LOGINSet in 90's times... Jennifer used to be a cold hot headed teenage girl. She was living a normal life, not until she met Akira, a college guy who spilled a 1peso worth of juice on her 7,000 worth of peso bag. She then ended up being in love and in a relationship with him. One night under the full moon she witnessed with her two eyes how her boyfriend turned into a beast that the folks used to call it as a werewolf. She was totally shocked, however, she didn't feel afraid of Akira. Akira confessed about his true identity to her. She learned that every werewolf has a mate and that will only come within their breed. That makes her to persuade Akira to turn her also into a werewolf because she was afraid that Akira would be mated to another werewoman. As Akira fangs pierced on her neck, untold history before them, began to unfold in her mind. And when she totally became a werewolf, she ended up killing Akira. Her life of being a witch with a blood of a werewolf started. She came to the underworld to avenge her parents- the powerful white witches, who had been killed by the black witch and a father and son- werewolf. There, she saw again the face of the man she love, with a modest beautiful woman beside him who turned out to be Akira's mate.
View MoreSenin malam, Maya tiba di rumah Eyangnya bersama dengan saudara laki-lakinya Reno dan kakak iparnya Nanda menggunakan mobil.
“Brakk!”
Pintu mobil ditutup. Mereka semua keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu,
“Tok tok tok… Assalamualaikum…”
Reno mengetuk pintu sembari mengucapkan salam.
Beberapa saat kemudian, seseorang membukakan pintu,
“Waalaikumsalam… Eh, den Reno, non Maya dan non Ayu. Masuk den, non”
“Ah, Nggeh bi”
Seorang pembantu rumah tangga yang bekerja dirumah Eyangnya Reno dan Maya menyambut kedatangan mereka dan mempersilahkan mereka masuk kedalam.
Tiba-tiba,
“Wusshhhh”
Sekelebat bayangan hitam terbang dan seketika menghilang dari pandangan Maya. Sontak, Maya langsung terdiam mematung disamping Reno.
“May, kamu kenapa?” Kata Reno sembari menepuk bahunya Maya.
“Ha!? Ah, tidak kok kak, tidak apa-apa” Seketika Maya langsung tersadar dari lamunannya ketika Reno mengejutkannya dan Maya mencoba untuk tidak berkata apapun tentang apa yang dilihatnya tadi.
Kemudian, mereka berjalan ke ruang tamu untuk beristirahat sejenak karena baru saja tiba disana.
“Emm… Den Reno mau minum apa? Teh? Atau apa?” Tanya pembantu itu
“Air putih saja bi” Kata Reno kepada pembantu itu.
“Kalau non Ayu dan non Maya?”
“Sama aja bi” Jawab Maya dan Ayu.
“Oh, yowes. Ditunggu sebentar yo, bibi buatkan dulu. Eyang Putri masih sholat maghrib sebentar bersama dengan Eyang kakung. Sebentar lagi juga selesai, di tunggu saja disini yo” Kata pembantu itu.
Mereka semua hanya menganggukkan kepala mengiyakan perkataan dari pembantu itu.
Tiba-tiba, muncul sebuah sosok anak kecil yang tengah berlari naik dan turun tangga, kemudian menghilang. Maya yang melihat itu, hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan untuk menenangkan hatinya. Hanya Maya yang bisa melihat sosok-sosok yang sepertinya sedang menyambut kedatangan mereka pada saat itu. Reno dan Ayu sepertinya tidak melihat apa yang dilihat oleh Maya. Walaupun Reno mewarisi darah keturunan dari Eyang putri dan Eyang kakung mereka, tapi hanya Maya yang mewarisi penglihatan untuk melihat hal-hal yang tak kasat mata.
Kemudian, sosok demi sosok bermunculan dan menampakan wujudnya kepada Maya satu persatu dan menghilang. Sepertinya, mereka memang sedang menyambut kedatangan mereka.
Setelah beberapa saat, bibi yang tadi menyambut mereka kembali sembari membawa tiga gelas air putih dan menyuguhkannya di atas meja yang ada di depan Maya dan yang lainnya.
“Ini airnya, silahkan diminum”
Bersamaan dengan itu, Eyang putri dan Eyang kakung menuruni tangga dan menghampiri Maya, Reno dan Ayu,
“Eh, nak Reno, nak Maya dan nak Ayu. Sejak kapan kalian tiba disini?” Tanya Eyang putri.
Lalu, Maya, Reno dan Ayu berdiri dan menghampiri Eyang putri dan Eyang kakung sembari menjabat dan mencium tangan Eyang putrid an Eyang kakung.
“Kami baru saja tiba beberapa menit yang lalu Eyang” Kata Reno mewakili Maya dan Ayu.
