LOGINWarning, area 17+ Cleo dihadapkan dengan kesulitan baru saat bertemu dengan Devan, bos baru, sekaligus laki-laki yang pernah menjadi bagian masa lalunya, yang terus mencoba mendekati. Namun, Cleo yang sudah memiliki suami selalu menghindar. Hingga suatu malam, Cleo yang sedang frustasi karena tuntutan untuk mendapatkan keturunan, sedangkan suaminya dinyatakan mandul, memanfaatkan situasi dengan menghabiskan satu malam bersama Devan agar bisa mengandung. Lantas, apakah upaya Cleo untuk mempertahankan rumah tangga dengan berpura-pura mengandung anak suaminya, padahal benih itu milik Devan, justru menjadi bumerang tersendiri baginya?
View MorePerlahan kubuka kedua mata, setelah terbangun dari tidur lelapku. Pagi ini, aku terbangun, bersamaan dengan senyum yang juga merekah di bibir. Sebuah senyum bahagia, yang selalu kurasakan setiap hari, setelah aku menikah dengan suamiku.
Aku pun menoleh ke samping, dan di sanalah dia, lelaki yang paling kucintai, suamiku, yang masih terlelap. Mas Ethan, laki-laki tampan berusia 30 tahun yang sudah menikahiku selama tiga tahun ini tampak masih tertidur pulas. Ada rasa syukur yang menyeruak di dada. Melihat betapa damai wajahnya saat terlelap, dan membuatku merasa ini adalah kebahagiaan paling sederhana sekaligus paling mewah yang Tuhan titipkan padaku. Aku masih menatap Mas Ethan, hingga tanganku refleks menyentuh rambutnya yang sedikit berantakan. “Terima kasih, Tuhan. Karena telah menyatukan kami.” Saat masih tengah asyik menikmati wajah tampan suamiku, tiba-tiba matanya terbuka. Aku merasa sedikit terkejut karena tertangkap basah sedang menikmati indahnya ciptaan Tuhan yang ada di depanku. "Kamu udah bangun, Sayang? Kamu lagi ngapain? Kok dari tadi liatin terus?" tanya Mas Ethan yang membuatku merasa malu. Aku tak tahu, entah sudah semerah apa wajahku, yang jelas pipiku rasanya seperti sedang terbakar, dan membuat jantungku berdegup begitu kencang, karena saat ini Mas Ethan balas menatapku dengan tatapan hangatnya yang terasa begitu mematikan. "Kok kamu diem aja, Sayang? Kamu kenapa?" tanya Mas Ethan kembali. Aku hanya menggelengkan kepala, lalu menarik kedua sudut bibir, mencetak sebuah senyuman khas dengan lesung pipit yang menghiasi wajah. "Kamu ngegemesin banget sih," timpalnya kembali, lalu tanpa aba-aba, dia mendaratkan bibirnya di bibirku, dan melumat bibir tipis ini dengan lembut, tapi juga dengan sedikit hasrat. Hangatnya cahaya matahari menembus tirai tipis kamar, memantul lembut hingga sinarnya menghangatkan ruang kamar ini, sehangat ciuman manis di pagi ini. Namun, keintiman di antara kami tiba-tiba terhenti, tatkala terdengar dering dari ponselku. Meskipun rasanya enggan, tapi aku akhirnya berinisiatif untuk melepaskan tautan bibir kami. "Mas, aku angkat dulu siapa tau penting!" Dengan sedikit enggan, aku meraih ponsel itu dan melihat nama Dea terpampang di layar. “Halo, Dea?” “Cleo, maaf banget ganggu pagi-pagi, aku cuma mau ingetin kamu, kita harus ke kantor lebih awal hari ini. Kamu inget kan hari ini penyambutan CEO baru.” Suara Dea terdengar agak tergesa. Aku menoleh lagi pada suamiku, jujur saja ada rasa enggan, karena ingin tetap berada di sampingnya lebih lama. “Iya aku inget kok, ini udah mau siap-siap.” Setelah itu, telepon kututup pelan. Sesaat aku menatap layar yang padam, lalu kembali memandang suamiku. "Mas aku siap-siap dulu ya. Hari ini aku harus berangkat lebih pagi." Kening Mas Ethan terlihat mengerut. “Kamu ada meeting pagi?” Aku menoleh, lalu menggeleng. “Ada penyambutan bos baru, jadi aku harus berangkat lebih dulu ke kantor,” jelasku sambil mengusap lembut rambutnya yang sedikit berantakan. Dia menghela napas, lalu meraih tanganku dan menggenggamnya erat. “Padahal aku pengin kamu