LOGINPagi menjelang.
Suasana di ruang makan pagi itu terasa berbeda. Dimana Rania terlihat tak bersemangat. Bagaimana tidak? Rania tidur menjelang dini hari. Ucapan Husna yang memintanya untuk segera menikah terus saja terngiang-ngiang. "Pagi, Mbak?!" sapa Vino --adik Rania. Rania menoleh sekilas. "Hemm, pagi, Dek." "Bunda mana?" "Masih di dapur." "Mbak sakit?" Rania tersenyum samar. "Enggak. Kenapa emangnya?" "Vino perhatiin wajah Mbak pucet." Rania menatap Vino. "Mbak sehat, kok. Oh, iya, gimana magangmu, lancar?" "Lancar, dong." "Bosmu, baik'kan?" "Baik banget. Semalem baru ketemu. Vino pikir bapak-bapak gendut dan sangar. Eh ... ternyata masih muda." Rania tersenyum. "Baguslah. Dan itu artinya kamu harus lebih rajin lagi." "Hemm .... Kalo aja bos Vino seusia Mbak, Vino bakal kenalin dia sama Mbak." Rania mencibir. "Dia anak orang kaya, Mbak. Katanya, sih, anak pemilik perusahaan makanan terbesar di indonesia. Tapi, sayang ... kayaknya dia masih kuliah, deh! Tapi, yang bikin para pengunjung bengkel datang terus apalagi cewek, nih, itu karena dia tampan, tubuhnya yang tinggi, juga atletis. Jadi, mereka sengaja bikin mogok aja gitu motor atau mobilnya." "Vin? Lanjut makan, bisa?!" ucap Rania cepat. "Yaaa, Vino makan!" Tidak berselang lama Husna datang dengan dua piring berisi lauk-pauk. Wanita berusia enam puluh satu tahun itu dengan semangat menghidangkan makanan kesukaan putra-putrinya. Walaupun memasuki usia senja, Husna masih terlihat cantik dan energik. Husna tidak ingin siapapun mengambil alih perannya sebagai seorang ibu. "Minggu depan luangkan waktu. Ferdy dan orang tuanya mau ketemu kamu," tutur Husna. Rania mengunyah cepat nasi yang ada dimulutnya, lalu meneguk air mineral dalam gelas hingga tandas. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Bunda, please ... beri aku waktu lagi. Aku gak mau menikah tanpa rasa cinta. Kasian suamiku nanti, Bun." "Cinta bisa hadir kalau kalian sering bersama. Asal kamu tau, dulu Bunda sama ayah juga sama. Kami menikah karena dijodohkan dan tanpa cinta. Seiring berjalannya waktu, kami saling mencintai." Rania terdiam. Bukan tak ingin mengenal laki-laki lain. Akan tetapi, rasa cinta itu memang benar-benar pupus. Cinta itu tak pernah lagi menyapa. Bagi Rania, cinta itu menyakitkan. Di matanya, semua laki-laki sama. Pandai berbohong, tidak setia, janji yang terucap hanya cukup sampai di bibir saja. Rania cepat-cepat meraih tisu, lalu mengelap bibirnya. "Maaf, Bun, pagi ini supplier kirim barang. Jadi, aku harus segera ke restoran." Rania melenggang pergi. Tiba di luar, Rania bergegas menuju garasi. Mobil berwarna merah kesayangannya bertengger di sana. Tidak membuang waktu, Rania melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya. *** Tak terasa mobil sudah terparkir di area restoran. Kedatangan Rania justru disambut oleh seseorang yang sangat Rania benci. Mia. Rania berjalan santai, lalu membuka pintu restoran melewati Mia yang sedari tadi berdiri di sana. "Rania." Rania menoleh dan tersenyum sinis. "Loh, ada orang rupanya." Tangan Mia mengepal, menahan kesal. "Semalam Mas Ardi menemuimu?" "Iya!" "Kamu ngajak balikan?" Rania tersenyum sarkas. "Mimpi! Aku tidak akan memungut barang bekas apalagi itu sudah berupa sampah!" "Kalau kamu ke sini hanya untuk membahas itu, lebih baik pergi! Aku sibuk!" lanjut Rania, kemudian melengos pergi. "Tunggu!" cegah Mia, membuat Rania menghentikan langkah. Mia menghampiri. "Aku tau aku salah, Rania. Aku sudah merebut Mas Ardi darimu. Aku minta maaf." Mia berdiri tepat di hadapan Mia. "Taukah kamu, fotomu masih memenuhi ponsel Mas Ardi. Galerinya semua hanya fotomu, bahkan wallpaper pun gambar dirimu!" Deg! Rania terkesiap. 