Share

Bab 6. Make Over

Penulis: Langit Berawan
last update Tanggal publikasi: 2025-08-01 09:45:04

Menahan diri dari godaan Mili di dalam sauna, membuat Firzan semakin menyadari kalau wanita seksi itu mempunyai ketertarikan padanya. Tapi, setelah keluar dari salon ia kembali tak bisa menolak saat Mili memintanya untuk melakukan make over penampilannya.

Akan jadi seperti apa diriku menggunakan pakaian dan sepatu bermerk serta rambutnya dicukur di barber shop mahal? rasa penasaran terdetik di hati Firzan. 

“Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung hari ini,” ucap Ray kepada Firzan saat menunggu Mili dan Angela sedang memilih-milih pakaian untuk mereka berdua di sebuah toko baju ternama. “Tidakkah kamu merasa beruntung disukai Mili?” tanya Ray.

“Enggak tahu harus bilang apa, Ray. I’m confuse,” ucap Firzan.

 “Jangan terlalu berpikir menggunakan perasaan, it’s my advice. Kita jangan pernah merasa berada dalam posisi yang salah ketika ada seorang wanita menyukai kita, terlepas  wanita itu sudah mempunyai pasangan, itu bukan urusan kita, it’s her problem with her couple. Kamu setujukan dengan pendapatku?”

“Ada benarnya juga, sih.”

“Asal jangan pernah mengambil keuntungan atau memanfaatkan mereka, kita hanya menerima yang mereka tawarkan. I hope you understand,” tambah Ray.

Firzan hanya mengangguk-angguk kecil mendengar ucapan Ray, dia berpikir ada benarnya juga. Toh semua ini keinginan Mili, aku tidak harus menyalahkan diriku jika dia tidak jujur dengan suaminya, batin Firzan menyimpulkan ucapan Ray.

“Ray... Firzan... come here!” Angela dari kejauhan melambaikan tangan, di tangannya tampak beberapa potong pakaian telah berhasil dipilihnya untuk Ray, demikian juga dengan Mili, dia terlihat begitu antusias ingin mendandani mainan barunya.

Angela memilihkan Ray sebuah hem berwarna putih dengan beberapa motif di bagian dada serta belakang dan sebuah celana panjang fit berwarna putih polos. Sedangkan Mili memilihkan kemeja lengan panjang berwarna navy, dan celananya warna katun krim untuk Firzan.

How, is it good?” ucap Ray setelah keluar dari fit room sambil bergaya seperti model meletakan kedua tangannya di pinggang.

Very nice look, kamu tambah kelihatan macho,” komentar Angela.

“Iya, cocok bajunya dengan kamu, Ray, sengaja Angela memmilihkan hem ukuran fit agar otot-ototmu bisa tampak, dan potongan celanamu yang fit juga dan berbahan tipis itu juga menyimbangkan penampilanmu. Pokoknya kamu kelihatan keren banget, Ray!” Mili tak mau ketinggalan mengomentari.

Thank you ladies...” ucap Ray sambil tersenyum lebar dengan kedua tangannya masih di atas pinggang bergaya seperti seorang model.

Di dalam fit room, Firzan mengagumi penampilannya sendiri di dalam cermin. Tidak pernah terbayangkan dirinya bisa memiliki pakaian semahal itu, melihat bandrol harganya yang menempel di baju, membuatnya  berpikir, harga baju dan celana ini, cukup untuk kebutuhan hidupnya sebagai mahasiswa selama sebulan. 

Saat keluar fit room, Angela, Ray, dan Mili langsung terdiam, mereka speechless melihat penampilan Firzan dengan pakaian yang sedang dia kenakan.

Perfect!” ucap Angela sambil mengacungkan ibu jarinya.

“Kalau aku wanita, I will love you and I wanna marry you... hahahaa...” canda Ray untuk memuji penampilan Firzan dengan pakaian barunya.

Sementara Mili masih tak tahu harus berkata apa, dia hanya tersenyum-senyum menonton keindahan di depan matanya. Hatinya semakin yakin untuk memperjuangkan hasratnya kepada bidadara surga di depan matanya.

Say something, Mili...” usik Ray kepada Mili.

“Apa ya? Aku mau bilang ini keterlaluan...” ucap Mili memotong ucapannya.

“Keterlaluan?’ tegas Ray

“Maksudku keterlaluan gantengnya gitu lho...,” canda Mili.

Ray dan Angela tertawa, demikian pula Firzan yang sedang dipuji membuat senyumnya kian melebar.

Seperti kata Ray, Firzan berusaha melalui semuanya denga rileks, karena bukan dia yang menginginkan semuanya, dia hanya si penerima, termasuk saat Mili membelikan barang-barang yang lain seperti sepatu, sabuk dan parfum, dia hanya menerimanya dengan menunjukan rasa gembira dan terima kasih kepada Mili.

Acara dinner club mamah muda baru dimulai pukul delapan malam, Mili telah membooking resto hotel di sana untuk sepuluh orang. Selain membooking tempat makan, dia juga membooking 2 kamar Deluxe Twin dan 1 kamar Suite Executive.

