Share

Bencana Termanis
Bencana Termanis
Penulis: Miss Sena

Pengganti

“Aku tidak mau menikah!”

“Tapi kamu harus mau, Ivana. Papa tidak bisa membiarkan keluarga kita malu di depan tuan dan nyonya Narendra!” tegas Yuda pada putrinya. 

“Tapi ... kenapa harus aku?” tanya Ivana dengan suara lirih. Mata gadis itu terlihat sayu. 

Yuda menghela napas lelah. Sebenarnya, ia pun enggan untuk mengorbankan sang buah hati. Di sisi lain, janji tetaplah janji, ia tidak bisa mengingkari begitu saja. 

“Memang siapa lagi kalau bukan kamu?”

Ivana terdiam, apa yang dikatakan Yuda memang benar. Tidak ada orang lain yang bisa menggantikan posisi tersebut. Seharusnya sang kakak—Renata—yang harus menikah. Namun, gadis itu melarikan diri sejak dua hari yang lalu. Sedangkan rencana pernikahan itu ada atas usulan keluarga Narendra dengan dalih memperkuat koneksi bisnis. 

Keluarga Adhitama tentu tidak menolak niat baik tersebut. Terlebih, putri sulungnya—Renata—belum pernah memperkenalkan seseorang sebagai pasangan. Namun, siapa sangka perjodohan itu justru berimbas pada putri bungsu mereka. 

“Kenapa Papa tidak mencoba menjelaskan pada keluarga Narendra? Dengan begitu aku tidak perlu menggantikan kak Renata,” usul Ivana. Ia masih berusaha membujuk Yuda untuk membatalkan pernikahan. 

“Tidak semudah itu, Nak,” ujar Windy—mama Ivana—dari ambang pintu kamar putrinya. Wanita paruh baya dengan sanggul dikepalanya itu melenggang masuk ke kamar Ivana. Ia berdiri di sisi kasur tempat putrinya duduk, tangannya terulur untuk mengelus surai Ivana. 

Ivana mendongak, menatap mamanya dengan penuh tanya. Bukankah menjelaskan keadaan yang sebenarnya lebih baik daripada berbohong? 

“Begini, Sayang. Kamu tahu, kan, keluarga Narendra termasuk terpandang, sejajarlah sama keluarga kita, Adhitama. Undangan sudah disebar ke berbagai penjuru. Kolega bisnis, teman, kerabat, bahkan media pun tahu berita pernikahan putra keluarga Narendra dan Adhitama. Coba kamu pikir, bagaimana jika tiba-tiba ada pemberitaan pembatalan pernikahan? Tentu kedua belah pihak akan dirugikan, Sayang,” jelas Windy pada putrinya. 

Pikiran Ivana berkecamuk, apa yang harus ia lakukan. Antara menuruti kemauan orang tua atau egonya. Demi Tuhan, ia hanyalah gadis berusia 21 tahun, masih ingin menikmati masa muda, bukan ingin menjadi mama muda. 

“Seharusnya Mama dan Papa takut keluarga Narendra menuntut kalian jika ketahuan berbohong, bukan malah memaksaku untuk menikahi putra mereka,” kelakar Ivana dengan menatap kedua orang tuanya bergantian. Rupanya gadis itu masih berusaha meloloskan diri. 

“Jangan mengelak!” tegas Yuda. Ia tahu putrinya hanya beralasan. 

Baru kali ini seumur hidup Ivana merasakan kecewa pada kakak dan orang tuanya. Sebagai putri bungsu keluarga terpandang, ia bukan tipe gadis menye-menye yang menuntut untuk selalu dimanja. Tapi bukan berarti ia tidak berprinsip. Apalagi menikah bukan hal yang sepele. 

“Sudah, sekarang kamu pikirkan dulu, Sayang. Sudah hampir malam, kamu mandi dan renungkan. Setelah makan malam kita bicarakan lagi,” ujar Windy. Wanita paruh baya itu tidak mau terlalu memaksa Ivana. 

“Ayo, Pa!” ajak Windy pada suaminya. Tangannya menggaet lengan Yuda seraya melangkah meninggalkan kamar Ivana. 

Sepeninggal orang tuanya, Ivana menatap kosong pintu kamar. Rasanya tidak menyangka bisa terlibat dalam perjanjian konyol dua keluarga itu. Perlahan air matanya menetes membasahi pipi. 

‘Sangat konyol, seharusnya mereka mendukungku bukan hanya mementingkan pandangan orang lain,’ keluh Ivana dalam hati. 

Tangan gadis itu meraih ponsel dari nakas, mencoba menelepon nomor kakaknya, lagi-lagi operator yang menjawab. Ke mana perginya putri sulung Adhitama? Bahkan ia tidak meninggalkan pesan sama sekali pada keluarga. 

“Mengapa kakak pergi? Seharusnya kakak menolak perjodohan itu jika ujungnya begini, mana sosok Renata yang katanya profesional dan tidak pernah ingkar janji,” monolog Ivana. Ia terisak pelan sambil menggulung diri dalam selimut. 

