LOGIN"Pria itu hanya akan menidurimu. Bukan mencintaimu, jadi tidurlah dengan dia. Ini demi rumah tangga kita," pinta Rudi sembari menggenggam erat tangan Amanda.
Wajah Rudi terlihat sungguh-sungguh. Ia kali ini benar-benar meminta pada Amanda. Rudi tidak pernah terlihat bersungguh-sungguh. Tetapi ini permintaan kuat darinya. Berharap Amanda akan sedikit melunak, memberikan lampu hijau. Amanda dengan wajah kecewa, tidak bergeming. Masih pada prinsip kuatnya. Rasanya sulit bagi Amanda untuk setuju dengan permintaan Rudi ini. Rudi tidak menyerah, ia tetap berusaha keras untuk memperjuangkan keinginan kedua orangtuanya. "Kamu ingin apa? Liburan, shoping atau mungkin kamu ingin mobil baru." tawar Rudi. "Ok, mungkin kamu ingin perhiasan. Jam tangan, dan tas mewah. Aku akan belikan sekarang juga." Bukannya tertarik, Amanda langsung melempar tangan Rudi. Ia justru terlihat kesal dengan cara Rudi. Ia memalingkan wajah dari Rudi. Perlahan wajahnya basah oleh air mata. Tetap pada keputusannya, Rudi mencoba untuk kembali merayu Amanda. Ia mulai memainkan retorika. Membalas kesedihan Amanda dengan kesedihan yang hampir serupa. Sisi psikologis Amanda coba dipermainkan oleh Rudi. "Baiklah jika kamu tidak mau melakukan itu. Mungkin kamu tidak ingin melihat aku di surga bersamamu. Bukankah salah satu syarat masuk surga adalah patuh pada orangtua. Bagaimana aku bisa masuk, jika kemauan mereka saja tidak bisa dituruti," ucap Rudi dengan nada getir. Amanda menoleh ke arah Rudi. Melihat keputusasaan dari wajah suaminya. "Aku pikir tidak seperti itu konsepnya. Kamu hanya salah menafsirkan. Apakah surga akan aku dapat dengan cara itu?" Rudi segera membalas dengan nada tinggi "Bukan aku yang salah. Tetapi kamu yang tidak pernah menginginkan aku di surga." "Tapi apa kamu yakin aku akan di surga, saat aku mengkhianati pernikahan kita?" tanya Amanda dengan nada tinggi. "Ini demi kebaikan. Jadi, ini sama sekali tidak salah. Kita hanya harus berbakti sama kedua orangtua kita. Orangtua aku, itu orangtua kamu juga. Aku harap kamu bisa mengerti itu," jawab Rudi dengan tegas. Amanda hanya tertunduk. Ia sudah tidak bisa berkata apapun. Rudi sudah tidak bisa menerima sudut pandang darinya. Ia hanya patuh pada keinginan orangtuanya. Rudi mulai menangis. Ia menatap Amanda dengan tatapan tajam. "Aku mohon Sayang. Untuk kali ini saja. Aku mau kamu menerima permintaan kedua orangtuaku. Aku hanya ingin membuat mereka bahagia. Itu saja." Jarang melihat Rudi seperti ini. Sedikit mengguncang batin Amanda. Ini terlalu sulit untuk bisa diartikan. Tetapi sakit untuk bisa menerima semuanya. Rudi semakin gila memainkan retorika. Ia bersujud di kedua kaki Amanda. Suaranya bergetar hebat. Memohon Amanda untuk menerima semuanya. "Aku mohon Sayang. Aku mohon," ucap Rudi bersungguh-sungguh. Melihat suaminya seperti ini. Menjadi cambuk menyakitkan bagi Amanda. Permintaan ini berat untuk bisa dituruti. Tetapi ia juga tidak bisa melihat Rudi seperti ini. Desakan dari ibunya begitu kuat. Mungkin Rudi akan semakin hancur saat tidak bisa menjalankan tugas dari ibunya. "Aku tidak tahu, ini salah atau benar. Tetapi aku menjalankan semuanya hanya untuk patuh sebagai seorang istri. Jika aku berdosa, maka ini akan menjadi dosamu di hadapan Tuhan. Aku hanya bisa pasrah dengan semuanya," ucap Amanda dengan wajah datar. Ada sedikit harapan, Rudi pun terlihat kegirangan. Ia begitu bahagia mendengar ucapan dari Amanda. Apalagi ini adalah sebuah harapan