Kamar deluxe twin mereka gunakan untuk beristirahat setelah seharian menghabiskan waktu diluar.

Firzan merebahkan tubuhnya di kasur terempuk yang pernah ditidurinya, begitu juga dengan Ray yang sudah terlebih dahulu terbaring di kasurnya yang berseberangan dengan tempat tidur Firzan.

I need a sleep a moment,” ucap Ray mulai memejamkan matanya. 

Demikian halnya Firzan, cukup merasa lelah, tetapi dia tidak bisa memejamkan mata. Yang dilakukannya adalah menepuk-nepuk pipinya sendiri untuk meyakinkan dirinya yang sedang berada di hotel mewah ini adalah nyata atau dia sedang bermimpi. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dialaminya seharian ini, sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya. Tapi, masih ada satu hal lagi yang membuat risau pikirannya. Acara nanti malam hanya semata-mata makan malam atau ada niat tersembunyi yang sudah direncanakan Mili dan kawan-kawannya?

"Aku sangat khawatir terjebak dalam permainan mereka," batin Firzan menerawang di langit-langit kamar hotel yang putih dan bersih...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 237. Dendam dan Kehancuran (TAMAT)

    Mili tergelak, namun tawa itu tak lagi terdengar manis, itu adalah tawa kering yang penuh racun. Matanya yang tajam menyisir seisi meja, mulai dari Pak Gun yang gemetar menahan amarah, hingga Chantika dan Firzan yang menatapnya dengan jijik."Pinter juga lo, Angela," desis Mili sambil melangkah pelan mendekati Angela. Suaranya merendah, namun setiap katanya membawa ancaman yang nyata. "Lo pikir dengan bongkar rahasia lama gue sama mantan suami lo itu, lo bakal jadi pahlawan di sini? Lo lupa siapa yang bikin tangan gue kotor pertama kali?"Mili mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Angela, namun cukup keras untuk didengar Kevin yang berdiri tak jauh dari sana."Kalau gue harus balik ke neraka, gue nggak akan jalan sendirian, Angela. Gue bakal seret lo, Kevin, dan seluruh reputasi keluarga Gunawan Sutarjo ke liang lahat yang sama. Lo punya bukti? Gue punya nyali buat habisin siapa pun yang berani tutup jalan gue!"Satu kata lagi keluar dari mulut sampah lo itu... gue pastiin

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 236. Pengakuan Sang Manipulator

    Restoran Gunsu Kemang makin siang semakin ramai, namun di pojok VIP, suasana terasa membeku. Chantika duduk bersama suaminya, Firzan, yang baru saja mendarat dari Australia. Saat Kevin dan Rasya melangkah masuk, mereka disambut oleh pemandangan yang tidak terduga, Tante Mili sudah ada di sana, duduk dengan angkuh di hadapan kakaknya."Bagus, pemeran utamanya sudah datang," sindir Mili dengan senyum miring yang membuat nyali Kevin menciut.Chantika berdiri, matanya sembab namun menyiratkan kemarahan besar. "Vin, sini duduk! Kita perlu bicara soal apa yang baru saja Tante Mili tunjukkan ke Kakak lewat foto di ponselnya."Chantika yang berwajah merah padam, Firzan yang menatap tajam, dan Tante Mili yang duduk anggun seolah dia orang yang paling berkuasa. Dunia Kevin seolah runtuh. Mili ternyata tidak hanya menjebaknya secara fisik, tapi juga sudah menyiapkan senjata untuk menghancurkan hubungannya dengan kakak kandungnya. "Puas kamu sekarang, Vin?!" teriak Chantika sambil memeluk Firza

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 235. Pertemuan di Gunsu Kemang

    Mobil Honda Civic milik Kevin membelah kemacetan kota dengan iringan musik yang kini volumenya sengaja dikecilkan. Rasya melirik Kevin yang masih menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Kalimat "Pagi ini gue melakukannya sama Tante Mili" barusan seperti bom yang siap meledak di dalam kabin mobil yang sempit itu."Yah, payah gue nggak diajak, Vin!” ujar Rasya, meski suaranya terdengar terkekeh pelan. Kevin tak menggubrisnya. Ia memilih memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan saat Papanya tiba-tiba muncul dari kamar kakaknya tadi pagi kembali berputar seperti film horor. "Tadi pagi... Bokap gue nyaris tahu gue di dalam kamar sama Tante Mili. Kalau saja gue telat keluar dari kamar itu, pasti Papa gue curiga gue ada di sana ... gue nggak tahu harus gimana sekarang, Sya."Rasya menginjak rem mendadak karena lampu merah, membuat tubuh mereka sedikit terdorong ke depan. "Memang gila sih, Vin! Biar bagaimana pun Tante Mili itu ibu tiri lo, resikonya besar kalau lo ketahuan sama Bokap lo?""Gue

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 234. Lari Dari Rumah

    “Kevin…!”“Pak, Kevin Pingsan!”Tubuh kevin tumbang seketika, lalu tertelungkup di atas meja tak sadarkan diri. Seorang gadis yang duduk persis di sampingnya menahan tubuh Kevin agar tidak terjatuh ke lantai. Kemudian orang disekitarnya pun ikut datang menolong Kevin hingga tercipta kerumunan. “Segera bawa dia ke ruang kesehatan!” sang dosen ikut panik menyuruh beberapa mahasiswa segera menggotong Kevin keluar kelas, sehingga menjadi perhatian semua orang di dalam kampus. Kabar Kevin pingsan di dalam kelas, akhirnya sampai juga ke telinga Rasya yang juga sedang menghadiri kelas di kampus yang sama hanya berbeda jurusan. Beberapa menit setelah kejadian itu, ia segera menemui sahabatnya itu di ruang UKM. Tampak di sana Kevin sedang terbaring di ranjang pasien, di sisinya ada dua orang mahasiswa anggota UKM yang sedang bertugas merawat mahasiswa yang membutuhkan pertolongan pertama ketika jatuh sakit. “Lo sakit apa, Vin?”Kevin menoleh ke arah Rasya yang baru datang. Matanya terlihat

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 233. Derita Kevin

    Mili bergegas keluar rumah untuk mengantarkan ponsel milik suaminya yang tertinggal di kamar, namun baru saja ia ingin membuka pintu depan…Kreek!Pintu itu lebih dulu terbuka, tampak dibalik pintu muncul lelaki bertubuh tinggi dan berperut buncit…“Papah…?”“Aku kebelet mau ke kamar mandi, Mah…” Gun bergegas masuk ke dalam rumah, kamar mandi yang terdekat, tentu saja kamar tidur Chantika, ia langsung masuk ke dalam kamar itu…“Untung saja Kevin sudah keluar dari kamar itu, kalau tidak pasti ketahuan sama papahnya,” gumam Mili sambil menarik napas lega. Tidak lama kemudian, tampak Kevin keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi dan mengenakan tas di punggungnya. “Kamu mau berangkat kuliah, Vin?” tanya Mili yang masih duduk di ruang tengah menunggu suaminya yang masih di kamar kecil.“I-iya, Tante… soalnya tugas mata kuliah hari ini sangat penting, jadi aku harus mengikutinya,” jelas Kevin membuat keputusan.“Iya baguslah, Vin, kamu harus mengutamakan kuliahmu agar cepat mendapat

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 232. Antara Hasrat dan Tugas

    “Kevin, duduklah…” Mili meminta anak tirinya itu duduk di tempat tidur, lalu ia berdiri di hadapannya sambil membuka piyama tidurnya. “Selama ini apa yang paling kamu inginkan dariku, Kevin?” tanya Mili sambil menunjukkan kedua bulatan di dadanya yang terbalut bikini berwarna peach.Kevin tampak ragu menjawab, ia hanya menggigit bibirnya kecil sambil memandang dada Mili yang terlihat besar itu. “Jangan malu-malu, Vin, kamu suka ini kan?” Mili memegang kedua bulatan di dadanya dengan kedua tangannya.. “I-iya, Tante…” Kevin mengangguk dengan suara bergetar.“Kalau begitu peganglah atau mau kamu apakan pun silakan sesuka hatimu, anggap saja ini untuk menutup mulut atas semua yang kamu ketahui.”Kevin terlihat ragu, sementara jantungnya sejak tadi terasa berdebar-debar.“Ayo, Vin, peganglah” Mili mendekatkan dadanya pada Kevin, seperti kucing dapur yang diberi ikan asing, tak mungkin ia menolaknya…Detik berikutnya, jari-jari Kevin yang kurus dan panjang terhipnotis untuk memegang kedu

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 54 Ketahuan Bermesraan

    Firzan mulai mengganti ban mobil yang kempes di tengah hujan yang masih gerimis, Chantika turut menemani dengan melindungi Firzan dari air hujan dengan menggunakan payung berwarna merah yang dipegangnya. Lintar melihat dua sejoli itu dengan penuh senyum. Romantis sekali, bikin iri aja mereka, gumam

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 24. Obsesi Mili

    Rencana besar telah disiapkan Mili, dan karena rencana itu pula diam-diam tanpa sepengetahuan Gun, kini Mili berada di dalam mobil menuju ke bandara untuk menjemput suaminya yang baru pulang dari luar kota.Mili ingin memberi servis paling memuaskan kepada Gun demi mencapai tujuannya, begitu yang ia

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 57. Ketegangan di Meja Makan

    Mbak Nung sedang menghidangkan makanan di atas meja, semangkuk besar nasi goreng dan semangkuk kecil nasi tim untuk Kevin. Kopi dan teh panas pun sudah tersedia di atas meja. Hari ini Pak Gun berangkat kerja lebih pagi dari biasanya, karena nanti malam akan berangkat ke Semarang bersama-sama keluar

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 56. Pertengkaran di Pagi Hari

    Pagi ini Gunawan berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya, karena nanti malam ia akan berangkat ke Semarang bersama keluarganya. Nenek Las sengaja pagi-pagi sudah berada di dapur karena ingin membuatkan sarapan favorit keluarga yaitu nasi tim ayam jamur. Nenek Las juga mengajarkan Mbak Nung car

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status