Share

Bab 3

Author: Banana
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya aku kembali ke padang rumput yang begitu akrab bagiku dan menyewa rumah milik seorang penggembala.

Mungkin karena terlalu lama meninggalkan kampung halaman, aku sampai lupa bagaimana berbicara dalam bahasa Sansekerta dan bahkan ada beberapa ucapan yang tak lagi kupahami.

Untungnya, tetangga di sebelah juga seorang pendatang. Suatu kali saat aku keluar dan tersesat, dialah yang membantuku.

Keesokan harinya, aku membuat beberapa kue sebagai tanda terima kasih atas bantuannya kemarin.

“Kak, kue khas selatan yang kamu buat ini benar-benar autentik!” kata Ian sambil melahap kuenya, persis seperti tupai kecil yang sibuk di musim gugur.

Aku tak bisa menahan tawa.

Dari obrolan santai kami, aku tahu bahwa ia adalah seorang videografer yang datang untuk merekam film dokumenter.

Aku sangat terkejut sekaligus senang, karena aku juga menyukai fotografi.

Ian tampak seperti mahasiswa, seluruh dirinya memancarkan aura masa muda.

Padahal aku baru berusia dua puluh lima tahun. Namun bertahun-tahun hidup berputar di sekitar Arvin dan Dion membuatku merasa telah menua.

Untuk menata kembali hatiku ... aku pergi menunggang kuda di padang rumput saat senggang, lalu memetik beberapa bunga liar untuk menghias halaman kecilku.

Meski sederhana, itu adalah dunia milikku sendiri dan cukup membuatku puas.

Sore itu, aku dan Ian berjanji pergi ke gunung untuk memotret time-lapse langit berbintang. Kami harus berjalan kaki ke sana.

Aku ingin membantu membawa sebagian peralatannya, tetapi Ian malah menyembunyikannya di belakang punggung dan tersenyum. “Mana mungkin aku membiarkanmu membawa barang yang berat? Pria yang membiarkan perempuan mengangkat beban berat itu tidak sopan.”

Aku tertegun sejenak.

Saat bersama Arvin, ia selalu melangkah jauh di depan, sementara aku berjalan di belakang sambil membawakan tas dan mengurus segala keperluannya.

Ketika Dion tumbuh besar, ia pun belajar melakukan hal yang sama.

Terkadang Arvin mengejekku, “Barang sekecil itu saja tidak bisa kamu bawa dengan baik? Clara pasti tidak akan seperti ini. Ellen, kamu benar-benar tidak berguna!”

Dion pun menirunya, “Mama memang tidak berguna.”

Memikirkan itu semua membuat mataku terasa panas.

Ian mungkin menyadari suasana hatiku yang memburuk, setelah memasang peralatan kamera dia tiba-tiba berbalik dan berkata, “Kak, lihatlah langit berbintang ini. Baik sedih atau pun bahagia, ia selalu menggantung tinggi di langit malam, memberi kita penghiburan yang tak terbatas.”

“Suatu hari nanti, kita akan terlahir kembali di bawah bintang-bintang.”

Aku mendongak dan melihat hamparan Galaksi yang luas. Kata “terlahir kembali” yang ia ucapkan terus bergema di dalam hatiku.

Meninggalkan Keluarga Winata, Arvin dan Dion, adalah keputusan paling tepat yang kubuat dalam lima belas tahun terakhir.

Saat pikiranku masih bergolak, teleponku tiba-tiba berdering.

Begitu kuangkat, terdengar suara Dion yang bertanya padaku, “Kapan kamu pulang? Tidak ada yang membimbingku mengerjakan PR di rumah.”

“Aku ingin makan masakanmu. Kenapa kamu begitu tidak bertanggung jawab? Cepat pulang dan urus aku!”

Nada bicaranya yang seolah itu sudah sewajarnya seperti percikan api kecil yang dengan mudah menyulut amarah di hatiku.

Aku menurunkan suaraku dan berbicara dengan tegas, “Dion, kamu sudah memilih Sally sebagai ibumu.”

