Se connecterSteve langsung mengambil liontin dari tangan Adara begitu wanita itu menyerahkannya. Wajahnya tetap tenang, tetapi gerakannya cepat dan hati-hati, seperti orang yang sudah siap menghadapi apa pun."Kalau jam tangan anakku ada kameranya," katanya pelan. "Berarti di dalam liontin ini juga pasti ada sesuatu. Keduanya diberikan kepada kami oleh orang yang sama, di hari yang sama. Aku pikir itu hadiah ... tapi sekarang aku tahu, itu bukan sekadar hadiah."Steve mengangguk singkat, lalu segera keluar dari ruangan. Dia membutuhkan tempat yang sepi untuk memeriksanya.Sekarang, hanya Gabriel dan Adara yang tersisa di ruangan sunyi itu. Keheningan itu terasa berat.Adara menarik napas dalam-dalam, lalu kembali bicara."Dulu aku seorang aktris lokal," katanya. "Aku juga sering jadi pemeran pengganti."Mata Gabriel sedikit membesar.Sekarang dia mengerti kenapa wanita itu terlihat familier sejak awal. Dia sudah berkali-kali mencoba mengingat, berusaha menempatkan wajah itu di ingatannya.'Jadi da
Adara terbaring diam di ranjang rumah sakit, matanya menatap pola-pola indah yang terukir di langit-langit ruang VIP. Desainnya elegan dan mahal, tetapi dia tidak melihat keindahan di sana. Dadanya naik turun terlalu cepat, napasnya tidak teratur, karena pikirannya hanya tertuju pada satu hal.Anaknya. Desmond.Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia ketakutan? Apakah dia berpikir kalau dia dicampakkan? Semua itu terus memenuhi pikirannya.Pintu kamar terbuka pelan, dan jantungnya langsung berdebar kencang.Dia segera menoleh, matanya terpaku ke arah pintu. Dua pria memasuki ruangan. Dia langsung mengenali salah satunya.Gabriel Wijaya, suami atasannya.Pria yang sangat mirip dengan anaknya, sampai-sampai selalu membuatnya takut.Pria lain di sampingnya bertubuh tinggi, sikapnya tegas, dan mengeluarkan aura tenang yang berbahaya. Matanya tajam, dingin, dan penuh pengamatan. Dia tidak mengenalnya, tetapi semua hal tentang pria itu memancarkan wibawa.Rasa takut langsung menjalar di tubuhn
"Apa yang terjadi pada ayahku, Steve?"Suara Gabriel terdengar pelan dan tertahan saat matanya menangkap pemandangan di depannya.John dan Gladys terbaring di dua ranjang rumah sakit yang berbeda, diletakkan berdampingan di dalam satu ruang privat.Bunyi pelan alat monitor jantung memenuhi ruangan, stabil tetapi menegangkan. Selang-selang terpasang di tubuh John, jumlahnya lebih banyak dibanding Gladys. Mesin-mesin mengelilinginya, diam-diam bekerja menggantikan fungsi tubuhnya yang kesulitan bekerja dengan normal.Melihat ayahnya seperti ini, dengan perban melilit di kepalanya, membuat dada Gabriel terasa sesak."Mereka diculik," kata Steve dengan tenang, tetapi tatapannya serius. "Ayahmu mengalami luka yang cukup parah."Rahang Gabriel mengeras."Aku menduga Wyatt terlibat besar dalam semua ini," lanjut Steve. "Kita akan tahu semuanya setelah ayahmu cukup kuat untuk bicara dengan jelas."Gabriel memejamkan matanya.Selama beberapa detik, dia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya berdir
Tawa kecil terdengar.Lalu lagi.Dan lagi.Hanya itu yang dilakukan oleh John.Suara itu menggema pelan di dalam ruangan besar yang dingin, memantul di dinding kosong dan lantai berubin. Ruangan itu berbau semen lembap, darah kering, dan sesuatu yang lebih menjijikkan.John dan Gladys duduk di lantai, punggung mereka menempel ke dinding. Tangan mereka terikat erat di belakang, dan kaki mereka diikat menjadi satu dengan tali tebal. Tidak ada jalan keluar. Bahkan jendela kecil di sana pun tertutup rapat.Kemeja putih yang dikenakan John sudah tidak lagi berwarna putih. Kainnya basah oleh darah kering yang menghitam. Bibirnya pecah, wajahnya lebam, dan darah masih merembes pelan dari sudut mulutnya.Namun, bahkan dalam kondisi seperti itu pun dia tetap terlihat tampan.Dan dia tertawa seolah-olah dirinya belum cukup disiksa. Tawa itu hambar, mengejek, dipenuhi rasa sakit dan perlawanan."Kamu pikir kamu lucu, John? Sama sekali nggak!" bentak seorang wanita paruh baya berambut pendek dan b
"Dana akan ditransfer ke rekening perusahaanmu hari ini," kata Gabriel dengan tenang sambil menyeruput kopinya. "Aku sudah bicara dengan tiga kontraktor, termasuk ayahmu. Mereka akan menghubungi sekretarismu dan menjadwalkan pertemuan sebelum hari ini berakhir."Isla mendengarkan dalam diam saat mereka sarapan bersama. Suasana di ruang makan terasa tenang, tetapi hatinya tidak begitu. Semua yang dikatakan Gabriel terdengar baik, terlalu baik. Segalanya berjalan sangat cepat, dan itu membuatnya takut.Dia memaksakan senyum kecil agar Gabriel tidak menyadari rasa takutnya.Satu minggu sudah berlalu sejak kejadian serangan di mal. Adara masih belum siuman. Setiap pagi, Isla berdoa untuknya, dan setiap malam, dia diam-diam menangis. Apa pun yang dikatakan orang lain, dia tetap menyalahkan dirinya sendiri. Jika hari itu dia tidak pergi ke mal, Adara tidak akan terbaring di rumah sakit, berjuang demi hidupnya.Lalu, ada Desmond.Anak kecil itu kembali bersekolah pagi itu. Isla melihatnya kel
Gabriel tersenyum lembut pada Desmond dan sedikit berjongkok agar matanya sejajar dengan anak itu."Bocah kecil," katanya pelan, menjaga agar suaranya tetap tenang dan ramah. "Aku boleh pinjam jam tanganmu sebentar?"Nada bicaranya hangat dan lembut, membuat Desmond semakin rileks. Anak itu langsung percaya tanpa ragu."Boleh," jawab Desmond dengan gembira. "Kalau mau, ambil saja."Dia langsung mengulurkan lengan kecilnya tanpa ragu, menawarkan jam tangan itu.Ada sesuatu yang terasa mengencang di dada Gabriel. Dia mengusap rambut anak itu dengan lembut sebelum perlahan membuka kait jam tersebut. Begitu jam itu lepas dari pergelangan Desmond, Gabriel berdiri tegak.Tanpa mengatakan apa pun lagi, dia berbalik dan berjalan keluar ruangan. Steve langsung mengikutinya.Isla terpaku kebingungan. Senyumnya memudar saat melihat mereka pergi begitu saja. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi ketegangan di tubuh Gabriel membuatnya takut.Diana melihat ekspresi putrinya, tetapi dia