Sementara Yuda dan istrinya yakin Ivana tidak akan menolak menggantikan Renata. Mereka tahu betul, putri bungsunya mengedepankan keluarga dibanding segalanya. Bahkan kini mereka tampak santai menunggu putrinya bergabung untuk makan malam. 

“Sini, Sayang,” panggil Windy saat ekor matanya menangkap Ivana berjalan ke arah mereka. 

“Segera makan! Setelah ini kita bicarakan masalah tadi,” perintah Yuda. 

Ivana hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Papanya yang seperti ini tampak menakutkan. Mata elangnya menatap tajam seakan mampu melubangi apapun yang ditatap.

Makan malam keluarga Adhitama tidak berjalan seperti biasa. Biasanya mereka berbincang santai sambil menyantap hidangan. Tapi, kini suasananya berbeda. 

“Ikut papa ke ruang kerja,” perintah Yuda pada Ivana saat melihat pergerakan putrinya hendak menaiki tangga. 

“Jadi ... apa keputusanmu?” tanya Yuda tanpa basa basi. Ia duduk di kursi kerja dengan Ivana di seberangnya. 

Ivana menunduk, tangan gadis itu meremat kuat ujung piyama yang dikenakannya. Matanya bergulir ke segala arah, ia belum mempunyai keputusan pasti. 

“Vana!” tegas Yuda. 

“Tidak, Pa! Keputusanku tetap tidak. Aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali,” ujar Ivana mengutarakan keputusannya. 

Yuda memijat pangkal hidung. “Kamu lupa, tidak semudah itu.”

Ivana mendongak menatap Yuda dengan tatapan kecewa. “Lalu apa gunanya papa meminta pendapatku? Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, bukan hanya modal persatuan dua keluarga.”

“Kamu akan bahagia, Ivana. Papa tahu Levin Narendra, calon suamimu itu lelaki yang baik. Dia hanya seseorang yang gila kerja, bukan gila wanita,” kata Yuda. 

Ivana mulai terisak pelan, bahu sempitnya tampak naik turun. Apapun alasannya, Ivana tidak ingin menikah dalam waktu dekat. 

“Memangnya kamu mau di cap anak durhaka?” tanya Yuda dengan tajam. 

Pertanyaan Yuda sontak membuat Ivana mengangkat kepala, mata bulatnya menatap lurus ke arah papanya. Ia menggelengkan kepala setelah terdiam beberapa saat, kemudian menanyakan sesuatu yang mengganjal di pikirannya. 

“Apa keluarga Narendra mengancam Papa?” tanya Ivana dengan hati-hati. Karena, yang gadis itu tahu, papanya bukan tipe orang yang menggampangkan sesuatu tanpa berpikir.

“Kamu pikir papa siapa? Tidak ada ancam-mengancam dalam hal ini. Semua murni dengan niat baik kita menyatukan dua keluarga. Kamu percaya sama papa, semua akan baik-baik saja,” ujar Yuda memelankan suaranya. 

Saat ini keyakinan Ivana masih setipis tisu yang gampang terkoyak. Menurutnya sangat tidak masuk akal jika niat baik berujung kebohongan. Kalau memang niat baik, pasti keluarga Narendra mengerti keadaan. 

“Apa perlu Ivana meyakinkan keluarga Narendra? Jika itu niat baik pasti—”

“Cukup! Jangan mendebat,” potong Yuda,

“Bukan masalah niat baik atau buruk. Papa juga paham mereka akan mengerti. Tapi yang kita bicarakan di sini harga diri keluarga kita, Ivana. Mengapa kamu tidak mengerti juga, hah!” cecar Yuda dengan suara meninggi. 

Pipi Ivana kembali dibasahi air mata yang bahkan belum mengering sempurna. Ia mengepalkan kedua tangannya sampai kuku-kuku jari tangan memutih. 

“Kamu pikir papa mengambil keputusan dengan gampang? Semua ini papa lakukan untuk masa depanmu. Pendamping hidup pilihanmu kelak belum tentu lebih baik daripada Levin, percaya papa, Nak.” Yuda mulai memelankan suaranya. 

Memang tidak ada jalan lain selain meminta Ivana menggantikan Renata. Yuda yakin, Levin tidak akan menolak. Toh, mereka sama cantiknya. Meskipun Yuda sendiri mengakui putri bungsunya lebih menarik dengan wajah cantik dan manis, sepasang mata bulat dengan bulu mata yang lentik, pipi bulat sedikit berisi serta bibir tipis kemerahan menambah kesan cantik, imut, dan manis. Sedangkan si sulung cantik dengan wajah dewasanya. 

“Mungkin kamu memang ingin melihat keluarga kita malu,” cibir Yuda. 

“Bukan begitu...,” lirih Ivana. 

“Apalagi! Gantikan kakakmu menikah, kalau masih mau dianggap putri Adhitama!” ancam Yuda dengan tatapan tajam dan seringai di bibir. 

Kepala Ivana berdenyut sakit, bibirnya terkunci rapat, tidak mampu membalas perkataan papanya. Entah jalan apa yang akan ia pilih. 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status