MasukBagas, sejak SMP sudah sekolah di luar negeri dan terus di sana hingga kuliah. Kini dia kembali ke Indonesia untuk magang di perusahaan rokok terbesar, Djerami. Menariknya, Bagas seperti kenal betul dengan perusahaan itu. Apa yang sebenarnya terjadi?
Lihat lebih banyak“Heiii ... kamu mo ngapain berdiri di situ? Kamu mo merampok ya?” bentak seorang pria gagah di balik pagar hitam yang tinggi itu.
Si pemuda di balik pagar itu seketika memundurkan badannya dari pagar hitam itu karena kaget dengan bentakan bapak-bapak yang ada di balik pagar.
“Gak, Pak! Ehmmm ... anu, Pak ... saya mo ketemu Ibu Sonya!” jawab Arya yang juga memundurkan wajahnya dari pagar besar itu dengan suara gemetaran karena lumayan takut melihat pria bertubuh kekar dan besar di balik pagar itu.
Tak lama kemudian, pintu pagar hitam itu pun terbuka sedikit dan menyembulkan kepala pria kekar tadi.
“Gimana, Mas? Tadi saya kurang dengar!” ucap pria itu yang sekilas kalau dilihat sangat mirip dengan artis pemeran film laga tempo dulu, yaitu Advent Bangun.
Terlihat otot-otot lengan yang besar milik pria itu sangatlah menonjol, juga dengan dada sixpack-nya, karena sang pria hanya menggunakan celana panjang yang digulung hingga dengkulnya.
Tangannya terlihat membawa linggis besi. Hal itu membuat Arya makin ketakutan melihatnya.
“Aa ... aanu, Pak ... sesss ... sssaya mo ketemu Ibu Sonya!” ucap Arya mengulangi ucapannya tadi.
“Ada perlu apa dengan Ibu Sonya?”
“Saya mo melamar jadi sopir, Pak!” jawab Arya sambil agak membungkukkan tubuhnya untuk sedikit memberi hormat kepada pria besar itu.
“Kamu sudah ada janji dengan beliau?” tanya pria itu lagi.
“Ehmm ... sudah, Pak!” jawab Arya sambil sedikit melirik sebagian penampakan bagian depan rumah besar itu.
“Tunggu di sini!” balas sang pria. Pria itu pun memencet sebuah tombol di dekat pintu pagar, semacam interkom, untuk menghubungi seseorang.
“Halo, Bu Sonya. Ini ada laki-laki muda datang, katanya mo melamar jadi sopir!”
“Owh, suruh masuk aja, Pak Dirman!” terdengar suara perempuan di interkom itu, yang mungkin saja itu Ibu Sonya yang ingin ditemui Arya sore itu.
“Baik, Bu!” ucap pria kekar itu yang terdengar dipanggil dengan nama Dirman.
“Oke, Mas. Masnya disuruh masuk!”
“Terima kasih, Pak!”
Arya pun diantar masuk sampai ke teras halaman depan rumah itu dan Arya terbelalak melihat interior bagian depan rumah itu yang ternyata itu benar-benar rumah mewah. Seluruh bentuk interiornya bagaikan istana raja-raja yang suka Arya lihat di buku-buku dongeng kala kecil dahulu.
Terlihat taman yang sangat indah dan juga kolam ikan yang cukup lebar terhampar di bagian depan rumah mewah itu.
Belum lagi tanaman-tanaman yang berwarna-warni yang kayaknya itu tanaman berharga mahal yang menghiasi halaman depan rumah besar itu.
Cukup lama Arya duduk di bagian teras rumah mewah itu.
Saking lamanya, Arya mencoba membuka kembali sosmed I*-nya untuk mengecek kembali percakapan DM Arya dengan Ibu Sonya.
Adapun Arya bisa sampai di tempat ini karena secara tidak sengaja menemukan akun I* Ibu Sonya dan membaca salah satu posting-an Ibu Sonya itu kalau ada info lowongan pekerjaan sebagai sopir di rumah ini.
