekuasaan dan pengaruh Rosenstein bahkan seolah berada tepat dibawah keluarga kerajaan.

Leander menatap pria itu tanpa ekspresi. Hening beberapa detik. Lalu ia menjawab singkat,

"Benar."

Satu kata itu mampu membuat perubahan jelas di wajah para bangsawan yang hadir. Senyum tipis, tatapan penuh perhitungan, dan ketertarikan yang kini tidak lagi disembunyikan.

Sebelum suasana berkembang lebih jauh, suara pengumuman dari pintu utama aula terdengar keras.

"Yang Mulia Pangeran dan Yang Mulia Tuan Putri telah tiba!"

Para bangsawan langsung berbalik, lalu dengan cepat memberi hormat. Dan untuk sesaat, aula itu terasa seperti kehilangan fokusnya.

Serenne masuk dengan langkah yang tenang, namun mencolok tanpa ia sadari.

Gaun nya elegan dan sederhana, namun terlihat berkelas. Menonjolkan aura lembut yang berbeda dari para gadis bangsawan lain di ruangan itu.

Rambut pirang terangnya tertata rapi, namun beberapa helai halus membuatnya terlihat lebih cantik.

Tangan nya terikat ringan pada lengan Arven yang berjalan di sampingnya.

"Arven, aku bisa berjalan sendiri," gumam Serenne pelan, sedikit kesal.

"Kita harus menyapa tuan rumah terlebih dahulu." ucap Arven tanpa menoleh.

Dikejauhan, beberapa bangsawan pria memperhatikan Serenne dengan cermat. Tatapan kekaguman yang sulit disembunyikan.

Arven menggandeng Serenne menuju tempat Leander berada.

"Salam Yang Mulia Pangeran, Yang Mulia Tuan Putri."

Arven dan Serenne mengangguk kecil.

"Selamat ulang tahun, nona Halcourt." ucap Arven dan Serenne hampir bersamaan.

"Terimakasih Yang Mulia Pangeran, Yang Tuan Putri."

Balas Adeline. Berbeda dari saat berbicara dengan Leander, Adeline tampak lebih tenang.

Beberapa saat kemudian Arven segera merasakan sesuatu, tatapan orang-orang di sekitarnya.

Ia menyadari Serenne menjadi pusat perhatian. Dan Arven tidak menyukai itu. Ia segera menggeser langkah sedikit, lalu menarik Leander mendekat.

"Kami bertiga memiliki sesuatu yang harus dibicarakan. Kami permisi dahulu."

Ucap Arven, seraya kedua tangan nya menarik Leander dan Serrene.

Semua orang di kelompok itu menundukkan kepala. Menanggapi perkataan Arven.

Leander tidak menolak. Sementara Serenne sempat mencoba menarik tangan nya.

"Arven, aku ingin mene-"

Namun genggaman Arven semakin menguat, tetapi tidak menyakitkan.

"Tidak sekarang," jawab Arven singkat.

Mereka bertiga berjalan meninggalkan aula. Dengan banyak pasang mata mengantar kepergian mereka.

******

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Becoming Duchess   BAB 14 - Tak Tik Sang Putri

    Renard menyetujui permintaan Putra Mahkota yang meminta Serenne memandunya berkeliling istana. Namun dengan syarat Arven dan Leander ikut menemani.Sambil berjalan Serenne menjelaskan sejarah beberapa bangunan yang mereka lewati.Putra Mahkota mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali ia mengajukan pertanyaan mengenai tata letak istana dan kebiasaan keluarga kerajaan.Beberapa pelayan yang sedang bekerja segera menundukkan kepala ketika melihat mereka.Sang putri membalas dengan senyum hangat.Dan Putra Mahkota memperhatikan pemandangan itu."Semua pelayan tampaknya sangat menghormati anda."Serrene menoleh kepada Putra Mahkota."Aku hanya berusaha memperlakukan mereka sebagaimana mestinya."Putra Mahkota mengangguk perlahan."Tak heran rakyat Volkran begitu mencintai Tuan Putri mereka."Leander yang berjalan di belakang mendengar kalimat itu. Ia mengangkat pandangan nya sejenak ke arah Putra Mahkota.Namun ia sulit menebak apa yang dipikirkan pria itu. Entah benar-benar tulus ata

  • Becoming Duchess   BAB 13 - Sang Putra Mahkota

    Hari itu, Volkran menyambut pewaris takhta dari kerajaan tetangganya. Sekaligus musuh bebuyutan.Di halaman utama istana, Renard berdiri di barisan paling depan dengan jubah kebesaran kerajaan.Di sisi kanan nya berdiri Serenne, mengenakan gaun berwarna biru muda yang anggun. Rambut keemasan nya disanggul sederhana, sementara sebuah bros berlambang keluarga kerajaan menghiasi gaun nya.Di sisi kiri Renard berdiri Arven.Tak jauh di belakang mereka tampak Duke Everhart bersama beberapa pejabat tinggi kerajaan.Sementara di barisan para bangsawan berdiri Leander, dengan pakaian resmi keluarga Rosenstein.Suasana begitu tenang. Hanya embusan angin yang sesekali menggoyangkan panji-panji Volkran.Hingga suara terompet dari gerbang luar terdengar nyaring."Rombongan Kerajaan Valtheris telah tiba!"Gerbang utama perlahan terbuka.Puluhan kesatria berkuda memasuki halaman istana dengan langkah teratur.Di belakang mereka melaju sebuah kereta megah berhiaskan lambang kerajaan Valtheris.Keret

