Share

BAB 4

Haidar memeluk lutut. Mendadak tubuhnya menggigil kencang. Dia menggigit bibir hingga terasa asin. Pernikahannya dengan Kiran berakhir di tahun ke empat. Akankah dia kembali kehilangan istri? Apakah Raya benar-benar akan meninggalkannya juga di tahun keempat pernikahan mereka?

“Haidar! Astagfirullahaladzim, Naaaaak.” Ratna berlari ke dalam dan langsung menuntun anaknya Haidar. Dia sempat menoleh pada dokter dan perawat yang langsung menyiapkan tindakan untuk Raya.

Di luar, Haidar membisu. Tatapan matanya kosong. Dia tidak memperdulikan sedikitpun gerakan gelisah sang Ayah yang berjalan mondar-mandir ke sana kemari. Sementara ibunya sejak tadi terus mengelus punggungnya untuk memberikan ketenangan.

Haidar menyugar rambut dengan kasar. Perasaannya campur aduk. Baru saja dia mendengar kabar anak mereka telah tiada, kini dia harus menghadapi kenyataan Raya sedang bertarung dengan maut di dalam sana.

Gelap.

Mendadak pandangan Haidar menjadi hitam kelam. Telinganya berdenging seakan berada di ruang hampa suara. Sedetik berlalu, dia tenggelam dalam ruang pekat yang menyesakkan.

Jauh.

Di ujung sana, jauh dari jangkauannya, Haidar melihat setitik cahaya perlahan bersinar memenuhi sekitar. Lelaki itu tertatih berdiri. Dengan langkah diseret, dia memaksakan kaki agar bisa sampai di tempat terang bermandikan cahaya.

“Perampingan karyawan, Bu. Sudah dua tahun ini produktivitas perusahaan mengalami kemunduran.” Hakim duduk bersandar sambil memejamkan mata. Sementara Ratna merapikan sepatu kerja suaminya dan bergegas melangkah ke belakang. Dia kembali ke ruang tamu sambil membawa segelas teh hangat.

“Yang diambil hanya karyawan-karyawan muda yang semangat kerjanya masih menggebu, tapi bayarannya tidak terlalu besar karena masa kerja yang masih terhitung baru.” Hakim memijat kening. Lelaki itu melirik jam di dinding, sesiang ini dia sudah berada di rumah.

“Semua rekan yang seangkatan Ayah kena perampingan?” Ratna memijat bahu suaminya. Dia paham sekali bagaimana gundahnya perasaan lelaki yang sudah menemani lebih dari setengah hidupnya itu.

“Hampir, hanya beberapa orang yang dipertahankan karena memang posisinya cukup krusial di perusahaan.” Hakim menyesap teh hangat buatan istrinya. Manis dan pahit bersatu di dalam lidahnya. Rasa hangat mengalir dari mulut terus melewati tenggorokan. Sensasi yang memberikan ketenangan tersendiri bagi lelaki itu.

“Ini pesangon dari perusahaan, Bu. tiga bulan gaji.” Hakim memberikan amplop coklat yang cukup tebal pada istrinya. “Sementara, kita bisa gunakan uang itu untuk membayar cicilan pinjaman.”

Di sini, Haidar terpaku melihat wajah kedua orang yang sangat dia kasihi itu muram. Ratna bahkan setengah menangis saat mengambil amplop dari suaminya. Entah bagaimana, dia mendadak terlempar ke masa beberapa tahun lalu. Suatu waktu saat kedua orangtuanya berada di titik terendah hidup mereka.

“Doakan Ayah bisa segera mendapatkan pintu rezeki yang baru, Bu.” Hakim menarik napas panjang.

“Ibu tidak mau kita kehilangan rumah ini, Yah. Tempat ini saksi bisu perjuangan kita. Mulai dari hanya ruang sepetak dengan kamar mandi menumpang di toilet mushola, sampai akhirnya sekarang sudah lengkap dengan tiga kamar, dapur dan kamar mandi sendiri.” Bahu Ratna bergetar.

“Tidak akan, Bu. Ayah janji rumah kita tidak akan disita Bank.”

Haidar memejamkan mata melihat kepiluan dan ketakutan orangtuanya di depan sana. Dia tahu ayahnya meminjam uang di Bank dengan rumah mereka sebagai jaminan. Uang itu digunakan untuk biaya masuk kuliah adiknya. Sisanya, Ratna menggunakan uang itu untuk modal berjualan kecil-kecilan di depan rumah mereka.

“In syaa Allah semua akan ada jalannya, Bu. Simpan saja masalah ini untuk kita berdua. Jangan sampai anak-anak tahu. Ayah takut bisa mempengaruhi pelajaran Risti. Ayah juga tidak mau menyusahkan Haidar, tanggungannya pun saat ini sudah besar.”

Haidar menggigit bibir. Ayahnya benar. Kalaupun orangtuanya bercerita, dia tidak dapat membantu banyak. Saat itu dia juga masih mencicil KPR rumah yang dia tempati bersama Kiran.

