Masuk
"Ya ampun Rania ... lama tidak berjumpa kerjaanmu masih begini saja?!"
Rania yang sedang mengelap meja seketika membeku. Suara itu ... suara yang tak lagi asing baginya. Ia memejamkan mata sambil menarik napas panjang sebelum menoleh. Restoran miliknya hari itu sedang ramai, tetapi ia malah menghadapi dua sosok manusia yang sudah ia hindari selama tujuh tahun. Mereka adalah sosok yang membuat Rania tak ingin lagi mengenal cinta. Mia dan Ardi. Mia adalah sahabat yang berhasil merebut Ardi darinya. Mengapa mereka datang lagi? Tanya itu menyeruak dalam benak Rania. Hati Rania bergetar saat tak sengaja bertatap mata dengan Ardi. Getaran sakit yang kembali menyeruak di dalam dada. Dulu, Ardi sudah berjanji akan menikahinya, tetapi malah menikahi Mia. Ya, mereka berselingkuh sampai Mia dinyatakan hamil. Rania segera berpaling, kembali menatap Mia sambil tersenyum miring. "Memangnya kenapa?Masalah buat Anda, Nyonya?" Mia terkekeh-kekeh mengejek. "Jelas saja tidak! Aku hanya kasihan padamu." Rania mengembuskan napas kasar sambil bersilang dada. "Aku tidak butuh belas kasihanmu! Lagipula hidupku sangat bahagia." Lagi, Rania tersenyum miring. "Oh, ya? Bahagia? Lalu, mana suamimu?" Mia celingukkan mencari. Rania memilih melanjutkan pekerjaannya. "Bahagia tidak diukur dengan adanya suami atau tidak." "Cih! Jangan naif, Rania," sambar Mia cepat, "bilang saja kamu iri kepadaku. Apa jangan, jangan ... kamu masih jomblo? Kasian deh jadi perawan tua, hahaha ...." Rania meremas kuat kain lap yang dipegang. Ingin rasanya ia lempar ke wajah Mia saat itu juga. Rania menghampiri mereka. "Aku sama sekali tidak iri padamu. Aku tidak iri menikah dengan laki-laki bajingan seperti suamimu." Rania menatap Ardi sinis. Rania melihat rahang Ardi mengeras. Ia tahu betul jika pria itu sedang marah. "Kau--" Mia merasa kesal sampai-sampai tangannya mengepal dan hendak menampar Rania. Namun, seseorang dengan cepat menangkis tangan Mia. Rania menoleh, mendapati sosok jangkung dengan seragam karyawan restorannya mencengkeram tangan Mia erat hingga wanita itu meringis ringan. Rania langsung melotot dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan itu. "Kenan, lepasin!" bisik Rania pelan. Pemuda berparas tampan bernama lengkap Dareen Kenan itu baru bekerja selama tiga bulan. Peringainya yang tenang membuat Rania tidak menyangka jika Dareen akan bersikap demikian. Dareen menoleh. "Maaf Mbak, saya hanya ingin melindungi bos saya." Mia tersenyum mengejek. "Wah, siapa, nih? Pahlawan kesiangan rupanya." "Saya pacarnya Mbak Rania!" Mia tertawa terbahak-bahak, sedangkan Ardi menatap tak percaya. "Astaga, Rania ... apa tidak ada pria lain, hem? Sampai-sampai bocah ingusan saja kamu jadikan pacar," ujar Ardi, sambil mengamati pria yang ia sebut bocah itu. "Jadi, seleramu sekarang ini berondong? Pelayan pula," timpal Mia, lalu tertawa lagi. "Lebih baik kalian pergi dari sini!" usir Rania dingin dengan penuh penekanan. Mia membersihkan tangannya yang tadi ditepis dengan tisu sambil berkata, "Ya, ya, ya ... kami memang akan pergi dari sini. Aku ke sini hanya ingin tau bagaimana nasibmu sekarang. Eh, ternyata ... hahaha ...." Mia dan Ardi melenggang pergi dengan tawa yang masih renyah terdengar dari mulut Mia. Rania tersenyum samar, lalu terdiam. "Mbak, baik-baik saja, kan?" Rania terhenyak. "Tentu!" "Lanjut kerja!" sambungnya. Rania kembali membersihkan meja, diikuti Dareen yang menyusun buku menu. Kehadiran Mia dan Ardi membuat mood Rania benar-benar anjlok. Bahkan ia mengelap meja sekuat tenaga seakan-akan melampiaskan kekesalan. Dareen yang sedari tadi memerhatikan hanya bisa menggeleng pelan. "Mbak ...," Dareen memanggil Rania sedikit ragu. "Tolong nanti kamu cek air di depan nyala apa belum!" titah Rania cepat, tanpa memedulikan. "Iya, Mbak," Dareen mengangguk. Lagi, Dareen memanggil. "Mbak ...," "Dan itu tolong tata dengan rapi," potong Rania, sambil menunjuk beberapa pot bunga. "Mbak, tunggu!" cegah Dareen saat Rania hendak pergi, "soal tadi ...,"Rania menoleh, tak membiarkan pemuda itu mengatakan sesuatu. Ia justru melotot ke arah Dareen.