“Aku tidak akan kembali lagi.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Begitu Aku Meninggalkannya, Suamiku dan Anak Kami Menangis   Bab 12

    Sejak hubungan kami diresmikan, Ian malah semakin lengket.Setiap hari ia menarikku pergi memastikan gaun pengantin, atau menyeretku menyiapkan berbagai urusan pernikahan.Hari itu, setelah selesai memesan hotel bersama Ian, kami tak sengaja berpapasan dengan Arvin dan putranya.Cincin safir di tangan Arvin berkilauan di bawah cahaya lampu.Ada perasaan rumit yang mengalir di matanya. Dengan suara serak ia berkata, “Ellen … aku … aku sudah menemukan kembali cincinnya.”“Wanita itu sudah kuusir. Semua barang milik Clara di rumah juga sudah kubersihkan.”“Setelah kamu pergi, aku baru sadar … kamulah cinta sejatiku. Selama ini aku terlalu muak dengan perjodohan keluarga hingga menganggapmu dan Keluarga Winata sebagai beban.”“Sekarang aku mengaku salah. Maafkan aku … maukah kamu pulang bersama kami?”Dion juga mengangkat wajah kecilnya dan meminta maaf kepadaku.“Mama, dulu aku tidak mengerti apa-apa dan tertipu oleh kakak-kakak jahat itu.”“Hanya Mama yang paling baik padaku di dunia ini

  • Begitu Aku Meninggalkannya, Suamiku dan Anak Kami Menangis   Bab 11

    Setelah keluar dari kantor polisi, Ian kembali menjadi dirinya yang lengket seperti biasa. “Istriku, mantan suamimu tadi memukulku dengan sangat keras. Cepat lihat, apa aku masih tampan?”Aku mendekat ingin memeriksa lukanya dengan serius, tetapi ia tiba-tiba menunduk dan mencium ringan bibirku.Aku terkejut.“Ian! Waktu itu kamu bilang pernikahan kita hanya berpura-pura untuk mengambil akta nikah supaya ibumu tenang!”Wajah Ian memerah. Ia menoleh ke sana-kemari, butuh waktu lama sebelum akhirnya berani menatapku. “Aku ... aku hanya ingin segera memastikannya.”“Kakak terlalu hebat. Aku takut suatu hari Arvin tiba-tiba sadar dan datang merebutmu lagi.”“Aku sudah bilang ke ibuku bahwa diriku menukar pernikahan demi kebebasan.”“Kalau sekarang Kakak tidak mau … aku bukan hanya kehilangan istri, tetapi juga kehilangan kebebasan. Kasihan sekali, kan?”Ia mengedipkan mata besarnya sambil terus menarik ujung bajuku dengan manja.Aku kesal sekaligus ingin tertawa, lalu mengacak rambut kerit

  • Begitu Aku Meninggalkannya, Suamiku dan Anak Kami Menangis   Bab 10

    Setelah mendengar perkataanku, Dion langsung menangis terisak sambil mengulurkan tangan ke arahku, seolah ingin membangkitkan rasa iba.Arvin mendecak kesal. Satu tatapan tajam darinya langsung membuat tangisan Dion terhenti.Ia berbalik menatapku dengan serius, berusaha mencari sedikit tanda bahwa aku hanya sedang merajuk.Setelah sekian lama, wajahnya yang semula penuh keyakinan akhirnya terlihat sedikit panik.Dia menanyaiku dengan nada garang yang dibuat-buat, “Kamu pikir aku akan melepaskanmu?”“Ellen, kamu dibesarkan oleh Keluarga Winata. Mati pun kamu harus menjadi arwah Keluarga Winata!”Ia menarik tanganku dan menyeretku keluar dengan langkah besar.Namun baru beberapa langkah, kami sudah dihadang para pengawal Ian.“Direktur Arvin, kalau kamu berani merampas istriku, aku akan melaporkanmu atas penculikan!”“Kamu kira aku tidak mampu melindungi istriku sendiri?”Aku benar-benar linglung.Situasi seperti ini bahkan tak pernah muncul dalam mimpiku.Kukira setelah aku pergi, Arvi

