LOGINMita hanya bisa meronta, berusaha melepaskan ikatan tangannya. Namun tenaga Mita tak mampu untuk melepaskan tali yang melilit tangannya.
Air mata semakin bercucuran mengingat Paman, Bibi dan adiknya Naurah. Mereka pasti sudah lelah mencari Mita, begitu juga dengan Roy.
Entah seperti apa perasaan calon suaminya itu saat ini. Ayahnya mati sia-sia di tangan iblis, sedangkan calon istrinya menghilang tanpa jejak.
Mita hanya bisa berdoa kepada sang pencipta, semoga hati pria itu tersentuh untuk melepaskannya.
"Permisi Nona," ucap Hanna, ia muncul dari balik pintu sambil membawa nampan di tangannya.
"Bisakah anda menolongku? Aku mohon," ucap Mita tiba-tiba.
Hanna menarik napas, ia menaruh nampan di atas meja lalu duduk di sisi tempat tidur.
"Maaf Non, bukan saya tidak mau menolong anda, tapi saya hanya seorang pelayan di rumah ini. Tidak ada yang berani berbuat tanpa izin dari Tuan Alex."
Iya, Hanna hanyalah pelayan di sana. Menolong Mita sama saja bunuh diri. Alex akan membakarnya hidup-hidup jika ia melepaskan Mita, pria bertubuh tinggi nan gagah itu tidak segan-segan menghabisi orang yang menyinggung perasaannya.
"Apa kalian pemuja iblis itu? Dia tidak layak disebut Tuan, dia iblis berwujud manusia. Apa anda tahu apa yang dia lakukan? Dia membunuh calon ayah mertuaku," ucap Mita dalam kemarahan.
Hanna menarik napas, tangannya mengelus lengan Mita dengan lembut. Berusaha menenangkan wanita malang itu, Hanna tahu seperti apa perasaan Mita saat ini, karena Nathan ajudan kepercayaan Alex sudah menceritakan semuanya.
"Tolong bantu aku. Aku mohon padamu." Mita kembali memohon.
"Maaf Nona, aku benar-benar tidak bisa menolong anda." Dengan berat hati Hanna menolak.
"Sebenarnya Tuan Alex tidak seburuk yang anda bayangkan. Dia itu baik, jika Nona minta maaf kepada Tuan, Nona pasti akan dibebaskan," lanjut Hanna memberi saran.
Mita tersenyum getir mendengar ucapan Hanna, "Minta maaf? Terus aku harus melupakan kejadian itu? Maaf, aku lebih baik mati daripada minta maaf dan membiarkannya hidup bebas."
"Benarkah?" Tiba-tiba terdengar suara bariton.
Mita dan Hanna refleks memutar kepala ke arah pintu. Di sana Alex berdiri sambil menyadarkan lengannya di kayu pintu, dengan posisi kedua tangan terlipat di dada.
"Tuan," ucap Hanna dan langsung bangkit dari sisi tempat tidur.
"Kamu lebih baik mati?" Alex kembali bertanya.
"Iya, aku lebih baik mati. Ingat Alex, sampai kapanpun kata maaf tidak akan pernah terucap dari mulutku."
Seketika tubuh Hanna bergetar, ini pertama kalinya ia melihat seorang wanita mengancam Alex. Mita benar-benar nekat, ia tidak tahu kalau Alex adalah bos mafia.
Selain dia terkenal kejam, dia juga dijuluki sitampan berdarah dingin. Bagaimana tidak! Alex termasuk pria sempurna, ia memiliki tubuh tinggi, hidung mancung, dada kekar bak rati sobek, bergelimang harta sampai tujuh keturunan tidak akan habis.
Banyak wanita yang berlomba-lomba untuk mendekatinya, bahkan bersedia menjadi wanita simpanan. Mita lah wanita pertama yang menghina dan membenci Alex.
"Bi, bawa makanannya," perintah Alex.
"Baik Tuan." Hanna menunduk hormat, ia meraih nampan dari atas meja lalu membawanya kembali ke dapur.
