LOGINJarum jam sudah menunjuk angka tujuh malam itu. Suasana restoran berangsur sepi. Semua karyawan mulai berbenah dan Rania mengecek stok ketersediaan kebutuhan dapur. Rupa-rupanya stok sayuran habis, Rania pun meminta salah satu karyawannya untuk segera menutup restoran.
Setelah Restoran rapi dan bersih, semua karyawan diperbolehkan pulang, kecuali Dareen. "Mbak memanggil saya?" tanya Dareen di ambang pintu ruangan Rania. Rania yang sedang berkutat dengan laptopnya menoleh. "Sini, Ken, masuk!" Dareen bergegas menghampiri. "Duduk!" Dareen menarik kursi, lalu duduk. "Ada apa, ya, Mbak?" Rania menyodorkan amplop cokelat sambil berkata, "Kamu sudah kerja di sini tiga bulan dan kerjamu bagus." Dareen menyipitkan mata. "Apa ini?" "Ambil saja. Anggap saja itu bonus dan ... karena tadi kamu sudah membantu saya." Dareen tersenyum tipis. Tangannya justru menggeser amplop itu tepat ke hadapan Rania. "Tidak usah." "Loh, kenapa?" "Sebagai karyawan, kerja bagus itu memang satu keharusan. Dan untuk tadi, saya ikhlas bantu Mbak." "Tapi ...," Dareen berdiri. "Kalo tidak ada lagi yang harus dibicarakan, saya pamit pulang." Rania mengangguk pasrah. "Silakan!" Dareen berbalik hendak pergi. Namun, ia urungkan. Pemuda berkulit putih itu justru menarik kursi, lalu duduk di samping Rania. "Loh, ma-mau apa, Ken?" Rania terheran-heran. Tanpa kata, Dareen meletakkan kunci motor miliknya, menggeser laptop ke hadapannya, mengambil buku dari hadapan Rania, dan merebut pulpen dari tangan Rania. "Kamu pulang saja, Ken. Saya bisa sendiri, kok." Rania mencoba merebut laptopnya. Namun, Dareen menahannya. "Lebih baik Mbak jelaskan atau sebutkan saja berapa nominal yang harus saya isi agar cepat selesai." Rania menghela napas panjang. "Baiklah." Kini, keduanya seperti rekan kerja yang sepadan. Rania pun kagum dengan cara kerja Dareen yang cepat, mudah tanggap, dan terbilang sangat cerdas. Satu jam berlalu. Semua data pemasukan dan pengeluaran sudah selesai dikerjakan. Rania pun merapikan alat kerjanya. "Terima kasih, ya, Ken." "Hem!" "Kamu terlihat sangat berpengalaman tentang ini." "Lain kali kalo butuh bantuan panggil saja saya." Rania mengangguk-anggukkan kepala. "Sepertinya kamu saya mutasi saja untuk bagian staf. Gimana?" "Saya ikut saja." "Kalau begitu, untuk surat pengangkatan akan saya kasih besok. Dan sekarang, silakan kamu pulang!" Dareen menyampirkan tas ranselnya di pundak. Tanpa pamit, ia melenggang pergi sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Rania hanya menatap kepergiannya sambil menggeleng pelan, lalu memasukan laptop ke dalam tas. Rania melenggang hendak ke luar. Namun, seseorang membuka pintu membuat Rania terdiam. "Loh, kenapa lagi, Ken?" Dareen tidak menjawab. Pemuda itu berjalan mendekat sambil menatap Rania tajam. Rania melotot, kaget sekaligus takut. Dareen semakin mendekat, Rania pun berjalan mundur sampai akhirnya terpentok meja. "Ka-kamu mau apa, Ken?" Lagi, Dareen hanya diam. Ia malah membungkuk membuat tubuh Rania sedikit condong ke belakang. Kini, wajah mereka hampir tiada jarak. Rania seperti terhipnotis. Di tatapnya wajah Dareen lekat. Nampak olehnya hidung Dareen yang mancung, pipi yang mulus, rahang yang tegas, dan bibir yang tipis. Sangat tampan, tanpa celah. Tidak hanya wajah, tatapan Rania berpindah ke arah jakun Dareen yang sedang naik-turun membuat Rania bertambah takut. Tak cukup sampai di situ, Dareen yang memakai