"Oh iya, Ken, jangan ngaku-ngaku jadi pacar!"Rania tertawa tebahak-bahak melihat kebingungan Vino. "Enggak, Dek, Mbak bercanda. Mana bisa apel itu kembali utuh. Dukun manapun kayaknya gak bakal bisa."Vino menghela napas. "Kalau begitu aku pulang, ah. Untung sekarang hari minggu, jadi gak perlu ke bengkel.""Yee, kamu suka marah gitu, ah.""Bukan marah, tapi masih mau tidur, Mbak."Vino menyambar tas ranselnya di sofa. "Tunggu!" cegah Kenan. Pria itu beranjak menuju kamar. Setelah sekian menit, Kenan kembali keluar. "Nih!" Kenan memberikan beberapa lembar uang kepada Vino. "Terima kasih semalam sudah berjuang."Vino tersenyum tipis, lalu menyambar uang itu. "Sama-sama, Pak. Senang bekerja sama dengan Anda."Vino mencium uang itu, kemudian pergi. Kenan tersenyum kecil. Sementara Rania dan Husna hanya menggelengkan kepala. Sementara Maya tertawa. "Kelakuannya persis kayak kamu dulu, Ken," ungkap Maya. Kenan tersenyum samar. *Bakso sudah habis. Pun dengan nasi padang yang ternyata dilahap oleh Rania. Husna dan Maya juga
Tepat jam enam pagi, mobil Kenan sudah terparkir di basement. Keduanya tidak langsung turun. Sepasang mata mereka melihat buah rambutan muda yang ada di dashboard. Embusan napas kasar keluar dari mulut Kenan. Pria itu tidak percaya jika satu ikat rambutan yang ia pegang hanya tersisa dua biji saja, siasanya hanya ranting. Entah bagaimana ia berlari tadi sampai-sampai rambutan hilang saja ia tidak menyadarinya. "Ppfft!"Vino menahan tawa. Akan tetapi, akhirnya ... "Ahahahaha ...." Tawa itu akhirnya pecah. Tak hanya Vino, Kenan juga. Kedua pria itu merasa konyol. Tanpa mengalihkan pandangan, Kenan berkata, "Paling tidak, ada yang setia sama rantingnya, Vin."Vino mengangguk. "Hem!" gumamnya sambil menatap rambutan itu.Kenan menginstruksi agar mereka turun. Apa pun reaksi Rania, mereka sudah bersiap menghadapi. *Kenan dan Vino sudah memasuki penthouse. Kedua pria itu jalan berdampingan. Mereka mendapati keluarga berkumpul di meja makan, termasuk Rania. Wanita itu dengan lahap
Vino memutuskan untuk menginap. Malam itu tepat jam sebelas, Vino masih terjaga. Padahal, bantal dan selimut sudah melekat, sofa empuk pun menjadi penopang tubuhnya. Ruang keluarga yang adem tak membuat matanya mengantuk. Mata elangnya masih menatap layar televisi. Sementara di kamar, Rania terbangun. "Kenapa, Sayang? Mual lagi?" tanya Kenan. Rania mengangguk pelan. "Ayo, aku antar ke kamar mandi." Kenan siap menuntun. Rania menggeleng. "Aku coba menahannya, Ay.""Sayang, jangan dipaksakan nahan. Daripada kamu tersiksa, muntahkan saja."Rania tersenyum. Telapak tangan mulusnya mengusap pipi Kenan. "Masih aman, kok, Ay.""Kalau begitu tidur lagi." Kenan mencium kening Rania. "Gak ngantuk. Kamu saja yang tidur.""Aku bakal temenin kamu.""Oh, iya, Bunda sama Mami jadi nginap?"Kenan mengangguk. "Vino juga."Rania tersenyum. "Anak itu."Rania meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia mengernyit saat melihat sebuah pesan dari Kenan yang belum dibacanya. "Ini vidio apa?""
