Share

BAB 5

“Mbak Kiran ya? Iiih benar, kan? Masya Allah tambah cantik aja.”

“Numpang parkir ya, Bu.” Kiran tersenyum sopan pada Desi. Wanita itu merapikan motor agar selaras dengan kendaraan lain yang juga sedang parkir di sana. Dia menarik napas panjang saat menoleh ke samping, rumah yang dulu pernah menjadi tempat ternyamannya untuk pulang.

Tempat itu terlihat ramai. Pakaian hitam menjadi penanda bahwa di sana sedang berduka. Bendera kuning berkibar tertiup angin sepoi-sepoi yang sedikit basah. Gerimis kecil membungkus kota itu sejak jam dua tadi.

Sebagian besar pelayat adalah tetangga sekitar sana. Beberapa tamu dikenali oleh Kiran sebagai rekan kerja Haidar kala masih bekerja di salah satu kantor BUMN dulu. Beberapa lagi dia tak tahu, mungkin dari kenalan keluarga Raya.

“Lama tak berjumpa, Mbak.” Desi menepuk pelan pundak Kiran yang sedang termangu menatap keramaian. Dalam balutan busana hitam, para pelayat terlihat muram. Tak ada canda tawa, hanya wajah kelam dan penuh duka yang menggelayut di setiap wajah.

Kiran menarik napas panjang saat merasakan tepukan pelan. “Iya, Bu.” Kiran tersenyum dan menoleh pada Desi. Dulu, mereka cukup dekat. Wanita itu bahkan sudah dia anggap seperti ibunya sendiri. Bahkan, saat dia dan Haidar bercerai tiga tahun lalu, Desi yang selalu menguatkan agar dia tegar menhadapi ujian yang sedang dijalani.

“Kondisi Mbak Raya memang sangat lemah. Setiap akan berangkat, Mas Haidar selalu kemari untuk menitipkan Mbak Raya. Dia minta tolong untuk menengok ke rumah kalian ….”

“Rumah Mas Haidar.” Kiran tersenyum saat memotong ucapan Desi. Rumah itu milik Haidar, mantan suaminya itu sudah mencicilnya sejak mereka belum menikah. Dulu, Kiran yang memproses pengajuan pinjaman Haidar. Dari sanalah mereka menjadi dekat hingga akhirnya cintapun melekat.

“Ah iya, maaf ya, Mbak Kiran. Ibu selalu ingat kalau itu rumah kalian.” Desi tersenyum tipis mendengar helaan napas Kiran. Wanita itu paham, berat bagi mantan tetangganya itu menginjakkan kaki kembali ke sini.

“Ibu pernah bertanya, kenapa tidak mencari asisten rumah tangga saja? Bukan karena Ibu keberatan dititipi Raya, tapi Ibu paham kalau Mas Haidar mulai sungkan setiap hari menitipkan istrinya.” Desi melambaikan tangan pada Yuli, tetangga yang hanya berkelang tiga rumah. Wanita itu mendekat untuk mengajak berbarengan melayat.

“Seperti yang sudah Ibu duga, jawaban Mas Haidar adalah Mbak Raya tidak mau. Mbak Raya ingin mengerjakan semua pekerjaan rumah semampunya. Terlebih lagi, Mbak Raya paham sekali Mas Haidar tidak suka ada orang asing di rumah mereka. Yaa alasan yang sama seperti dulu Mbak Kiran ceritakan. Sepertinya Mbak Raya berusaha keras agar bisa mengisi kekosongan hati Mas Haidar setelah bercerai dari Mbak Kiran. Dari setiap obrolan kami, Ibu dapat menilai dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi istri yang baik.”

Kiran tersenyum tipis mendengar cerita Desi. Dia tahu, Raya memang sebaik itu. Dulu, wanita itu bahkan tidak pernah menuntut apapun saat mereka masih menjadi madu. Bahkan, sebulan pertama pernikahannya dengan Haidar, Raya tidak sedikitpun merengek karena Haidar mengabaikannya.

Sebulan pertama Haidar tidak pernah mengindahkan Raya. Jangankan berbagi malam, bertemu di luar saja dia seakan tak pernah kenal. Ah … serumit itu kisah yang mereka jalani dulu.

“Loh? Mbak Kiran!” Yuli memekik tertahan. “Masya Allah, makin cantik iiih.”

Kiran tertawa kecil sambil menyambut pelukan Yuli. Dulu, dia memang cukup dekat dengan tetangga perumahan ini. Setelah keluar dari tempat kerja, Kiran mengisi hari dengan berbaur dan mengikuti kegiatan Ibu-ibu di sana agar tidak bosan selama menunggu Haidar pulang kerja.

“Ayo kita rumah duka, sepertinya sudah akan berangkat ke pemakaman.”

Kiran menggigit bibir menyadari Raya benar-benar telah tiada. Dari sini, dia bisa melihat dengan jelas keranda yang sudah disiapkan untuk membawa mantan madunya itu ke tempat peristirahatan terakhir.

