Войти"Tuan… Tuan Muda Ender…"
Napas pengawal itu terengah, jelas dia berlari tanpa henti. "Tuan muda ditemukan." "Di mana dia?" suara Yildiz terdengar lebih rendah, namun jauh lebih berbahaya. "Di lantai dua, Tuan." Yildiz mengernyit. Tanpa menunggu lebih lama, Yildiz langsung melangkah cepat. Elin mengikutinya di samping, sementara beberapa pengawal segera menyusul dari belakang. Langkah mereka menggema di lorong kapal yang panjang. Sementara itu. Di dalam kamar. Keheningan masih menyelimuti. Namun perlahan, sesuatu berubah. Ender mengernyit samar. Seperti ada sesuatu mengganggu tidurnya. Alisnya bertaut, napasnya sedikit berubah. Tubuhnya yang semula benar-benar rileks kini mulai tegang tanpa sadar. Beberapa detik berlalu. Lalu matanya terbuka. Pandangan pertama yang ia lihat hanyalah langit-langit kamar. Kosong dan asing. Ender tidak langsung bergerak. Ia hanya menatap, mencoba mengumpulkan kesadaran yang terasa berat dan kacau. Kepalanya berdenyut sedikit. Ender tidak merasa bahwa dia minum terlalu banyak semalam. Dia mengangkat satu tangannya, menekan pelipisnya pelan. Ada yang tidak beres. Ingatan terakhirnya, terpotong dan kabur. Perlahan, ia mencoba bangkit. Namun saat tubuhnya bergerak sedikit. ia merasakan sesuatu yang hangat di dekatnya. Yang otomatis membuat gerakan Ender langsung terhenti. Matanya turun perlahan dan di sanalah, seorang wanita berambut hitam dan pendek. Tertidur lelap, sangat dekat dengannya. Tidak, ini sangat sangat dekat. Hanya jarak beberapa jengkal, maka wajah mereka bertemu. Namun_ Dilihat dari segi mana pun, wanita inu bukan tipenya. Jadi tidak mungkin ia membawa wanita ini semalam ke ranjang nya. Kecuali seseorang sedang menjebak nya atau_ wanita ini yang melakukan. Tatapan Ender langsung berubah dingin dan tajam. Siapapun tidak akan lepas darinya, meski dia adalah wanita. Berani bermain dengannya, maka harus berani menerima konsekuensinya. Di luar kamar, langkah kaki semakin mendekat. Yildiz berhenti tepat di depan sebuah pintu kamar. Tatapannya mengeras. Ender memperhatikan wajah Kara. Beberapa helai rambut menutupi sebagian wajah Kara, membuat pandangan Ender sedikit terganggu. Dan tanpa disadarinya, waktu berlalu perlahan, namun tatapannya masih terpaku pada wajah Kara. "Tidak... Jangan pergi..." Kara bergerak, mengigau dalam tidurnya. Ender tersentak dan segera mengerjap menyadarkan dirinya. Ia bergerak mau bangkit turun dari ranjang, namun di saat itu. Kara yang lagi lagi mengigau, menarik dan memeluk Ender dari samping. "Tidak, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku_ Rian..." satu tetes air mata terlihat menetes di sudut mata Kara. Ender perlahan menoleh, menatap Kara di sampingnya. Kali ini, helaian rambut yang menutupi wajah Kara benar benar mengganggu pandangannya. Dengan hati hati, Ender mengangkat tangannya dan menyingkirkan helaian rambut itu ke belakang telinga Kara. Sehingga memperlihatkan wajah Kara tanpa terhalangi. Ada sesuatu yang terasa di dada Ender, sesuatu yang tidak ia mengerti. "Jangan tinggalin aku_hiks... Ku mohon..." kali ini Kara benar benar menangis. Air matanya mengalir membasahi bantal di bawah kepalanya. Tangan Kara mencengkeram erat tubuh Ender. Jari jarinya menekan hangat kulit pria itu seakan takut kehilangan. Ender terdiam. Sentuhan itu terasa begitu jelas tanpa penghalang apa pun. Membuatnya sedikit