Selain itu, dia dan Kiran juga sedang berikhtiar melakukan program kehamilan. Memasuki tiga setengah tahun pernikahan, mereka berharap bisa segera mendapatkan keturunan. Biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Entah berapa yang sudah mereka keluarkan untuk kontrol setiap bulannya, Haidar tak pernah menghitung. Bahkan, tabungan Kiran semasa bekerja dulupun habis terpakai.

Segala cara sudah mereka lakukan. Hanya program bayi tabung yang belum dilakukan. Besarnya biaya yang dibutuhkan membuat cara itu sulit untuk mereka tempuh. Perlahan kesadaran Haidar datang. Inilah awal kemelut dalam hidupnya.

Andai ayahnya tidak dipecat, mungkin dia tidak akan menikah dengan Raya. Mungkin saat ini dia masih hidup rukun bersama Kiran dan Raya tidak akan terbujur bertaruh nyawa karena memaksa mengandung anaknya.

Ah … Raya? Haidar tersentak. Seperti ada terowongan besar yang menyedot tubuhnya hingga dia tertarik dari sekitar Hakim dan Ratna. Haidar terus berputar hingga dia merasa dihempaskan dengan kencang kembali ke badannya yang sedang terduduk dengan kepala menunduk sambil memeluk lutut di depan ruang rawat istrinya.

Dia mengangkat kepala dan melihat ayahnya berdiri di depan pintu sambil meremas tangan. Kekhawatiran terlihat jelas dari wajah yang mulai keriput itu. Sementara ibunya masih mengelus punggungnya.

Tak ada yang berubah.

Semua masih sama seperti saat dia belum terlempar ke dalam dimensi ruang masa lalu tadi. Bahkan, sepertinya kondisi Raya pun masih sama. Tenaga kesehatan masih berjuang keras di dalam sana untuk memulihkan kondisi Raya yang tadi kritis.

“Keluarga Ibu Raya?”

Hakim yang berdiri tepat di depan pintu langsung mendekat. Sementara Haidar langsung berjalan dengan dada berdegup kencang. Pandangan matanya bertemu dengan mata ayahnya. Tatapan yang berisi berjuta harap dan kekhawatiran yang saling berkelindan.

“Bagaimana, Dok?” Ratna bertanya dengan suara bergetar.

“Mohon maaf, Pak, Bu, kami sudah berusaha sebaik mungkin. Namun, kondisi Ibu Raya memang sudah sangat lemah sejak awal. Dia kehilangan banyak darah dalam perjalanan kemari.”

“APA MAKSUD DOKTER?!”

“Haidar!” Hakim langsung merangkul anaknya. Untuk pertama kali dalam tiga puluh tahun dia melihat Haidar berbicara dengan nada tinggi.

“MASUK DAN BANGUNKAN RAYA! BUKANKAH ANDA SUDAH BERSUMPAH AKAN MEMBANTU SETIAP MANUSIA? KENAPA ANDA MEMBIARKAN ISTRIKU PERGI BEGITU SAJA?"

"Haidar …." Ratna memeluk pinggang anaknya. Baju bagian dada haidar basah terkena air mata ibunya.

"Dokter, tolong, tolong coba kembali. Tolong …." Haidar memohon. Tenaganya mendadak terasa habis. Badannya lemas. Sungguh, dia baru merasakan ternyata sesakit ini kehilangan seseorang yang selama ini tak pernah dia anggap ada.

"Tolong, Dok, tolong …." Ketakutan itu mengungkung Haidar. Pikirannya kalut. Akankah dia mampu melanjutkan hidup tanpa Raya? Kenapa dunia mendadak terasa hampa padahal selama ini di hatinya tak pernah ada cinta untuk Raya.

"Maaf …." Lelaki yang menggunakan jas putih dan kacamata itu menggeleng. Setelah berpamitan, dia melangkah pergi meninggalkan Haidar dan kedua orangtuanya yang tenggelam dalam lautan duka.

"Sabar … sabar …." Terbata Hakim berkata. Dia merengkuh Haidar dan memeluknya kencang. Berkali-kali lelaki itu menciumi kepala anaknya yang menangis tanpa suara.

Haidar terguncang.

Tepat di tahun keempat pernikahannya dengan Raya, sang istri pergi untuk selamanya. Raya pergi dengan membawa sebongkah hati yang layu dan mati karena tak pernah mendapat siraman cinta dari sang suami.

Haidar tergugu. Perasaan bersalah menyesaki rongga dadanya.

Sakit.

Perih.

Nyeri.

Campur aduk dia rasa saat membayangkan perasaan Raya. Istrinya tersiksa hingga embusan napas terakhir karena mendamba cinta yang tak pernah berpihak padanya.

Yang paling memilukan, Haidar bahkan tak diberi kesempatan untuk mengucapkan maaf pada istri yang tak pernah dicintainya.

Komen (2)
goodnovel comment avatar
Nur Janah
kenapa karna ayah Haidar di pecat, dia nikah sama Raya, apa untuk balas budi
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
balasan yg sempurna krn tujuan awal hanya harta. g usah sik2 an kehilangan tapi masih mengaku cinta yg utuh tetap utk kiran. laki2 g jelas hanya punya nafsu harta dan selangkangan.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status