'Tidak mungkin! Bukankah dulu Mas Ardi mengatakan bahwa dia sangat mencintai Mia?' batinnya. Mia menggenggam tangan Rania. "Aku sangat mencintai Mas Ardi. Aku tidak mau kehilangan Mas Ardi, Rania. Jadi, tolong ... kalau Mas Ardi menemuimu lagi, tolong tegas padanya." Lagi, Rania tersenyum sarkas. "Itu tugasmu sebagai istrinya. Jaga suamimu agar tidak menyukai, bahkan mengejar wanita lain! Bukankah kamu paling jago merebut hati seorang pria?!" Mia terdiam, menunduk malu. Ya, dahulu ... berbagai cara ia lakukan untuk menarik perhatian Ardi. Bahkan ia rela melakukan hal paling menjijikan, dimana Mia rela menyerahkan tubuhnya asal Ardi bersamanya. Rania menarik tangannya. "Dengar, Mia ... mulai detik ini, jangan lagi muncul di hadapanku!" "Tapi, tolong jawab dulu pertanyaanku. Apa kamu masih mencintai Mas Ardi?" Dareen datang, lalu merangkul Rania dengan mesra. Rania mencoba melepaskan, tetapi pemuda berusia dua puluh empat tahun itu menahannya. "Apa Anda tidak dengar tadi?" kata Dareen dingin, kepada Mia. Rangkulan Dareen membuat Mia tersenyum lebar. "Aku dengar. Kalau begitu aku pulang. Semoga kalian bahagia." Mia pergi dengan wajah sumringah. Cepat-cepat Rania menjauh dari Dareen. "Lain kali tidak usah seperti ini!" "Mbak jadi pacar saya saja." Rania melongo, lalu tertawa pelan. "Kamu nembak saya, Ken?" "Apa mau dengan cara romantis?" Rania tersenyum. "Dengar ya anak muda ... kamu fokus sama masa depan dan kerjaanmu saja, oke?" Rania melangkah pergi. "Saya serius, Mbak!" teriak Dareen. Rania menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menatap Dareen. "Satu yang harus kamu ingat, saya tidak akan pernah jatuh cinta sama siapapun dan level saya bukan berondong!" Dareen tersenyum miring melihat kepergian Rania. * Pagi itu Rania sangat sibuk. Selain kebutuhan mulai dari sayuran, daging, telur, dan lainnya datang, ia harus mewawancarai seorang chef, dan membantu seorang cleaning servis untuk merapikan kursi dan meja. "Biar saya saja," kata Dareen. "Tidak bisa, Ken. Hari ini 3 karyawan tidak masuk." Dareen mengambil alih kursi dari tangan Rania. "Mbak cek dapur aja, Semua barang sudah siap. Bukankah Mbak selalu cek ulang?" "Kamu benar! Kalo begitu saya ke sana. Nanti kalo udah beres, tolong input data pembelian ya?!" Dareen hanya mengangguk saja. Selesai cek ulang barang, Rania segera ke ruangannya untuk interview calon chef barunya. "Loh, Reza?!" Rania terkejut, karena ternyata calon chef barunya adalah mantan chef restorannya dulu. Reza berdiri sambil tersenyum. Keduanya bersalaman dan berpelukan sambil saling bertanya kabar. Dareen yang sedari tadi menyaksikan merasa risih. "Ekhem!" Dareen berdeham sambil mengibas-ngibaskan tangannya seolah-olah kegerahan. "AC di sini kurang dingin!" Rania dan Reza melerai pelukan. "Karyawan barumu?" tanya Reza sambil menatap Dareen. Rania tersenyum. "Iya, namanya Kenan." Reza hanya mengangguk-anggukkna kepala saja, lalu duduk. Pun dengan Rania. "Aku dengar kamu masih sendiri," ucap Reza. Rania tersenyum kaku. "Tepatnya begitu." "Kalau begitu sama. Apa jangan-jangan kita berjodoh?" Brak! Suara meja yang dipukul. Rania dan Reza menoleh --menatap