yang akhirnya menjadi kenyataan. "Aku siap menanggung semuanya. Biarkan ini menjadi tanggung jawabku. Terpenting kamu bersedia mengikuti semua permintaan Ibu," balas Rudi dengan wajah sumringah. "Tapi siapa yang akan tidur denganku? Apa pria itu bersedia untuk melakukannya?" tanya Amanda. "Itu akan menjadi urusanku. Semuanya biarkan aku yang mengatur. Aku hanya minta kamu untuk patuh. Itu saja," jawab Rudi dengan santai.Alex dan Gadis saling menatap saat sebuah pot bunga hampir jatuh dari rak. Mereka berdua secara spontan bergerak untuk mengamankan pot bunga yang hampir jatuh itu. Alex mencoba untuk menangkap pot bunga, sementara Gadis berusaha untuk membantu menstabilkan rak. Dalam gerakan yang cepat, mereka berhasil mengamankan pot bunga dan meletakkannya kembali di rak. Alex dan Gadis saling tersenyum, lega bahwa pot bunga itu tidak jatuh. Tapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Nina datang ke toko bunga Alex, dan matanya langsung tertuju pada Gadis yang berdiri di dekat Alex. Nina merasa seperti diserang oleh rasa cemburu yang tiba-tiba. "Apa yang terjadi di sini?" Nina bertanya, suaranya sedikit keras. Alex, yang masih tersenyum, menjawab, "Nina, aku hanya membantu Gadis mengamankan pot bunga ini. Aku tidak sengaja—" Tapi Nina tidak mau mendengarkan. Matanya terus tertuju pada Gadis, dan dia langsung meminta, "Gadis, tolong pergi dari sini. Sekarang." Gadis, yang merasa tidak nyama
Amanda merasa sedikit tidak nyaman dengan keinginan Rudi untuk melakukan USG. Ia merasa belum siap untuk mengetahui jenis kelamin bayi atau melihat wajah bayi yang belum lahir. Selain itu kandungan dari Amanda sendiri belum tepat untuk di lakukan USG. Tapi Rudi sangat antusias dan ingin tahu segala hal tentang bayi yang ada di dalam kandungannya. "Amanda, ayo kita pergi ke dokter kandungan. Aku ingin tahu apakah kita akan memiliki anak laki-laki atau perempuan," Rudi berkata dengan senyum lebar. Amanda mencoba menolak, tapi Rudi tidak mau mendengarkan. "Amanda, aku tahu kamu belum siap, tapi aku siap. Aku ingin tahu segala hal tentang bayi kita," Rudi berkata dengan nada yang sedikit tegas. "Tapi Sayang. Ini belun waktunya. Kandunga ku belum genap 2 bulan. Aku belum bisa melakukan USG. " ucap Amanda dengan lembut. "Kamu jangan sok tahu. Ilmu dari mana itu? Teknologi sekarang itu sudah canggih. Bahkan kita bisa memilih bayi kita sendiri. Masa buat lihat anak kita sendiri tidak bis
Dua hari telah berlalu sejak toko bunga milik Alex kembali berdiri. Alex merasa bangga dan sedikit lega karena akhirnya ia bisa mewujudkan mimpinya memiliki toko bunga sendiri. Namun, di tengah-tengah kegembiraannya, ada sedikit hal yang membuat Alex merasa sedih.Alex berharap Amanda bisa datang ke tokonya, memberikan sedikit ucapan selamat atas apa yang sudah ia lakukan. Ia ingin melihat senyum Amanda, ingin mendengar suaranya yang lembut, dan ingin merasakan kehangatan kehadiran Amanda di sekitarnya.Tapi harapan Alex tidak terwujud. Amanda tidak datang ke toko bunganya. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Amanda di sekitar toko. Alex merasa sedih dan sedikit kecewa.Saat ia sedang menyusun bunga-bunga di toko, ia menerima sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. "Alex, aku tahu kamu pasti sibuk dengan toko barumu. Selamat atas kesuksesanmu. Tapi tolong, jangan coba-coba menghubungi aku lagi. Aku tidak ingin ada hubungan apa-apa dengan kamu lagi."Alex merasa seperti disambar petir.