tetap di sini sebentar lagi.” Aku terkekeh pelan. “Kalau aku telat, nanti bos baruku langsung ilfeel sama aku. Gimana coba?” Dia hanya menggeleng kecil, lalu menarik tengkukku, hingga aku sedikit condong ke arahnya. Dengan cepat dia mengecup keningku, dan seketika membuat dadaku terasa hangat. “Ya udah sana mandi dulu, aku buatin sarapan ya.” Aku menunduk, lalu membalas dengan kecupan singkat di keningnya. “Iya, makasih banyak ya, Mas. Aku mandi dulu.” *** Satu jam kemudian, mobilku sudah memasuki area parkir kantor, aku bisa merasakan atmosfer yang berbeda dari biasanya. Pagi ini, jam baru menunjukkan pukul 07.30, tapi kali ini suasananya sudah ramai dan riuh. Beberapa rekan kerja terlihat berjalan cepat menuju lobby. Sedangkan di dalam lobby, sudah ada yang bergerombol sambil membicarakan sesuatu dengan ekspresi berbeda. Ada yang terlihat tegang, tapi ada juga yang terlihat antusias menebak-nebak bos baru mereka. Ketika aku mulai melangkah masuk, kasak-kusuk pun mulai terdengar. “Katanya bos baru itu tegas banget .…” “Ya ampun, aku belum siap kalau ditanya-tanya langsung!” "Bukannya bos baru itu masih muda? Apa dia udah punya cukup pengalaman buat mimpin perusahaan sebesar ini?" Aku tersenyum tipis, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Jujur saja, mendengar pembicaraan mereka, aku pun jadi merasa gugup. Suara derap langkah dan percakapan semakin ramai ketika aku melewati lorong menuju ruang utama. Begitu memasuki area lobby, aku melihat beberapa staf sudah sibuk menata meja penyambutan, ada karangan bunga, hidangan ringan, dan spanduk bertuliskan “Welcome, Mr. Adrian Devan Pratama”. Aku sedikit terkejut membaca namanya. Nama tersebut, entah mengapa terdengar tidak asing bagiku. Namun, saat aku mencoba mengingat sosok itu, Dea memanggil lirih, dan melambaikan tangannya, seolah memberi isyarat agar aku mendekat padanya. “Cleo! Cepat sini, kita disuruh baris depan buat nyambut langsung!” Aku menelan ludah, merapikan blazer sekali lagi, sebelum melangkah ke arahnya. Jantungku mulai berdegup lebih cepat, entah karena suasana formal ini atau, firasat aneh saat mendengar nama bos baru itu. "Adrian Devan Pratama? Rasanya memang nggak asing, tapi siapa?"Enam bulan kemudian…Cleo menatap bayangannya di cermin besar kamar rias. Lampu-lampu putih di sekeliling kaca membuat wajahnya terlihat begitu jelas, tanpa celah untuk bersembunyi dari kenyataan bahwa hari ini, benar-benar terjadi.Gaun putih itu melekat sempurna di tubuhnya. Tidak berlebihan, tidak pula sederhana, tapi elegan. Seolah menggambarkan dirinya yang akhirnya berdamai dengan masa lalu, dan berani melangkah tanpa menoleh lagi.Make up artist yang sedari tadi sibuk merapikan detail terakhir di area mata, mundur selangkah.“Udah selesai, Bu Cleo. Cantik banget.”Cleo hanya tersenyum tipis. Bukan karena tidak senang, melainkan karena dadanya terlalu penuh. Tangannya perlahan terangkat menyentuh pipinya sendiri.Dia masih sulit percaya, wanita yang dulu merasa dirinya tidak pantas, yang selalu ingin kabur saat kebahagiaan datang, kini duduk di sini, dengan rambut tersanggul rapi, mata yang dihias anggun, dan cincin pernikahan yang sebentar lagi akan kembali melingkar di jarinya
Mama Devan menatap Cleo lekat-lekat, sorot matanya tajam, dan sinis. Ada jeda beberapa detik sebelum ia berbicara, seakan menimbang bobot setiap kata yang akan keluar.“Kalau kamu pergi, memangnya masalah ini selesai?”Cleo terdiam. Mama Devan melangkah lebih dekat.“Jawabannya nggak! Semua sudah terjadi. Anak itu ada. Perasaan kalian juga ada. Chelsea terluka, iya. Tapi lari bukan solusi.”Dia menghela napas panjang, nada suaranya sedikit melunak meski wibawanya tetap terasa kuat.“Lebih baik kalian meresmikan hubungan kalian.”Cleo dan Devan sama-sama terkejut.“Namun,” lanjut Mama Devan sambil menatap Devan penuh makna.“Bukan sekarang. Tunggu momen yang tepat. Setidaknya sampai keadaan Chelsea membaik. Kita punya hati nurani.”Devan mengangguk mantap. “Aku mengerti, Ma. Aku akan ikut keputusan Mama.”Cleo menunduk, air matanya akhirnya jatuh. Bukan karena sedih semata, tapi karena untuk pertama kalinya, ia tidak diminta untuk pergi, melainkan diterima. Meskipun Cleo tahu, hati Mam
