LOGINTepat pada peringatan sepuluh tahun pernikahan kami, juga bertepatan dengan ulang tahun kesepuluh anakku, aku sudah menyiapkan rencana sejak sebulan sebelumnya. Aku merencanakan perjalanan wisata keluarga bersama suami dan anakku. Namun, menjelang hari keberangkatan, ayah dan anak itu justru menghilang begitu saja. Tinggal aku seorang diri berdiri di jalanan yang diguyur hujan deras, menelepon mereka berulang kali. Di seberang sana, terdengar suara anakku yang masih kekanak-kanakan, dingin dan tak sabar. "Papa lagi temani Tante Brittany makan, kami nggak mau pergi lagi." Telepon itu ditutup dan aku langsung diblokir. Ayah dan anak itu sengaja mengunciku di luar rumah, membuatku kedinginan semalaman penuh. Ditambah dengan hujan deras semalam, malam itu juga aku demam tinggi hingga menderita pneumonia. Sementara ayah dan anak itu justru sibuk berlibur bersama Brittany, bahkan mengambil foto liburan keluarga. Kali ini, aku tahu bahwa pernikahan ini benar-benar telah sampai di ujung jalan.
View MoreThomas mendongakkan kepala. Pakaiannya kusut tak terurus.Di sela jarinya ada sebatang rokok. Asap rokok menutupi hampir seluruh wajahnya, hanya kerut kesedihan di antara alisnya yang tak bisa disamarkan.Setelah tidak bertemu selama beberapa waktu, kedua orang itu sama-sama tampak jauh lebih kurus, seolah satu embusan angin saja bisa menjatuhkan mereka. Aku berpura-pura tidak melihat, berniat langsung melewati mereka."Nancy, akhirnya kamu kembali." Thomas melangkah ke hadapanku, suaranya sarat dengan emosi.Aku malas membuang waktu dan langsung bertanya, "Ada perlu apa?"Dia mengangkat sudut bibirnya sedikit dan tersenyum getir, "Apa benar ... kita sudah sama sekali nggak mungkin lagi?"Aku menatap ke kejauhan dan menjawab dengan datar, "Thomas, kita sudah lama berakhir. Nggak ada kemungkinan apa pun lagi."Orang di hadapanku ini, pernah kucintai dengan seluruh hidupku selama sepuluh tahun. Namun setelah benar-benar melepaskannya sekarang, hatiku sudah terasa begitu tenang. Rasa suka
Dia berlari tergesa-gesa menghampiri kami, berdiri melindungi Thomas di belakangnya, lalu menatapku dengan wajah penuh permusuhan. "Nancy, selama aku masih di sini, jangan harap kamu bisa menindas Thomas!""Aku peringatkan kamu, dasar perempuan matre. Bukankah tujuanmu hanya ingin terus menempel pada Thomas dan nggak mau bercerai? Kita sama-sama perempuan, jangan kira aku nggak tahu apa yang ada di pikiranmu!"Aku sangat paham, dia hanya sedang mengadu domba dan pamer diri seperti biasa. Aku pun mengangkat tangan dengan tidak sabar untuk menghentikannya. "Diam. Aku nggak punya waktu mendengar omong kosongmu."Setelah itu aku hendak pergi, tetapi Brittany belum juga berhenti. Dia malah mencoba menerjang ke depan dan ingin mencengkeramku. Jadi, aku langsung mengangkat tangan untuk menampar wajahnya. Tamparan itu membuatnya terjatuh ke tanah."Kalau kamu ingin mati, silakan saja coba."Merasa dipermalukan, Brittany hendak membalas.Detik berikutnya, terdengar suara tamparan yang sangat ny
Sementara itu, jerih payah kerjaku selama beberapa waktu akhirnya membuahkan hasil. Tidak lama kemudian, laporan akademik baruku berhasil dipublikasikan.Hari itu, dosen pembimbing mengadakan jamuan perayaan. Rekan-rekan kerja bahkan membentangkan spanduk untukku. Suasananya sangat meriah. Aku memeluk bunga yang dikirim oleh Sierra dan Aira, lalu tersenyum dari lubuk hati yang terdalam.Mungkin ini adalah hari paling membahagiakan yang pernah kurasakan selama bertahun-tahun.Setelah acara berakhir, aku keluar dari hotel diiringi kerumunan orang, tubuh dan pikiranku terasa ringan. Tak kusangka, begitu keluar aku melihat Thomas datang bersama Jay. Di tangan mereka juga ada rangkaian bunga.Begitu melihatku, Thomas segera menyongsong ke depan, ekspresinya tampak agak canggung. "Nancy, selamat."Entah bagaimana, Jay juga berkata dengan patuh, "Mama, kamu hebat sekali."Nada bicaranya terdengar begitu alami, seolah-olah kami masih satu keluarga, seolah semua luka itu tidak pernah terjadi. H
Jay menatapku dengan wajah penuh keluhan, lalu membuka mulut dan memanggil, "Mama, aku seharian belum makan, lambungku sangat sakit."Namun aku tetap berdiri di tempat, tidak tergerak sedikit pun. "Mama, bisa nggak kamu memasakkan sup iga dan daging kecap untukku?"Kali ini, aku langsung melewatinya begitu saja, lalu mengeluarkan kunci dan membuka pintu. "Nggak bisa."Melihat sikapku yang begitu tegas, Jay tertegun sejenak, barulah dia menyadari bahwa aku tidak sedang bercanda."Mama, bukankah Mama paling menyayangi Jay? Kamu nggak bisa nggak peduli padaku."Aku tersenyum dan balik bertanya, "Atas dasar apa? Kenapa aku harus mengurusmu?""Jay, aku sudah bukan ibumu. Hak asuhmu ada pada Thomas. Waktu itu juga kamu sendiri yang memilih ikut dengannya dan menyuruhku angkat kaki dari rumah kalian."Jay mulai panik. Dia berdiri dari tanah dan berusaha menarik lenganku. "Mama, meski kamu dan Papa bercerai, kita tetap ibu dan anak kandung. Darah yang mengalir di tubuh kita sama."Benar. Justr
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.