Semua terlihat tegang. "Tapi apa Mery?" tanya Lim. "Jangan buat kami cemas."Dokter bernama Mery itu tersenyum. "Tenang. Kandungannya tidak ada masalah. Aku hanya ingin bicara sama putramu saja."Semua bernapas lega, kecuali Kenan dan Rania yang baru duduk di samping suaminya.Lim mengajak istri dan besannya keluar. Ia mengatakan biar selanjutnya urusan Kenan saja karena yang terpenting mereka sudah tahu jika mereka akan punya cucu.Dokter meletakkan hasil pemeriksaan di atas meja, lalu menatap pasangan yang duduk di hadapannya."Ada satu hal yang perlu saya sampaikan. Mengingat kondisi pasien yang sempat pingsan dan mengalami keluhan cukup berat, saya ingin kehamilannya dipantau lebih ketat."Wajah Kenan menegang. "Maksud Dokter, kehamilan istri saya bermasalah?""Tidak. Namun, untuk sementara, saya sarankan kalian menghindari hubungan intim. Karena hamil muda ini masa-masa rawan.""Berapa lama?""Tergantung hasil pemeriksaan berikutnya. Saya tidak ingin memberikan batas waktu sebel
"Sayang, tenang dulu."Rania justru memukuli dada Kenan sambil menangis. "Pergi!"Kenan membiarkan Rania memukuli dadanya sampai wanita itu berhenti sendiri. Setelah diam, ia membawa Rania ke dalam pelukannya. "Maaf, Sayang. Iya, aku akui aku salah."Rania berontak sambil mendorong dada Kenan. "Pergi!"Kenan bangkit. "Oke, aku pergi, Sayang."Kenan berjalan mundur sampai akhirnya ke luar kamar. Baru saja Kenan duduk di sofa, Rania datang sambil menangis meraung. "Suruh siapa pergiii?!""Sayang?!" Kenan berlari menghampiri Rania yang berdiri di ambang pintu. "Kenapa pergi?!" Rania kembali memukuli dada Kenan. Kenan semakin bingung. Tidak biasanya Rania seperti itu. Rania di hadapannya seperti bukan Rania yang ia kenal. Kenan mencoba memeluk Rania walaupun perempuan itu terus meronta. "Sayang, tolong jangan begini. Katakan ada apa?"Rania terus menangis. Tubuh wanita itu terkulai sampai terduduk sampai Kenan mengikuti tak melepas pelukannya. Rania tak sadarkan diri. Kenan kalut
Kenan terbelalak melihat mobil Rania dikerubungi orang-orang. Pria itu pun berlari menghampiri istrinya. "Kamu tidak apa-apa, Dek?" tanya Rania panik sekaligus takut. Bagaimana tidak? Seorang anak yang mengemudikan sepeda itu tertabrak motor dan si bocah terpental sampai terduduk di kap mobil Rania. Anak itu menggeleng. "Tidak, Tante. Aku baik-baik aja.""Syukurlah!" Rania bernapas lega. "Ada apa?!" tanya Kenan panik. Seorang saksi pun menjelaskan kronologi kejadiannya. "Tapi, pengemudi motor itu kabur," tambahnya. Kenan bernapas lega. "Kamu beneran tidak apa-apa?" Rania kembali memastikan. "Tante antar ke rumah sakit."Anak itu menggeleng, lalu turun dari mobil Rania. Dilihatnya mobil Rania dengan seksama. "Tante, mobil Tante rusak karena aku," ujarnya sambil menunduk. Rania tersenyum. Sambil memegang pundak si bocah, Rania berkata, "Tidak apa-apa, yang penting kamu selamat.""Ini hanya goresan kecil saja, kok. Malah kalau nanti Tante cuci mobilnya juga goresannya bakal hil