"Selamat menikmati kematianmu." Setelah mengatakan itu, Alex pun meninggalkan Mita. Menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya dari luar.
*****
Satu hari telah berlalu, saat ini waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Kondisi Mita semakin lemah, sejak pagi ia belum makan dan tidak minum.
Wanita cantik itu hanya bisa menangis, butiran bening tidak berhenti bercucuran diri kedua pipinya. Bahkan matanya terlihat sembab dan bengkak. Namun tak sedikitpun ia terpikir untuk minta maaf.
Sementara di tempat lain, Alex tersenyum melihat kondisi Mita. Ia memantau wanita malang itu dari cctv.
"Tuan, wanita itu akan mati jika kita tidak memberinya makan," ucap Nathan ajudan kepercayaan Alex.
"Wanita seperti dia tidak semudah itu untuk mati," jawab Alex dengan santai.
"Tapi Tuan...."
"Tunggu sampai besok pagi, jika dia masih hidup! Minta Bi Hanna memberinya makan. Tapi jika dia sudah mati, kubur di taman belakang," sela Alex yang membuat Nathan terdiam.
"Baik Tuan." Nathan tidak berani protes, padahal ia merasa kasihan dan tidak tega melihat kondisi Mita.
Wanita cantik itu sudah terlihat lemah tak berdaya, sebentar lagi dia akan mati. Untuk kali ini hati Nathan benar-benar tersentuh, apalagi Mita tidak ada hubungan dengan masa lalu Alex. Seharusnya Tuannya itu tidak memperlakukan Mita sekejam ini.
Benda bulan yang menempel di dinding baru menujuk angkat 5, Nathan sudah bergegas ke lantai 3. Ia memeriksa kondisi Mita, memastikan wanita malang itu masih hidup atau tidak.
"Syukurlah," ucap Nathan setelah membuka pintu dan melihat Mita bergerak.
Tanpa membuka mulut, ia kembali menutup pintu. Menuruni anak tangga menuju dapur yang terletak di lantai satu. Nathan meminta Hanna untuk menyiapkan makanan.
Keduanya bergegas menghampiri Mita, namun wanita malang itu menyambut mereka dengan tatapan marah.
"Apa kalian berpikir aku sudah mati?" todong Mita dengan bertanya.
"Tidak Nona, kami datang untuk mengantar makanan." Hanna bicara dengan lembut.
"Untuk apa? Kalian ingin aku disiksa lebih lama? Kalian manusia tidak punya hati," teriak Mita dengan keputusasaan.
"Tidak, tidak, Non tenang dulu." Hanna berusaha menenangkan Mita.
Ia sedih melihat kondisi Mita, bahkan Hanna sampai meneteskan air mata. Hati seorang ibu akan pedih seperti teriris sembilu, apalagi Mita seumuran dengan putrinya.
"Biarkan aku mati, itu akan lebih baik. Aku bisa bertemu dengan kedua orang tuaku." Mita menolak untuk makan. Ia menutup mulutnya rapat-rapat.
"Sebaiknya Nona makan." Kali ini Nathan yang membuka mulut.
"Aku tidak mau, sekali tidak! Tetap tidak." Entah setan apa yang merasuki Mita, sehingga hatinya mengeras padahal dulunya ia wanita lembut.
"Hm...." Alex berdehem, entah sejak kapan ia ada di sana.
"Apa harus aku yang memberimu makan?" tanya Alex sambil melangkah menghampiri Mita.
"Cuih...." Mita menyebur Alex dengan saliva.
Amarah Alex memuncak, ia langsung mencengkram kedua pipi Mita. Satu tangannya meraih gelas dari atas nampan, lalu menuangkan airnya ke dalam mulut Mita.
Untung saja wanita cantik itu tidak mati, padahal wajahnya sudah merah karena tersendat.
"Maaf Tuan." Tiba-tiba seorang ajudan muncul di pintu.
"Tunggu di ruang kerja," perintah Alex yang langsung dituruti oleh ajudan.
Sebelum pergi, Alex memerintah Nathan dan Hanna agar memaksa Mita untuk makan.
"Kami sudah mendapat informasi tentang Nona Mita, Tuan," ucap sang ajudan.
"Hum, bicaralah."
"Info yang kami dapat, 4 hari lagi Nona Mita akan menikah dengan Roy Eldan, anak dari Baskoro Eldan. Selain itu, Nona Mita ternyata anak yatim piatu, dia dibesarkan oleh Pamannya. Orang tuanya meninggal dunia karena dibunuh, dan sampai saat ini pembunuhan belum diketahui."
Alex menghela napas, ia membuka 2 kancing bajunya lalu meraih sebatang rokok.
"Roy adalah saudara tiri Alex."Mata Mita membulat mendengar kata-kata yang ke luar dari mulut Pamannya. Ia benar-benar terkejut dan tidak percaya."Bagaimana mungkin?" ucap Mita. "Iya, memang sulit untuk dipercaya tapi itulah kenyataannya.""Itu tidak mungkin. Paman pasti salah." Mita masih belum percaya."Ibunya bercerai karena selingkuh dengan Baskoro ayah Roy. Tetapi baru beberapa tahun menikah, Ibunya meninggal dunia." Handoko menceritakan semuanya kepada Mita. Baskoro ayah Roy menikahi Ibunya Alex bukan karena cinta, melainkan karena harta. Perusahaan Roy Eldan sudah 90 persen bangkrut, demi bangkit kembali Baskoro mengambil hati ibunya Alex, sebab ia memiliki kekayaan puluhan triliun dan menguasai 50 persen saham perusahaan Branson Grup. Namun setelah menikah, Baskoro meminta istrinya untuk mengalihkan perusahaan menjadi atas namanya. Demi cinta, ibunya Alex tanpa ragu mengikuti permintaan suaminya. Setelah semuanya atas nama Baskoro, ia pun menikah lagi dengan wanita yang
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, mata Mita masih terbuka lebar. Kejadian tadi siang menghantui hati dan pikirannya, sehingga membuatnya tidak bisa tidur. Mita merasa malu dengan sikapnya, bisa-bisanya ia agresif seperti itu. Bahkan Mita menghindari Alex saat makan malam. Ia meminta Hanna untuk mengantar makanan ke kamarnya, dengan alasan tidak enak badan. Mita yang resah, lantas turun dari tempat tidur melangkah menuju balkon. Seketika matanya melihat sebuah mobil memasuki gerbang istana Branson. Mita memperhatikan mobil itu hingga berhenti, ia melihat seorang wanita turun dari sana. "Apa dia wanita simpanan Alex yang baru?" Mita bertanya pada dirinya sendiri. Ia berpikir demikian, karena Alex hobi memelihara wanita. Dia laki-laki yang tak bisa hidup tanpa wanita, dan bodohnya lagi! Mita bisa bergairah saat bercumbu dengannya. Mita yang penasaran, bergegas ke luar dari kamar. Ia menuruni anak tangga menuju lantai satu, dan berpura-pura ke dapur untuk mengambil air hangat.