  • Begitu Aku Meninggalkannya, Suamiku dan Anak Kami Menangis   Bab 9

    Suara yang familiar itu membuatku langsung berkeringat dingin.Itu Arvin.Ternyata aku memang tidak salah lihat.Itu benar-benar dirinya dan Dion.Tatapan Arvin yang biasanya dingin kini dipenuhi amarah. Ia membentakku, “Ellen, kamu mau lari ke mana lagi?!”“Kamu pergi begitu saja lebih dari setengah tahun. Pernahkah kamu memikirkanku dan anak kita?”“Kamu itu Nyonya Winata. Tidak bisakah kamu punya sedikit saja sikap dari Keluarga Winata?”Arvin menjadi semakin emosional. Pergelangan tangan yang dicengkeramnya terasa nyeri.Aku hendak mundur untuk melepaskan diri, tetapi tiba-tiba Dion memeluk erat kakiku dengan wajah penuh harap.“Orang yang di foto itu kamu, ya? Mama, kalau dulu kamu secantik itu, mana mungkin aku menyuruh Bibi Sally menjadi ibuku?”“Sekarang kamu ikut aku dan Papa pulang, kami akan memaafkanmu. Kalau tidak .…”Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Ian yang mendengar keributan itu datang dan menariknya menjauh.Ia melirik bekas merah di lenganku, mengepalkan tin

  • Begitu Aku Meninggalkannya, Suamiku dan Anak Kami Menangis   Bab 8

    Pikiranku terasa kosong saat melihat kertas tebal merah yang baru saja kuterima di tanganku.Tadi, setelah mengatakan kalimat itu, Ian langsung menunduk lesu dan memohon padaku, “Ibuku bilang bahwa aku harus menikah sekarang jika ingin mewujudkan mimpi menjadi fotografer.”“Tetapi selain kamu, tidak ada satu pun wanita di sekitarku.”“Sayangnya Kakak tidak bisa langsung bercerai dan aku belum menemukan orang yang bisa membantuku … sekarang aku harus bagaimana?”Ian melemparkan tatapan sendu padaku.Melihat sikapnya, aku tanpa sadar mengatakan bahwa diriku dan Arvin sebenarnya tidak pernah mendaftarkan pernikahan.Mungkin karena kami sudah saling mengenal dan hidup berdampingan selama lima belas tahun. Arvin sudah lama melupakan bahwa selain anak kami, Dion, tidak ada satu pun bukti pernikahan resmi di antara kami.Begitu Ian mengetahui bahwa aku dan Arvin tidak pernah mendaftarkan pernikahan, dia langsung membawaku ke Kantor Catatan Sipil.Dulu aku selalu berpikir, suatu hari nanti fo

  • Begitu Aku Meninggalkannya, Suamiku dan Anak Kami Menangis   Bab 7

    Selama kembali ke Kota Asgard, hari-hariku jauh lebih nyaman dari yang kubayangkan.Tidak ada gangguan media atau urusan perusahaan yang rumit. Juga tak ada satu pun orang dari Keluarga Winata yang meneleponku.Aku dan Keluarga Winata akhirnya menjadi asing.Fokus media kini beralih ke Sally. Aku, Nyonya Winata yang tak kunjung pulang, justru perlahan menghilang dari sorotan mereka.Melihat foto-foto mesra mereka berdua yang terus muncul di berita, tanpa sadar aku tersenyum sinis.Akhirnya aku menyadari satu hal, Arvin tidaklah mencintai Clara sedalam yang selama ini ia perlihatkan.Di foto-foto itu, Arvin membiarkan gadis itu menerjang ke dalam pelukannya di depan umum, merangkul bahunya di tengah keramaian pesta, bahkan dengan sukarela menyerahkan Dion yang sedang merajuk ke pelukan Sally.Pada foto terakhir, Arvin bahkan menunduk dan menyeka saus di sudut bibir gadis itu dengan lembut.Jika cinta seseorang itu tulus, bagaimana mungkin ia bisa begitu mudah berpindah hanya karena waja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status