Rudi membanting handphone Amanda dengan keras, membuat Amanda terkejut. "Kamu masih berhubungan dengan Alex? Kamu tidak tahu malu?" Rudi berteriak, wajahnya merah karena marah. Amanda merasa dirinya seperti diserang, ia mundur ke belakang sambil memegang perutnya yang sudah mulai membesar. "Rudi, aku... aku hanya..." Rudi tidak membiarkan Amanda menjelaskan. "Tidak ada penjelasan! Kamu sudah hamil, Amanda. Kamu tidak boleh berhubungan dengan Alex lagi. Dia sudah dibayar, dia sudah pergi." Amanda merasa dirinya seperti disambar petir, ia merasa seperti dirinya tidak berharga. "Rudi, tolong... tolong dengarkan aku." Tapi Rudi tidak mau mendengarkan. "Tidak ada lagi, Amanda. Kamu milikku sekarang. Kamu akan menjadi ibu dari anakku, dan kamu tidak akan pergi ke mana-mana." Margaret masuk ke dalam ruangan, wajahnya terlihat tenang tapi tegas. "Apa yang terjadi di sini?" dia bertanya, melihat Rudi yang masih marah dan Amanda yang menangis. Rudi langsung memanggil Margaret. "Ibu, Amand
Nina memeluk Amanda erat, air matanya mengalir deras di bahu Amanda. "Amanda, aku tidak tahu apa yang salah dengan Alex," dia berbisik, suaranya tercekik oleh tangis. "Dia berubah, Amanda. Dia tidak seperti dulu lagi. Aku merasa seperti ada yang hilang di antara kami." Amanda membalas pelukan Nina, mencoba menenangkannya. "Apa yang terjadi, Nina? Ceritakan padaku," dia berkata dengan lembut. Nina menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Aku tidak tahu, Amanda. Alex tidak mau bercinta denganku lagi. Dia selalu menolak aku. Aku merasa seperti aku tidak menarik lagi baginya." Amanda mengusap rambut Nina, mencoba menghiburnya. "Aku yakin itu tidak benar, Nina. Alex pasti masih mencintaimu. Mungkin dia hanya sedang stres atau ada masalah lain." Tapi Nina tidak percaya. "Aku tidak tahu, Amanda. Aku merasa seperti ada sesuatu yang salah. Aku merasa seperti aku kehilangan." Amanda memegang tangan Nina, mencoba memberikan kekuatan. "Nina, kamu harus kuat. Kamu tidak bisa m
Malam nampak biasa, Alex dan Nina berbincang layaknya suami istri di atas ranjang. Membahas perkembangan anak mereka yang tumbuh dengan begitu cepat. Alex bahagia memuji Nina sebagai ibu yang luarbiasa. Nafkah batin pun di harapkan oleh Nina. Ia mulai menggoda dengan kata-kata yang sedikit jorok. Tetapi Alex tidak langsung terpancing. Alex masih cukup kuat. Nina yang terlihat begitu berharap bisa bercinta di malam ini. Akhirnya menggunakan cara yang lebih ekstrim. Tanpa berkata-kata, Nina mulai menjamah bagian sensitif dari Alex. Ia meraba dengan perlahan. Mulai menggunakan tangannya untuk melemahkan iman dari Alex. Alex merasa dirinya mulai terpengaruh, tapi tiba-tiba wajah Amanda muncul di benaknya. Ia segera menghentikan rasa ingin bercinta dalam dirinya. Seolah Amanda meminta Alex untuk tidak melakukannya dengan Nina. Menjaga perasaan dari Amanda sekali lagi. "Nina, stop. Aku tidak bisa malam ini," Alex berkata dengan suara yang lembut, tapi tegas. Nina merasa diriny