  • Becoming Duchess   BAB 12 - Kedatangan

    Sebuah kereta berhiaskan lambang keluarga Rosenstein memasuki halaman istana.Seorang pelayan segera membukakan pintu.Leander turun lebih dahulu, disusul saudarinya, Odellise.Wajah ceria gadis itu tampak kontras dengan ekspresi saudaranya yang selalu tenang."Aku akan menemui Yang Mulia Raja terlebih dahulu," ujar Leander.Odellise mengangguk. "Kalau begitu aku boleh pergi ke taman istana?""Tentu. Tetapi jangan pergi terlalu jauh."Odellise tersenyum lebar. "Aku bukan anak kecil lagi."Leander tersenyum tipis kemudian mengusap kepala Odellise.Hari ini Renard memanggil Leander secara resmi. Dan Odellise mengatakan jika ia ingin melihat istana, jadi Leander membawanya.Leander seolah memiliki tiket keluar masuk istana secara bebas.• • • •Taman istana dipenuhi bunga-bunga yang sedang bermekaran.Di bawah sebuah gazebo putih, ternyata Serenne duduk sambil menikmati teh. Kemudian ia mengajak Odellise untuk bergabung.Tak jauh dari mereka, beberapa pelayan berdiri dengan tenang."Nona

  • Becoming Duchess   BAB 11 - Kembalinya Sang Nyonya

    Sudah bertahun-tahun, Esmirae, ibu Leander, tidak menghadiri pertemuan para wanita bangsawan.Bukan karena ia tidak diundang. Sebaliknya, undangan dari berbagai keluarga bangsawan selalu berdatangan ke Kediaman Rosenstein.Namun hampir semuanya ditolak dengan sopan.Esmirae tidak pernah menyukai percakapan yang dipenuhi pujian kosong, gosip, maupun persaingan terselubung di antara para bangsawan.Baginya waktu jauh lebih berharga digunakan untuk mengurus wilayah Rosenstein.Karena itulah, ketika kereta keluarga Rosenstein berhenti di depan kediaman seorang Marchioness terpandang pagi itu, hampir seluruh tamu yang telah lebih dahulu hadir dibuat terkejut."Beliau datang?""Sudah lama sekali."Bisikan-bisikan pelan terdengar di berbagai sudut ruangan.Esmirae melangkah masuk dengan gaun berwarna biru tua yang sederhana namun anggun.Ia tidak mengenakan perhiasan berlebihan. Hanya kalung pemberian Lavien yang menghiasi lehernya.Sikapnya tetap tenang. Tatapan nya lurus.Tanpa perlu berus

  • Becoming Duchess   BAB 10 - Langkah Putra Mahkota

    Pagi itu, suasana di Kediaman Rosenstein tetap setenang biasanya.Ketukan pelan terdengar."Masuk."Pintu terbuka, Lavien melangkah masuk ke ruang kerja ibunya, dengan senyum khasnya."Ibu."Esmirae mengangkat pandangan nya dari dokumen."Kau akan berangkat lagi?"Lavien mengangguk."Aku berniat mengunjungi wilayah selatan. Kudengar pelabuhan di sana sedang berkembang pesat. Aku ingin melihatnya sendiri."Wanita itu menatap putra bungsunya beberapa saat. Ia sudah terbiasa mendengar putranya itu meminta izin berkelana di luar.Sejak menginjak usia dewasa, Lavien memang lebih sering berada di luar kediaman daripada menetap di rumah."Pergilah."Lavien tersenyum lebar. "Terima kasih, Ibu.""Tetapi jangan terlalu lama."Senyum Lavien sedikit memudar. Ia mengangkat sebelah alis."Dalam waktu dekat, aku akan kembali menghadiri pertemuan para bangsawan."Lavien tampak penasaran. "Bukankah ibu membenci perkumpulan bangsawan?""Ada sesuatu yang harus kuselesaikan." Jawaban Esmirae tetap datar.

  • Becoming Duchess   BAB 9 - Kakak dan Adik

    Leander berada di ruang baca keluarga, duduk di dekat jendela sambil menelusuri laporan mengenai keadaan wilayah kekuasaan Rosenstein. Sesekali ia mencatat beberapa hal penting di atas selembar kertas.Pintu ruangan terbuka begitu saja, tanpa sebuah ketukan.Arven melangkah masuk dengan wajah yang jauh lebih serius daripada biasanya.Leander mengangkat pandangan. Tak heran pintu terbuka tanpa ketukan, karena sang pangeran lah yang datang."Ada apa?"Leander paham ada sesuatu yang terjadi terlihat dari raut sahabatnya yang lesu tak seperti biasanya.Arven mengembuskan napas panjang sebelum menjatuhkan dirinya ke kursi di hadapan Leander."Aku membawa kabar buruk."Leander menutup dokumen di tangan nya."Apa yang terjadi?"Arven terdiam beberapa saat, seolah memilih kata-kata yang tepat."Beberapa hari yang lalu, istana menerima surat dari Kerajaan Valtheris."Leander menunggu kelanjutan nya dengan tenang. Meski dalam hatinya waspada pada musuh kerajaan tersebut."Mereka mengajukan per

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status