تسجيل الدخولZeryna berdiri di depan cermin besar, sementara beberapa pelayan merapikan bagian terakhir pada gaunnya.
Suasana tidak terlalu formal, justru lebih ringan. Ia sedang bersenda gurau pelan dengan Odellise yang duduk tidak jauh darinya. "Meskipun Lysandra mengatakan gaun ini terlalu mencolok, aku akan tetap memakainya," ujar Zeryna santai. Odellise tersenyum kecil. "Kau selalu mengatakan itu setiap kali pergi ke pesta, Zeryna." Zeryna terkekeh pelan. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Pintu kamar Zeryna terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah tenang namun berwibawa. Tatapannya langsung membuat suasana berubah sedikit lebih kaku. Zeryna menoleh dan menyambut dengan sikap sopan. "Ada apa, ibu?" Sang ibu melangkah mendekat, matanya menyapu penampilan Zeryna sejenak sebelum akhirnya berbicara. "Kau akan menghadiri pesta ulang tahun putri Marquess Halcourt?" Zeryna mengangguk ringan. "Ya. Saya mengenal putri beliau." Ada jeda singkat sebelum terdengar sebuah pertanyaan. "Kau tahu sesuatu mengenai rumor keluarga kita?" Zeryna terdiam sesaat. Senyumnya tidak langsung hilang, tetapi sedikit mengeras di ujungnya. Ibunya melanjutkan, nadanya lebih tajam kali ini. "Kau yang menyebarkannya, bukan?" Keheningan jatuh di ruangan itu. Odellise yang duduk di samping hanya terdiam, tidak berani ikut campur. "Kau hanya membuat Leander berada dalam situasi yang tidak menyenangkan. Kau telah mencoreng nama baik Rosenstein." Zeryna menghela napas pelan. "Saya tidak melakukan sesuatu yang salah." "Tidak salah?" suara ibunya sedikit meninggi. "Kau membuat saudaramu menjadi bahan pergunjingan dikalangan bangsawan! Mereka mengolok-olok Leander dibelakang." Zeryna menatap lurus. "Leander tidak keberatan." Kalimat itu membuat suasana semakin tegang. Sang ibu langsung menjawab tegas. "Aku melarangmu pergi ke pesta." Setelah sekian lama, ekspresi Zeryna pun sedikit berubah. Bukan marah meledak, bukan pula kasar. Kesabarannya mulai retak. Namun ia tetap menjaga dirinya. Ia menurunkan pandangan sejenak, lalu menarik napas perlahan. "Saya selalu menghormati semua keputusan yang telah Leander buat," ucapnya pelan, namun jelas terdengar. Ia mengangkat wajahnya kembali. "Tapi saya juga punya batas." Ibunya masih menatapnya dengan tenang. "Saya ingin segera menikah, ibu." lanjut Zeryna, suaranya tetap terkendali meski ada getaran halus di dalamnya. "Tapi saya tetap mengikuti keputusan Leander." Suasana semakin berat. Odellise akhirnya tidak tahan diam lebih lama. "Zeryna…" suaranya pelan, nyaris seperti peringatan lembut, "tenanglah…" Namun Zeryna tidak menoleh padanya. Matanya tetap tertuju pada ibunya. Lalu dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya, ia bertanya, "Apakah saya benar-benar putri Ibu?" Ruangan itu seketika membeku. Sang ibu tidak menjawab. "Tahun ini adalah tahun ketiga saya debut tapi saya belum juga menikah, sementara teman-teman saya hampir semuanya telah menikah." Suara Zeryna mulai bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. "Jika tahun depan saya belum juga menikah, apa ibu tidak berpikir bagaimana pandangan para bangsawan pada saya? Mengapa ibu hanya memikirkan martabat Leander?" "Sikapmu lah yang membuatmu mendiang ayahmu tidak pernah menyukaimu," kalimat tajam itu diucapkan dengan ringan oleh ibunya. Zeryna menghela napas, lalu perlahan mengambil sarung tangannya yang tergeletak di meja. Ia menundukkan kepala sedikit, gerakan yang masih penuh sopan santun. "Saya permisi." Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu. Langkahnya tetap teratur. . . . . Aula utama Kediaman Marquess Halcourt dipenuhi cahaya hangat dari lampu kristal yang menggantung rapi di langit-langit tinggi. Para pelayan mondar-mandir sembari menawarkan makanan dan minuman pada para tamu. Sementara para bangsawan bergerak dalam kelompok-kelompok kecil. Tidak seperti biasanya, Leander datang lebih awal. Biasanya ia selalu memilih waktu paling akhir. Ia langsung menuju kelompok para pria bangsawan yang sedang berbincang di sisi ruangan. Berharap tidak menjadi pusat perhatian. Beberapa pria menoleh saat Leander tiba, setelah memberi hormat dengan cepat mereka memberi ruang. Kehadirannya tidak pernah benar-benar bisa diabaikan. Tidak lama kemudian, tuan rumah pesta, Marquess Halcourt, mendekat dengan senyum hangat yang sudah terlatih di kalangan bangsawan. Ia dan seseorang disampingnya menunduk hormat. "Yang Mulia Duke, kehadiran anda adalah kehormatan besar bagi kami malam ini." Leander menanggapi dengan anggukan sopan. Namun sebelum percakapan berlanjut, Marquess Halcourt menggeser pandangannya ke samping. "Dan izinkan saya memperkenalkan putri saya yang berulang tahun hari ini, Adeline Halcourt." Seorang gadis melangkah maju. Ia mengenakan gaun elegan berwarna lembut, sederhana namun jelas dibuat dengan kualitas terbaik. Adeline menunduk dengan sopan. "Merupakan suatu kehormatan bertemu dengan anda, Yang Mulia Duke." Leander membalas dengan sopan. "Selamat ulang tahun, nona Halcourt." Meskipun singkat, namun cukup untuk membuat Adeline menunduk sedikit lebih dalam, seolah menahan rasa gugup yang halus. Percakapan singkat itu seharusnya berakhir disana. Namun salah satu bangsawan pria di kelompok itu tiba-tiba bertanya. "Yang Mulia Duke, apa rumor mengenai anda yang sedang mencari istri itu benar?" Suasana seketika berubah. Percakapan lain masih ada, tetapi di sekitar Leander, seolah semua suara mengecil. Beberapa orang langsung terdiam, menunggu kesempatan. Rumor itu bukan lagi sesuatu yang tersembunyi. Namun menanyakannya langsung pada Elian, tetap saja dianggap sesuatu yang berani. Rosenstein bukan nama yang bisa diperlakukan sembarangan. Kekuasaan dan pengaruh Rosenstein bahkan seolah berada tepat dibawah keluarga kerajaan. Leander menatap pria itu tanpa ekspresi. Hening beberapa detik. Lalu ia menjawab singkat, "Benar." Satu kata itu mampu membuat perubahan jelas di wajah para bangsawan yang hadir. Senyum tipis, tatapan penuh perhitungan, dan ketertarikan yang kini tidak lagi disembunyikan. Sebelum suasana berkembang lebih jauh, suara pengumuman dari pintu utama aula terdengar keras. "Yang Mulia Pangeran dan Yang Mulia Tuan Putri telah tiba!" Para bangsawan langsung berbalik, lalu dengan cepat memberi hormat. Dan untuk sesaat, aula itu terasa seperti kehilangan fokusnya. Serenne masuk dengan langkah yang tenang, namun mencolok tanpa ia sadari. Gaunnya elegan dan sederhana, namun terlihat berkelas. Menonjolkan aura lembut yang berbeda dari para gadis bangsawan lain di ruangan itu. Rambut pirang terangnya tertata rapi, namun beberapa helai halus membuatnya terlihat lebih cantik. Tangannya terikat ringan pada lengan Arven yang berjalan di sampingnya. "Arven, aku bisa berjalan sendiri," gumam Serenne pelan, sedikit kesal. "Kita harus menyapa tuan rumah terlebih dahulu." ucap Arven tanpa menoleh. "Baiklah… kau benar." Dikejauhan, beberapa bangsawan pria memperhatikan Serenne dengan cermat. Tatapan kekaguman yang sulit disembunyikan. Arven menggandeng Serenne menuju tempat Leander berada. "Salam Yang Mulia Pangeran, Yang Mulia Tuan Putri." Arven dan Selene mengangguk kecil. "Selamat ulang tahun, nona Halcourt." ucap Arven dan Serenne hampir bersamaan. "Terimakasih Yang Mulia Pangeran, Yang Tuan Putri." Balas Adeline. Berbeda dari saat berbicara dengan Leander, Adeline tampak lebih tenang. Beberapa saat kemudian Arven segera merasakan sesuatu, tatapan orang-orang di sekitarnya. Ia menyadari Serenne menjadi pusat perhatian. Dan Arven tidak menyukai itu. Ia segera menggeser langkah sedikit, lalu menarik Leander mendekat. "Kami bertiga memiliki sesuatu yang harus dibicarakan. Kami permisi terlebih dulu." Ucap Arven, seraya kedua tangannya menarik Leander dan Serrene. Semua orang di kelompok itu menundukkan kepala. Menanggapi perkataan Arven. Leander tidak menolak. Sementara Serenne sempat mencoba menarik tangannya. "Arven, aku ingin mene-" Namun genggaman Arven menguat, tapi tidak menyakitkan. "Tidak sekarang," jawab Arven singkat. Mereka bertiga berjalan meninggalkan aula. Dengan banyak pasang mata mengantar kepergian mereka. ******Pagi itu, pasar di ibu kota dipenuhi oleh hiruk-pikuk para pedagang. Aroma roti yang baru dipanggang bercampur dengan wangi bunga segar memenuhi udara. Kereta kuda para bangsawan sesekali melintas di jalan utama, sementara masyarakat dari berbagai kalangan memenuhi setiap sudut pasar.Di antara keramaian itu, Serenne berjalan santai ditemani seorang pelayan dan beberapa pengawal yang menjaga dari kejauhan. Alih-alih menaiki kereta, ia lebih memilih menikmati suasana pasar dengan berjalan kaki.Sebuah topi bertepi lebar berwarna kuning menutupi sebagian wajahnya.Serenne berhenti di sebuah kios roti."Tolong bungkuskan roti yang baru matang itu," ujarnya lembut.Setelah menerima roti tersebut, ia tidak membawanya untuk dirinya sendiri. Ia justru melambaikan tangan, memanggil beberapa anak yang sedang membantu orang tua mereka berdagang di pasar."Ini untuk kalian. Jangan lupa berbagi."Anak-anak itu menerima roti tersebut dengan wajah berbinar."Terima kasih, nona."Serenne hanya mem
Arven tidak membawa Leander dan Serenne terlalu jauh dari aula. Hanya ke sebuah balkon luas yang menghadap taman belakang. Namun cukup jauh dari keramaian. Begitu mereka berhenti, Serenne langsung menarik tangannya kembali. "Aku masih tidak mengerti kenapa aku ikut dibawa ke sini," gerutunya pelan, tetapi masih bisa terdengar oleh Arven. "Aku ingin berbicara dengan teman-temanku mengenai kompetisi berkuda bulan depan." Arven menghela napas kecil. "Kau bisa membicarakannya nanti." "Tidak bisa," balas Serenne cepat. "Setelah pesta ini mereka semua akan sibuk. Dan saat ini adalah kesempatan terbaik." Leander berdiri tidak jauh dari mereka, diam seperti biasa. Ia tidak menyela, hanya mengamati seolah percakapan itu bukan urusannya. Namun Serenne tetap sadar akan kehadirannya. Dan justru itu yang membuatnya lebih kesal. Arven menatap Serenne sebentar, lalu berkata dengan nada yang lebih tenang, "Kalau begitu, kau bisa membicarakannya disini." Serene mengernyit. "Berbicara dengan
Zeryna berdiri di depan cermin besar, sementara beberapa pelayan merapikan bagian terakhir pada gaunnya. Suasana tidak terlalu formal, justru lebih ringan. Ia sedang bersenda gurau pelan dengan Odellise yang duduk tidak jauh darinya. "Meskipun Lysandra mengatakan gaun ini terlalu mencolok, aku akan tetap memakainya," ujar Zeryna santai. Odellise tersenyum kecil. "Kau selalu mengatakan itu setiap kali pergi ke pesta, Zeryna." Zeryna terkekeh pelan. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Pintu kamar Zeryna terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah tenang namun berwibawa. Tatapannya langsung membuat suasana berubah sedikit lebih kaku. Zeryna menoleh dan menyambut dengan sikap sopan. "Ada apa, ibu?" Sang ibu melangkah mendekat, matanya menyapu penampilan Zeryna sejenak sebelum akhirnya berbicara. "Kau akan menghadiri pesta ulang tahun putri Marquess Halcourt?" Zeryna mengangguk ringan. "Ya. Saya mengenal putri beliau." Ada jeda singkat sebelum terdengar sebuah pertanya
Rumor mengenai Duke Rosenstein, sudah cukup membuat sebagian besar keluarga bangsawan di ibu kota mulai bergerak. Undangan mulai berdatangan tanpa henti. Bukan sekadar undangan pesta, tetapi juga pesan-pesan halus dari para ibu bangsawan. Memperkenalkan putri mereka dengan cara yang sopan, terselubung, namun sangat jelas maksudnya. Di samping Leander berdiri kepala pelayan pria dan seorang sekretaris pribadinya. Mereka berdua yang mengurus hampir seluruh permasalahan kastil Rosenstein. Alaric Varrow, sekretaris pribadi yang duduk di samping meja kerja Leander. Ia mencatat, memilah, dan memastikan setiap urusan berjalan tanpa cela. Balasan suratpun dikirim satu per satu. Sopan, terstruktur, namun dengan penolakan jelas. Seolah Leander sedang menjaga seluruh dunianya tetap berada pada batas yang tidak boleh dilampaui orang lain. Hingga sebuah surat datang dengan amplop yang berbeda. Amplop itu terbuat dari kertas tebal berkualitas tinggi, dengan tekstur halus yang terasa
Aroma bunga segar memenuhi ruangan, berasal dari rangkaian kecil di meja dekat jendela. Serenne duduk dengan tenang, jemarinya sibuk merapikan pita halus di ujung gaunnya, ketika suara ketukan pelan terdengar di pintu. "Masuk!" ucapnya lembut. Pintu terbuka, dan sosok yang sangat dikenalnya berdiri di sana. Wajah Serenne seketika berubah cerah. "Arven!" Ia bangkit hampir tanpa berpikir, langkahnya ringan saat menghampiri. Senyumnya tulus, hangat, dan berbeda dari senyum sopan yang biasa ia berikan di luar. "Aku merindukanmu," Serenne memeluk Arven tanpa ragu. Arven tersenyum tipis, sedikit lelah, tapi tetap membalas pelukan hangat saudarinya. "Bukankah dua hari lalu kita baru saja bertemu ditaman?", ucap Arven ringan. Serenne melepaskan pelukannya dengan sedikit cemberut manja. "Aku bisa mengerti jika Renard jarang berkunjung karena ia sibuk mengurus kerajaan," Serenne berhenti sejenak, lalu menatap Arven lebih tajam, "tapi bagaimana denganmu? Aku rasa kau tidak
"Duke Rosenstein sedang mencari Duchess." Bisikan itu terdengar pelan, hampir seperti lelucon. Namun di aula istana, tidak ada hal yang benar-benar ringan. Sore itu, aula istana dipenuhi kemewahan yang gemerlap. Lampu-lampu kristal menggantung tinggi, memantulkan cahaya hangat ke lantai marmer putih yang berkilau. Gaun-gaun mahal berdesir lembut setiap kali para bangsawan wanita bergerak, sementara jubah para pria menambah kesan berwibawa. Namun tidak satu pun percakapan yang benar-benar polos. Dan malam itu, hanya ada satu hal yang menjadi pusat perhatian. Sebuah rumor mengenai Duke Rosenstein. Awalnya hanya terdengar di sudut-sudut kecil percakapan. Namun seperti api yang menjalar di atas jerami kering, kabar itu menyebar dengan cepat. Semakin banyak yang membicarakan nya, semakin banyak pula yang menunggu. Karena keluarga Rosenstein bukan sekadar bangsawan biasa. Mereka adalah salah satu keluarga bangsawan tertua sekaligus pilar Kerajaan Volkran. Jika rumor itu ben







