Share

Cucu Kandung

Penulis: Miss Secret
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-20 17:30:39

Ramon yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya tiba-tiba berhenti di depan Devan. Tangannya memainkan ujung tas, wajahnya tampak ragu tapi matanya penuh harap.

“Om…” panggilnya pelan.

Devan menoleh.

“Iya?”

Ramon menarik napas kecil, lalu melirik Cleo sekilas.

“Ramon boleh manggil Om dengan sebutan Papa nggak?” tanya Ramon lagi, karena tadi dia belum mendapatkan jawaban.

Beberapa saat yang lalu, Cleo hanya meminta Ramon untuk segera mandi. Tanpa menjawab pertanyaan Ramon.

Cleo kembali menoleh k
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Benih Terlarang Bos Brondongku   Pernikahan

    Enam bulan kemudian…Cleo menatap bayangannya di cermin besar kamar rias. Lampu-lampu putih di sekeliling kaca membuat wajahnya terlihat begitu jelas, tanpa celah untuk bersembunyi dari kenyataan bahwa hari ini, benar-benar terjadi.Gaun putih itu melekat sempurna di tubuhnya. Tidak berlebihan, tidak pula sederhana, tapi elegan. Seolah menggambarkan dirinya yang akhirnya berdamai dengan masa lalu, dan berani melangkah tanpa menoleh lagi.Make up artist yang sedari tadi sibuk merapikan detail terakhir di area mata, mundur selangkah.“Udah selesai, Bu Cleo. Cantik banget.”Cleo hanya tersenyum tipis. Bukan karena tidak senang, melainkan karena dadanya terlalu penuh. Tangannya perlahan terangkat menyentuh pipinya sendiri.Dia masih sulit percaya, wanita yang dulu merasa dirinya tidak pantas, yang selalu ingin kabur saat kebahagiaan datang, kini duduk di sini, dengan rambut tersanggul rapi, mata yang dihias anggun, dan cincin pernikahan yang sebentar lagi akan kembali melingkar di jarinya

  • Benih Terlarang Bos Brondongku   Beristirahatlah dengan tenang

    Mama Devan menatap Cleo lekat-lekat, sorot matanya tajam, dan sinis. Ada jeda beberapa detik sebelum ia berbicara, seakan menimbang bobot setiap kata yang akan keluar.“Kalau kamu pergi, memangnya masalah ini selesai?”Cleo terdiam. Mama Devan melangkah lebih dekat.“Jawabannya nggak! Semua sudah terjadi. Anak itu ada. Perasaan kalian juga ada. Chelsea terluka, iya. Tapi lari bukan solusi.”Dia menghela napas panjang, nada suaranya sedikit melunak meski wibawanya tetap terasa kuat.“Lebih baik kalian meresmikan hubungan kalian.”Cleo dan Devan sama-sama terkejut.“Namun,” lanjut Mama Devan sambil menatap Devan penuh makna.“Bukan sekarang. Tunggu momen yang tepat. Setidaknya sampai keadaan Chelsea membaik. Kita punya hati nurani.”Devan mengangguk mantap. “Aku mengerti, Ma. Aku akan ikut keputusan Mama.”Cleo menunduk, air matanya akhirnya jatuh. Bukan karena sedih semata, tapi karena untuk pertama kalinya, ia tidak diminta untuk pergi, melainkan diterima. Meskipun Cleo tahu, hati Mam

  • Benih Terlarang Bos Brondongku   Jelasin Semua

    Devan berhenti di samping Ramon. Dengan satu tangan, dia menyentuh pundak bocah itu. “Ini Ramon, anak aku. Cucu kandung Mama.”Mama Devan melangkah satu langkah ke depan, matanya masih menatap Ramon tanpa berkedip. Ada getar halus di kelopak matanya, campuran kaget, bingung, dan sesuatu yang sulit dia definisikan.Ramon menoleh ke Devan, lalu kembali menatap Mama Devan. Dengan senyum paling manis yang dia punya, Ramon berkata lagi, “Papa bilang suruh panggil Oma.”Cleo yang berdiri sedikit di belakang Devan menunduk. Jantungnya berdegup keras, tangannya saling menggenggam erat. Dia bisa merasakan udara di sekeliling mereka mendadak menegang.Mama Devan akhirnya mengalihkan pandangan pada Cleo. Tatapan itu tajam, penuh pertanyaan yang tak terucap. Lalu kembali pada Ramon. Perlahan, tangannya terangkat, ragu-ragu, sebelum akhirnya menyentuh pipi bocah itu dengan ujung jari yang bergetar.“Kamu Ramon? Cucu Oma …?”Suaranya pecah di akhir kalimat. Matanya berkaca-kaca, dan tanpa sadar, d