Dareen, seolah-olah meminta penjelasan. Yang ditatap mengangkat kedua pundak sambil tersenyum sarkas. "Maaf, ada nyamuk besar sekali. Dia menganggu saya. Jadi, lebih baik saya pukul saja biar mati." Rania menghela napas sambil menggeleng pelan. Rania dan Reza melanjutkan obrolan sampai akhirnya Reza kembali diterima di restoran dan memulai kerja saat itu juga. Rania mengantar Reza ke dapur. Tidak berselang lama, Rania kembali ke ruangan. "Maksud kamu apa, sih, Ken? Kenapa tadi pukul meja segala?" "Tadi'kan saya udah bilang, Mbak. Ada nyamuk," jawab Dareen tanpa menoleh. Ia fokus menatap layar laptop. "Oh, ya? Tapi, saya tidak percaya." "Ya bagus kalau tidak percaya." "Izin ke toilet dulu, ya, Mbak," lanjut Dareen, lalu pergi. Rania menatap kepergian Dareen sambil bertolak pinggang. Ia merasa heran dengan sikap Dareen. Dareen cemburu?Sesampainya di penthouse, Rania tidak langsung beristirahat. Begitu barang-barang yang dibeli tadi sampai, perempuan itu justru membawa semuanya ke balkon. Beberapa barang seperti meja kecil dan kursi lantai sedang dalam perjalanan. Wanita itu sibuk sendiri tanpa meminta bantuan Kenan.Karpet rumput sintetis dibentangkan memenuhi sebagian lantai, menyisakan ruang di dekat pagar agar pemandangan kota tetap terlihat jelas. Warna hijaunya membuat balkon yang semula didominasi lantai dingin dan dinding berwarna netral terasa jauh lebih hidup. Kursi gantung kemudian ditempatkan di beberapa sudut. Sebuah bantal lembut diletakkan di dalamnya, lengkap dengan selimut tipis yang sengaja ia ambil dari ruang keluarga. Setelah selesai, ia mulai menata pot bunga. Dua pot mawar diletakkan berdekatan. Pot lavender diletakkan lebih jauh diikuti beberapa tanaman berbunga kecil yang memberikan semburat warna di antara dedaunan hijau. Rania bahkan menambahkan beberapa pot kecil di sepanjang sudut ba
Setelah berkutat dengan restoran, akhirnya Rania benar-benar bisa menikmati waktu santai bersama Kenan. Hari itu hari minggu. Rania bersama Kenan mengawali hari dengan jalan pagi bersama di kawasan Gelora Bung Karno. Rania berjalan di samping Kenan dengan langkah santai. Rania mengenakan kaus putih polos berbahan lembut yang dimasukkan sebagian ke dalam celana jogger berwarna hitam. Rambut panjangnya diikat rendah dan sneakers warna putih menjadi pelengkap penampilannya. Tidak ada riasan berlebihan. Wajah segar dan penampilan sederhana membuatnya terlihat jauh lebih muda dari biasanya. Sementara Kenan, ia mengenakan kaus hitam polos dengan celana jogger berwana putih dimana sneakers hitam membungkus kakinya. Rambutnya ditata sederhana bahkan dibuat sedikit berantakan, dengan sebuah jam tangan sebagai pelengkap penampilannya. Rania menarik napas panjang. Udara pagi bercampur aroma pepohonan menguar menusuk hidung. "Nyaman juga," katanya pelan. "Sering jalan pagi di sini?"Rania
Hari berganti. Rania merasa lega karena ternyata Kenan menolak Putri sebagai calon sekretarisnya. Kenan berdalih jika dirinya sudah ada kandidat, yakni Rania. Walaupun Rania belum memberikan jawaban pasti untuk jadi sekretaris. Pagi itu, Rania dan Kenan sudah tiba direstoran. Hari itu adalah hari dimana Rania akan memulai merombak sistem restorannya. Rania duduk di sisi meja dengan beberapa berkas terbuka di hadapannya. Wajahnya tampak serius. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya melihat restoran sebagai tempat yang selama ini ia bangun dan rawat, tetapi sebagai sebuah sistem yang ternyata memiliki begitu banyak celah.Di seberangnya, Kenan membaca laporan pembelian lama dengan teliti. Luky berada di samping laptop, membuka data persediaan yang tersimpan dalam sistem.Hari itu mereka sepakat tidak mengambil keputusan apa pun sebelum melakukan pemeriksaan menyeluruh.Mereka memulainya dari internal audit.Selama berjam-jam, seluruh dokumen pembelian diperiksa. Invoice dibandingkan