Mata Kiran mengembun. Mendadak semua kenangan masa lalu memenuhi ruang pikirannya. Melihat rumah itu kembali, seakan membawanya tersesat ke ruang memori. Bahkan dari posisinya berdiri saat ini, Kiran bisa melihat bunga mawar merah yang sedang mekar di halaman rumah itu.

Ah … Raya benar-benar tak mengubah seditpun semua yang ada di sana. Bukan hanya mawar, tanaman hias lainnya pun tak berubah letaknya sejak dia pergi tiga tahun lalu. Kiran menyukai tanaman hias. Dia jugalah yang menata taman dan setiap detil yang ada di sana.

Sama.

Tak ada yang berbeda.

Mawar merah di pojok dekat pagar. Kembang anting-anting (Fuschia) tergantung di atap depan, berderet 3 pot dalam posisi sejajar, menjuntai manis memamerkan mahkota bunga yang berwarna putih berpadu dengan kelopak merah. Pohon cemara di … Ah … tak ada yang berubah. Raya sempurna merawat semua agar tetap seperti sedia kala.

“Mbak Kiran? Mau kesana?” Desi menoleh ke belakang saat menyadari wanita itu tak bergeming dari tempatnya.

“Duluan saja, Bu, ada yang harus saya selesaikan dulu.” Kiran menjawab pelan. Dia masih harus menguatkan hati untuk menginjak rumah itu kembali. Terlebih, di dalam sana ada Raya yang terbaring dalam damai. Kalau bukan atas permintaan Raya waktu itu, dia tidak akan pernah datang kemari.

“Assalamualaikum, Mbak Kiran sehat? Mbak, Raya hamil lagi. Alhamdulillah. Sesekali, mainlah kemari. Raya rindu sekali mengobrol dengan Mbak Kiran ….” Kiran menunduk. Dia tak sanggup mengingat pesan yang Raya kirim minggu lalu. Pesan yang sengaja dia abaikan.

Tak disangka, umur Raya ternyata tidak panjang. Andai mau peka, mungkin saja pesan itu bisa menjadi pertanda. Namun, Kiran masih sibuk membalut luka. Jangankan bertamu dan bertemu dengan Raya, mengingat nama wanita itupun masih menyisakan sebak di dada.

“Bareng saja, Mbak Kiran, justru akan terasa lebih berat kalau datang sendiri.” Yuli tersenyum. Dia paham perasaan mantan tetangganya itu. Dulu, dia menjadi saksi betapa harmonisnya pernikahan Kiran dan Haidar walau belum dikaruniai buah hati. Bahkan, pasangan itu selalu menjadi simbol keindahan cinta di perumahan mereka.

Kiran yang tinggi semampai, berkulit putih dengan hidung mancung dan wajah sehalus porselen sangat serasi berdampingan dengan Haidar yang berbadan tegap dan gagah seperti anggota TNI. Kalau sedang bersama, setiap mata akan setuju simbol keindahan adalah mereka.

“Terima kasih, Bu.” Kiran akhirnya melangkah pelan mengiringi Desi dan Yuli.

“Bukan apa-apa.” Yuli mengelus punggung Kiran. Sungguh, dia yang bukan siapa-siapa pun miris dengan kisah cinta Kiran, Haidar dan Raya.

Bacaan surah yasin memenuhi pendengaran saat mereka mulai memasuki gerbang. Kiran mengepalkan tangan saat melihat satu sosok terbaring di dalam sana. Kain panjang dengan corak batik mega mendung menutupi jasad itu.

“Kiran?”

Kiran membeku saat satu suara yang sangat dia kenal menyapa. Dia tak menyangka Haidar duduk di dekat pintu depan sehingga mereka langsung berhadapan. Tadinya dia pikir lelaki itu akan duduk di dalam sana, ikut membacakan surah yasin di samping jasad Raya.

Semua mata sontak memandang ke arahnya. Dia sempurna menjadi pusat perhatian.

Sesak.

Kiran sesak menyadari semua yang ada di tempat ini tak berubah sedikitpun sejak dia pergi. Bahkan, sandal yang biasa dia gunakan untuk merawat taman masih tersimpan rapi di tempatnya.

“Kiran …. ”

Tangis pecah di rumah itu saat Ratna sambil menahan isak mendekati mantan istri anaknya. Dia menuntun Kiran untuk duduk di samping jasad Raya. Setetes air mata yang sejak tadi Kiran tahan akhirnya terjatuh saat kain penutup wajah mantan madunya dibuka.

“Raya,” ucapnya lirih.

Ruangan itu sempurna membisu saat tangan gemetar Kiran mengelus wajah Raya. lalu, sekejap kemudian isakan memenuhi ruangan. Seperti ada yang melecut hati setiap orang, mendadak rasa perih memenuhi rongga dada.

Mereka mengenal Kiran dengan baik. Mereka pun tahu banyak tentang Raya. Sungguh, kalau harus memilih siapa yang paling terluka di antara semua, mereka tak bisa menjawabnya. Kiran, Haidar dan Raya menyimpan luka dan duka dengan porsi mereka sendiri. Mereka terjebak dalam sakit hati yang tak satupun bisa mengobati.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Nur Janah
ya tau mau komen apa KK, ikut nangis
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status