  • Benih Terlarang Bos Brondongku   Pulang

    Keesokan harinya, Devan akhirnya memutuskan pulang ke Jakarta. Keputusan itu diambil setelah Cleo bersedia menemaninya pulang, bersama dengan Ramon.Chelsea yang mengalami kecelakaan, saat ini masih dirawat di rumah sakit. Devan tidak bisa mengelak apa pun permintaan Mamanya untuk pulang, dan menjenguk Chelsea.Bagaimanapun juga, mereka pernah menikah. Chelsea tetap bagian dari masa lalunya yang harus dia hadapi dengan kepala tegak. Namun, Devan meminta Cleo menemani. Meskipun, awalnya Cleo menolak, tapi Devan terus meyakinkan, dan bersikeras meminta untuk ikut, hingga akhirnya wanita itu pun menyerah mengikuti keinginan Devan.Karena bagi Devan, kepulangan ini bukan sekadar menjenguk orang sakit. Ada niat lain yang akan dia lakukan.Momen ini akan menjadi langkah awal untuk mengenalkan Ramon pada dunia yang selama ini terpisah darinya. Pada keluarganya. Pada masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.Di dalam pesawat, Ramon duduk di dekat jendela, matanya berbinar menatap awan yang men

  • Benih Terlarang Bos Brondongku   Bukan Aku, tapi Kita

    Di sisi lain, Devan baru saja tiba di hotel. Tubuhnya terasa lelah, tapi hatinya justru dipenuhi kebahagiaan.Dia menutup pintu kamar, meletakkan kunci di meja, lalu langsung menuju kamar mandi. Air mengalir membasahi kepalanya, seolah ikut meluruhkan sisa-sisa tegang yang sejak pagi menempel di bahunya.Selesai mandi, Devan mengenakan kaus tipis dan celana santai. Dia merebahkan tubuh di atas ranjang, menatap langit-langit kamar hotel yang terasa terlalu sepi untuk suasana hatinya yang sedang hangat. Ingatannya melayang pada tawa Ramon pagi tadi, pada panggilan Papa yang masih terasa asing tapi begitu menggetarkan.Tangannya meraih ponsel di samping bantal. Lalu mengetik."Aku udah di hotel. Istirahat sebentar. Nanti siang kita jemput Ramon bareng, ya."Tak lama, tanda centang biru muncul."Iya. Ramon pasti seneng dijemput kita berdua.Devan tersenyum kecil membaca balasan itu. Sesederhana itu, tapi rasanya seperti pulang ke sesuatu yang selama ini hilang. Ia membalas singkat."Aku n

  • Benih Terlarang Bos Brondongku   Kalah Sejak Awal

    Di Sisi LainMama Devan menurunkan ponselnya perlahan. Tangannya sedikit bergetar saat layar kembali gelap. Wajahnya yang tampak bingung, kini semakin sulit disembunyikan.Di sampingnya, Chelsea duduk dengan tubuh menegang. Sejak tadi dia memperhatikan raut wajah Mama Devan, dari nada suara yang berubah, hingga jeda panjang yang terasa janggal. Hatinya mulai dipenuhi prasangka.“Tadi, siapa yang bicara Ma?” tanya Chelsea, suaranya terdengar hati-hati tapi penuh selidik.Mama Devan mengedipkan mata beberapa kali, seolah mencari kata yang tepat. Dia menegakkan punggung, mencoba menguasai diri. “Devan,” jawabnya singkat.Chelsea mengangguk pelan, lalu terdiam sejenak. “Aku dengar Mama bilang cucu? Terus kayaknya ada suara anak kecil," lanjutnya, kali ini tak lagi bisa menyembunyikan kegelisahan."Dia itu siapa, Ma?”Pertanyaan itu seperti menampar kesadaran Mama Devan. Dia menoleh ke arah Chelsea, menatap mantan menantunya itu dengan sorot mata yang sulit diartikan. Antara kaget, bersala

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status