Mereka sudah sampai di penthouse. Hal yang pertama kali Rania lakukan adalah membersihkan diri dan berganti pakaian. Pun dengan Kenan.Rania mengenakan kaus berbahan katun lembut berwarna putih gading dengan potongan longgar, dipadukan dengan celana panjang rumahan berbahan ringan berwarna abu-abu muda. Rambutnya yang tadi tergerai kini hanya diikat rendah dan longgar di belakang kepala, menyisakan beberapa helai rambut di sekitar wajahnya. Tidak ada riasan di wajahnya. Wajah bersih dan alami membuatnya terlihat jauh lebih sederhana. Kakinya dibungkus kaus kaki tipis dan sandal rumahan berbahan empuk. Tangannya terangkat memegang handuk dingin yang ia kompreskan pada matanya. Kenan datang. Ia mengenakan kaus hitam polos dengan potongan pas di tubuh, dipadukan dengan celana jogger hitam berbahan lembut. Rambutnya sedikit berantakan dan justru terlihat santai. Pria itu bertelanjang kaki. "Di sini rupanya."Rania menoleh. "He'em. Nyaman juga di sini."Kenan duduk di sampingnya."Sini
Kenan mencolek hidung Rania. "Bercanda!""Aku antar mereka dulu," lanjutnya. Rania mengangguk. Kenan pun pergi. Rania duduk diam di sisi ranjang, kedua tangannya sibuk meremas ujung selimut. Sejak mengakui perasaannya sendiri, semuanya terasa berubah. Bahkan keberadaan Kenan di ruangan yang sama kini membuat jantungnya berdebar dengan cara yang berbeda.Apalagi setelah kejadian tadi.Bayangan ketika ia mengira Kenan telah meninggal masih melekat kuat di kepalanya. Tangis, ketakutan, dan rasa lega ketika akhirnya melihat pria itu masih hidup seolah-olah bercampur menjadi satu.Sekarang Kenan pergi sebentar meninggalkannya sendirian di kamar rawat inap.Anehnya, justru kesendirian itu membuat Rania semakin gugup.Ia memandangi pintu yang baru saja tertutup, kemudian buru-buru mengalihkan pandangan. Wajahnya terasa hangat hanya karena membayangkan Kenan kembali. Dulu, perhatian kecil dari pria itu sering membuatnya kesal sekaligus bingung.Sekarang semuanya terasa berbeda.Senyum Kena
Mata Rania terbuka perlahan. Ingatan yang belum sepenuhnya terkumpul membuatnya terpaku pada langit-langit berwarna putih, tirai berwarna biru yang terbuka sebagian, serta sofa yang berjejer. Namun, matanya membesar saat ingat kepada Kenan. Rania beranjak turun sambil melepas selang infus secara paksa. Ia meringis kesakitan. Tak peduli darah yang keluar. Tangan Rania terangkat hendak membuka gorden. Namun, sebelum ia membuka, seseorang membukanya terlebih dahulu. Rania mematung dengan mata melotot melihat orang yang berdiri tepat di hadapannya. "Ke-Ken?" Kedua tangan Rania bergetar membingkai wajah pria itu. "Iya, Sayang, ini aku."Tangis Rania kembali pecah sambil memeluk Kenan. Sangat erat. Puk! Rania memukul dada Kenan. "Aku hampir gila, Ken!"Puk!"Jangan tinggalin aku! Aku mohon."Kenan membalas pelukan itu dengan mata berkaca-kaca. Tak hentinya ia mendaratkan ciuman di pucuk kepala Rania. "Aku di sini."Kenan membiarkan Rania menangis sepuasnya. Sampai akhirnya Rania me







