LOGINLonjakan hormon estrogen dan progesteron saat kehamilan Arumi memasuki trimester kedua membuat hasratnya seakan meledak-ledak, terlebih Arumi sering ditinggal Roy sendirian. Saat Roy pulang, masih dalam keadaan berdiri di ruang tengah rumah sederhananya, Arumi bergelayut manja di leher Roy, seolah hasrat yang sering tertahan minta untuk disalurkan tanpa bisa dibendung lagi."Mas, aku kangen ..." Arumi mendesis lirih, tatapannya sayu, menengadah dengan bibir setengah terbuka. Ia telusuri dada bidang Roy dengan telapak tangannya, meraba dari atas hingga kebawah pusar Roy. Lain lagi yang dirasakan Roy, dalam kondisi terserang sindrom cauvade, ia harus sekuat hati agar tidak muntah karena rasa mual. Morning sicnkness dalam istilah kedokteran tersebut begitu menyiksa bagi Roy."Mas juga kangen, Arumi. Kangen pengen kasih susu kental buat bayi kita," jawab Roy tersenyum balas menatap sang istri kecilnya. Jawaban Roy membuat hasrat Arumi semakin tak tertahankan, istrilah yang diucapkan Roy k
"Perasaanku kok mencium aroma gak enak gini ya? Aneh ..." Sembari mengenakan pakaian sehabis mandi, Roy bergumam sendiri dalam kamarnya. Rumah sebesar ini terasa begitu sepi, Sandra pergi dengan suaminya entah kemana. Roy gak akan menghubungi wanita tersebut, kecuali Sandra menghubunginya terlebih dulu. Kalau sempat suami Sandra mengetahui mereka sering berbagi kehangatan, bisa berabe urusannya."Bau apaan sih? Perasaan di rumah ini gak ada tikusnya, kok perasaan bau bangkai gitu." Lagi-lagi Roy bergumam sendiri, hidungnya kembang-kempis mengendus aroma tak sedap dalam kamar. Kolong ranjang, di balik lemari, bahkan Roy mencium aroma ketiaknya sendiri. Namun sumber bau tak sedap yang membuat perutnya mual tak kunjung ditemukan.Sebenarnya sudah hampir seminggu yang lalu Roy merasakan hal aneh, mencium aroma tak sedap yang tak jarang membuatnya nyaris muntah. Namun ia tidak menghiraukan, mungkin hanya kebetulan ada bangkai tikus, entah apa di sekitarnya. Namun semakin hari, indra penciu
"Aku gak bisa dampingi kamu, mama barusan telpon minta ditemani untuk menghadiri acara arisannya. Kamu datang aja sendiri ke kantor papa, gak apa-apa kan?""Semangat Roy, anggap aja menghadap calon papa mertua. Tapi ingat, papa itu galak kalau urusan soal bisnis, kalau perlu kamu pakai pempes aja, biar gak ngompol di celana."Roy meringis, sembari menengadah menatap gedung pencakar langit di hadapannya. Obrolan singkat bersama Amella sebelum ia datang sendiri ke kantor perusahaan milik keluarga Amella, masih terngiang di telinganya. Tadinya Roy berharap sang kekasih menemaninya untuk menghadap papa Amella yang meminta Roy untuk datang ke kantornya yang berada di lantai tujuh gedung pusat perkantoran tersebut, namun akhirnya Roy harus berangkat sendirian, karena Amella punya acara lain bersama sang mama. Paling tidak begitulah yang diketahui Roy."Aku harus siap, apapun itu. Ya Tuhan, tolong tenangkan gemuruh hatiku ini," bisik Roy dalam hati. "Benar kata orang-orang, menghadap calon
Pagi-pagi sekali Roy sudah berada di kampus, pelajaran dan tugas di hari kemarin yang sempat tertinggal harus ia kejar hari ini. "Wahhh, aku kira bakalan menggantikan security untuk membuka gerbang. Ternyata Amella datang lebih dulu, tapi mana dia?" Roy bergumam, sembari melepas helm yang menutupi kepalanya, sesaat setelah baru saja memarkir motornya. Roy mengitari pandangannya ke sekitar tempat parkir, mobil mungil warna merah milik Amella sudah terparkir, namun pemiliknya tidak kelihatan.Karena datang ke kampus masih terlalu pagi dari biasanya, Roy mengira dirinya lah yang akan membuka gerbang kampus sebelum security datang. Tapi Amella datang lebih dulu, hanya mobilnya yang terlihat di parkiran. "Mungkin tugas Amella juga udah numpuk, kebiasaan sih ngerjain tugas borongan. Mendekati deadline kocar-kacir," bisik Roy tersenyum sendiri, karena kebiasaannya pun begitu."Pagi, mas Roy." Pagi, Dinda. Segar banget pagi ini," jawab Roy, saat membalas sapaan adik letingannya. Ketika baru
"Brengsek kamu!"Roy melotot, spontan ia mendorong Shinta hingga terlepas dari pelukannya. Wanita yang telah ia gempur habis-habisan dalam pengaruh obat perangsang tersebut kaget, ia tidak menyangka Roy berbuat kasar setelah lepas dari pengaruh obat perangsang."Untuk apa kamu melakukan ini semua, haaa?! Hingga berani kamu mengirim orang untuk mencelakai aku, bahkan kamu meracuni aku dengan obat sialan itu!" Bentak Roy lagi, sembari menyambar pakaian yang berserakan di lantai kamar. Sekilas Roy melirik pada jarum suntik yang masih tergeletak di lantai, ia tau bahwa Shinta telah berbuat curang dengan menyuntikkan obat perangsang ke tubuhnya."Dengarkan aku dulu, Roy. Aku hanya ingin mencintai kamu, aku akui caraku salah. Tapi percayalah, aku telah jatuh cinta saat pertama kali Tante Mirna memperkenalkan kamu padaku," jawab Shinta, ia beringsut ke sisi ranjang menatap Roy yang sedang bergegas kembali mengenakan pakaiannya. Shinta menutupi tubuh polosnya dengan selimut."Ooo, jadi Tante
"Arumi?"Roy bergumam lirih nyaris tanpa suara, ia terpana sesaat. Di saat kesadarannya belum sepenuhnya pulih, setelah napasnya terasa sesak saat wajahnya tertutup dua gundukan kenyal dengan aroma parfum yang khas. Di antara setengah sadar tersebut Roy hanya ingat dan menyebut satu nama, Arumi."Hisap Roy, hisap yang kenceng sayang. Hoeuuhh!" Shinta yang tengah menindih Roy kembali menyumpal mulut Roy dengan tonjolan kecil hitam kecoklatan yang sudah mengkal, tonjolan kecil itulah yang menjadi titik paling sensitif pada kedua gundukan kembar milik Shinta.Dalam kondisi yang baru setengah sadar, dalam pengaruh obat perangsang dan bayangan Arumi yang tiba-tiba hadir, Roy melahap gundukan daging kenyal milik Shinta yang menantang di depan matanya. Dengan rakusnya Roy menghisap, meremas daging kenyal putih mulus milik Shinta."Oouuhh Roy!" Shinta melenguh meresapi kenikmatan, saat Roy menghisap puting daging kenyal tersebut, ia menengadah dengan mata terpejam. Kemudian Shinta memegang gu