“Oh, begitu toh. Yowes, silahkan duduk, tidak enak kita berbicara sambil berdiri seperti ini” Kata Eyang kakung.
Lalu, mereka semua duduk di sofa.
“Jadi, maksud kedatangan kalian ini untuk berkunjung, atau bagaimana?” Tanya Eyang kakung.
“Ah, kebetulan Eyang, saya lagi ada sebuah project dari kantor saya yang kebetulan tidak jauh dari rumah Eyang. Nah, tidak mungkin lah saya meninggalkan Ayu dan Maya berdua saja di Jakarta. Ya sekalian saja, saya bawa mereka dan tinggal di rumah Eyang untuk sementara sampai project saya selesai.” Kata Reno.
“Oh, begitu. Ya sudah, kebetulan ada beberapa kamar kosong di rumah ini. Tapi ingat ya, tidak ada siapa pun yang di perbolehkan siapapun untuk masuk ke kamar kosong yang ada di sudut ruangan di lantai 2. Mengerti?”
“Loh, memangnya kenapa E…” Belum sempat Ayu menyelesaikan pertanyaannya, Eyang kakung memotong pembicaraan,
“Pokoknya jangan! Dengar itu Ayu? Untuk kalian juga ya Maya, Reno!?”
“Nggeh Eyang” Kata Reno, Maya dan Ayu secara serentak.
‘Memangnya kenapa sih?’ Kata Ayu dalam hati.
Siapapun belum ada yang tau tentang kamar itu walaupun Maya dan Reno adalah anak dari Eyang putri dan Eyang kakung. Karena, tak seorang pun tau tentang kamar itu kecuali Bibi Sari dan Pakde Yono, Pembantu yang bekerja dirumahnya Eyang putri dan Eyang kakung, dan juga penjaga kebun sekaligus penjaga gerbang rumah Eyang putri dan Eyang kakung. Hanya orang-orang yang datang saja yang di peringati oleh Eyang kakung. Hanya diberi peringatan saja, kalau sudah diperingatkan, tapi masih saja melanggar, orang itu akan tau akibatnya.
“Ya sudah, kalian bawa baju ganti kan? Silahkan ganti baju kalian dulu di kamar, bi sari akan mengantarkan kalian ke kamar. Nanti kita akan makan malam dulu bersama dan setelah itu, kalian langsung istirahat saja di kamar. Kalian pasti lelah karena baru saja tiba disini” Kata Eyang kakung.
“Iya Eyang, kami ke kamar dulu ya” Kata Maya.
Kemudian, Maya dan yang lainnya menaiki tangga dipimpin oleh bi Sari menuju kamar mereka. Ada 4 kamar di lantai 2 itu, 1 kamar berada di sebelah kanan di dekat tangga, 1 kamar berada di sebelah kiri sekitar 12 meter dari kamar pertama, 12 meter sebelah kana nada 1 kamar lagi setelah kamar kedua, dan 20 meter tepat di tengah-tengah disudut jalan, ada kamar kosong yang di beritahu oleh Eyang kakung tadi. Nah, kamar pertama dekat tangga adalah kamar Eyang putri dan Eyang kakung, kamar kedua adalah kamar Maya, ketiga adalah kamar Reno dan Ayu. Sedangkan kamar bi Sari ada di sebelah bangunan rumah itu bersama dengan pakde Yono. Bi sari dan pakde Yono adalah suami istri.
“Non Maya, anda tidur di kamar ini ya, sedangkan anda den Reno dan non Ayu tidur di kamar yang satunya lagi. Dan yang di dekat tangga tadi adalah kamarnya Eyang putri dan Eyang kakung. Kalian ganti baju saja dulu, bibi akan menyiapkan makan malam dulu ya” Kata bi Sari.
“Oke bi” Kata Maya dan yang lainnya.
Lalu, Maya masuk ke kamarnya, Reno dan Ayu masuk ke kamarnya, dan bi Sari turun ke lantai 1 dan menyiapkan makan malam.
Maya meletakkan tasnya di atas tempat tidur, lalu membaringkan tubuhnya sembari membuka ponsel. Lalu,
“Kak”
Spontan, Maya langsung menoleh ke sekeliling tempat di dalam kamarnya mencari-cari suara yang memanggilnya tadi. Tapi, tak ada apa-apa pada saat itu. Suasana tampak hening seperti ketika dia masuk ke kamar tadi.
Lalu, Maya kembali membuka ponsel dan berbalas-balas pesan bersama doi nya di Whatsupp. Tiba-tiba,
“Eh! Siapa itu!”