kemeja dengan kancing terbuka yang dipadankan dengan t-shirts berwarna putih, membuat dada pemuda itu terlihat jelas, berbentuk. Rania mendorong dada Dareen saat dirinya benar-benar berada dalam kungkungan Dareen. "Ja-jangan macam-macam!" Dareen menepis tangan Rania cepat membuat Rania spontan menutup mata. "Kunci motor saya ketinggalan." Dareen menyambar benda itu yang ternyata tergeletak di dekat wadah alat tulis, lalu pergi. Rania membuka matanya. "Dareeeen!" serunya kesal. Dareen menoleh. "Iya, Mbak, ada apa?" tanyanya polos. Rania mengembuskan napas kasar sambil berpaling. "Tidak! Cepat pulang!" "Oh, iya, Mbak, satu lagi," kata Dareen. Rania menoleh dan menjawab dengan nada sinis. "Apa?!" Dareen menunjuk pipinya sendiri. "Pipi Mbak kenapa merah sekali?" "Dareen Kenan!" teriak Rania, tambah kesal. Dengan wajah tanpa bersalah, Dareen melenggang pergi. Bibirnya melengkungkan senyum, merasa puas. Rania memejam sambil memegang kening. "Ya ampun! Ada apa dengan otakku? Bikin malu saja!" Embusan napas kasar menguap begitu saja. Setelah kesal mereda, Rania mengambil kasar tasnya di atas meja, mematikan lampu, lalu meninggalkan ruangan. Rania keluar dari restoran melalui pintu samping. Ketika mengunci pintu, terdengar suara langkah kaki yang tak lagi asing di telinga dan berhasil membuatnya menoleh. "Mas Ardi?!" "Rania, Sayang ... please dengarkan dulu penjelasan Mas." Ardi menggenggam tangan Rania erat. "Penjelasan apa lagi, Mas?!" Rania mencoba menarik tangannya. "Mas masih cinta kamu, Rania." Ardi mencoba memeluk Rania. "Lepas, Mas!" Rania memberontak. Ardi terus menarik tubuh Rania, mencoba memeluknya. "Toloong!" Bugh! Tinjuan keras mendarat di pipi Ardi, membuat sang empu pipi seketika terjungkal. Rupanya Dareen. Cepat-cepat Rania berlari dan berlindung di belakang Dareen. "Cuih!" Ardi meludah, "jangan ikut campur urusanku!" Dareen tersenyum miring. "Urusan Mbak Rania, urusanku juga!" "Hahaha ... kencing saja masih di celana, so melindungi Rania." Dareen membungkuk mencengkeram kuat kerah Ardi. Tinju sudah mengudara hendak memukul wajah Ardi lagi, tetapi Rania melerai. "Sudah, Ken!" Rania menarik lengan Dareen. Rahang Dareen mengeras. Emosi pemuda itu belum sepenuhnya terlampiaskan. "Pergi!" bentaknya. Ardi berdiri, lalu merapikan bajunya sambil berkata, "Rania, sampai kapanpun kamu tetap milikku!" Ardi pun pergi. "Mbak gak pa-pa? Ada yang sakit?" tanya Dareen cemas. "Gak pa-pa. Thanks, ya?!" Dareen mengangguk cepat. "Kalo gitu saya antar Mbak pulang." "Saya bisa sendiri, Ken. Kamu duluan saja." Dareen memilih pulang. Pun dengan Rania yang bergegas area parkir. Tanpa Rania tahu, Dareen mengikutinya dari belakang. *** Rania sudah tiba di rumah. Wanita bernama lengkap Rania Sekar Galuh itu menyandarkan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Rasa lelah dan cemas yang menyelimuti membuat tubuhnya lemas tak berdaya. Kepala yang semula baik-baik saja, kini berdenyut hebat. Semua karena Ardi. "Tumben pulang cepet, Nak?" tanya Husna --ibu Rania, yang menghampiri dari arah dapur. Husna duduk di sebelah Rania. "Ada apa? Gak biasanya kamu murung seperti ini." Rania menoleh. "Tadi siang Mas Ardi dan Mia datang ke restoran, Bun." Husna mengernyit. "Bukankah mereka tinggal di luar negeri?" Rania duduk tegak menghadap ibunya. "Entahlah, Bun. Yang jelas, mereka ke restoran hanya untuk menertawakanku." Rania menceritakan apa yang sudah