Arya kembali membuka-buka beberapa posting-an Ibu Sonya yang sekilas nampak sangat cantik dengan topi lebarnya.
Di beberapa posting-an, Arya melihat Ibu Sonya ini sering berada di lokasi-lokasi yang eksotis seperti pantai dan juga hotel-hotel mewah yang dekat dengan lautan.
Setelah menunggu kurang lebih setengah jam lamanya, akhirnya pintu besar di bagian depan rumah mewah itu sedikit terbuka dan muncul seorang perempuan sekira-kira umuran 35 tahun, kulit sawo matang, berwajah manis dengan tubuh yang cukup ideal untuk mempersilakan Arya masuk ke dalam untuk duduk di ruang tengah rumah mewah itu.
“Dengan Mas Arya ya?” tanya sang perempuan itu.
“Iya betul, Mbak,” jawab Arya dengan sopan sambil tersenyum.
“Ayo masuk ke dalam, Mas Arya!”
Arya pun mengikuti ke mana si perempuan itu berjalan. Arya makin terbengong-bengong melihat seluruh isi rumah besar dan mewah itu.
“Monggo, silakan Mas Arya duduk dulu di sini, karena Ibu Sonya masih di lantai atas,” ucap perempuan itu dengan senyum manisnya.
Arya pun duduk sambil tetap menatap kagum dengan seluruh isi dan interior rumah mewah itu.
Ia pun melihat ada tangga putih yang cukup lebar anak tangganya dengan warna putih meliuk sampai ke atas.
Tebakan Arya mungkin kamar Ibu Sonya itu ada di atas tangga itu.
“Oiya, Mas Arya mo minum apa?” tanya si perempuan yang nampak memakai baju semacam kebaya dengan belahan dada cukup rendah sehingga agak terlihat belahan dadanya yang cukup membuat mata Arya terkesiap melihatnya.
“Apa aja, Mbak. Maaf merepotkan!” ucap Arya sambil tersenyum lagi.
Seketika perempuan itu pun berlalu. Saat berbalik badan, nampak sekali tubuh semok si perempuan tadi dengan baju kebaya rumahan dan rok batik yang ia pakai.
Bentuk pinggulnya yang proporsional kembali membuat mata Arya terkesiap dan jakunnya naik turun melihatnya.
Nampaknya perempuan montok itu seorang asisten rumah tangga di rumah mewah itu.
Tak lama kemudian, si perempuan sudah kembali dengan membawa baki berisi segelas teh hangat plus dua toples berisi kue nastar dan kue keju yang biasanya sering muncul di momen-momen Lebaran.
“Ayo, Mas. Monggo diminum dan dicicipi dulu kuenya!” ucap si perempuan tersenyum dengan sopan.
“Baik, Mbak. Terima kasih, Mbak!” ucap Arya sambil mencoba menyeruput gelas yang berisi air teh hangat itu.
Sementara waktu sudah semakin sore mendekati pukul 18.00 sore, yang artinya sebentar lagi azan Magrib akan bergema.
“Gimana, Mas? Rasanya teh buatan saya?” tanya si mbaknya.
“Wahhh ... enak, Mbak ... Mbakkk ...?” ujar Arya sambil bermaksud menanyakan nama perempuan itu.
“Tini, Mas. Nama saya Surtini. Panggil saja Mbak Tini!” ujar Mbak Tini sambil tersenyum menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.
Mereka pun saling berjabatan tangan karena Mbak Tini tahu kalau Arya ini akan menjadi bagian dari rumah itu ke depannya jika memang benar nantinya jadi bekerja sebagai sopir untuk Ibu Sonya.
“Terima kasih atas teh manisnya. Enak, Mbak Tini!” ujar Arya lagi yang kali ini dengan nada yang lebih lepas karena mencoba lebih akrab dari sebelumnya.
Karena Arya pun tahu kalau ia jadi bekerja di situ akan sering bercengkerama dengan Mbak Tini dan juga Pak Dirman tadi.