Suasana pagi menjadi lebih hidup, dengan iringan suara merdu burung dari hutan lindung. Mita yang berdiri di balkon, sengaja membentang kedua tangan untuk merilekskan diri.Rintik-tintik embun membuat suasana semakin sejuk. Mita menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dari mulut dengan lembut. Selama tinggal di kediaman Branson, balkon adalah tempat ternyaman bagi Mita. "Permisi Nyonya."Suara itu mengejutkan Mita, ia refleks membuka mata dan memutar kepala. "Bibi," ucap Mita, setelah melihat Hanna berdiri di pintu balkon. "Maaf Nyonya, tadi saya sudah mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Jadi saya terpaksa masuk." "Tidak apa-apa Bi. Oh iya, apa ada yang ingin Bibi sampaikan?" Tentu Mita bertanya, karena tak biasanya Hanna datang ke sana sepagi ini."Tuan, Nyonya."Mita mengerutkan kening, "Tuan, maksud Bibi?"Tuan terluka Nyonya, seseorang kembali menyerang Tuan." Hanna menjelaskan yang sebenarnya kepada Mita.Berapa nyawa yang telah dihabisi oleh Alex, sehingga musuhnya b
Satu minggu telah berlalu, selama ini Mita dan Alex jarang bertemu, walaupun tinggal dibawah atap yang sama. "Permisi Nyonya, Tuan menunggu anda di ruang kerja," ucap salah satu ajudan. "Hum, baiklah." Mita yang tadinya sedang menyiapkan makan malam, segera membuka celemek dan mencuci tangan. Ia bergegas menaiki anak tangga menuju lantai tiga, setibanya di depan pintu, Mita refleks menghentikan langkahnya dan mengurungkan niat untuk mengetuk pintu. "Apa keluarga Eldan belum menghubungi?""Belum Tuan, sepertinya mereka sedang berusaha mencari bantuan." "Roy, Roy, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang, dan aku tidak akan membiarkanmu mati terlalu cepat. Aku akan membuatmu paham, sesakit apa yang dirasakan ibuku saat kamu dan ayahmu menyiksanya."Perbincangan itu terdengar jelas di telinga Mita. Ia melihat Alex dari sela pintu yang tidak tertutup rapat, pria tampan itu duduk di atas kursi sambil menatap selembar poto di tangannya. "Mungkinkah Roy dan almarhum ayahnya membunuh ib
Seperti biasa, setiap pukul 5 pagi Mita sudah bangun dari tidurnya. Ia selalu ke balkon untuk menghirup udara segar dan menikmati rintik-tintik embun.Namun kali ini berbeda, Mita justru ke dapur. Ia membantu Hanna menyiapkan sarapan untuk Alex. Saat Mita menata makanan di atas meja, Alex tiba-tiba muncul. Pria berdarah dingin itu sudah terlihat rapi, ia mengenakan pakaian formal serba hitam."Aku akan mengambilkan air hangat," ucap Mita yang langsung pergi. Iya, setiap pagi sebelum makan, Alex terlebih dahulu minum air hangat. Hal itu sudah kebiasaan Alex sejak kecil. "Silahkan di minum." Mita menaruh gelas berisi air hangat di hadapan Alex. "Tunggu."Kata-kata itu membuat Mita berhenti melangkah, ia kembali memutar tubuh menghadap Alex. "Sejak kapan kamu jadi pelayan di rumah ini?" lanjut Alex dengan bertanya, namun kedua matanya fokus menatap gelas dihadapannya. "Sejak hari ini," jawab singkat Mita. Alex memutar kepala, ditatapnya Mita dengan tatapan yang sulit untuk dimenge
"Kau sengaja menggugurkan anakku," ucap Alex. Mata keduanya saling beradu, bahkan ujung hidungnya saling bersentuhan. Sebelum membuka mulut, Mita terlebih dahulu menghela napas, "Aku tidak mengandung anakmu."Alex refleks mengangkat tangan, ia mencekik Mita hingga membuatnya sulit bernapas. Untung saja Nathan tiba-tiba muncul dari balik pintu. "Permisi Tuan," ucap Nathan, ia refleks memutar tubuh karena melihat keduanya dalam posisi intim. Otak Nathan seketika negatif, ia berpikir bosnya itu sedang melakukan hubungan suami istri. "Tuan, Roy ingin bertemu dengan anda." Nathan berbicara dengan posisi memunggungi. Alex tersenyum getir, ia bangkit dari tubuh Mita. Dengan kasar ia melepaskan jarum infus dari tangan wanita malang itu, lalu menariknya dengan kasar. Alex sengaja membawa Mita ke ruang tamu untuk bertemu dengan Roy. Dalam kondisi lemah tak berdaya, akan membuat Roy sakit hati. Momen ini lah yang ditunggu-tunggu oleh Alex selama ini.Saat keduanya menuruni anak tangga menu