Ada sesuatu yang baru saja mencolek tangannya Maya dan itu jelas sekali. Tapi, ketika Maya membentak dan bertanya, lagi-lagi tidak ada apapun di sana. Maya mulai merasa sedikit jengkel pada saat itu, lalu dia duduk bersila sembari memejamkan matanya, kemudian mengatur nafas dan membacakan doa-doa yang telah diajarkan oleh Eyang putri ketika dia beranjak di usia 17 tahun dulu, ketika dia belajar untuk mengontrol mata batinnya. Tiba-tiba,
THE werewolves have once again recovered from the intense destruction caused by Aunt Amara. They easily returned everything to normal. Even though Aunt Amara is no longer in the world, her power remains alive, serving as protection for the world of werewolves from the eyes of ordinary beings.The mate bond still exists. However, Aunt Amara blessed it with a condition that the current Alpha can sever the purple thread that connects the two individuals destined for each other if their relationship does not go well until one of them reaches the age of thirty-five. It's the best she can do, and since it was a tradition that can't be undone.The current werewolves lineage is led by their appointed Luna, Dani, and her partner, one of the greatest and bravest warrior trained by her Dad, who became the Alpha. Akira gave up her position to continue living in the mortal world with me and her parents. Her father, the former Alpha, chose to spend his remaining time with his long-unseen wife.Meanw
AMARA held Custodio's hand. She interlocked their hands and smiled as she looked at it. Then she looked up at the face of her beloved man. He was looking at her too, gazing at her beautiful face."When I was young, my dream was to become the most powerful witch in our generation. That was supposed to be just a dream, but it turned into an obsession. I was always under pressure because of my parents. According to them, I should be the only one to possess that position, and no one else. And as for my older brother, when he got a girlfriend, he neglected me under the care of our parents, who constantly forced me to do things I didn't want to do," she said, staring at the slightly illuminated sky.According to her parents, in order for her to win the competition for that position, she had to lose any trace of mercy. So her parents made her hurt innocent animals to infuse a little evil into her blood. Every day, she was forced to go hunting for animals because she thought it was the right t
"AMARA!" I called out loudly to her. She paused in the midst of swinging her black sword behind our new Alpha.Akira stood up and noticed her intense weakness. But she tried to stay in her position to protect Clara and Vince. Vince lay on the ground with his head resting on Clara's lap. He had a large wound on his side. Clara couldn't stop crying as she tried to heal Vince's wound, even though she knew it would deplete all her energy.Amara's weapon slowly disappeared from her grasp. I noticed her previously dark eyes becoming even darker. I smiled at her. Finally, after so many years of waiting, I saw her again. Although I often saw and sometimes accompanied her younger version, her true current age and mindset were different. Even in old age, her beauty still prevailed.However, my smile vanished when I saw her being attacked by a purple-colored wolf. How unusual! It was the first time I had seen such a wolf. I could sense that it was not just a werewolf but also had witch blood. Fea
"YOU'RE just a Luna, but you're brave enough to face me in a fight. Aren't you afraid for your life?" Amara mocked me.I was the only child of two unmated individuals who later died of illness because of my birth. I was adopted by my father's close friend, who happened to be a high-ranking soldier in our Alpha's pack, and he became Akira's father. I grew up being able to do whatever I wanted without any objections from my adoptive father.When I first saw my mate, Akira, I immediately admired him, and over time, my feelings for him grew deeper. Loving him from a distance was enough for me because I believed that eventually, he would come to me and love me back. But I was wrong. He fell in love with another woman. Was I afraid of losing him? No. He deserves to love who he chooses, and I deserve a man who will love me back, not just because we're mates and compelled to love each other due to our bond.And now, facing Amara, I don't feel any fear of dying at her hands. The only thing I fe
As soon as Akira caught sight of me, he leapt from his seat on the bench and approached me with a smile. He had a broad grin on his face. When he was able to get within touching distance of me, he first kissed my forehead and then both of my cheeks. I couldn't help but crack a smile at his very kin
“What a beautiful place!” I exclaimed in amazement. The werewolf took me to a mini farm here in the mountains.Trees of various kinds are planted on a small patch of land . Who would plant these trees in this remote place?I went down from his back. After that he shifted into his human form. Oh m
“BYE, sis!” Jennifer hurriedly bid her goodbye, with Lorilyn beside her. Before walking away, they waved at me. I smiled and nodded at them in return. The two of them were only wearing casual clothes. They don’t have classes today. They just have to care about their graduation practice. I smiled a
MY eyes fluttered open when I felt something light hit my face. I picked up the crumpled paper and then threw it back outside the window of my bedroom. I stood up from my interrupted sleep and headed towards the open window of my room.I put my head out to see who it was and out there, I saw Jeremy






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.