Devan berhenti di samping Ramon. Dengan satu tangan, dia menyentuh pundak bocah itu. “Ini Ramon, anak aku. Cucu kandung Mama.”Mama Devan melangkah satu langkah ke depan, matanya masih menatap Ramon tanpa berkedip. Ada getar halus di kelopak matanya, campuran kaget, bingung, dan sesuatu yang sulit dia definisikan.Ramon menoleh ke Devan, lalu kembali menatap Mama Devan. Dengan senyum paling manis yang dia punya, Ramon berkata lagi, “Papa bilang suruh panggil Oma.”Cleo yang berdiri sedikit di belakang Devan menunduk. Jantungnya berdegup keras, tangannya saling menggenggam erat. Dia bisa merasakan udara di sekeliling mereka mendadak menegang.Mama Devan akhirnya mengalihkan pandangan pada Cleo. Tatapan itu tajam, penuh pertanyaan yang tak terucap. Lalu kembali pada Ramon. Perlahan, tangannya terangkat, ragu-ragu, sebelum akhirnya menyentuh pipi bocah itu dengan ujung jari yang bergetar.“Kamu Ramon? Cucu Oma …?”Suaranya pecah di akhir kalimat. Matanya berkaca-kaca, dan tanpa sadar, d
Keesokan harinya, Devan akhirnya memutuskan pulang ke Jakarta. Keputusan itu diambil setelah Cleo bersedia menemaninya pulang, bersama dengan Ramon.Chelsea yang mengalami kecelakaan, saat ini masih dirawat di rumah sakit. Devan tidak bisa mengelak apa pun permintaan Mamanya untuk pulang, dan menjenguk Chelsea.Bagaimanapun juga, mereka pernah menikah. Chelsea tetap bagian dari masa lalunya yang harus dia hadapi dengan kepala tegak. Namun, Devan meminta Cleo menemani. Meskipun, awalnya Cleo menolak, tapi Devan terus meyakinkan, dan bersikeras meminta untuk ikut, hingga akhirnya wanita itu pun menyerah mengikuti keinginan Devan.Karena bagi Devan, kepulangan ini bukan sekadar menjenguk orang sakit. Ada niat lain yang akan dia lakukan.Momen ini akan menjadi langkah awal untuk mengenalkan Ramon pada dunia yang selama ini terpisah darinya. Pada keluarganya. Pada masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.Di dalam pesawat, Ramon duduk di dekat jendela, matanya berbinar menatap awan yang men
Di dalam mobil, hujan turun tipis membasahi kaca depan. Cleo fokus menyetir, sementara Bu Dina duduk di kursi penumpang depan, sesekali menoleh ke belakang memastikan Ramon duduk manis di car seat-nya.“Tadi Ramon ketemu om tampan,” ucap bocah itu tiba-tiba, suaranya riang memecah keheningan.Cleo
Saat Devan masih duduk menemani Ramon, ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja. Nama Chelsea muncul di layar.Devan melirik sekilas, lalu membalikkan ponsel itu tanpa mengangkatnya. Wajahnya kembali dia arahkan pada Ramon, mencoba tersenyum dan melanjutkan permainan kecil mereka, seolah tak terja
Devan yang tengah mengangkat cangkir kopinya sontak terhenti. Alisnya berkerut, tangannya membeku di udara. Suara itu, dia mengenalinya. Bukan sekadar karena panggilan yang unik, tapi karena nada ceria itu pernah singgah di telinganya.Devan menoleh cepat. Di dekat pintu cafe, berdiri seorang anak
"Mama baru aja datang, ketemu Devan tadi di bawah. Kata Devan kamu di kamar, jadi Mama langsung ke kamar. Apa kamu sakit?""Nggak Ma." "Terus kenapa nggak temenin Devan? Dia katanya ada urusan kerjaan di luar kota."Chelsea menelan ludah. Tangannya mengepal tanpa sadar.“Dia nggak mau aku temenin,
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews