LOGIN“Bagaimana Sis menurutmu Firzan?” tanya Mili yang kini beristirahat satu kamar dengan Angela.
“Dia itu sangat sempurna, aku tidak pernah melihat lelaki setampan itu seumur hidupku. Wajahnya itu lho benar-benar ngangenin dan sudah pasti ingin memiliki,” ujar Angela yang sedang berbaring dengan santai.
“Aku rela meninggalkan suamiku dan semua kekayaannya asalkan Firzan menjadi milikku, hidup sederhana pun tidak apa asal dia selalu bersamaku, pasti bahagia rasanya memiliki lelaki seganteng itu,” ungkap Mili sambil memandang foto Firzan di handphone-nya yang dia ambil secara diam-diam.
“Ehm, walaupun aku bukanlah good person, tapi aku percaya kok, Mil, kalau cinta sejati itu bukan dari harta atau paras rupa. Harta bisa berkurang, ketampanan juga bisa pudar saat tua nanti. Betul begitu enggak, Sis?” ungkap Angela.
“Iya juga sih. Makanya sebelum hartanya habis dan wajahnya belum keriput, kita nikmati dulu sepuasnya, Sis... hahaha...”
“Susah ya, ngomong sama playgirl, enggak akan nyambung, di otaknya cuma ada urusan selangkangan laki-laki.”
“ Di otak siapa, Sis?” tegas Mili.
“Di otak kamu!” Angela menunjuk ke arah Mili.
“Otak siapa lagi?” tegas Mili lagi.
“Otak aku juga, hehehe...” Angela keluar sifat aslinya yang gokil bergoyang-goyang sambil menunjuk otaknya sendiri.
“Di otak siapa lagi, Sis?” terakhir tegas Mili
“Di otak mamah mudaaaa...” ucap Angela dan Mili secara bersama-sama, kemudian keduanya tertawa-tawa seperti orang kerasukan jin.
“Jadi siapa saja yang akan datang, Mil?” tanya Angela saat tawa mereka sudah tak lagi terdengar.
“Selain Salsa dan Nanda, ada juga 4 anggota mamih rumpi yang mau datang, jadi semuanya 10 orang, cukuplah ya?”
“Aku enggak sabar nih, menunggu detik-detik mereka melihat berondong kita, aku yakin bakal ada yang ilernya langsung ngeces... hahaha...” ucap Mili kembali tertawa lagi memegang perutnya yang mulai mulas karena kebanyakan tertawa.
“Asli mamih rumpi bakal rame dan enggak terkontrol mulutnya ya, Sis, apalagi kalau melihat Firzan. Asli, kalau waktu itu enggak ada Ray, sebenarnya pertama melihat Firzan di sauna, hatiku langsung meleleh, pengin terus memeluknya dan mencium bibirnya yang merah menggoda itu,” ungkap Angela.
“Sama kayak aku, Sis! Tahu enggak waktu pertama melihat Firzan, aku langsung enggak sadar sama apa yang aku lakukan, kayak orang dihipnotis gitu, Sis. Aku sedang menuang teh ke dalam gelas, terus saat tiba-tiba dia sudah ada di depanku, aku langsung hilang fokus, teh yang aku tuang malah meleber kemana-mana, segitunya lho Sis auranya Firzan,” Mili mengenang kejadian pagi itu.
“Aku rasa, Firzan itu memang titisan nabi Yusuf deh,” tambah Angela.
Lalu Mili dan Angela pun mempunyai ide, untuk mengerjai teman-temannya yang akan datang dinner pada malam ini. Apa kira-kira reaksi mamah muda dan mamih rumpi nanti saat tiba-tiba Firzan muncul di hadapan mereka?
Satu persatu anggota club mamah muda telah berkumpul, suasana resto yang tadi sepi mendadak riuh dengan celoteh mereka. Malam ini ruangan VIP resto hotel itu memang telah dibooking oleh Mili dan tertutup untuk pengunjung lain, hingga mereka bebas berteriak sekalipun tanpa takut mengganggu pengunjung lain.
Di ruangan resto bergaya modern Asia Pasifik itu tempat duduk dan meja single itu ditata membentuk huruf U, di atas meja telah tersedia piring makan berbentuk bundar dan lebar, di sisinya juga tersedia tisu dan alat makan, serta water goblet berisi air mineral.
“Kok tempat duduknya dipisah-pisah begini, kayak mau meeting aja sih,” protes Salsa yang memilih duduk di tengah.