menegang. Meski wanita ini bukan tipenya, tetap saja_ia seorang pria yang normal. Ender perlahan mengangkat satu tangannya, mengelus lembut pipi Kara. Di saat itulah Kara terbangun. Namun ia tidak membuka matanya. Ia sadar sepenuhnya akan apa yang sedang terjadi, tapi memilih tetap diam. Rencananya kini sudah kacau. Tiba tiba dari luar kamar mereka. Terdengar suara beberapa orang berbicara. Kara segera menangkap kesempatan itu. Tanpa membuka mata, ia mengatur napasnya seolah masih terlelap. Perlahan, Kara membuka mata dan seketika pandangan keduanya bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Hanya tatapan yang saling mengunci, seolah waktu ikut terhenti. Kara menahan napasnya, ia perlahan mendekat. Dan tanpa memberi kesempatan Ender untuk bereaksi, Kara langsung mengecup bibir Ender. Ender mematung, tubuhnya menegang, pikirannya kosong. Dengan kesadaran penuh, Ender memejamkan kedua matanya menikmati sentuhan bibir Kara. Sentuhan yang cukup membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Perasaan asing yang muncul di dadanya, bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Detik selanjutnya, Ender perlahan membalas ciuman itu. Ciuman yang awalnya pelan dan lembut, lalu berubah menjadi dalam dan menuntut. Tanpa memutuskan ciuman itu. Ender mendorong Kara dengan lembut hingga tubuh Kara kembali terbaring. Ender menahan tubuhnya di atas Kara, bertumpu pada kedua tangannya agar tidak sepenuhnya menindih Kara. Jarak di antara keduanya tetap begitu dekat, nyaris tanpa celah. Tangan Kara terangkat, melingkar di pundak Ender. Seolah mengizinkan Ender berada di atasnya, menahan Ender agar tidak menjauh. Jari jari Kara mencengkeram pelan, di saat ciuman Ender semakin panas dan menuntut. Ender sempat berhenti sesaat, merasakan respon itu. Namun alih alih mundur, ia justru semakin gila. Di luar kamar. Zara sudah hadir di sana. Dia mendengar kericuhan di ballroom dan langsung kemari. "Kamu yakin Ender di dalam?" tanya Yildiz masih ragu. "Ya, Tuan. Kami sudah memastikan." Yildiz kembali menatap pintu di depannya. Pintu yang sudah dia buka dari luar, menggunakan kunci cadangan. Lalu tanpa ketukan, tanpa ada peringatan. Brak_ Pintu terbuka. Dan dalam satu detik. Semua yang ada di dalam kamar itu terlihat jelas. Ender berada di atas Kara, tubuh mereka begitu dekat tanpa jarak. Kara terbaring di bawahnya, kedua tangannya melingkar di pundak Ender. Keduanya masih saling berciuman, tanpa menyadari apa yang sedang terjadi di sekitar mereka. Zara membeku. Elin pun sama. Semua yang berada di sana terdiam, terpaku pada pemandangan di hadapan mereka. Keheningan langsung menyelimuti ruangan itu, seolah waktu berhenti di tempat. Tatapan demi tatapan berubah menjadi keterkejutan."Hentikan Zara, sampai kapan kamu akan mengamuk begini?" Seru mama Zara begitu masuk ke kamar Zara dan melihat semua furnitur kamar sudah berantakan tidak berbentuk dan serapi tadi lagi, saat pertama mereka tempati. Zara menghentikan dirinya dan diam. Nafasnya terlihat naik turun karna kemarahannya kepada Kara, sepupunya sialan nya. "Lalu apa yang bisa Zara lakukan selain ini? Dan bisakah mama dan papa lakukan sesuatu juga? untuk pernikahan ku dan Ender tidak batal. Tidak bisakan? Iya kan?" Teriak Zara sembari berjalan mendekat dan berdiri di hadapan papa dan mamanya. Terlihat papa Zara yang menarik nafas. Namun terlihat jelas di wajahnya akan tidak peduli dengan apa yang terjadi. Lagian, seperti Mr. Yildiz katakan. Kerja sama mereka tetap terjalin. Dari awal niat dan rencana mereka adalah menjalin kerja sama. Di mana banyak perusahaan pemasok makanan sulit bekerja sama dengan mereka. Dan ia beruntung mendapatkan kesempatan ini. "Hentikan Zara! Apa kamu sudah gila?!... L
Di kamar yang luasnya hampir tiga kali lipat dari kamar Kara di lantai bawah, suasana terasa kontras. Di satu sisi, ketenangan. Terlihat Kara, yang tertidur lelap di atas ranjang besar yang diselimuti pencahayaan redup. Napasnya perlahan dan teratur, wajahnya terlihat lebih tenang dibandingkan saat terjaga. Di sisi lain, sesuatu yang tak pernah benar-benar diam. Ender berdiri di balkon suatu kamar yang menghadap langsung ke lautan gelap. Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan tirai tipis di belakangnya. Di sampingnya, ada Refat yang berdiri dengan sikap tenang, namun tatapannya serius. Menandakan percakapan mereka bukan hal sepele. "Semua sudah berjalan sesuai rencana mu," ujar Refat pelan menoleh melihat Ender, yang berdiri di sisi kanannya. Ender kini berada di balkon kamar Refat. Kepalanya sedikit mendongak, menatap ke lantai atas, ke arah kamarnya sendiri. Di sana, seseorang tengah terlelap dalam dunianya. Setelah aktivitas panjangnya bersama Kara. Ia keluar kamar, set
"Aah… aah… aaah…" desahan Kara terlepas, seiring tubuhnya yang naik turun di atas Ender."Ugh… Kara… hhh…" balas Ender dengan napas memburu, menikmati setiap gerakan yang diberikan Kara.Keduanya sudah terhanyut dalam permainan itu sejak beberapa jam lalu. Ronde demi ronde berlalu tanpa benar-benar memberi rasa puas, terutama bagi Ender, yang seakan tak pernah cukup menginginkan Kara.Ender bangkit duduk. Kedua tangannya bergerak masuk ke balik lingerie hitam yang dikenakan Kara, meremas dua benda kenyal dengan penuh hasrat. Sentuhan itu memancing lebih banyak desahan, bahkan pekikan kecil yang lolos dari bibir Kara.Gerakan Kara teratur, berirama, dan penuh kendali, membuat Ender semakin kehilangan akal sehatnya.Bibir Ender tak tinggal diam. Ia mencium, bahkan menjilat tengkuk dan leher Kara, menikmati setiap sensasi yang datang bertubi-tubi menghantam dirinya.Sebenarnya, Ender ingin membalik keadaan. Menurunkan Kara dan menindihnya, mengambil alih kendali, lalu melampiaskan hasrat
Kara sudah menyelesaikan beberapa hidangan, termasuk salad. Terlihat dari dia sudah menghidangkan nya dengan rapi, di meja makan khusus chef di dapur itu. Ender berdiri di belakang Kara, bersandar di wastafel. Kedua matanya melihat setiap gerakan Kara. Ia mendekat, berdiri di samping Kara. Saat melihat Kara kembali membuat hidangan yang baru. "Kamu sudah membuat banyak," suara Ender pelan dan lembut saat bertanya. Kara sekilas melihat Ender sembari mengaduk masakannya. "Aku lapar dan aku akan menghabiskan semuanya." Jawab Kara dengan senyum bahagia di wajahnya. Melihat wajah Kara yang bahagia, seperti nya bukan untuk nya. Melainkan untuk makanan. Ia segera memeluk Kara dari belakang dan berujar sensual. "Kelelahan tadi membuat mu lapar hm?" Godanya sembari menambah jejak nya di ceruk leher Kara. Kara sama sekali tidak terganggu, dia hanya bergerak sedikit karna geli. "Aku melewatkan sarapan ku, dan ya... Seseorang semakin menambahkannya. Jadi bagaimana aku tidak lapar?"