Mia dan Ardi katakan kepadanya, juga perbuatan Ardi tadi. Mendengar itu tentu saja membuat Husna merasa cemas. Husna menggenggam tangan Rania. "Nak, Bunda sudah bilang berkali-kali sama kamu. Cepatlah menikah." "Nanti, Bun." "Kapan, Rania? Umurmu tidak lagi muda. Bunda sudah beri kamu waktu. Tapi, mana? Sampai detik ini kamu belum juga kenalin Bunda sama calon suami kamu!" Rania hanya bisa diam. "Jangan bilang kamu masih cinta sama Ardi. Iya?!" tuduh Husna. Rania menggeleng cepat. "Itu tidak mungkin, Bun." "Kalau begitu, mau tidak mau, siap tidak siap, Bunda akan carikan kamu calon suami. Titik!" Husna pergi meninggalkan Rania. "Jangan, Bun! Aku bisa cari sendiri. Bun?!" Rania mengejar Husna, "Bun, aku belum siap menikah. Bun?" Rania terkulai saat pintu kamar Husna tertutup rapat. Bagaimana caranya ia menolak perjodohan? Tanya itu memenuhi pikiran Rania.Kenan memaksa Rania untuk memeriksakan diri ke rumah sakit, sedangkan Rania menolak keras. Wanita itu memilih untuk duduk beristirahat sejenak."Udah baikkan, kok, Ay. Mungkin tadi aku terlalu takut.""Bukan hanya takut, tapi kamu lari!" sergah dengan nada sedikit meninggi. "Iya, maaf, aku salah." Rania terisak. Kenan mengembuskan napas kasar, lalu memeluk Rania erat. Kecupan di kening pun ia berikan beberapa kali. "Maaf, Sayang, maaf. Aku tidak bermaksud memarahi. Maaf."Kenan melerai pelukan kemudian mengusap bulir bening yang menetes di pipi Rania. "Aku hanya khawatir sama kamu Sayang. Maaf."Rania kembali menghambur ke dalam pelukan Kenan. "Aku yang minta maaf. Aku sudah membuatmu khawatir, aku berlebihan dan aku cengeng."Kenan membalas pelukan itu sambil mengusap penggung Rania. "Kamu tidak salah. Aku yang salah sudah meninggalkanmu tadi, Sayang. Aku minta maaf."Rania mendongak tanpa melepaskan pelukannya. "Jangan jauh lagi dariku."Kenan mengecup kening Rania. "Iya, Sayang
Kenan menelan ludah. "Kamu serius mau aku pakai baju warna itu?" tanyanya sambil menatap lekat. "Ya, tentu!"Kenan memejamkan mata sejenak. "Tentu saja tidak, Ay!" lanjut Rania. Spontan Kenan memeluk Rania. "Terima kasih, Sayang."Rania terkekeh-kekeh. "Aku tidak suka warna pink. Jadi, tidak mungkin juga aku minta kamu pake baju itu, Ay."Kenan tersenyum tipis. Seingat dirinya, orang hamil biasanya akan menyukai apa yang sebelumnya ia tidak sukai. Oleh karena itu, Kenan segera menuntun Rania menjauh dari tempat kaos warna pink itu berada. Keputusan Kenan sangat tepat. Karena Rania kepincut kemeja warna hitam yang menurutnya model itu Kenan belum punya. "Gimana, Ay? Cocok, kan?" "Iya, bagus!""Oke! Aku akan belikan untukmu.""Wah, jangan mau diporotin, Nak!" ujar seorang pria yang tak jauh dari mereka. Rania dan Kenan menoleh, kemudian saling memandang. Rania menatap pria itu. "Suka-suka saya, dong, Pak."Pria itu tersenyum sambil menghampiri. "Buka mata dan hatimu, Nak. Masa p
"Uhuk!"Kenan terbatuk, tersedak oleh sambal. "Ay, are you oke?" Rania terlihat panik. Ia memberikan sebotol air mineral dingin. Kenan mengangguk. "Aman!" katanya setelah minum. Pria itu sesekali menyeka keringat sambil terus melahap rujak. Tangan kanannya mengusap sudut mata yang berair. Bahkan mulutnya sedikit menganga dan sesekali mengeluarkan desisan. "Udah, Ay, jangan dipaksakan!"Kenan mengangkat tangannya sebagai isyarat agar Rania diam. Ia sedang berusaha menghabiskan rujak itu agar Rania tidak kecewa. "Huuh!" Kenan mengembuskan napas kasar sambil menyeka keringat di bawah rahang. "Habis, Sayang."Rania tersenyum. "Makasih.""Harus aku makan lagi?" tanya Kenan seperti menantang. Meskipun mulut dan wajahnya tidak bisa berbohong kalau sebenarnya ia menyerah. "Tidak, ah! Sekarang aku mau es alpukat saja."Tanpa Kenan sadari ia berdiri sambil berkata, "Ah, setuju! Ayo kita cari!"Rania mengulum bibirnya menahan senyum. Sebenarnya ia kasihan kepada suaminya. Namun entah, rasa