“Syukurlah kalo Mas Arya suka. Ayo Mas Arya dicoba juga donk dengan kue-kuenya. Itu aku bikin sendiri loh, Mas!” pinta Mbak Tini sambil membuka kedua penutup toples itu untuk mempersilakan Arya mencicipi kedua kue itu.
Arya pun menurut dan mengambil masing-masing satu kue, baik kue nastar maupun kue keju.
“Hmmm ... enak banget, Mbak. Wah, Mbak Tini ini kayaknya memang jago bikin minuman dan makanan!” ujar Arya sambil mengunyah kedua kue tersebut.
Terlihat Mbak Tini tertawa kecil dan merasa puas dengan ucapan Arya tadi.
“Syukurlah kalo Mas Arya suka!”
Baru saja Mbak Tini selesai berucap, tiba-tiba terdengar langkah kaki dari atas tangga yang mengarah turun ke bawah.
Tak tok tak tok tak tok!
Ternyata itu bunyi suara sepatu sandal dari Ibu Sonya.
Seketika Mbak Tini pun memberitahukan Arya kalau yang sedang berjalan dari tangga atas itu adalah Ibu Sonya.
“Tiniiii ... sudah kamu sediakan tamu kita minuman dan makanan?” teriak suara perempuan cantik yang sedang berjalan turun di tangga lebar itu.
Arya pun mendongak ke atas, matanya tertuju ke arah suara perempuan tadi.
Nampaklah di pandangan Arya yang bikin Arya takjub karena Ibu Sonya yang ia sempat lihat di akun I*******m-nya itu ternyata jauh lebih cantik aslinya saat Arya melihat langsung.
Perempuan yang bernama Sonya itu berkisar umur 40 tahun, berkulit putih bening, dan bertubuh sintal berbalut baju tidur dengan rambutnya ditutupi handuk yang melibat kepalanya.
Wajahnya sangat mirip dengan bintang film India Kareena Kapoor yang cantik dan seksi.
Bibir Ibu Sonya terlihat tebal dan matanya besar. Ia saat itu memakai baju tidur berbahan handuk halus dengan bagian atas baju tidurnya agak terbuka, sehingga dada putih bagian atasnya agak terlihat sangat bening dan mulus.
Sangat terlihat kalau Ibu Sonya itu rajin perawatan tubuh.
“Wah, Ibu Sonya abis mandi ya, Bu?” ujar Mbak Tini yang tetap saja ikut terpesona melihat sang majikan, padahal ia telah bertahun-tahun bekerja di rumah itu, namun tetap saja Mbak Tini sangat mengagumi kecantikan sang majikan.
“Ya, Mbak. Aku cukup kecapean kemarin pulang larut malam sehingga seharian tadi ketiduran cukup lama dan baru tadi baru sempat mandi!” balas sang majikan.
“Sekarang Mbak Tini boleh pergi dari sini. Saya mo interogasi dulu ini anak!” ucapnya sambil melirik Arya dengan pandangan yang dingin.
“Baik, Bu!” ujar Mbak Tini sambil menatap sebentar ke wajah Arya. Dalam hatinya, Mbak Tini bergumam kalau menurutnya Arya terlalu ganteng untuk menjadi sopir karena melihat perawakan Arya.
Arya memiliki kulit putih bersih, berwajah tampan dengan hidung mancung, rambut cepak seperti tentara, nampak seperti sosok artis Adjie Massaid.
Bibir Arya juga terlihat seksi untuk ukuran seorang laki-laki.
