Pagi menjelang. Suasana di ruang makan pagi itu terasa berbeda. Dimana Rania terlihat tak bersemangat. Bagaimana tidak? Rania tidur menjelang dini hari. Ucapan Husna yang memintanya untuk segera menikah terus saja terngiang-ngiang. "Pagi, Mbak?!" sapa Vino --adik Rania. Rania menoleh sekilas. "Hemm, pagi, Dek.""Bunda mana?""Masih di dapur.""Mbak sakit?"Rania tersenyum samar. "Enggak. Kenapa emangnya?""Vino perhatiin wajah Mbak pucet."Rania menatap Vino. "Mbak sehat, kok. Oh, iya, gimana magangmu, lancar?""Lancar, dong.""Bosmu, baik'kan?""Baik banget. Semalem baru ketemu. Vino pikir bapak-bapak gendut dan sangar. Eh ... ternyata masih muda."Rania tersenyum. "Baguslah. Dan itu artinya kamu harus lebih rajin lagi.""Hemm .... Kalo aja bos Vino seusia Mbak, Vino bakal kenalin dia sama Mbak."Rania mencibir. "Dia anak orang kaya, Mbak. Katanya, sih, anak pemilik perusahaan makanan terbesar di indonesia. Tapi, sayang ... kayaknya dia masih kuliah, deh! Tapi, yang bikin para pe
Last Updated : 2026-07-21 Read more