“Udah duduk aja, Sis, nanti juga kamu tahu bakal ada kejutan,” ucap Angela.
“Kejutan?”
“Iya, Sis, pokoknya aku berani jamin, malam ini bakal jadi malam yang tidak akan terlupakan, hehehe...”
“Apaan sih, Mili, kita udah biasa kali ketemu cowok berotot kayak gitu,” celetuk Nanda yang sedari tadi masih sibuk dengan kaca make-upnya untuk memastikan dandanannya telah tampil sempurna.
“Lihat aja deh nanti, yang ini pasti beda,” ucap Mili membuat penasaran.
“Jangan-jangan dia mau bikin show binaraga ya di depan kita?” terka Salsa sambil mengerutkan keningnya.
“Ditunggu aja kali ya, enggak usah ribut-ribut!” potong Angela.
Satu persatu anggota mamih rumpi juga datang, walaupun usia mereka lebih senior dari mamah muda, namun penampilan mereka tak kalah menarik, masih terlihat aura kecantikannya. Salah satu anggota mamih rumpi adalah teman Angela, sesuai namanya, para wanita mamih rumpi doyan semua lelaki, berondong sampai tua-tua keladi mereka masih mau menikmatinya.
Selain doyan selangkangan laki-laki, mamih rumpi juga doyannya ngegosip, jadi tidak heran kalau ngumpul bareng mereka siapkan telinga untuk mendengar mereka mengomentari urusan orang lain. Bagi Angela dan anggota club mamah muda itu oke-oke saja selagi tidak ngegosipin mereka…
Mili tergelak, namun tawa itu tak lagi terdengar manis, itu adalah tawa kering yang penuh racun. Matanya yang tajam menyisir seisi meja, mulai dari Pak Gun yang gemetar menahan amarah, hingga Chantika dan Firzan yang menatapnya dengan jijik."Pinter juga lo, Angela," desis Mili sambil melangkah pelan mendekati Angela. Suaranya merendah, namun setiap katanya membawa ancaman yang nyata. "Lo pikir dengan bongkar rahasia lama gue sama mantan suami lo itu, lo bakal jadi pahlawan di sini? Lo lupa siapa yang bikin tangan gue kotor pertama kali?"Mili mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Angela, namun cukup keras untuk didengar Kevin yang berdiri tak jauh dari sana."Kalau gue harus balik ke neraka, gue nggak akan jalan sendirian, Angela. Gue bakal seret lo, Kevin, dan seluruh reputasi keluarga Gunawan Sutarjo ke liang lahat yang sama. Lo punya bukti? Gue punya nyali buat habisin siapa pun yang berani tutup jalan gue!"Satu kata lagi keluar dari mulut sampah lo itu... gue pastiin
Restoran Gunsu Kemang makin siang semakin ramai, namun di pojok VIP, suasana terasa membeku. Chantika duduk bersama suaminya, Firzan, yang baru saja mendarat dari Australia. Saat Kevin dan Rasya melangkah masuk, mereka disambut oleh pemandangan yang tidak terduga, Tante Mili sudah ada di sana, duduk dengan angkuh di hadapan kakaknya."Bagus, pemeran utamanya sudah datang," sindir Mili dengan senyum miring yang membuat nyali Kevin menciut.Chantika berdiri, matanya sembab namun menyiratkan kemarahan besar. "Vin, sini duduk! Kita perlu bicara soal apa yang baru saja Tante Mili tunjukkan ke Kakak lewat foto di ponselnya."Chantika yang berwajah merah padam, Firzan yang menatap tajam, dan Tante Mili yang duduk anggun seolah dia orang yang paling berkuasa. Dunia Kevin seolah runtuh. Mili ternyata tidak hanya menjebaknya secara fisik, tapi juga sudah menyiapkan senjata untuk menghancurkan hubungannya dengan kakak kandungnya. "Puas kamu sekarang, Vin?!" teriak Chantika sambil memeluk Firza