Aku ada di lantai bawah, di dapur... Jika kamu mencari ku. Tanpa Ender sadari. Sedikit ujung bibirnya tertarik membentuk senyum tipis. Entah kenapa, ia senang dan bahagia hanya karna secarik kertas ini.. Tanpa mengulur waktu. Ender meremas kertas di tangannya, melempar asal dan berjalan keluar dari kamar. Ia tidak lupa mengunci kembali pintu kamar. Sekarang kamar itu sudah menjadi kamarnya dan Kara. Sampai di lantai bawah, dapur. Terlihat banyak orang di sana, baik pria maupun wanita dan umur wanita di sana sekitar 40 an ke atas. Mereka semua sibuk dengan pekerjaan mereka masing. Ada yang sedang menyiapkan bahan, ada yang sedang menyimpan barang dengan saling oper dan ada yang sedang menurunkan barang dari lift barang. Ender mengitari pandangan nya. Mencari sosok yang meninggalkan secarik kertas untuk nya. Langkahnya berhenti karna terhalangi oleh beberapa pria yang sedang meng oper barang. Saat Ender mau berbalik, mau mengambil jalan lain. Seorang wanita bersuara m
Tempat yang Ender datangin, berada di bagian bawah kapal. Jauh dari area penumpang. Sempit. Dingin dan minim cahaya. Beberapa pria berjas hitam, anak buah Ender segera menyapa Ender dan membungkuk hormat. Pintu terbuka. Tiga orang pria terlihat duduk terpisah, masing-masing dalam kondisi tertekan. Wajah-wajah mereka menunjukkan ketakutan yang berusaha disembunyikan, tapi gagal. Ender masuk bersama Refat dan satu pria lain, yang sedari tadi menginterogasi mereka. Langkah Ender tenang, tapi kehadirannya langsung mengubah udara di ruangan itu. Seolah suhu turun beberapa derajat hanya karena ia ada di sana. Tidak ada yang berani berbicara. Ender berhenti di tengah ruangan, menyapu keempat orang itu dengan tatapan tajam. Ia tidak terburu-buru. Justru menikmati detik-detik di mana tekanan mulai bekerja tanpa perlu kata-kata. Satu per satu. Ender menatap mereka. Tatapannya berhenti pada wanita, yang di maksud Refat_Waitress. Wanita itu duduk tegak, kedua tangan terikat di
"Ah, mommy?!" Panggil Ender ke Ayse yang menerobos masuk ke dalam kamar. Ia kembali melihat Refat dan berucap. "Tunggu di sini,"Blam,Dan pintu tertutup.Dan ya, Refat menunggu dengah patuh. Ia tadinya mau membuka mulut dan bertanya serta mendengar langsung dari mulut Ender. Tapi belum juga suaranya k
Brakh,Brakh,Brakh,Ender dan Kara serempak melihat ke arah pintu yang tertutupi dinding pembatas ranjang. Ender yang baru melempar tubuhnya ke samping Kara. Dan Kara yang posisinya membelakangi Ender. Keduanya sontak setengah bangun melihat ke pintu. Kara melihat ke Ender begitu juga sebaliknya. Lela
Suara high heels dan juga beberapa sepatu beradu dengan lantai marmer. Saat suara langkah kaki bergema di setiap lantai dan koridor yang mereka lewati. Javier, Ayse dan beberapa pengawal nya. Javier mendapatkan berita dari bawahan nya. Kalau mereka sudah menemukan keberadaan Ender. Dan lebih mengeju
Kamar itu sunyi, hanya diterangi cahaya lampu yang remang. Tidak bisa dikatakan kecil, tapi juga tidak sepenuhnya besar. Ruangan itu cukup luas, cukup untuk menampung banyak orang jika berdiri berhimpitan. Sebuah kamar standar, namun tetap terasa lega. Dari luar, suara deburan ombak menghanta