Rania tertawa tebahak-bahak melihat kebingungan Vino. "Enggak, Dek, Mbak bercanda. Mana bisa apel itu kembali utuh. Dukun manapun kayaknya gak bakal bisa."Vino menghela napas. "Kalau begitu aku pulang, ah. Untung sekarang hari minggu, jadi gak perlu ke bengkel.""Yee, kamu suka marah gitu, ah.""Bukan marah, tapi masih mau tidur, Mbak."Vino menyambar tas ranselnya di sofa. "Tunggu!" cegah Kenan. Pria itu beranjak menuju kamar. Setelah sekian menit, Kenan kembali keluar. "Nih!" Kenan memberikan beberapa lembar uang kepada Vino. "Terima kasih semalam sudah berjuang."Vino tersenyum tipis, lalu menyambar uang itu. "Sama-sama, Pak. Senang bekerja sama dengan Anda."Vino mencium uang itu, kemudian pergi. Kenan tersenyum kecil. Sementara Rania dan Husna hanya menggelengkan kepala. Sementara Maya tertawa. "Kelakuannya persis kayak kamu dulu, Ken," ungkap Maya. Kenan tersenyum samar. *Bakso sudah habis. Pun dengan nasi padang yang ternyata dilahap oleh Rania. Husna dan Maya juga
Tepat jam enam pagi, mobil Kenan sudah terparkir di basement. Keduanya tidak langsung turun. Sepasang mata mereka melihat buah rambutan muda yang ada di dashboard. Embusan napas kasar keluar dari mulut Kenan. Pria itu tidak percaya jika satu ikat rambutan yang ia pegang hanya tersisa dua biji saja, siasanya hanya ranting. Entah bagaimana ia berlari tadi sampai-sampai rambutan hilang saja ia tidak menyadarinya. "Ppfft!"Vino menahan tawa. Akan tetapi, akhirnya ... "Ahahahaha ...." Tawa itu akhirnya pecah. Tak hanya Vino, Kenan juga. Kedua pria itu merasa konyol. Tanpa mengalihkan pandangan, Kenan berkata, "Paling tidak, ada yang setia sama rantingnya, Vin."Vino mengangguk. "Hem!" gumamnya sambil menatap rambutan itu.Kenan menginstruksi agar mereka turun. Apa pun reaksi Rania, mereka sudah bersiap menghadapi. *Kenan dan Vino sudah memasuki penthouse. Kedua pria itu jalan berdampingan. Mereka mendapati keluarga berkumpul di meja makan, termasuk Rania. Wanita itu dengan lahap
Vino memutuskan untuk menginap. Malam itu tepat jam sebelas, Vino masih terjaga. Padahal, bantal dan selimut sudah melekat, sofa empuk pun menjadi penopang tubuhnya. Ruang keluarga yang adem tak membuat matanya mengantuk. Mata elangnya masih menatap layar televisi. Sementara di kamar, Rania terbangun. "Kenapa, Sayang? Mual lagi?" tanya Kenan. Rania mengangguk pelan. "Ayo, aku antar ke kamar mandi." Kenan siap menuntun. Rania menggeleng. "Aku coba menahannya, Ay.""Sayang, jangan dipaksakan nahan. Daripada kamu tersiksa, muntahkan saja."Rania tersenyum. Telapak tangan mulusnya mengusap pipi Kenan. "Masih aman, kok, Ay.""Kalau begitu tidur lagi." Kenan mencium kening Rania. "Gak ngantuk. Kamu saja yang tidur.""Aku bakal temenin kamu.""Oh, iya, Bunda sama Mami jadi nginap?"Kenan mengangguk. "Vino juga."Rania tersenyum. "Anak itu."Rania meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia mengernyit saat melihat sebuah pesan dari Kenan yang belum dibacanya. "Ini vidio apa?""