Mobil Honda Civic milik Kevin membelah kemacetan kota dengan iringan musik yang kini volumenya sengaja dikecilkan. Rasya melirik Kevin yang masih menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Kalimat "Pagi ini gue melakukannya sama Tante Mili" barusan seperti bom yang siap meledak di dalam kabin mobil yang sempit itu."Yah, payah gue nggak diajak, Vin!” ujar Rasya, meski suaranya terdengar terkekeh pelan. Kevin tak menggubrisnya. Ia memilih memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan saat Papanya tiba-tiba muncul dari kamar kakaknya tadi pagi kembali berputar seperti film horor. "Tadi pagi... Bokap gue nyaris tahu gue di dalam kamar sama Tante Mili. Kalau saja gue telat keluar dari kamar itu, pasti Papa gue curiga gue ada di sana ... gue nggak tahu harus gimana sekarang, Sya."Rasya menginjak rem mendadak karena lampu merah, membuat tubuh mereka sedikit terdorong ke depan. "Memang gila sih, Vin! Biar bagaimana pun Tante Mili itu ibu tiri lo, resikonya besar kalau lo ketahuan sama Bokap lo?""Gue
“Kevin…!”“Pak, Kevin Pingsan!”Tubuh kevin tumbang seketika, lalu tertelungkup di atas meja tak sadarkan diri. Seorang gadis yang duduk persis di sampingnya menahan tubuh Kevin agar tidak terjatuh ke lantai. Kemudian orang disekitarnya pun ikut datang menolong Kevin hingga tercipta kerumunan. “Segera bawa dia ke ruang kesehatan!” sang dosen ikut panik menyuruh beberapa mahasiswa segera menggotong Kevin keluar kelas, sehingga menjadi perhatian semua orang di dalam kampus. Kabar Kevin pingsan di dalam kelas, akhirnya sampai juga ke telinga Rasya yang juga sedang menghadiri kelas di kampus yang sama hanya berbeda jurusan. Beberapa menit setelah kejadian itu, ia segera menemui sahabatnya itu di ruang UKM. Tampak di sana Kevin sedang terbaring di ranjang pasien, di sisinya ada dua orang mahasiswa anggota UKM yang sedang bertugas merawat mahasiswa yang membutuhkan pertolongan pertama ketika jatuh sakit. “Lo sakit apa, Vin?”Kevin menoleh ke arah Rasya yang baru datang. Matanya terlihat
Mili bergegas keluar rumah untuk mengantarkan ponsel milik suaminya yang tertinggal di kamar, namun baru saja ia ingin membuka pintu depan…Kreek!Pintu itu lebih dulu terbuka, tampak dibalik pintu muncul lelaki bertubuh tinggi dan berperut buncit…“Papah…?”“Aku kebelet mau ke kamar mandi, Mah…” Gun bergegas masuk ke dalam rumah, kamar mandi yang terdekat, tentu saja kamar tidur Chantika, ia langsung masuk ke dalam kamar itu…“Untung saja Kevin sudah keluar dari kamar itu, kalau tidak pasti ketahuan sama papahnya,” gumam Mili sambil menarik napas lega. Tidak lama kemudian, tampak Kevin keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi dan mengenakan tas di punggungnya. “Kamu mau berangkat kuliah, Vin?” tanya Mili yang masih duduk di ruang tengah menunggu suaminya yang masih di kamar kecil.“I-iya, Tante… soalnya tugas mata kuliah hari ini sangat penting, jadi aku harus mengikutinya,” jelas Kevin membuat keputusan.“Iya baguslah, Vin, kamu harus mengutamakan kuliahmu agar cepat mendapat
“Kevin, duduklah…” Mili meminta anak tirinya itu duduk di tempat tidur, lalu ia berdiri di hadapannya sambil membuka piyama tidurnya. “Selama ini apa yang paling kamu inginkan dariku, Kevin?” tanya Mili sambil menunjukkan kedua bulatan di dadanya yang terbalut bikini berwarna peach.Kevin tampak ragu menjawab, ia hanya menggigit bibirnya kecil sambil memandang dada Mili yang terlihat besar itu. “Jangan malu-malu, Vin, kamu suka ini kan?” Mili memegang kedua bulatan di dadanya dengan kedua tangannya.. “I-iya, Tante…” Kevin mengangguk dengan suara bergetar.“Kalau begitu peganglah atau mau kamu apakan pun silakan sesuka hatimu, anggap saja ini untuk menutup mulut atas semua yang kamu ketahui.”Kevin terlihat ragu, sementara jantungnya sejak tadi terasa berdebar-debar.“Ayo, Vin, peganglah” Mili mendekatkan dadanya pada Kevin, seperti kucing dapur yang diberi ikan asing, tak mungkin ia menolaknya…Detik berikutnya, jari-jari Kevin yang kurus dan panjang terhipnotis untuk memegang kedu