Keesokan harinya, kembali ke kantor, Edwin masih sangat penasaran dengan Bagas. Kali ini sikap Edwin sedikit berubah, tidak sesantai biasanya. Dia benar-benar terganggu dengan kemungkinan bahwa Bagas adalah cucu konglomerat perusahaan tempatnya magang.Kecurigaan Edwin semakin kuat setelah menghubungkan benang merah antara fakta-fakta yang terjadi sejauh ini. Sejak awal Bagas sudah membuat heboh ketika mendatangkan chef lengkap beserta dapurnya hanya untuk makan siang.Hanya orang super-kaya yang bisa melakukan hal-hal aneh seperti itu. Sebelumnya keanehan Bagas tampak biasa, sekarang Edwin mulai menanam rasa curiga.“Lo,” kata Edwin menunjuk Bagas. “Lo utang penjelasan ke gue.”Pagi itu keduanya datang lebih awal di ruang magang. Dua senior
Bagas dan Edwin turun ke lapangan, sama seperti pekan sebelumnya. Mereka mengikuti salah satu tim sales, Mas Yusa. Meski turun lapangan, sebenarnya tidak banyak yang dilakukan Bagas dan Edwin, hanya mengamati cara kerja sales senior.“Gue hari ini mau nyamperin 3 distributor gede, mayan lah kalian ikut biar ada pengalaman,” ujar Mas Yusa, mereka sudah dalam perjalanan dengan mobil kantor.“Oke siap mas, ke mana aja?” jawab Edwin.“Dua ada di Jaktim, satu lagi di Bekasi,” jawab Mas Yusa. “Lumayan jauh sih, ya bisa seharian lah kita.”“Bekasi itu apa?” tanya Bagas.“Lha kocak lo gas,” Edwin menjawab.Tim Pak Eva
Sepekan berlalu. Bagas sudah menuntaskan pekan pertama bersama Silvi bersama tim Pak Agung. Tidak ada kejadian apa pun. Bagas memilih menahan diri setelah ditarik Silvi. Sekarang, pekan kedua, Bagas berkelompok bersama Edwin di bawah tim Pak Evan. Tentu saja Edwin masih mengulangi pertanyaan yang sama setelah seminggu. “Gas! Sarah gimana kabar? Dia cantik banget anjir,” kata Edwin pagi itu. “Biasa aja,” jawab Bagas. “Lah, sakit mata lo. Seumuran kita dia Gas?” “Iya kayaknya, gue juga baru kenal.” “Lho baru kenal kok kayak udah akrab banget?” “Emang rada heboh gitu orangnya, gak ngerti juga gue. Lo tanya melulu.”
“Bosen gue Win,” kata Bagas, minumannya habis lebih cepat. “Lo suka main game? Bisa main game?” “Bisa,” jawab Edwin. “Suka gue, lumayan.” “Main yuk, PS4 aja kali ya.” “Oke yuk, main di mana?” “Di sinilah, itu gue ada TV.” “Lha TV doang di Pos Satpam juga ada. PS-nya mana maksud gue.” “Beli dulu lah, bentar.” Bagas mengeluarkan hapenya, tampak mengetik sesuatu. Edwin masih asyik dengan es kopi yang belum juga habis. Dia kembali menyinggung obrolan mereka tadi. “Lo diselametin Silvi ya kemarin,” buka Edwin. “Iya sih kayaknya, tapi emang s
Jumat selalu terasa lebih cepat. Bagas dan Edwin keluar kantor bersama. Setelah lama memendam rasa penasaran, Edwin akhirnya bertanya. “Gue gak pernah liat lo pake motor atau mobil,” katanya. “Lo ke kantor naik apa?”
University of Oxford, Inggris, Juli 2017 Kelas pagi itu berjalan molor, kepala Bagas nyaris meletup setelah dua jam mempelajari angka-angka. “Allright, i’ll get going guys,” ujar
Sudah dua hari Bagas dan Silvi magang di tim Pak Agung, ini hari ketiga, hari Jumat. Dua hari kemarin Bagas dan Silvi masih belum mendapatkan pekerjaan layak, paling banter fotokopi.Hari ini, keduanya kembali datang pa
Hari ketiga magang, Bagas bakal ditempatkan di tim sales Pak Agung. Masih pagi, kantor masih sepi, dia sudah diwanti-wanti oleh Doni si senior magang.“Lo kudu ati-ati di tim Pak Agung,” kata Doni ke Bagas.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak